Blog

Latest stories

17.03.17

Exclusive Stream: Rekah – Belajar Tenggelam

Dalam sebuah kesempatan, dimana Rekah menjadi salah satu pembuka bagi musisi eksperimental senior asal Jepang Kazuhisa Uchihasi, Kazu menyampaikan pujian bagi drummer dari Rekah yang dianggapnya memiliki permainan yang menarik. Mungkin itu adalah salah satu alasan bagaimana Rekah yang masih seumur jagung langsung menjadi nama yang diperhatikan di skena musik lokal. Mencampurkan berbagai gaya dalam musiknya, Rekah yang berisikan Tomo, Marvin, Faiz, Junior, dan Yohan sebelumnya telah merilis “Untuk Seorang Gadis yang Selalu Memakai Malam” untuk menunjukkan kualitasnya. Kabarnya mereka sedang mempersiapkan album pendek yang akan dirilis pertengahan tahun. Whiteboard Journal kali ini berkesempatan untuk menyajikan salah satu single dari rilisan yang akan mereka namai “Berbagi Kamar” tersebut. Dengarkan “Belajar Tenggelam” berikut: Sembari mendengarkan, berikut adalah interview kami bersama Tomo Hartono, gitaris/vokalis sekaligus penulis lirik dari Rekah. Tentang campuran musik post-hardcore revival yang mulai usang, Chairil Anwar dan masalah di skena hardcore/metal. Percampuran berbagai macam gaya ini kami rasa muncul secara natural saja karena masing-masing dari kami mendengarkan musik yang berbeda-beda dari post-hardcore 90s, black metal kaskadian, shoegaze, math-rock, sampai hiphop. Kami sama sekali tak membatasi referensi ketika menulis lagu. Kami memang sengaja membiarkan akumulasi dari semua yang kami dengarkan menyatu dalam aransemen yang kami tulis. Apapun akan kami baurkan selama gaya tersebut selaras dengan narasi yang kami tulis dalam lirik-lirik kami. Jujur saja: saya tak pernah berpikir bahwa Rekah adalah grup yang akan selalu menulis dalam Bahasa Indonesia. Kebetulan saja saat ini Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling nyaman saya gunakan saat ini. Tidak ada proses khusus dalam proses penulisan. Rasanya saya tak punya kepercayaan diri atau pemahaman teknik yang cukup untuk menyebut apa yang saya tulis sebagai sastra. Buat saya menulis lirik untuk Rekah itu sesederhana berdarah di atas kibor—mengalir begitu saja. Walau begitu, tak bisa dipungkiri bahwa saya dibesarkan oleh buku - dan mungkin suatu hari akan ditemukan mati di tengah buku-buku juga. Pendekatan saya dalam menulis lagu adalah bercerita. Saya tak peduli pada konvensi verse-chorus-verse-chorus. Saya hanya memikirkan bagaimana musik yang saya tulis dapat mengalir dan menggerakkan plot. Mungkin di bagian ini saya banyak berhutang budi pada sastra dan film, tentunya. Bila menyimak beberapa nukilan lirik yang pernah kami unggah beberapa kali di jejaring sosial nampaknya saya akan berdosa bila tidak menyebut Chairil Anwar. Beliau adalah yang pertama berjasa memperkenalkan saya pada puisi di kala SMP. Kalau saya tak pernah membaca “Aku” dan “Pemberian Tahu” mungkin saya hanya akan tetap menganggap bahwa puisi harus selalu indah dan picisan. Menurut saya, sajak-sajak Bung Chairil tak akan canggung apabila dibacakan dengan lantang di panggung-panggung hardcore punk sekalipun. Penulis kedua yang menurut saya lumayan banyak meresap pada tulisan saya adalah Subagio Sastrowardoyo. Rasanya sajak-sajak beliau lumayan mewakili kegetiran yang saya rasakan di usia pertengahan 20 ini. Saya punya ambisi pribadi untuk menginterpretasikan ulang salah satu karya beliau, “Juga Waktu” ke dalam medium musik suatu hari nanti. Sayang sekali buku-bukunya sulit sekali ditemukan saat ini. Sebagai seorang bocah yang dibesarkan oleh acara-acara metal di Bulungan, Blok M Jakarta Selatan, saya merasa bahwa skena hardcore/punk sebagai skena yang