Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Joining the ever-growing series of collaborations in the high-fashion industry, Louis Vuitton and Supreme announced their collaboration just earlier this year. A release of their line of hoodies, bags, shoes, and such with mostly the vibrant red color of Supreme’s, with both brand’s logos splashed across most items marks the possible end of a bad-blood tension originating from back in 2000 when Supreme released decks with LV’s prints on them, which were then soon called-off by LV. While the collaboration itself might come as a surprise to most due to both brands’ history, what might be more foreseen is are the tags on the collection which costs 3,500 up to 50,000 euros for each item. This still doesn’t stop the crowd’s anticipation to the collection’s launch, though. Because apparently, super bright red hood jackets and sunglasses with huge prints of the brands splashed across them costing thousands of euros are still worth the hype. Funnily enough, some of the crowd queuing to enter a pop-up launch in London claimed to be waiting not to actually purchase the insanely priced items, but rather to simply experience the ‘vibe’. This certainly speaks a lot about the length nowadays’ crowd is willing to go to simply experience all the hype and buzz of a trend, which may trigger the question of whether this is about having deep and devoted passion for fashion, or just a very frank and cringe-worthy proof of consumerism getting out of control. Nevertheless, doesn’t mean that the collection is still not to marvel at. Even though some aspects of the collaboration may be subject to eyebrow-raising for some, the combined work of high fashion’s most esteemed luxury brand and cult favorite’s skater label should still deserve the anticipation it’s getting.
Terapi Urine mungkin akan terlihat sebagai band yang geguyonan bagi kebanyakan. Dengan nama, judul lagu serta penampilan dan kostum panggung yang selalu bodor, tampaknya itu memang salah satu visi mereka (jika memang mereka memilikinya). Namun, jika diperhatikan lebih dekat, sebenarnya justru mereka adalah band yang serius, ini bisa dilihat pada produktivitas mereka yang lumayan, sejak pertama muncul di tahun 2012, mereka telah mengeluarkan sejumlah rilisan dalam berbagai bentuk, EP, album juga Sebelum sekali lagi mereka menutupi keseriusan tersebut dalam balutan yang Namun justru di situlah posisi mereka menjadi menarik, dalam hal ini mereka telah menyejajarkan diri dengan Primitive Chimpazee dari Malang yang mengembalikan humor dalam silsilah turunan hardcore yang kadang terlampau serius itu. Jika masih perlu bukti mengenai keseriusan anak-anak Terapi Urine dalam menertawakan dunia beserta isinya (termasuk mereka sendiri), album "Petenteng" bisa jadi pembuktian yang relevan. Dirilis di Instagram, album tersebut berisi 9 lagu pendek yang dalam melakukan keahlian terbaik Terapi Urine: grindcore secepat kilat, dengan lirik nakal yang mengusik. Dan, utama di album ini jelas ada pada lagu "Existensi" dimana mereka mengkritisi budaya di sosial media (dan mereka melakukannya di album yang dirilis dalam bentuk Instagram video), grindcore lokal belum pernah terasa sejenial ini. Dengarkan album "Petenteng" selengkapnya di Instagram. Coba juga diskografi Terapi Urine.
Sebuah hiburan dengan segelintir nama musisi yang pastinya sudah tidak asing lagi, Folk Music Festival kembali hadir. Menginjak tahun ketiganya, festival ini menawarkan suasana hiburan baru di Malang, tepatnya di Kusuma Agrowisata, Batu. Diisi dengan nama-nama seperti Payung Teduh, Danilla, Float, Silampukau, Stars and Rabbit, Monita Tahalea, Bin Idris dan masih banyak lagi, Folk Music Festival kali ini menjanjikan sebuah ajang untuk menikmati karya lokal dengan beragam karakter. Folk Music Festival 2017 Sabtu, 15 Juli 2017 10:00 - 24:00 Kusuma Agrowisata Jl. Abdul Gani Atas, Batu HTM IDR 150.000
Meski perlu direkognisi karya aslinya, namun lagu—sama seperti karya seni lainnya—tentu bisa menjadi subjek reinterpretasi oleh banyak pihak. Bukan berarti pemaknaan menjadi dihilangkan, dan ‘kementahan’ awal menjadi tidak relevan, namun interpretasi semata-mata menjadi bentuk baru dengan pemberian ‘nyawa’ berbeda bagi karya. Interpretasi juga bisa dilihat sebagai lahirnya kembali sebuah karya yang diberi hembusan angin segar baru. Leisure memperkenalkan sebuah remix dari "U and Me" oleh M.I.L.K., di mana jika sebelumnya M.I.L.K. menyajikan U and Me dengan dentingan drum yang lebih jelas, dengan nada groove yang mungkin mengubah suasana seolah kembali ke era 70an. Dengan tetap mempertahankan suasana 70an tersebut, Leisure menyulap "U and Me" dengan alunan lebih halus dan r&b. Meski begitu, emosi dan jiwa dari lagu tersebut tetap menghadirkan konsep dan vibes retro yang menyegarkan, sehingga pemaknaan baru dari lagu ini tidak akan meninggalkan kesan ‘kehilangan.’
A symbol of new talents, perspectives, and definitely a new scene, Russia’s ‘dawn’ of skateboarding named Paccbet ventures out to California. In this search for freedom and inspiration, new vibes for Paccbet’s creative endeavors, California’s urban skateboarding landscapes definitely didn’t disappoint, as a collaborative film was shot with peers from the American skate-scene. Paccbet itself may be seen as a realization of how urban sports such as skateboarding doesn’t stray far from the search of creativity and inspiration. With its aim to grow past borders, perhaps its apparent aim to turn the world into its very own playground through the search of endless new scenes shows just how inspiration comes from the present, not the past. And perhaps this is the way Paccbet as an urban community evolves itself and fusions with its own definition of creativity.
Rilisan tahun 2013 karya Mouly Surya ini memang benar-benar mengeksplorasi hal-hal yang tidak dibicarakan ketika membicarakan cinta. Mungkin sudah biasa jika melihat film-film bertemakan romansa yang menggambarkan indahnya maupun sakit hati atas kandasnya jatuh cinta, berpacaran, menikah, , dan tipikal-tipikal sudut pandang romansa lainnya. Karya Mouly satu ini memang patut diacungi jempol atas keberaniannya memasuki ‘dunia’ baru akan romansa lewat penggambarannya (yang terkadang cukup eksplisit) tentang dinamika percintaan yang unik. Dengan mengisahkan kehidupan pribadi sehari-hari beberapa individu yang tunanetra, Mouly melalui What They Don't Talk About When They Talk About Love mencoba menunjukkan sisi-sisi dari percintaan yang mungkin menjadi kurang nyaman atau kurang konvensional untuk dibahas. Mouly menampilkan realita dan hal-hal di balik layar lainnya yang biasanya menjadi tersembunyi ketika menyajikan romansa yang ditujukan untuk sekadar menghibur. Selain itu, ia juga menunjukkan adanya hal-hal yang mungkin berada diluar batas pengertian banyak orang tentang apa itu cinta dan romansa, bahwa mungkin ada bentuk-bentuk cinta lainnya yang tidak diduga ada. What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013) Sutradara: Mouly Surya Sinopsis: Berkisah tentang beberapa individu tunanetra dalam suatu institusi sekolah dan perjalanannya masing-masing baik dalam mengejar kedewasaan, mimpi, maupun keinginan untuk dicintai.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.