Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Suatu karya memang pasti memiliki makna. Entah terinspirasi dari apa dan dimaksudkan untuk mengilustrasikan apa, pasti makna itulah menjadi kunci penentu karakter dari suatu karya. Melalui yang belum lama dirilisnya, Haikal Azizi alias Bin Idris memiliki alasannya tersendiri untuk menyentuh isu sosial yang dirasa relevan kini. ‘Berbagi bumi, berbagi matahari’ seperti yang ia nyanyikan dalam “Rukun Warga,’ memang bermaksud membawa makna perdamaian. Dengan alunan latar yang ringan dan dengan suara vokalnya sendiri yang menggema, pemaknaan di balik lagu ini memang dirancang untuk mengejar relevansi dalam realita kini. Melalui “Rukun Warga” juga Bin Idris mencoba untuk berkomunikasi dengan realita, untuk menciptakan sebuah dialog yang mempromosikan kerukunan dan mengembalikan sebuah sensasi ‘damai’ yang mungkin kini mulai sulit untuk dirasa. Dilengkapi dengan ilustrasi fotografi oleh Wahyudi Onggo yang diambil di tengah euforia demo Hari Buruh, lagu tersebut benar-benar menjadi sebuah karya bermakna yang secara akurat memampangkan sebuah potret sosial.
Tantangan demi tantangan yang memicu adrenalin dan mengundang kegelisahan sementara adalah tema yang hendak dieksplor melalui "I Dare You" oleh The xx yang disertai oleh video yang mengilustrasikannya. Dalam video klip yang di antaranya dibintangi beberapa artis ternama dari serial Stranger Things dan film Moonlight berdurasi 6 menit ini, tersajikan pengisahan yang lebih dari sekadar ilustrasi dari lagu. Semula bisa diduga sebagai sebuah karya film pendek tersendiri, usaha dan estetika yang ditangkap dalam video klipnya perlu diberikan rekognisi yang lebih. Sebuah kolaborasi yang turut menggandeng Raf Simons dari Calvin Klein dan Alasdair McLellan, video klip ini menampilkan kisah pendek sekumpulan anak muda yang mencoba menaklukan tantangan-tantangannya sendiri. Kemampuannya untuk memikat perhatian sejak menit pertama mungkin bisa mendorong keinginan untuk melihat lanjutan kisahnya. Lebih dari itu, video ini bisa mengundang kita untuk merasakan segala kehangatan dari sebuah momen yang bisa membuat kita tergila-gila untuk menghidupkannya kembali dalam nostalgia di lain waktu.
Musisi dance/electronic asal Monako, Jennifer Cardini membuat gebrakan baru. Lewat labelnya, Correspondant, ia merilis album kompilasi seri lima yang turut serta mengajak Man Power, Marvin & Guy, sampai Red Axes. Album kompilasi tersebut memuat total 15 repertoir yang tak hanya dimainkan oleh artis Correspondant macam Red Axes atau Javi Redondo melainkan juga menarik para kolaborator lain seperti Fort Romeu dan Jonathan Kusuma hingga pendatang baru layaknya Marvin & Guy, Khidja, Kempes, sampai Colli Alban. Tercatat album kompilasi ini merupakan keluaran yang kelima dari Correspondant dalam kurun waktu enam tahun. Lewat beragamnya pengisi yang dibawa, baik Jennifer maupun Correspondant ingin menegaskan satu hal pada dunia bahwa dengan semangat gerakan punk, mereka mampu mendorong semarak musik disko elektronik ke ujung tak terbatas. Daftar lagu 01. Man Power - "Perserverencia" 02. Khidja - "Gelatine" 03. Borusiade - "Not Harmed" 04. Jonathan Kusuma - "Motor Melodies" 05. V - "2001" 06. Zombies In Miami - "Mithril" 07. Kempes - "Sentimental Idiot" 08. Marvin & Guy - "Juba Dance" 09. Colli Alban - "Walking In The Night" 10. Javi Redondo - "Heroin" 11. Uriah Klapter - "Tone" 12. Yovav - "Andiamo" 13. Red Axes - "Earth Core" 14. Fort Romeau - "Over Water" 15. Underspreche - "Drumz" Kompilasi ini dilepas pada tanggal 7 Juli 2017.