paling menyenangkan di Indonesia. Ada camaraderie dan comradeship yang rasanya tak akan saya temukan di acara musik pada umumnya. Tentu skena ini juga bukan tanpa masalah. Seksisme, homofobia, serta eksklusivisme masih menghantui, baik di gig maupun forum-forum internet. Sebagai sebuah subkultur yang bangga dengan identitasnya sebagai counterculture, saya rasa fenomena ini lumayan ironis. Sebagai seseorang yang tak terlalu berminat dengan machismo dan slogan-slogan politik dengan narasi besar, saya merasa lirik musik keras kadang takut untuk membicarakan hal yang sebenarnya sangat politis: perasaan. Padahal untuk saya pribadi, politik adalah perihal empati dan perasaan dalam kehidupan sehari-hari—perihal afinitas. Saya memprediksi akan ada yang komentar bahwa musik seharusnya apolitis. Saya sama sekali tidak percaya bahwa musik bisa apolitis. Sebagai sebuah produk kebudayaan, musik tidak akan pernah bisa lepas dari konteks sosiopolitis yang membentuk baik sang pemusik maupun musik itu sendiri. Dengan atau tanpa mereka sadari, seni yang mereka buat bisa membantu melanggengkan atau justru meruntuhkan kekuasaan. Tanggung jawab itu ada, mau kita peduli atau pun abai. Nah, musik agresif macam hardcore punk atau metal identik dengan lirik-lirik sloganeering buat menggiring kerumunan menuju sebuah entitas tunggal bernama mosh pit. Rekah tidak berminat menulis musik seperti itu. Buat kita, lirik seperti itu udah jadi standar industrinya musik-musik seperti ini. Kita lebih tertarik menulis tentang hal-hal yang lebih personal. Mengutip Carol Hanisch, "the personal is political". Revolusi hanya akan menjadi keniscayaan kalau hanya membicarakan narasi-narasi besar dan langitan. Bawa cerita kalian ke dalam hal-hal pribadi dan keseharian, baru deh kita ngobrol. Untuk penulisan lagu, kita lebih banyak terinspirasi dari manusia dengan segala cerita dan kompleksitasnya. Soalnya sebenernya, manusia itu menarik—tidak hanya terdiri dari dua dimensi: baik atau buruk. Selalu ada cerita kenapa mereka melakukan sesuatu. Bahkan mungkin pelacur-pelacur dan ojek yang setia nemenin mereka ketika mangkal di belakang Blok M pun punya cerita yang bisa kita tulis kalau kita mau melihat lebih dekat. Menelaah motif-motif yang menggerakkan seseorang lewat cerita-cerita mereka menurut kita adalah langkah penting yang seringkali lupa dijalani orang-orang sebelum membicarakan hal-hal besar. Maka dari itu, kita memulai dari cerita-cerita seperti ini; cerita orang-orang yang dilupakan; cerita orang-orang yang menderita sendirian di malam hari; cerita orang-orang yang pergulatannya tidak pernah terliput televisi; cerita penderitaan orang-orang yang tak akan pernah didongengkan ibu-ibu kalian karena mereka terlalu kotor, terlalu nista. Nama besar mereka bukan muncul secara instan. Walaupun ada privilese sebagai pionir, namun mereka banyak berjasa membuka kemungkinan bahwa kalian tidak harus menulis apa yang industri mau untuk bisa bertahan hidup. Nama besar adalah hadiah dari keberanian menantang status quo industri saat itu dan kami tak melihat ada perlunya menggantikan nama-nama besar tersebut sebagai pelaku sejarah yang perlu diingat. Menurut kami, nama-nama besar yang layak diingat berikutnya adalah mereka yang berani menantang batas-batas konvensi genre dan merayakan eksperimentasi dalam penulisan musik. Di era di mana akses internet sudah sangat mudah seperti sekarang, para pelaku di dalam jagad permusikan ini mempunyai tanggung jawab lebih untuk lebih dari sekedar menduplikasi wujud-wujud musik yang sudah ada—seperti apa yang Ornette Coleman lakukan terhadap jazz. Sebenarnya tidak ada kisah dramatis yang melatarbelakangi