Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Grace Jones mungkin saja adalah tokoh paling fenomenal yang pernah menginjakkan kakinya di bumi. Kreatif dan bernyali, Jones adalah sosok yang tidak pernah malu untuk mengekspresikan dirinya, baik melalui fashion, dansa, dan pastinya musik. Seluruh hidupnya, Jones telah memukau dunia, menginspirasi banyak artis serta membuka pikiran masyarakat. Sekarang, hidup pribadinya serta profesionalnya akan dijadikan dokumenter. Dengan judul “Grace Jones: Bloodlight and Bami,” dokumenter ini akan mengikuti perjalanan sang musisi Jaimaika dari setiap konser dan penampilannya selama satu dasawarsa. Film ini disutradai oleh Sophie Fiennes yang terkenal karena karya-karya nya seperti “The Perverts Guide to Ideology” dan juga serial “The Perverts Guide to Cinema”. "Grace Jones: Bloodlight and Bami" akan memberikan klip-klip konser-konser besar sang artis serta klip-klip pribadi yang intim, dan semua diiringi dengan mulut Grace Jones yang tajam. Selain itu, dokumenter ini akan menunjukan juga penampilan-penampilan Jones yang tidak pernah dirilis. Beberapanya adalah penampilan spesial lagu-lagu terbesar sang musisi seperti “Slave to The Rythm” dan “Williams Blood”. Menurut Jones, seperti yang dilansir dalam Screen Daily, film ini akan menunjukan sudut pandang yang baru dalam melihat sang artis, seperti melihat dirinya telanjang.
Indie asal Auckland, Selandia Baru yang memperkenalkan diri sebagai Fazerdaze akan menggelar pertunjukan perdananya di Indonesia pada tanggal 21 Oktober 2017. Bertempat di Rossi Fatmawati, Jakarta, Amelia Murray akan di bantu oleh Gareth Thomas dan Andrea Holmes yang mengisi bagian bass dan drum. Penampilannya di Jakarta menyusupkan nilai sentimentil, karena kedatangannya ini dapat dijadikan sebagai momen pulang kampung untuk Murray selaku pemilik proyek musik Fazerdaze. Meski lahir dan dibesarkan di Selandia Baru, ia memiliki sebagian darah Indonesia yang berasal dari ibunya. Kali ini dengan berkolaborasi bersama Six Thirty Recordings dan salah satu asal Jakarta, noisewhore, sekali lagi Studiorama memperlihatkan usaha dan keseriusan mereka dalam memberikan opsi alternatif untuk para pencinta musik lokal lewat penampilan-penampilan menarik hasil kurasi mereka. Bagi Six Thirty kolaborasinya kali ini cukup berbeda, kalau biasanya mereka terlihat hanya mengundang band-band yang cenderung keras tapi tidak untuk kali ini “Kami suka Fazerdaze dari segi musik dan paras (tertawa). Ditambah kami mau bikin orang tidak berpikiran kalau Six Thirty cuma mau mendatangkan band-band keras," jelas mereka. Unit dream pop ini telah mengeluarkan satu album pendek di tahun 2014 dan satu album penuh yang keluar di awal tahun ini dengan judul “Morningside” lewat label rekaman independen Flying Nun Records. Album ini mengusung tema yang cukup personal untuk Murray, karena penggarapannya adalah sebuah upaya untuk menciptakan ruang yang aman di saat dirinya menghadapi keadaan yang tidak stabil saat itu. Keahliannya Murray yang dibalut suara mengawang khas dan riff gitar pada album tersebut juga mendapat pujian dari Pitchfork sebagai, Sebelumnya, Fazerdaze juga sempat menjadi untuk beberapa band seperti Unknown Mortal Orchestra, Explosions in the Sky dan Frankie Cosmos, oleh sebab itu dapat dipastikan bahwa penampilannya di atas panggung patut diperhitungkan. Tidak hanya itu, pada kesempatan kali ini turut mengundang unit indie pop asal Jakarta dan Yogyakarta yakni Sharesprings dan Grrrl Gang untuk membuka penampilan Fazerdaze di Jakarta. Tidak disangka animo penikmat musik sangat tinggi, sehingga tiket untuk konser ini telah terjual habis dalam waktu 2 hari saja. Jadi, bagi mereka yang beruntung mendapat tiket, sampai jumpa di Rossi! - Sharesprings (JKT) Grrrl Gang (YK) 21 Oktober 2017 Rossi Musik HTM Rp. 250.000 (SOLD OUT)
Marius Lauber adalah seorang musisi electronik asal Cologne, yang memperkenalkan diri sebagai Roosevelt. Pada karya-karyanya, para pendengar disuguhkan nuansa tropis layaknya hembusan angin di musim panas berkat nada-nada riang dan juga pilihan yang seakan menyuruh pendengarnya untuk bergoyang. Kemampuan Marius dalam mengolah musik Roosevelt patut diperhitungkan, tidak hanya bicara soal musik electro-pop segar nan , namun juga melihat bagaimana suara melankolis Marius, sukses menambahkan kesan ala musik disko 80-an sehingga karakternya semakin kuat. Roosevelt telah mengeluarkan satu album pendek berjudul Elliot (2013) dan debut album penuh melalui Greco-Roman/City Slang (2016). Selain bersenang-senang bersama Roosevelt, Marius juga merupakan seorang DJ yang sudah menghasilkan banyak deretan remix dari unit-unit seperti Glass Animal, Jax Jones hingga Kakkmaddafakka. Untuk membuktikan seperti apa yang dimaksud, silahkan dengarkan salah satu jagoan mereka versi Pitchfork di bawah ini.
