Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Singapore Writers Festival (SWF) kembali tahun ini dengan berbagai program menarik, mulai dari diskusi, lektur, performance, lokakarya hingga berbagai bentuk aktivitas lainnya. Tahun lalu, kami berkesempatan untuk menghadiri festival internasional saat Indonesia terpilih menjadi Country Focus. Tahun ini, layaknya tahun lalu, mayoritas program SWF berpusat di The Art House, bekas gedung parlemen Singapura yang diubah menjadi pusat kebudayaan. Selain disana, kali ini akan ada berbagai program yang akan berlangsung di The National Gallery dan Asian Civilisation Museum. Mayoritas tempat aktivitas SWF terjadi di satu daerah, jika berminat datang, dalam satu hari pun Anda bisa mengatur jadwal untuk menghadiri berbagai pilihan program yang ada. Tahun ini, tema yang SWF angkat adalah "Sayang", sebuah kata Malay yang cukup puitis dalam menunjukkan cinta kasih. Lokalitas term "sayang" membuat kata ini menjadi menarik sebagai tema untuk SWF. Dan, tema ini akan diangkat dalam berbagai program acara, termasuk "Great Wall of Sayang", pameran kolaborasi antar 12 penulis dan seniman, "Still I Sayang", performance art yang mengkombinasikan puisi, tarian, dan musik, dan "Secret Sayang", seri pembacaan puisi di lokasi-lokasi rahasia. Tema ini juga akan diangkat di "This House Believes that Singaporeans are in the Mood For Love" Closing Debates-nya yang super-populer dan menjadi salah satu tradisi setiap SWF. Jepang menjadi Country Focus SWF tahun ini. Dimulai dari tamu penulis fiksi Taiyo Fujii, Hiromi Kawakami, dan Risa Wataya, musisi Kojima Keitaney, dan salah satu komikus favorit kami: Gosho Aoyama (pengarang serial Detective Conan), dan topik pembahasan mulai dari seni Haiga, kondisi Jepang setelah Fukushima, eksplorasi budaya Jepang dalam literatur, sampai konser musik, SWF akan membahas Jepang dari berbagai sudut pandang. Indonesia juga akan diwakili di SWF oleh sosok-sosok seperti penulis Eka Kurniawan, Okky Madasari dan komikus Jho Tan, yang akan menjadi bagian dari berbagai panel, peluncuran buku Neither Civil Nor Servant, The Loner: President Yudhoyono's Decade of Trials and Indecision, dan Indonesia and Not: Poems and Otherwise. Sebagai festival internasional, UWF tentunya mengundang tamu dari penjuru dunia. Selain tamu Country Focus-nya, Jepang, beberapa tamu UWF yang sangat menarik adalah Lionel Shriver, penulis fiski yang telah memenangkan berbagai penghargaan termasuk New York Times Best Seller dan BBC National Short Story Award, dan bukunya yang telah diadaptasi menjadi film, We Need to Talk About Kevin. Selain Lionel Shriver, jurnalis yang membocorkan Panama Papers Frederick Obermaier juga menjadi salah satu pembicara dan panelis, Youtuber yang sedang naik daun Evan Puschak aka The Nerdwriter akan berbagi pengetahuan, hingga sejarawan Frank Dikotter akan membahas revolusi budaya Cina. Sebagai festival Singapura, penulis lokal juga terepresentasikan di programnya. 280 penulis lokal dan penulis yang berbasis di Singapura akan mengadakan program untuk merayakannya. Dari penulis cerpen Nur Aisyah Liyana, Farish Noor yang akan memberi kuliah mengenai etimologi kaya "Sayang", sampai penulis puisi dan komikus Gwee Li Sui, talenta lokal akan memberi kontribusi yang sangat besar, dan yang menarik-nya lagi, dalam berbagai bahasa termasuk Mandarin, Malay dan Tamil. Singapore Writers Festival akan mulai pada tanggal 4 November dan berakhir tanggal 13 November. Cek websitenya untuk tahu program-program yang ditawarkan dan merencanakan kunjungan anda. Kami dari Whiteboard Journal juga akan hadir pada festival ini, sampai bertemu di Singapore Writers Festival!