hal ini. Kami adalah grup baru yang tak memiliki banyak koneksi di kancah musik Indonesia. Oleh karena itu, kami melakukan hal yang layaknya dilakukan grup-grup baru lainnya: mengirimkan email berisikan demo lagu dan perkenalan ke beberapa label yang menurut kami selaras dengan musik yang kami mainkan. Setelah beberapa kali berbalas surel dan sedikit bertukar referensi film, akhirnya kami pun memutuskan untuk bekerja sama dengan Royal Yawns. Kami tak melihat korelasi antara sellout dengan perkembangan sebuah band. Sellout adalah perihal strategi dalam akumulasi modal, sedangkan perkembangan sebuah band adalah perihal bagaimana menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru dalam menulis musik. Apabila kalian merasa musik kalian susah dijual maka yang perlu kalian simak adalah buku-buku pemasaran. Revolusi saja bisa dijual, kenapa tidak dengan musik kan? Sikap kami mengenai hal ini sederhana saja: kami akan memikirkan semua kemungkinan yang dapat membantu kami terus menulis musik tanpa mengkompromikan kebebasan kami dan orang-orang di sekitar kami sebagai manusia, termasuk di dalamnya kebebasan dalam eksplorasi dan eksperimentasi menulis musik. Rasanya malah trennya sudah mulai mati dilibas waktu ya? Kebanyakan hanya merilis 1-2 rilisan sebelum redup. Sedari awal kami tak begitu tertarik dengan istilah “revival”. Kami melihat bahwa semua yang masih bertahan rata-rata adalah mereka yang berusaha mengembangkan gaya yang menginspirasi mereka ke dalam bentuk baru. Mereka yang hanya bertujuan menghidupkan kembali gaya ini sepertinya banyak yang sudah move on ke proyek dengan gaya musik yang berbeda. Bukan hal yang buruk, tentu saja. Kalau ada salah seorang di antara kalian yang mengikuti salah satu akun jejaring sosial kita pasti sudah pernah memergoki kami beberapa kali memampang judul rilisan yang sedang kami kerjakan ini. Iya, kami memang tak pernah pandai menyimpan rahasia. Mini-album berdurasi sekitar 30 menit ini akan kami rilis dengan judul “Berbagi Kamar.” Plotnya cukup sederhana: pertemuan, perpisahan, dan hal-hal di antaranya. Namun, di dalamnya kami banyak memasukkan diskursus tentang bagaimana berdamai dengan absurditas. Selain itu, kami juga banyak bercerita tentang gangguan mental—suatu hal yang kerap dirayakan sebagai sesuatu yang keren oleh mereka yang gemar terlalu banyak posting kutipan tanpa konteks di jejaring sosial. Tidak, gangguan mental yang kami potret dalam mini-album ini adalah sesuatu yang perih, menyakitkan, dan akan membuat berjengit. Tidak ada yang keren dalam penderitaan yang disebabkan oleh gangguan mental. Dari segi aransemen, mungkin akan agak mengernyitkan dahi karena kami banyak melakukan eksperimentasi terhadap struktur dan tekstur. Kami tidak tahu apakah ini hal yang baik atau buruk tapi kami bisa bilang bahwa kami sedang mencoba untuk memainkan musik yang sulit dirangkum dalam sebuah penjara genre. Eksperimentasi selalu mengerikan tapi sejauh dari apa yang sudah kami dengar sih hasilnya cukup menarik. Pertanyaan yang super sulit karena menurut kami musik Indonesia sedang memasuki era yang menyenangkan. Banyak grup baru dengan musik yang segar bermunculan. Di kancah punk rock ada TaRRkam dengan nuansa post-punk Jepang 80s yang mencengangkan. Di metal ada Vallendusk, supergroup black metal dengan produktivitas yang mencengangkan. Di skena pop ada Moonbeams, yang menurut selentingan tongkrongan akan segera merilis sesuatu setelah sekian lama mati suri. Hiphop altenatif lokal pun akhirnya berhasil keluar dari bayang-bayang Homicide dengan mulai tereksposnya talenta-talenta seperti Joe Millions, Senartogok, Yosugi, serta Matter.

