Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Brand streetwear asal New York, Supreme, telah merilis Spring/Summer Collection untuk tahun 2017. Salah satu yang menarik adalah seri kolaborasi dengan menggunakan beberapa karya pelukis kelahiran Belanda, Maurits Cornellis Escher. Escher adalah seniman grafis yang banyak karyanya mengambil bentuk geometris rumit seperti polyhedra yang diproduksi dengan teknik linocut atau . Ia memberi tekanan pada persepsi dimensional dan bentuk dalam karyanya. Hiperbola geometris yang ditawarkan oleh Escher mempengaruhi bentuk kerupaan dan beberapa aspek teknologi yang dekat dengan keseharian sekarang Koleksi Supreme yang mengambil beberapa karya grafis Escher dicetak pada , dan topi. Beberapa hadir dengan pilihan 4 warna yakni hitam, putih, pink dan biru. Seri M.C. Escher ini telah dijual di New York, Paris, London, dan Jepang. Karya Escher dianggap kental dengan nuansa sains dan teknologi dan karenanya dianggap dekat dengan kultur pop. Kolaborasi ini bisa jadi bentuk yang baik untuk menawarkan karya seniman yang telah meninggal pada 1972 lalu itu sebagai bentuk aplikasi seni rupa pada fashion.
Muhammad Zaki atau yang lebih dikenal dengan nama panggung DangerDope atau DJ Rencong telah merilis album penuh pertamanya bersamaan dengan perhelatan Record Store Day bulan April lalu. DJ dari Aceh ini telah menekuni jalan bermusik lebih dari 10 tahun dengan berbagai gaya lewat proyek panggung dan kolaborasi yang beragam sebelum ia menelurkan rilisan pertamanya. Bangunan dan kolase musik yang ia pilih disusun dari rekaman komposer tanah air seperti Bob Tutupoli dan Lilies Suryani atau juga rekaman siaran TV tanah air yang ia padukan dengan instrumen tradisional. Menarik bisa mendengar nuansa ritme hip hop di antara rekaman jadul dan bangunan musik tradisional yang dihasilkan oleh seruling atau rebab misalnya. Ia mungkin bukan yang pertama memasukkan nuansa tradisional tanah air yang dipadukan dengan subkultur hip hop, namun karakter musiknya berangkat dari kecermatan memilih serta mengiris nya menjadi satu komposisi yang dinamis. Lewat label PasPas Records yang juga merilis EP Ramayana Soul April lalu, “Raw Chapter One” bisa jadi alternatif musik yang layak didengarkan dan mari berharap akan ada “Raw Chapter Two” yang akan dihasilkan oleh yang kerap memakai topeng gas saat manggung ini.
Tak ada yang meragukan reputasi Fatih Akin sebagai salah satu sineas jempolan di Benua Biru. Rekaannya terbentang sepanjang permadani pujian yang menyediakan kepastian kualitas. Menyimpan kritik universal terhadap fenomena sosial maupun merayu humanisme dalam cekung realitas. Cannes dan Locarno sudah merapatkan barisan pertanda sepakat mengakui kapasitasnya di atas penahbisan. Film terbarunya yang berjudul () menjadi bukti terkini. Menuturkan cerita perjalanan sepasang remaja ingusan, Maik Klingenberg (Tristan Gibel) dan Andrej 'Tschick' Tschichatschow (Anand Batbileg), Fatih berupaya menjangkau daratan kesederhanaan ponten yang dibentuk lewat persepsi lingkungan sekitar. Menumpangi mobil Jeep berwarna putih hasil curian, mereka melakoni petualangan melintasi kawasan perbatasan seraya berharap menemukan pelarian yang menyenangkan. menempatkan plot yang simplistis. Dua pecundang berkelana dan akhirnya meraih hikmah masing-masing laksana pengalaman