Kebanyakan orang tahu Ratta Bill dari bandnya bernama Bedchamber, tapi mungkin sedikit yang tahu kalau dia juga adalah desainer grafis dan sudah pernah mendesain album sampai poster konser. Nah, pada Gimme 5 kali ini, kami menanyakan hal selain musik, yakni - tentu saja - 5 album yang cukup dalam menginspirasinya sebagai desainer grafis. Memang banyak seniman visual yang oke di Amerika dan Eropa, namun langkah menarik diambil oleh Flying Lotus saat ia justru memilih komikus horror Jepang Shintaro Kago untuk mengerjakan nya. Dengan gaya horornya yang dan , seakan , hasil benar-benar mengesankan dan dengan kesan yang ingin disampaikan oleh musiknya. Kalau di atas masih kurang, mungkin bisa cek bagaimana tiap disajikan dengan seri yang brutal di internet. Ini personal, tapi dari dulu saya memang mengagumi mbak Claire Boucher dengan segala ambisi dan idealisme yang ia tumpahkan pada proyek solo elektronik popnya, Grimes. Ia mempunyai visi artistik yang kuat, baik dari segi musik dan visual, dan untuk meraih ideal tersebut seringkali ia turun langsung untuk memproduksi karya-karyanya semuanya sendiri. Pada yang ia kerjakan ini, ia meminjam gaya horor Jepang () dengan layout yang menarik untuk merepresentasikan album kedua Grimes yang memiliki spektrum cukup luas baik dari segi referensi dan tema. Mari ambil waktu sejenak untuk mengapresiasi detail pada desain panel merahnya Parquet Courts adalah band art rock yang paling menarik saat ini. , lihat saja bagaimana musik mereka sangat selaras dengan yang dikerjakan sendiri oleh -nya, Andrew Savage. Artistik, , penuh humor dengan penataan yang seenaknya, seakan Savage sudah menelan semua materi kelas seni dan desain matang-matang untuk kemudian dimuntahkan lagi bersama Parquet Courts. Etos punk bermain tidak hanya pada musiknya, namun juga pada kontribusi nya. Seringkali karya terkesan membosankan, bahkan terasa sebagai jalan pintas karena malas menggali ide yang lebih dalam. Namun saya tidak bisa memungkiri betapa berhasilnya Rage Against The Machine memparodikan karya Love oleh Robert Indiana menjadi “Rage.” Sulit rasanya untuk menemukan band hardcore punk yang memiliki gaya visual sekuat Black Flag. Tema ofensif dan garis yang tegas, beberapa artwork hasil garapan Raymond Pettibon seperti Slip It In, Police Story dan Jealous Again benar-benar membentuk karakter Black Flag hingga menjadi band hardcore punk paling pada masanya. Kejanggalan proporsi yang menunjukkan bagaimana ia tidak pernah mengambil pendidikan seni justru membuat kesan karyanya semakin kuat sebagai salah satu representasi skena musik di Amerika era 80an, tapi tolong jangan bicarakan tentang dari album terakhir Black Flag.
Memang bisa dikatakan bahwa karya Jason Ranti bisa menggugah emosi sedemikian kuatnya, terbukti dengan terbukanya sebuah diskusi pada Mei lalu mengenai lagunya “Bahaya Komunis.” Jason memang mengakui bahwa ditulisnya lagu itu tidak lain ialah untuk mendorong sebuah dialog yang mengarah kepada keresahan akan realita di tanah air. Kini, melalui rilis lagu terbarunya “Suci Maksimal,” Jason kembali mencoba menyuguhkan audiens dengan sentuhan liriknya mengenai ilustrasi akan bahaya yang mewarnai realita tanah air kini, namun dengan sudut yang berbeda. Dengan mengiring arah lirik kepada kesadaran batin manusia akan kejahatan dan kesucian, Jason mengajak pendengar untuk mengeksplor kembali apa sebenarnya arti hidup dalam batin tiap manusia berdasarkan angan-angan untuk bertindak. Disertai dengan dentingan gitar yang mendayu dengan indah, lagu ini mengandung jiwa dan emosi yang cukup untuk menyentuh batin agar peduli terhadap realita, yang mungkin memang dibutuhkan di hari-hari ini.
Bagi penyuka serial favorit klasik Twin Peaks, mungkin namanya sudah tidak asing lagi. Ialah seorang David Lynch, kejeniusan artistik di balik fenomenalitas Twin Peaks, Mulholland Drive, dan segelintir karya lainnya. Kini, semua benih kepenasaranan akan perjalanan yang mengantarkan Lynch kepada puncak kreativitasnya bisa mulai terjawab, melalui dokumenter yang dibuat untuk merayakan jejak artistiknya sejak awal, bertajuk David Lynch: The Art Life. Dokumenter garapan Jon Nguyen yang berorientasi pada hari-hari awalnya sebagai seorang seniman melukis ini rencananya akan rilis pada 14 Juli mendatang. Sebuah kesempatan untuk mengintip sumber inspirasi besar terawalnya, seniman Bushnell Keeler, yang pertama kali membuka kekagumannya akan kemungkinan baginya menjadi seorang pelukis. Mengintip sisi yang cenderung jarang diketahui tentang Lynch ini mungkin yang diperlukan untuk bisa lebih memahami karakteristik-karakteristik yang menjadikan serangkaian karyanya kental akannya. Sebuah eksplorasi apresiatif terhadap relung terdalam dari Lynch yang meluap akan kekayaan imajinasi, yang menjadikan kita bisa berterimakasih padanya untuk segelintir karya yang tidak hanya menghibur, namun juga jelas meninggalkan bekasnya tersendiri.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.