05.03.17

The 7th Music Gallery

Ajang musik tahunan dari BSO Band, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia kembali hadir di awal bulan Maret ini untuk yang ke-7 kalinya. Mengangkat deretan band indie dari Indonesia, festival ini tidak hanya menampilkan suara baru bagi pecinta musik, tapi juga menjadi wadah ekspresi bagi mereka yang ingin memperkenalkan musik. Mengangkat tema “Urban,” dalam episode kali ini Music Gallery berupaya untuk menggambarkan keselarasan dalam batasan yang ada antara musik, seni dan festival. Bertindak sebagai melting pot, ajang inipun menawarkan hiburan bertaraf internasional dengan adanya musisi dari luar negeri, seperti Tahiti 80, Panama dan Last Dinosaurs. Dan, pada kesempatan kali ini, Music Gallery akan menampilkan Honne sebagai special act di antara Bin Idris, Peonies, Trees and the Wild, Goodnight Electric dan band lokal lainnya. Terkait tema urban, vinyl pun sebagai salah satu tren yang kembali menyentuh skena musik dan tepatnya para millennials. Di sini, Music Gallery mengajak pecinta piringan hitam untuk bertemu dan saling tukar referensi. Selain musik, terdapat pula pameran mural yang akan melengkapi pengalaman musik layaknya indoor block party serta ada pula workshop interaktif yang menghadirkan sosok kreatif dari beberapa subkultur. Tiket Music Gallery tersedia secara online di website serta aplikasi smartphone Go-Tix dan Kliring. - 11 Maret 2017 Kuningan City Ballroom http://www.the-musicgallery.com/

27.02.17

Merayakan Tur Jepang Saturday Night Karaoke

Tren datang dan pergi, yang tinggal adalah dedikasi. Inilah yang menjadikan Saturday Night Karaoke berada pada posisi yang berbeda diantara band sejenis. Ia telah memulai perjalanannya sebelum pop-punk meledak, dan saat perhatian publik mulai teralihkan, ia tak beranjak dan justru semakin memperdalam eksistensinya melalui karya yang secara konsisten terus lahir. Mereka juag tak pernah tergoda untuk memainkan versi populer dari musik yang mereka dalami, dan setia pada varian musik yang dimainkan oleh idola mereka. Sebuah totalitas yang mungkin akan membuat Milo Aukerman dan Mikey Erg bangga. Terakhir, mereka dikabarkan akan mengunjungi negeri yang juga menjadi inspirasi utama para personilnya, Jepang. Trio asal Bandung ini akan mengunjungi area Kanto, Honshu selama sepekan. Ini merupakan sebuah hal yang sepertinya telah lama dipersiapkan, karena dalam single yang dirilis pada pertengahan tahun lalu, Saturday Night Karaoke memasukkan satu lagu berbahasa Jepang. Dan untuk menyambut sekaligus merayakan tur ini, mereka merilis videoklip berjudul, “Bertemu”. Yang menarik di dalam video ini, SNK mengundang seniman visual, Rega Ayunda untuk berperan sebagai vokalis/gitaris yang bernyanyi di beberapa tempat dengan nuansa yang mengingatkan pada suasana kota Tokyo (meski sebenarnya shooting dilakukan di Jakarta-Bandung).

