Blog

Latest stories

25.07.17

I too am untranslatable

Ruci Art Space membuka pameran berjudul “I too am untranslatable” pada tanggal 14 Juli lalu. Pameran tersebut dikuratori oleh Roy Voragen yang melibatkan empat seniman asal Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Setiap seniman menampilkan keahliannya masing-masing; Deden Durahman (fotografi), Jabbar Muhammad (seni lukis), Kevin Atmadibrata (seni pertunjukan), serta Theresia Agustina Sitompul (instalasi). Pameran ini mengeksplorasi perjalanan tiap artis untuk meleburkan batasan dan kebebasan tubuh tanpa mempengaruhi satu sama lain. Deden Durahman menampilkan dua seri yang membahas representasi diri sekaligus memperlihatkan krisis dalam kondisi terkini masyarakat. Kemudian Jabbar Muhammad meneruskan fokus yang sudah digarap sejak 2015 bertajuk Eve, yakni tentang konsep dualisme antara model maskulin dan feminin. Kemudian Kelvin Atmadibrata menyuguhkan karya yang menautkan seni pertunjukan, kolase kertas, dan narasi cerita pribadinya. Terakhir, Theresia Agustina Sitompul menunjukan sepasang jalinan keterkaitan di tengah terjangan delusional yang kerap menghampiri pikirannya sembari mempertanyakan sensibilitas pikir dalam medium berkesenian. Keikutsertaan Ruci dalam mendukung pameran ini adalah untuk membantu meningkatkan kesadaran terhadap seni budaya Indonesia yang terus berkembang. Di lain sisi, Ruci ingin berandil dalam menciptakan sebuah wadah antara seniman dan publik dengan menyediakan ruang bereksperimen, mengembangkan, serta mengubah gagasan menjadi simbol maupun objek yang representatif. - 14 Juli - 13 Agustus 2017 Senin-Minggu 11:00 - 19:00 Ruci Art Space Jl. Suryo No. 49 Jakarta

24.07.17

Interpretasi Istanbul oleh Debruit

Sebuah emosi yang menghasilkan inspirasi memang tidak terbatas, ia bisa berasal dari mana saja dan datang kapan saja. Menginterpretasikan emosi dan jiwa dari Istanbul mendorong Xavier Thomas alias Debruit untuk menumpahkan ilhamnya ke dalam sebuah materi baru, Gelecek. ‘Warna’ kontradiktif dari Istanbul, yang merefleksikan kejayaan masa lalu dan optimismenya akan masa depan, serta keindahan dari sedikit bumbu kegelapan darinya menjadikan Instanbul sebuah komposisi yang multimensional sendiri. Sebuah pengaruh yang pada akhirnya menyulut imajinasi nan liar yang menyertai interpretasi akhir dari Debruit. Hasilnya ialah Gelecek yang turut mewariskan warna liar tersebut dalam tiap nada dan alurnya. Sebuah musikalisasi akan Istanbul yang tak berkata, namun tetap bisa dengan cukup jelas memberikan tidak sedikit goresan akan warna yang dimaksudkan Débruit di dalamnya di benak para pendengarnya. Gelecek sendiri bisa menjadi bukti bahwa memang tiap kota memiliki ‘kepribadian’-nya tersendiri, yang bisa menjadikan sebuah inspirasi bagi karya yang bisa ‘berbicara.’

24.07.17

Quick Review: Easy

Sebuah serial padat dengan isu dan tren masa kini bisa menjadi rangkuman tepat untuk Easy. Menonton pertamanya serasa menyaksikan kehidupan dan para "orang dewasa" yang mencoba untuk bertahan bersama di zaman yang terus bergerak. Tentunya batasan dalam lingkungan sosial yang biasa kita hadapi menjadi lebur di sini. Bukan berarti karena Easy sekadar fiksi yang menggemborkan peleburan dunia maya dan nyata atau percintaan sesama jenis, namun dikarenakan tiap individu yang menjadi sentra cerita saling terkait membuat penonton berspekulasi - mungkin memang orang asing di antara kita selama ini terkait satu sama lain. Melihat banyaknya elemen yang sepatutnya mendapatkan porsi lebih - ada salah satu episode yang diisi oleh Emily Ratajkowski sebagai penggila - serial ini memiliki daya tarik lebih. Tiap episode mampu memberikan kesan dan lebih tepatnya merasa kalau transisi dan revolusi teknologi yang terjadi saat ini sesungguhnya mampu membuat siapapun terlena atau bahkan merugi. Butuh konteks yang pop? Coba pikir kembali fungsi Tinder lalu tonton episode 6. Easy (2016) Sinopsis: Cerita tentang sekelompak orang segala umur di Chicago yang terlibat dalam hubungan penuh dengan modernitas dalam hal seks, teknologi bahkan kultur. (IMDb)