terbaik sejauh hikayatnya. Fatih kiranya tak perlu menerapkan formula baku atau narasi surealisme saat mengisahkan babak demi babak. Selama durasi berjalan, kita akan disuguhi lelucon ringan yang kelak mengaduk tawa sampai ditakjubkan keelokan lanskap daratan hijau di bumi sana. Menyaksikan sepintas mengingatkan pada dokumentasi dengan tambahan premis filsafat yang dikerjakan Fatih di medio 2007 hingga 2009. Mengendus keliaran, menelisik sarkasme, serta mengenyahkan beban kenyataan. Fatih Akin | Tristan Gobel, Aniya Wendel, Justina Humpf, Anand Batbileg | Lago Film, Studiocanal Film | Germany | 93 minutes | 2016
Gagasan kolektif yang didukung oleh ruang-ruang yang layak dapat menyumbang kegiatan yang positif. LadyFast #2 adalah contoh kegiatan yang mampu memberi fitur ruang diskusi, pameran karya, lapakan, dan musik. Diinisiasi oleh sebuah kolektif yang menamakan dirinya sebagai Kolektif Betina, para perempuan yang terkumpul dari berbagai latar belakang berbeda dari 9 kota di Indonesia membuat sebuah ruang berkumpul dan berekspresi. Perayaan tahunan mereka yang kedua di Bandung yang digelar tanggal 29-30 April lalu mengundang banyak partisipan, umumnya para penggerak kreatif yang datang untuk menunjukkan produknya ataupun para penggiat acara sebagai konsumennya. Tak hanya menampilkan lapakan dan menyediakan ruang kreatif, mereka menyajikan diskusi yang menarik seperti membicarakan maskulinitas atau membuat jamu tradisional sebagai pereda nyeri menstruasi. LadyFast #2 memberi ruang seperti yang para penggagasnya harapkan. Selama ini ruang untuk bisa berkumpul dan menyuarakan pendapat kadang direpresi oleh suatu golongan lain. Dengan cermat mereka memberi diskursus yang menarik dan mendidik serta memberi nuansa pasar lapakan yang hangat lalu kemudian ditutup oleh pertunjukan musik yang prinsip partisipatorisnya kuat. Dalam gelaran musik keras, para penonton dilibatkan untuk saling membaur, bertabrakan, dan berada dalam tatanan yang sama. Sebagai partisipan, perempuan di dalam ruang moshpit memiliki perannya sendiri untuk menikmati dan adalah haknya untuk merasa aman dan tidak menjadi objek, namun menjadi subjek dalam gerakan, bersama-sama memiliki ruang untuk berekspresi.
Semenjak meraup pundi-pundi kesuksesan secara finansial maupun ulasan, ia perlahan menapaki strata hegemoni yang tak perlu banyak publisitas. Feist semakin konsisten dalam melantunkan entitas tembang yang meletuskan energi melankolia. Ada harmoni , , hingga distraksi kegetiran laiknya catatan pribadi Lindsey Buckingham. Semua disusun atas sepasang pengharapan; merapalkan cita, menebalkan pesona. Akhir April 2017, album terbarunya yang bertajuk rilis ke pasaran. Polanya selaras dengan kreasinya yang sudah-sudah; menghentak kesepian, melukis gores keputusasaan, dan mencari momentum kebangkitan tak bertuan. Memuat 11 (sebelas) komposisi yang diciptakannya sendiri, ia membaurkan aroma Crosby, Still & Nash era hingga minimalis milik Burt Bacharach. Lagu-lagunya berpesan tentang sekelumit petuah; mencela konsepsi mimpi pada “Lost Dreams”, menjaga batas logika lewat “The Wind”, maupun menolak keberpihakan di trek “I’m Not Running Away.” Apabila manuskripnya tempo hari adalah monolog yang disadur dengan serpih subtil, maka merupakan dialog yang melepaskan kebebasan tafsir untuk khalayak ramai.