24.02.17

Suarasama Membawakan Materi Baru di Gudang Sarinah

Mungkin cuma ada dua yang benar-benar mendunia melalui karya. Mereka adalah Senyawa dan Suarasama. Tanpa banyak bicara, dan fokus pada kualitas karya, keduanya mengundang perhatian sekaligus apresiasi dari berbagai penjuru dunia. Setelah Senyawa mengunjungi Jakarta pada akhir tahun 2016, kini giliran Suarasama yang membawa musiknya ke ibukota. Dalam acara yang digagas oleh RRREC Fest dan Gudang Sarinah Ekosistem, Irwansyah Harahap, Rithaony Hutajulu beserta kolaboratornya di Suarasama akan berbagi panggung bersama Bin Idris dalam gelaran berjudul RRREC Fest SHOWCASE #2. Digelar di Hall A4, Gudang Sarinah Ekosistem pada Jumat, 24 February 2017 mulai pukul 8 malam, tentunya acara ini akan menampilkan kualitas yang tak biasa. Ditemui beberapa saat sebelum tampil Bang Iwan dan Kak Ritha tampak santai sembari mengobrol bersama Indra Ameng dan beberapa teman lain. Sehari sebelumnya, Suarasama tampil bersama Nasida Ria di Masjid Istiqlal dalam rangka revitalisasi Masjid Istiqlal. Disana mereka tampil di depan Menteri Agama, “Beliau kaget kalau ternyata ada grup musik seperti ini di Indonesia. Dan beliau merencanakan suatu saat akan mengadakan festival musik Islami yang berskala lebih besar” ujar Ritha. “Kita akan membawakan lagu dari album Timeline, Fajar di Atas Awan juga beberapa lagu yang rencananya masuk album baru. Lagu baru akan menyasar gaya musik folk. Di Gudang Sarinah materi-materi tersebut akan dibawakan oleh tiga generasi personil Suarasama. Mulai dari personil awal hingga personil anyar yang baru tiga kali bermain bersama,” cerita Irwansyah. Bagi Suarasama sendiri, penampilan di Gudang Sarinah nanti merupakan pengalaman yang seru, “Selalu asyik bisa memainkan musik di berbagai dimensi. Bisa berkomunikasi dengan berbagai lini publik dengan bahasa musik, ini adalah hal yang menjadi energi bagi saya pribadi,” tambahnya. -- RRREC Fest x Gudang Sarinah Ekosistem Present RRREC Fest SHOWCASE #2 Friday, 24 February 2017 8 – 10.15 PM at Hall A4, Gudang Sarinah Ekosistem Jl. Pancoran Timur 2 No.4, Pancoran Jakarta Selatan Featuring: SUARASAMA and BIN IDRIS Doors Open 7.30 PM Ticket: Pre Sale: IDR 50k at RURU Shop WA: 081290362655, E: Rurushop6@gmail.com At the event: IDR 75k Venue capacity: 350 persons

19.02.17

Footurama is Hiring!

Footurama is recruiting full-time photographer to join our growing team of creatives. Get the opportunity to be involved in photo shoot sessions, as well as cooking creative concept for editorial. You will benefit to be trained by our experienced, dedicated and innovative team who has worked side-by-side with Studio 1212 & Whiteboard Journal, which happen to be our other internal reputable aggregates. He/she must have great photography skill, and has the ability to use all studio equipment and image editing software. If you are a future young creative who has high interest and strong passion in our focused area, please send your inquiry to .

17.02.17

Themes for Divided Tribes by Dekadenz

Memperkenalkan diri sebagai Dekadenz, sebuah kolektif dance music asal Jakarta yang beranggotakan Jonathan “Ojon” Kusuma, Aditya Permana dan Ridwan Susanto mengabarkan bahwa mereka telah merilis sebuah podcast series bertajuk “Themes for Divided Tribes”. Di dalamnya terdapat sembilan nama (termasuk Dekadenz) dari para DJ juga music selector yang berasal dari berbagai macam kolektif musik, seperti Belda Farika (Never Too Disco), Dr. Satomata, Negative Lovers, Swarsaktya, Gerhan a.k.a Komodo (Akamady Music) serta Sostenes 'Ones' Alfonsos (Casual Dance). Dalam salah satu wawancaranya Dekadenz menyampaikan bahwa podcast series ini memang telah dipersiapkan sejak tahun lalu, selain itu mereka pun juga tengah menyiapkan proyek lainnya berupa track-track Dekadenz edit. Lewat Dekadenz, Ojon, Adit dan Ridwan pun mencoba memperkenalkan karakter musik mereka sebagai dance music yang cenderung bernuansa gelap. Dengan suara kasar dari analog drum machine atau synth dan paduan unsur perkusi tropikal, membuat Dekadenz memiliki konsep party versinya sendiri. Hal tersebut dapat tergambar melalui musik pada podcast series ini, yang secara tidak langsung memotret atmosfer party ala bunker bawah tanah yang penuh peluh.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.