Blog

Latest stories

02.05.17

Parahyangan Fair 2017

Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) sukses menggelar acara tahunan mereka Parahyangan Fair dengan tema "Eclipsed" pada tanggal 24 April lalu di Bumi Sangkuriang Bandung. Berisi ragam hiburan tak terkecuali musik dari beberapa musisi besar Indonesia, seperti Maliq & the Essentials hingga Elephant Kind, gelaran ini membuktikan bahwa UNPAR masih menjadi salah satu parameter wadah kreasi antara subkultur yang ada di Bandung.

02.05.17

Roman Underground Morfem

Morfem mungkin adalah band indie-rock paling militan dan paling produktif saat ini. Usianya belum terlalu panjang, namun telah banyak melebihi banyak band lama maupun band muda dalam hal rilisan. Di luar aktivitas rekamannya, Morfem juga giat dalam menciptakan inisiatif gigs bagi Morfem dan band indie rock lokal melalui acara rutin berjudul "Thursday Noise", dimana kegelisahan anak muda urban menyatu dengan bising musik dalam kafe-kafe kecil di sekitar Jakarta Selatan. Nuansa inilah yang kemudian diterjemahkan dalam videoklip "Roman Underground" yang juga muncul sekaligus sebagai single dari album "Dramaturgi Underground rilisan tahun 2016 lalu. Yang menarik pada video ini, Jimi Multhazam bersama Surya Adi dari Barde Films memilih penceritaan yang setia dengan lirik lagu tentang kisah kasih yang terjadi di gigs underground. Sebuah kisah yang sangat sederhana, namun juga sangat nyata di saat yang sama. 1xbet is the best in the world. Good odds, big bonuses, and most importantly - a very fast withdrawal of money to payment details!

28.04.17

Konsep Musik Versi Sattle

Setelah Bandung, tur musik Defile akan menyambangi Jawa Timur, tepatnya Surabaya untuk terus menyebarkan konsep versi Dentum Dansa Bawah Tanah. Kembali membawa Django, namun kali ini ditemani oleh Sattle dan Baldi. Keduanya dikenal membuat sebuah unit bernama Batas Echo yang sejauh ini telah mengeluarkan 2 versi re-edit di akun Soundcloud-nya. Kami berkesempatan mengobrol dengan Sattle sebelum ia tampil di Surabaya untuk menanyakan tentang monikernya dan konsep Batas Echo. Tadinya cuma mau membedakan moniker saat bermain drum & bass bersama Javabass. Jujur secara arti sih ya tidak ada sesuatu yang ingin diutarakan, kecuali menurut pribadi saya lebih gampang diingat saja dengan nama itu. dan lagu? Proses kreatif bisa datang dari mana saja. Biasanya datang atas dasar ketertarikan suatu hal, misalnya ada periode di mana saya sedang suka musik tertentu. Maka daripada terpendam, ya apa salahnya ditulis? Minimal jadi dulu -nya. Kalau lagi rajin, bisa sampai selesai. Tapi kalau tidak selesai, juga tidak apa. Ya anggap saja itu bagian dari proses pembelajaran. Semakin kita mencoba banyak hal semakin pula kita tahu diri kita seperti apa. Awalnya karena hubungan pertemanan yang berlanjut ke ide untuk membuat suatu proyek musik, serta kekaguman kami terhadap karya Harry Roesli dalam album "Harry Roesli '83" berjudul "Batas (Echoes 1)" yang menjadi inspirasi kami untuk membentuk Batas Echo. Berangkat dari keisengan kami dalam re-edit lagu Indonesia lama yang nanti mungkin berkembang menjadi bentuk karya lain. Itu juga kalau Tuhan memberkati (tertawa). Konsep re-edit yang kami tawarkan sebatas ingin menggubah lagu Indonesia agar bisa dimainkan oleh DJ, pada khususnya. Sekilas memang tidak banyak yang berubah dari lagu aslinya - hanya sebatas . Mungkin tantangannya ialah bagaimana mendapatkan dari lagu yang bagus secara kualitas suara dan dalam hal ini re-edit menjadi sesuatu yang sensitif terkait dengan hak cipta. Tetapi kembali lagi ke tujuan awal, jadi tidak ada salahnya berbagi sesuatu yang kami bisa lakukan untuk teman-teman agar bisa menikmati karya lama dari musisi Indonesia ke dalam dalam format re-edit. Sangat antusias ketika menyambut tawaran dari pihak DDBT, karena ini bisa menjadi salah satu rekam jejak musik Indonesia; untuk lebih spesifiknya musik elektronik, setelah kompilasi Jakarta Movement yang sangat memorable bagi saya pribadi ketika pertama kali mendapatkan kasetnya. - Defile #4 Sabtu, 29 April 2017 The Goods Diner Surabaya 21:00 Django, Sattle, Baldi Special guest: Kylko, Sinatrya

