Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Kiranya semula menjadi membingungkan untuk membayangkan sebuah musikalisasi berisi ‘intipan’ ke dalam pengaruh substansi dengan dosis tertentu. Namun melalui “Modafinil Blues,” Matthew Dear memberikan kemungkinan untuk mengintip tersebut, yang disertai dengan vibrasi melankolia yang makin menuju kegelapan, namun juga dibumbui dengan sedikit humor. Terlepas dari penilaian akan kelaziman dari kondisi yang mengarah kepada terbentuknya “Modafinil Blues,” perlu diakui bahwa ia berhasil menghantui pendengar dengan sensasi seakan terjebak di dalam seluk beluk kerumitan dunia buatannya. Sebuah alunan goth yang mengalur secara perlahan, mungkin kebutuhan untuk bersantai dan meringankan suasana tidak bisa dipenuhi dengan lagu satu ini. Namun, bukan berarti kemampuan Dear dalam mengalterasi sebuah ‘perjalanan’ yang tidak berakhir dengan mulus ke dalam sebuah alunan tidak perlu diakui. “Modafinil Blues” mengundang pendengarnya untuk juga menarik kesimpulan sendiri terkait pesan yang ingin disampaikannya. Tapi bukankah itu letak keindahannya?
Saat tak tampil dengan monikernya, Individual Distortion, Adythia Utama juga dikenal sebagai videografer handal yang telah menghasilkan beberapa video musik dan satu film dokumenter berjudul "Bising" yang merekam pergerakan noise lokal. Pada episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Adythia Utama untuk memilih lima film dokumenter terbaik versinya. Dokumenter yang menggabungkan 2 hal yang saya suka, experimental music scene di Jepang dan gaya cinema verite Perancis. Enak ditonton dan tidak membosankan. Meskipun, setelah nonton dokumenter ini saya justru ingin segera makan fastfood. Bukti yang sangat jelas kenapa GG Allin patut mendapatkan predikat legend. Semua shotnya enak dilihat. Sangat direkomendasikan untuk ditonton di layar besar. Pendekatan direct cinema yang dilakukan D.A. Pennebaker membuat saya jadi (sepertinya) mengenal Bob Dylan ketika dia tur waktu masih muda. Lihat juga karya Adythia Utama di sini.
Mungkin yang begitu kuatnya turut berkontribusi terhadap keserasian yang dihasilkan oleh Joao Donato yang sudah tidak asing lagi namanya dalam skena musik Brazil, yang menggandeng anaknya Donatinho dalam menyajikan Sintetizamor. Sebuah kolaborasi yang tidak segan-segan menunjukkan warna jazz dan funk elektronika yang selama ini memang menjadi identik dengan karya Donatino sendiri, khususnya dalam album legendarisnya Quem e Quem. Kelahiran kembali Donatino dengan rekan barunya ini tidak mengecewakan sejarah sumbangsihnya dalam skena musik Brazil selama ini. Dengan eksplosi warna-warna yang penuh keceriaan dan dentuman yang begitu menggoda untuk dinikmati, sajian-sajian dalam Sintetizamor mungkin memang sedang dalam perjalanannya mengejar keluarbiasaan Quem e Quem.
Mungkin bisa menjadi sebuah suguhan yang unik dan tidak biasa bagi mereka yang rindu sensasi bernostalgia dengan alunan-alunan khas dekade 80-an. Melalui album terbarunya, Boo Boo, Chaz Bundick alias Toro Y Moi tidak hanya mampu menyulap suasana seolah berada di dekade penuh warna tersebut, namun juga menyelaraskan tema kaget tenar dan patah hati menjadi kesatuan dalam Boo Boo. Alunan suara Bundick memang perlu diacungi jempol dengan bentangan nada yang impresif, dengan transisi halus yang seolah melebur dengan latar yang tidak kalah patut dinikmatinya. Pengendalian emosi yang antara perlu dipertanyakan atau semata-mata mengesankan, hampir sulit untuk mengabaikan vokal dari Bundick yang sama sekali tidak terdengar sebagai seseorang yang sedang dilanda patah hati. Rasa kenyamanan dan familiaritas yang ditawarkan tiap lagu dalam album ini menjadikannya hanya semakin perlu untuk diberi kesempatan
Penantian publik akan pembukaan privat Centro Botin karya Renzo Piano akhirnya terjawab. Kontroversi pembangunannya yang mendapat begitu banyak kritikan terkait lokasinya yang dinilai tidak ramah lingkungan hanya memperbesar kegelisahan dan pertanyaan akan nasib proyek besar Piano yang pertama di Santander, Spanyol ini. Ditambah lagi dengan tekanan akan kompetisi ketenarannya dengan Museum Guggenheim Bilbao yang sudah lebih dahulu meroket ketenarannya di dunia galeri seni. Namun nyatanya satu-satunya pertanyaan yang muncul kini ialah mampukah seni yang terpajang di dalam Centro Botin menyaingi keindahan bangunan yang menjadi rumahnya. ‘Keterbukaan’ yang menjadi ciri khas dari Piano terpampang dengan frontalnya, baik pada interior maupun eksterior bangunan, kental dengan elemen metalik dan bagian-bagian yang seharusnya bersembunyi justru menolak untuk disembunyikan, seperti ventilasi udaranya. Sebuah kompetisi eksotika yang menyulut rasa penasaran bagi masa depan semua jenis seni yang dirumahkan di dalam Centro Botin. Mungkin tanpa perlu terlalu lama berekspektasi, melihat kemewahan ini saja sudah cukup untuk memuaskan kehausan akan keindahan sebuah karya seni.
Bagaimana jadinya apabila komposisi psychedelic dimainkan oleh sekelompok pemuda yang menolak tunduk pada takdir memainkan bola sepak di negara terbesar Amerika Selatan? Satu kata yang mampu menggambarkannya; menggairahkan. Secara pondasi, psychedelic sendiri sudah menyediakan tingkat adiksi luar biasa tatkala telinga perlahan mendengarkannya. Lantas, lewat tangan keempat pemuda yang menamakan dirinya sebagai Boogarins ini, psychedelic dipoles dengan aroma tropis khas Samba. Sensual sekaligus memberi efek tak terkira. Boogarins pertama kali dikenal saat meramaikan Big Ears Festival di Knoxville, Tennessee. Publik langsung dibuat terpana oleh kemampuan mereka meramu musik yang langka dan penyampaian bahasa di luar kewajaran (Boogarins menggunakan bahasa Portugis di setiap lagunya). Hingga tiba masanya, euforia penggemarnya tetap terjaga dengan kabar rilisnya album mereka yang berjudul La Vem a Morte pada 9 Juni lalu. Corak musik mereka tetap berada di bawah orbit keaslian. Meski sempat membuat lagu berbahasa universal melalui “A Pattern Repeated On,” namun Boogarins kembali berpijar di akar rumput nenek moyang; Portugis. Walaupun demikian, keputusan Boogarins untuk bernyanyi dalam bahasa ibu bukan tanpa sebab. Boogarins ingin menegaskan bahwasanya di dalam semesta yang luas kita terkadang dihadapkan pada realita membingungkan. Termasuk ketika harapan tak jadi kenyataan. Oleh karena itu, lewat lagu-lagunya Boogarins mengajak kita untuk melihat cakrawala dalam perspektif luas seraya berkata; dunia tak sesempit itu.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.