23.07.17

Merayakan Feminitas di Taman

Pernahkah membayangkan, bagaimana jadinya jika keindahan ilustrasi dari kartu-kartu tarot direalisasikan ke dalam dunia nyata? Barangkali seperti Taman Tarot karya seniman Niki de Saint Phalle inilah wujudnya. Terletak di Tuscany, Italia, realisasi dari imajinasi liar Saint Phalle ini menghiasi kehijauan pedesaan Capalbio di sekitarnya dengan warna-warna berani dan bentuk-bentuk yang seperti keluar dari mimpi. Sebanyak 22 patung yang terinspirasi karakter-karakter dari kartu tarot yang mayoritas berwujud sebagai dewi-dewi dari fantasi Saint Phalle ia buat dalam skalal besar. Terbuka untuk umum sejak 1998, patung-patung di taman ini memang dibuat untuk merayakan feminitas atau kewanitaan. Pengunjung yang datang dan seolah meninggalkan realita dan memasuki dunia mimpi yang dilahirkan oleh Saint Phalle ini dapat menemukan beberapa karakter tarot raksasa seperti Magician, The High Priestess of Intuitive Feminine Power, Strength, dan masih banyak lagi. Sebuah suguhan yang mungkin menjadi sangat menggiurkan tidak hanya bagi yang ingin merasakan semangat feminitas Saint Phalle yang dikombinasikan dengan kemampuannya melukiskan sebuah dunia fantasi, namun juga bagi pecinta tarot yang ingin merasakan realisasi dari dunia magis tersebut. Mungkin, kemagisan dari kewanitaan yang tidak bisa hanya dilukiskan dengan satu warna sajalah yang ingin ia sajikan bagi umum lewat dunia kecilnya ini.

22.07.17

Ode untuk Ibu Kota dari Oscar Lolang

terbaru dari album Oscar Lolang yang akan segera dirilis pada Agustus mendatang, Drowning in a Shallow Water ini tidak hanya kental dengan nuansa folk dan instrumental minim yang diimbangi dengan vokal lantang namun syahdu darinya, namun juga akan ironi dan kompleksitas dari ibu kota yang digambarkan di dalamnya. Barangkali tiada yang bisa benar-benar menerka bahwa tembang folk ini ialah karya lokal yang mengisahkan Jakarta saat Oscar menyanyikan di akhir lagu. Segala ‘warna’ yang dirasa pas menggambarkan Jakarta tercurah di dalam lagu “Clouds of Jakarta” ini; kebencian, kerinduan, tawa, dan tak lupa juga kesenjangan yang mungkin memang menjadi pengingat siapapun akan Jakarta. Kemampuan sang ibu kota dalam memikat namun tanpa menawarkan kehangatan, menurut Oscar, adalah hal yang menyebabkan “Banyak hal-hal yang masih tidak bisa saya sentuh, dan saya sudah tenggelam di sana (Jakarta).” Barangkali, menenggelamkan diri dalam tembang terbarunya ini, terlebih bagi pecinta nuansa musik ala Bob Dylan atau Simon & Garfunkel, adalah yang dibutuhkan untuk bisa memasuki relung lebih dalam dari berbagai fenomena yang melanda ibu kota.

21.07.17

Gimme 5: Xandega Tahajuansya

Sebelum dikenal sebagai Polka Wars dan salah satu penggerak kolektif Studiorama, Xandega Tahajuansya adalah anak kelas 5 SD yang membentuk band untuk membawakan lagu Linkin Park. Untuk mengenang kepergian Chester Bennington hari ini, Gimme 5 mengundang Dega untuk memilih lima lagu Linkin Park yang membekas di hatinya. “Hybrid Theory”, album pertama Linkin Park adalah pengalaman pertama saya untuk mendengar album secara utuh, sebelumnya hanya mendengarkan lagu-lagu secara terpisah. “One Step Closer” lebih populer, tapi benar-benar kena banget itu pas di lagu “Papercut” yang juga jadi pembuka album. Ditambah videoklipnya juga keren sih. Ini adalah lagu pertama di side B kaset “Hybrid Theory”. Pas suatu hari dengerin kaset ini ketiduran, dan saat kaset masuk side B langsung kebangun. Bagi saya ini adalah salah satu lagu mereka yang paling dengan pola Ditambah lengking teriakan Chester itu, langsung terpikir, “Anjir, ini dia nih yang seru. Gahar banget dan banget lagi!”. Lagu ini pernah saya bawakan di band pertama saat kelas 5 SD. Bawain ini karena gitarnya keren, porsi rap-nyanyi - dan teriakannya pas. Breakdown pas di bagian itu asik banget. Pas itu main bukan jadi tapi jadi vokalis ala Chester gitu. Bahkan sempat ingin punya tato di pergelangan tangan seperti punya Chester. Awal dengar lagu ini agak kecewa, karena lagunya nggak kenceng kayak lagu Linkin Park yang lain. Kok kalem gini? Tapi setelah didengarkan lagi, baru terasa kalau ini adalah salah satu lagu Linkin Park yang paling dan gitu. Bagusnya tetap terasa sampai sekarang. Setelah album “Hybrid Theory” yang seru banget, saya sangat menunggu album kedua Linkin Park. Tapi pas “Meteora” muncul dengan “Somewhere I Belong” itu kecewa, karena terasa materinya nggak se dan album sebelumnya. Mungkin ini bentuk pendewasaan mereka, tapi saya kadung cinta mati sama Hybrid Theory dan susah “Faint” nyantol di kepala karena masih di nuansa yang sama dengan album sebelumnya. Di album ini cuma suka “Faint” sama “Lying From You”. Dengar karya Xandega bersama Polka Wars di berikut. https://soundcloud.com/polkawarsmusic Ikuti berita terbaru mengenai Polka Wars di Instagram mereka. https://www.instagram.com/polkawars/

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.