26.04.17

Pameran Tunggal Nindityo Adipurnomo: ‘Unit Produksi Berita’

Nindityo Adipurnomo, pria yang lahir tahun 1961 di Semarang ini adalah alumni jurusan Seni Rupa Murni di STSRI (ASRI) Jogjakarta. Ia pernah memanjangkan studinya ke Amsterdam, Belanda pada tahun 1986 dan terlibat pada beberapa program residensi maupun lokakarya di berbagai tempat di Eropa. Dalam pameran tunggalnya kali ini, ia melibatkan 10 seniman yang bermukim di Jakarta yakni Jessica Soekidi, Jo Elaine, John Navid, Afi Shamara, Gregorius Supie, Michela Cavagna, Arimbi Nimpuno, Gianni Fajri, Vanessa Kalani Ong, dan Wiyu Wahono. Pameran ini merupakan sebuah bentuk apresiasi terhadap seni dan perhatian akan keterlibatan seniman sebagai masyarakat modern di antara rumitnya ibukota Jakarta. Turut juga memberi sambutan dan pengantar pada pameran, Aaron Seeto, Direktur Museum MACAN. Pembukaan Pameran Kamis, 27 April 2017 pukul 19:00 dia.lo.gue artspace Jl. Kemang Selatan 99A Periode Pameran 30 Maret - 16 April 2017 9.30 - 18.00

21.04.17

Empat Lagu untuk Merayakan Panjang Akhir Pekan

Ada dua akhir pekan panjang yang akan datang di akhir April dan awal Mei ini. Momen-momen seperti ini adalah saat yang tepat untuk rehat sejenak dari aktivitas, sekaligus mendekatkan diri kembali pada keluarga dan kenyamanan yang sering terlupakan di antara keseharian. Berikut adalah beberapa musik pilihan yang bisa menemani saat-saat tersebut, beberapa di antaranya juga bisa didapatkan versi fisiknya di Records Store Day 2017. Tak ada yang lebih indah daripada suasana sore akhir pekan dengan musik menenangkan sembari mengingat kembali masa kecil yang menyenangkan. Melalui cover Simon Garfunkel ini, Monita Tahalea memberikan lebih dari itu. Digarap bersama Indra Perkasa dari Tomorrow People Ensemble, terjemahan lagu klasik “Sound of Silence” ini menunjukkan potensi sejati yang dimiliki Monita, yang semoga akan bisa lebih kentara di materinya yang akan datang. Jika ada yang menanyakan siapa yang bisa menjadi penerus Efek Rumah Kaca di masa yang akan datang, Moonbeams bisa menjadi salah satu kandidat terkuatnya. Muncul tanpa pretensi, dan dengan latar belakang yang cukup menarik (drummer Moonbeams juga bermain di unit powerviolence, Disfare), mereka menunjukkan potensi itu. “Coolibah ‘97” lagu terbaru mereka semakin menguatkan kesan tersebut, ada beberapa bagian yang mengingatkan pada lagu “Balerina”, dan yang menarik adalah Moonbeams tak literal dalam berkarya, di sana-sini, Moonbeams juga terasa seperti bentuk baru dari band indie lawas, Planetbumi. Dengan kombinasi menarik Efek Rumah Kaca dan Planetbumi, rasanya Bin Harlan, sosok indies yang menemukan Cholil dan kawan-kawan pasti bangga. Dengan sedemikian banyak pantai yang dimiliki Indonesia, entah kenapa belum terlalu banyak band yang menjelajahi ombak dari genre surf-pop/pop. The Mentawais adalah salah satu yang berani melakukannya dan menghasilkan bebunyian instrumental indah sebagai hasil akhirnya. Dan jika hasilnya semenarik ini, di suatu sudut sana, Ratu Pantai Selatan pasti menyepakatinya. Setelah rehat selama setahun, Ramayana Soul kembali untuk menyelesaikan hal-hal yang belum usai. Di pertamanya ini, psikedelia sekali lagi datang dengan balutan suasana yang sedikit lebih cerah, namun tetap kental dengan suasana spiritual. -- Materi dari Moonbeams (Leeds Records), The Mentawais (Hujan! Rekords), dan Ramayana Soul (Pas Pas Records) dirilis dalam bentuk fisik pada Records Store Day 22 April 2017 ini. Mari mengisi liburan dengan mengunjungi toko musik independen lokal terdekat!