Bagi yang cinta dengan buku dan segala hal yang berkaitan dengannya, tentu melihat adanya ajang seperti Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) sebagai hal yang patut untuk diikuti. Setelah berhasil mempertahankan festival sejak awal episode serta meningkatkan varian programnya, UWRF kembali tahun ini dengan tema Tat Tvam Asi. Menawarkan deretan program yang tidak hanya fokus pada penulis ternama dari Indonesia dan internasional, UWRF juga mengangkat topik menarik dalam diskusi yang memaparkan media hingga perfilman secara selektif. Mulai dari Wregas Bhanuteja, Joko Anwar, Djenar Maesa Ayu hingga Hanya Yanagihara akan membeberkan fakta menarik yang patut untuk disimak. UWRF dimulai pada tanggal 26-30 Oktober 2016 di beberapa tempat di Ubud, Bali. Cek website-nya untuk tahu program-program yang ditawarkan dan merencanakan kunjungan Anda. Kami dari Whiteboard Journal juga akan hadir pada festival ini dan akan meliput acara dari tanggal 28-30 Oktober 2016. Ikuti cerita kami di akun Instagram, Facebook serta Twitter yang akan melihat UWRF dari sudut pandang berbeda. Sampai bertemu di Ubud Writers & Readers Festival!
Setelah meraih pujian dan penghargaan di event Unknown Asia 2016 yang berlangsung di Osaka beberapa waktu lalu, delegasi Indonesia, Eko Bintang, Kendra Ahimsa, Natasha Gabriella Tontey, Kathrin Honesta, Radhinal Indra, Diela Maharanie, and Ruth Marbun merayakan sekaligus memamerkan karya mereka kepada publik lokal pada pameran yang bertajuk "Weekend Exhibition". Bertempat di Dia.Lo.Gue. Artspace, pameran ini akan dibuka pada Jum'at, 28 September 2016. Pameran akan berlangsung hingga 30 September 2016. -- Weekend Exhibition: with Eko Bintang, Kendra Ahimsa, Natasha Gabriella Tontey, Kathrin Honesta, Radhinal Indra, Diela Maharanie, and Ruth Marbun . Weekend Exhibition is initiated by Dia.Lo.Gue in order to extend and share the work of creators to broader audiences. Sharing knowledges through presentations, lecturers, workshops, performances. This first edition is focused on the seven Indonesia representatives at the latest UNKNOWN ASIA ART EXCHANGE 2016 Osaka. The participants are Eko Bintang, Kendra Ahimsa, Natasha Gabriella Tontey, Kathrin Honesta, Radhinal Indra, Diela Maharanie, and Ruth Marbun. Presenting the works that previously previewed last month in Herbis Hall Osaka. The opening exhibition will be held on Friday, 28 October 2016 on 18.00 PM. There might be a secret performance happen on this day too! In the following day Saturday, 29 October 2016 the artists will available in Dia.Lo.Gue to present their work in person. 28th October 2016 - Sunday 30th October 2016. Venue: Dia.Lo.Gue Artspace Jl. Kemang Selatan 99 a Jakarta 12730 Friday, October 28 2016 18.00 PM Opening Party and a secret performance Saturday, October 29 2016 11.00 - 20.00 PM During this session the artist will available to present their work in present. Also, there might be a secret performance on this day. 15.00 PM Artist Talk 17.00 PM Special performance by CRAYOLA EYES Sunday, October 30 2016 08.00 AM – 18.00 PM Last chance to see the artists' work. Should you require more informations please contact us to info@dialogueartspace.com See you at the #weekendexhibition at @dialogue_arts
Pada interview bersama whiteboard journal, Wok The Rock bercerita bahwa ia tengah mempersiapkan sebuah proyek rekaman bersama kelompok paduan suara Dialita yang terdiri dari penyintas peristiwa 65, dengan tujuan untuk memberikan nuansa baru pada art activism, juga untuk meluruskan sejarah dan mengabarkan kebenaran bagi generasi muda. Tak lama kemudian, album tersebut dirilis secara bebas unduh di yesnowave.com, dan langsung menjadi salah satu album yang paling dicari di situs tersebut. Melibatkan Leilani Hermiasih, Cholil Mahmud, hingga Sisir Tanah, album tersebut bisa dibilang merupakan salah satu album paling penting yang dirilis sejak milenium kedua. Untuk merayakan rilisan bersejarah ini, digelarlah sebuah acara bagi paduan suara ini untuk mementaskan lagu-lagu mereka. Bertempat di sebuah kampus di Jogja, tiket acara dikabarkan ludes dalam tempo singkat, membuktikan level apresiasi yang tinggi dari publik untuk karya yang monumental ini. Pada video post-event, terlihat bahwa acara berjalan dengan meriah nan khidmat. Adalah perasaan yang tak terbayar, bisa melihat wajah-wajah bahagia dari personil Dialita yang akhirnya bisa menampilkan apa yang mereka ciptakan di bawah tekanan di hadapan generasi muda. Mari membaca kisah dibalik proses rekaman dan pentas yang mengharu biru pada webzine Serunai sembari berharap suatu saat publik kota lain, termasuk Jakarta bisa ikut belajar sembari menyaksikan tawa bahagia dari personil Dialita.