Terberkatilah mereka yang sempat merasakan kejayaan MTV dan menikmati beragam video klip dengan konsep liar. Mulai dari yang bertema super hip hop sampai lengkap dengan dan penari latar. Tentu banyak elemen menarik yang membuat musik di sekitar tahun 90-an dan awal 2000 menjadi dan . Terlepas dari aransemen yang diramu untuk membuat lagu-lagu tersebut , kreasi video klip yang muncul kala itu mampu menstimulus imajinasi atau nuansa musik para secara tepat jitu. Bahkan tidak jarang pula koreografi yang dibuat khusus untuk suatu lagu menjadi sebuah agenda spesial di antara anak muda dahulu kala - karena siapa yang tidak tergerak untuk menghapal tarian di video klip Britney Spears - Oops!… I Did It Again. Terkait dengan fenomena tersebut, 4 orang sekawan yang dulu bersekolah di San Francisco, Inka, Ames, Andri, dan Try melihat sebuah gerakan yang berkembang di sana - di mana sebuah acara tidak melulu bersifat eksklusif. Lalu mereka pun memutuskan untuk mengadaptasi tersebut ke Jakarta. Kami berkesempatan untuk mengobrol dengan mereka terkait alternatif yang mereka buat, yakni Videostarr. Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah melihat banyak alternatif muncul sebagai respons terhadap kejenuhan EDM di Jakarta. Sementara sebagian besar gerakan dalam eksklusivitas memainkan koleksi vinyl yang , kami mencoba untuk mengembalikan sifat inklusif dari sebuah . Di balik gerakan yang bersifat , kami juga merasa bahwa genre yang dibawakan masih kurang beragam. Sedangkan, pada saat kami berempat kuliah di San Francisco, kami melihat bahwa di sana berani untuk memainkan berbagai macam genre musik tanpa pandang bulu. Berawal dari pengalaman itu, kami ingin menantang ide musik yang dianggap layak untuk di Jakarta saat ini. Pada dasarnya, Videostarr itu sendiri menyuguhkan yang mengutamakan presentasi video/visual dan lagu-lagu yang terkurasi. Untuk acara Time After Time After Time, kami ingin mengangkat musik pop dengan unsur sebagai kunci utama. Berangkat dari konsep ini, kami ingin menantang publik akan atau tidaknya suatu lagu dan layak atau tidaknya lagu tersebut untuk diputar di . Selain itu, kita ingin menghadirkan nuansa nostalgia yang tentunya dan bisa dinikmati oleh banyak kalangan, mulai dari sampai Snapchat yang relatif baru di ini. Untuk Time After Time After Time, fokus kami memang pada era tersebut, karena kami sendiri dan sebagian besar kami tumbuh dengan beragam video klip MTV pada era emas itu. Kami pernah membaca sebuah artikel mengenai musik berjudul Neural Nostalgia oleh Mark Joseph Stern, yang menyatakan bahwa para peneliti telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa otak kita membuat ikatan terhadap musik yang kita dengar saat masa remaja lebih erat dari apapun yang akan kita dengar saat kita beranjak dewasa – hubungan tersebut tidak akan melemah seiring bertambahnya usia kita. Musik nostalgia, dengan kata lain, bukan hanya fenomena kultural, melainkan perintah neuron. Dan tidak peduli seberapa selera kita saat beranjak dewasa, otak kita mungkin tetap mempunyai ikatan pada lagu-lagu yang kita dengarkan selama kita masih menjalani kehidupan remaja. Maka, secara subjektif tentu saja, menurut kami lebih video musik pop masa tersebut. Di era digital sekarang, video klip masih relevan, tapi mungkin lebih -nya. Hanya mereka yang memang tertarik dengan visual yang akan untuk mengulik seperti apa sih video klip lagu yang mereka suka. yang sebenarnya ingin diraih oleh Videostarr? Apakah seperti di video klip Salt n Pepa - Whatta Man? Untuk Time After Time After Time, kami ingin atmosfer party yang dan yang terpenting , karena kami juga menyelipkan lagu-lagu yang biasanya hanya terdengar di ruang karaoke atau bahkan di kamar mandi. Faktanya, lagu-lagu seperti RATU - Teman Tapi Mesra dan Miley Cyrus - Party In The USA sukses menjadi di acara kami. Untuk ke depannya, kami ingin menjaga (baik dari seleksi lagu maupun visual) di setiap acara kami. - Bal-0 Rawdeal Diskocok Jum’at, 5 Mei 2017 The Safehouse 21:00
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.