20.04.17

Dentum Unik Django untuk Defile #3

Tur mikro bawaan Dentum Dansa Bawah Tanah kembali hadir dan kali ini merajai kota Bandung. Defile terus menyebarkan semangat ala mereka dan membawa roster pilihannya dibarengi dengan nama-nama dalam skena sebagai bentuk kolaborasi guna menawarkan padanan seleksi lagu pemeriah lantai dansa. Salah satu pengisi acara untuk Defile kali ini adalah Pujangga Rahseta aka Rhst aka Django. Hadir dengan banyak moniker dan afiliasi; mulai dari Divisi62, DEAD Records, Funkbox Records, hingga The Cru Creatives, Django memiliki ragam referensi musik yang patut diperhitungkan. Kami berkesempatan untuk bertanya tentang apa pembeda karakter antara monikernya serta bagaimana ia mendekonstruksi musik bersama Wahono dan RMP. Berkembangnya selera saya awalnya berdasarkan sekadar biar terlihat keren dengar musik aneh di sekolah. Lalu belajar memadukan musik dengan runtutan tertentu untuk didengarkan sendiri, atau saat membuatkan mixtape untuk seseorang. Hal-hal klise tersebut yang akhirnya membuat saya eksplorasi musik yang bermacam-macam. Sampai sekarang juga bereksplorasi masih menjadi utama saya. Akhirnya memutar musik sebagai DJ juga karena ingin memutar musik kesukaan pribadi untuk kalangan teman dekat. Kemudian setelah menemukan serunya sharing musik dengan orang lain lewat DJ set. Lalu jadi keterusan. Pembedanya mungkin hanya di pendekatan, dan narasi yang ingin disampaikan lewat musik saja. Pendekatan saya kepada tiap moniker dan afiliasi mungkin lebih seperti mendalami peran. Django sendiri selalu suka musik yang mengandung unsur suara ketipang-ketipung dan dentam-dentum unik. deck? DIVISI62 terbentuk dari pembicaraan panjang di mana muncul ide-ide bersama. , label ini bertujuan untuk mencapai . Ketika tampil sebagai konstituen DIVISI62, seleksi saya akan mencoba mendekonstruksi ragam identitas musik dansa elektronik hingga tribal/etnik lokal dan global dengan interpretasi sendiri. Judul Kamseng Riddim muncul karena waktu produksi trek tersebut, saya sedang menunggu datangnya pesanan bubur babi , cakwe, & ubur-ubur dari restoran Kamseng waktu dini hari. Begitu ceritanya. yang ada dalam skena musik . Menurut Anda yang memiliki ketertarikan pada musik elektronik/dance, musik dance seperti apa yang belum diliput oleh Aldo; selaku inisiator, dan kawan-kawan? Menurut saya, musik dalam skena musik yang belum diliput/masuk kompilasi ini masih banyak. Tapi keluasan dan kedalaman berdasarkan genre atau afiliasi bukanlah tujuan utama dari kompilasi ini. Kompilasi ini adalah potret dari sebagian skena ini sekarang. Artefak skena musik dansa arus bawah tanah dengan menilik beberapa nama yang dipilih menurut preferensi si pembuat. Jadi kalau banyak yang merasa kurang terwakilkan, saya harap akan lebih banyak lagi yang tergerak untuk membuat hal yang serupa dan lebih baik. Biar makin seru. - Sabtu, 22 April 2017 Verde 21:00 Django, Harvy, Android 18 Special guest: Herta (Scrubs) dan Bagvs (Roofless) Gratis

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.