Entah darimana, selalu ada kedalaman tersendiri dari karya ciptaan Haikal Azizi. Di Sigmun, permainan gitar dan lengking suaranya mengangkat level unit ini dari Bandung, menjadi salah satu band penting di scene lokal, jika bukan internasional. Begitu pula ketika ia meninggalkan pedal distorsi dan menukarnya dengan psikedelia pada proyek musik solonya. Dengan moniker Bin Idris, manuver Haikal sering tak terkira, ia bisa tiba-tiba bertempur di tengah medan perang pada "Mahabarata", namun ia juga bisa merayakan melankolia seperti yang ia nyanyikan di "Weird People". Ketika label Orange Cliff mengumumkan bahwa Bin Idris akan segera mengeluarkan album penuh, ini jelas merupakan kabar gembira. Dan, single pertama yang dipamerkan memiliki segalanya untuk membuktikan bahwa ini akan menjadi salah satu album yang layak untuk diantisipasi. Berjudul "Dalam Wangi", Haikal Azizi kali ini memainkan gitar dengan jauh lebih sederhana dari apa yang ia biasa lakukan, dan memutuskan untuk bermain-main dengan harmonisasi vokal yang meruang untuk menciptakan sebuah lagu sederhana yang mengingatkan pada lagu-lagu rohani era lama - sebuah tema yang juga, entah darimana, selalu ada dari karya ciptaan Haikal Azizi. Ikuti sosial media Orange Cliff untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai rilisan ini.
Tahun 2016 adalah tahun yang membanggakan bagi Indonesia, dimana budaya bangsa mendapat apresiasi dari khalayak internasional. Salah satunya melalui Frankfurt Book Fair yang menjadikan Indonesia sebagai Guest of Honor, dimana sastra dan literatur lokal diapresiasi dan mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkannya pada book fair terbesar di dunia ini. Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) turut menjadi bagian usaha membawa nama bangsa pada publik dunia di acara ini dengan mempersembahkan "Seeing Words", sebuah eksibisi yang mengeksplorasi cara pandang terhadap buku dalam perspektif desain. Dengan treatment visual yang baru, Adam Mulyadi (Egghead Branding), Zinnia Nizar (Ampersand studio), Adityayoga (Inlander Design Buro), Ismiaji Cahyono & Citra Lestari (Sun Visual), Andi Rahmat (Nusae Studio), Andrew Budiman (Butawarna); Cecil Mariani, Eric Wijaya (ThinkingRoom), Fergie Tan & Yusuf Asikin (Brownfox studio), Gumpita Rahayu (Formika Studio), Jefferson & Kristin Monica (Feat Studio) memikirkan cara baru untuk menciptakan bahasa visual yang lebih universal untuk menikmati kajian yang ada di dalam buku. -- “Last year we introduce 17.000 islands of imagination to showcase Indonesia’s creative imagination as guest of honor, and the results is beyond our imagination…This year we are fortunate to celebrate and showcase one out of the 17.000 imaginations, the first collective graphic design exhibition from ADGI at International level”. – Quoted Emir Hakim, Exhibition Director & Business Development Director of ADGI. Seeing Words examines the importance of this visual-textual relationship that grew in importance as literacy grew within the publishing realm. As much as image and word were linked, both part are equally important as forms of communication. Throughout the exhibition words is denied its interpretive, explicatory, or narrative function. Instead the works in the exhibition embrace language's more permeable state: its elasticity, its penchant for questions, subtexts and double meanings. Exploring language's limits and limitations the works in Seeing Words are often highly emotive; as visually translated from the literary works, they embrace questions of politics, sexuality, identity, race, and idealism. Seeing Words is a visual interpretation of selected Indonesian Authors that considers highly individual’s manifestations of language, dialogue, and words in contemporary visual artworks produced by members of The Indonesian Graphic Designers Association (ADGI). Throughout the exhibition words is denied its interpretive, explicatory, or narrative function. Instead the works in the exhibition embrace language's more permeable state: its elasticity, its penchant for questions, subtexts and double meanings. Exploring language's limits and limitations the works in Seeing Words are often highly emotive; as visually translated from the literary works, they embrace questions of politics, sexuality, identity, race, and idealism. The exhibition of Seeing Words in Frankfurt Book Fair 2016 is collaboration between The Indonesian Graphic Designers Association (ADGI) and The Indonesian National Book Committee supported by Indonesia Ministry of Education & Culture alongside with BEKRAF (The Indonesian Agency for Creative Economy). Seeing Words opens today on the 19th of October 2016 at Indonesia National Stand Hall 4.0, at Frankfurt Book Fair, Frankfurt, Germany. _ SEEING WORDS Exhibition Director Emir Hakim Design Curator Zinnia Nizar Exhibition Designer Max Suriaganda Dede Chaniago Promotion Imaduddin Muhammad ADGI – The Indonesian Graphic Designer Association
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.