Cut Copy adalah unit elektronik yang bisa dibilang jawara dalam keahliannya. Setiap lagu mereka terdengar dibuat dengan penuh perhatian dan hati-hati. Setiap bagian instrumen analog maupun MIDI terdengar bersih dan komposisinya juga sempurna, tidak kurang dan tidak kelebihan. Setelah merilis album “Free Your Mind” pada tahun 2013 silam dengan sukses, unit asal Australia ini menjanjikan sebuah album pengikut yang mulai mereka garap dari tahun 2015. Para penggemarnya menunggu, dan setelah dua tahun akhirnya mereka merilisnya pertama kali lewat situs NPR. Berjudul “Haiku From Zero,” Cut Copy mengubah arah mereka dari new wave/punk sensasi klub ala New Order pada “Free Your Mind,” menjadi musik yang lebih tropikal dan eksperimental, serta lebih mengutamakan instrumen analog yang funky dibanding kekuatan musik MIDI. Lagu pembuka “Standing in The Middle of The Road” mengayunkan pendengarnya dengan perkusi yang sangat bersih. Bahkan bisa dibilang perkusi yang mulus mendominasi bagian awal album ini, seperti dalam lagu “Counting Down”, “Black Rainbows”, dan “Airborne.” Cut Copy sepertinya lebih mengeksplor musik band di album ini dibandingkan dengan album sebelumnya. Seperti pada “Stars Last Me A Lifetime” dan “Memories We Share”, dimana mereka terdengar kembali mengambil New Order sebagai inspirasi utama mereka, walaupun mungkin lebih terinpirasi dengan lagu-lagu seperti “Regret” dan “Temptation” dibanding “Bizzare Love Triangle” dan “Blue Monday”. Lalu ada “Living Upside Down” dan “No Fixed Destination” yang lebih membawa nuansa psychadelic rock ala teman selabel mereka, Tame Impala. Secara kesimpulan, “Haiku From Zero” memberikan musik elektronik eksperimental yang bisa dinikmati siapapun. Ambisius, tetapi tidak terlalu kompleks. Untuk penggemar setia Cut Copy, mungkin sulit untuk bisa menerima arah baru ini karena berbeda dengan “Free Your Mind”. Tetapi album ini tetap bisa berdiri dengan sendiri tanpa dorongan dari album-album sebelum mereka yang mungkin lebih sukses.
Kolektif animasi asal Perancis, MegaComputeur, menunjukkan keahlian mereka dalam animasi CGI berjudul “Play-Off.” Menceritakan tentang seorang pemain mini golf yang sedang mengalami hari yang buruk, animasi berdurasi 1 menit 30 detik ini dibuat saat mereka menjadi tenaga magang di Passion Animation Studio, London selama 4 minggu. Dengan detail dan gerakan yang mulus, secara grafis “Play-Off” bisa dibilang mempunyai kualitas yang sama dengan produksi besar seperti Pixar. Warna-warna pastel yang lembut beserta musik latar ala kafe Perancis juga menambah kemenarikan dalam segi visual dan audio. Tetapi entah mengapa, cerita yang disuguhkan terasa terlalu hambar. Kemungkinan terbesar memang MegaComputeur menargetkan animasi ini untuk anak-anak, tetapi dengan alasan itu juga tetap tidak membuat humor yang ada di dalam animasi ini lebih menyenangkan. Walau begitu, visual yang diberikan memang berkualitas sangat baik, dan ceritanya yang hambar tidak membuat animasi CGI pendek ini tidak sepadan untuk ditonton. Bahkan, “Play Off” menunjukan bahwa MegaComputeur adalah satu kolektif animasi yang patut diperhatikan perkembangannya. Sutradara: MegaComputeur Sinopsis: Seorang pemain golf yang serius berusaha terus menerus untuk bermain mini golf, tetapi gagal di setiap saat.
Bagi sebuah pasangan asal Brooklyn, buku-buku dan kedua kucing mereka adalah cinta terbesar mereka. Satu seorang penyair dan juga seorang profesor, satu lagi adalah direktur puisi dan literatur di Perpustakaan Kongress. Keduanya menginginkan tempat tinggal yang terang dan berwarna untuk mereka hidup dan kerja, serta mengakomodasi kedua peliharaan mereka. Sebuah firma arsitektur bernama BFDO berhasil membangun rumah impian mereka dengan desain yang mengutamakan dua faktor, pekerjaan dan kucing pasangan tersebut. Dinamakan “House of Booklovers and Cats,” rumah dengan desain modern ini terlihat nyaman untuk ditinggali oleh seorang seniman maupun kucing. Dengan jendela-jendela modern yang besar dan juga kaca atap di tengah-tengah gedung yang menembus lantai dua, cahaya matahari bisa menerangi sisi interior dengan alami, memberikan inspirasi untuk pekerjaan serta penerangan untuk kehidupan sehari-hari. Layaknya seorang yang berkecimpung di dunia literatur dan seni, ruang utama dalam rumah terdapat rak buku yang dibangun mengisi satu tembok, menunjukkan koleksi buku-buku dan pernak-pernik yang dimiliki oleh pasangan. Rak buku yang ada di ruang utama juga berperan sebagai tangga untuk kedua ekor kucing sang pasangan yang pemalu, di mana mereka bisa memanjat dengan mudah ke atas rak seandainya sang majikan sedang kedatangan tamu. Rak tersebut mempunyai banyak pijakan dan lubang, serta bagian atasnya terdapat dua tepian yang yang naik dari tengah. Di setiap ujungnya terdapat tempat bersembunyi kecil untuk kedua hewan peliharaan agar bisa tetap mengobservasi dan hadir saat keluarga sedang berkumpul.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.