Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Cukup susah untuk tidak tersenyum di konser White Shoes and the Couples Company. Dengan kualitas musik dan penampilan yang telah membawa mereka menjadi salah satu band paling maju di Indonesia, hampir setiap panggung WSATCC adalah gelaran yang selalu menghibur. Indra penglihatan dan pendengaran selalu terpuaskan oleh nyanyi dan tari yang selalu ditampilkan dengan sepenuh hati oleh tiap personilnya. Baik di panggung besar, maupun di gigs kecil di sebuah kafe yang penuh sesak, pentas sextet ini selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan. Hari itu, Rabu, 5 Agustus 2015 WSATCC dijadwalkan untuk bermain dan membagikan pengalaman yang menyenangkan tersebut di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Dan, pada hari tersebut, entah berapa banyak senyuman yang terkembang di muka para penonton setelah sajian yang cukup spesial dari WSATCC. Bukan hanya karena hari itu merupakan “ulang tahun” ke-13 dari WSATCC, tetapi juga karena acara ini memiliki tajuk yang juga lumayan istimewa, yakni “White Shoes and The Couples Company Konser di Cikini”. Dalam hal ini, Cikini khususnya Graha Bhakti Budaya sebagai bagian dari Taman Ismail Marzuki menjadi konteks yang cukup penting sehubungan dengan sejarah kemunculan unit WSATCC dari Institut Kesenian Jakarta yang juga berada kompleks Taman Ismail Mazuki. Selang sekitar tiga belas tahun dari tahun 2002, setelah nama WSATCC berkembang jauh dari band kampus menjadi salah satu band independen paling sukses di Indonesia, kembalinya mereka ke kompleks ini seakan merupakan tanda terima kasih sekaligus homage kepada sebuah entitas yang sedikit banyak juga berperan dalam progresi karir mereka. Sebuah hal yang ternyata juga dirasakan oleh para penggemar musik lokal, semenjak sore, kawasan Taman Ismail Marzuki terlihat lebih ramai daripada biasanya dengan kedatangan penonton konser yang memadati area sekitar gedung Graha Bhakti Budaya. Ratusan tiket pre-order sekaligus tiket on the spot yang ludes dalam waktu yang singkat menjadi bukti sahih akan antusiasme para penggemar musik terhadap konser ini. Dan benar saja, ketika akhirnya pintu teater dibuka pada sekitar pukul setengah delapan malam, antusiasme itu seperti menemukan muaranya pada panggung WSATCC. Tapi tetap saja, ada beberapa hal yang terasa tak terlalu sempurna pada konser Cikini tersebut. Sebenarnya, jika dilihat secara umum, Konser Cikini bukan merupakan konser yang buruk, White Shoes tetap tampil bagus dan menghibur. Tapi, jika dilihat lebih jauh, untuk band dengan level White Shoes, predikat bagus dan menghibur semata jelas tidak cukup. Sebagai salah satu nama yang menjadi panutan di scene independen lokal, juga mengingat segala prestasinya di level internasional, benchmark untuk White Shoes berada pada level yang setingkat, atau bahkan dua tingkat di atas band lokal pada umumnya. Dan, pada malam itu ada beberapa poin yang cukup mengganggu kesempurnaan acara. Hal pertama yang cukup mengganggu adalah kostum Sari dan Mela di sesi pertama, identitas endorser brand Ugly terlalu menonjol, membuat fokus yang seharusnya ada pada penampilan White Shoes secara keseluruhan justru agak tenggelam. Secara umum, set White Shoes di paruh pertama pertunjukan juga tak terlalu istimewa, nuansanya hampir sama dengan panggung White Shoes pada pentas mereka biasanya. Sebuah hal yang cukup disayangkan, mengingat gelaran ini cukup spesial, baik secara sejarah juga tempat yang cukup istimewa. Memang, tak ada masalah serius pada musik yang mereka mainkan, tapi sekali lagi, “aman” jelas bukan sebuah hal yang diharapkan pada konser semacam ini. Untungnya di paruh kedua pertunjukan, ada perubahan yang cukup mengangkat keriaan Konser Cikini ini. Set dibuka menjadi lebih lapang, dengan tambahan deretan mini orchestra dan dekorasi panggung bertemakan perkotaan, plus kali ini kostum para personil tampak lebih koheren satu sama lain. Semua tambahan tersebut membuat panggung terasa lebih hidup dan memberikan pengalaman yang cukup istimewa kepada penonton. Ada pula berbagai atraksi yang cukup menarik dari John dengan mesin tik-nya yang cukup menggelitik, juga cover version dari Tielman Brothers yang dimainkan dengan cukup rancak. Sayangnya, di set kedua ini masih ada beberapa elemen yang agak mengacaukan keutuhan acara. Terutama pada sisi artistik yang terasa digarap agak kendor, terlihat pada bagaimana transisi per lagu yang agak awkward, dekorasi dan lampu yang tak maksimal, dan agak cukup susah untuk mengapresiasi burung-burung dengan lampu menyala yang tiba-tiba muncul di tengah set itu. Dalam hal setlist dan kolaborasi dengan orchestra, sebenarnya masih bisa lebih baik lagi. Chemistry antara band dengan orchestra dari Indra Perkasa terasa cukup saling melengkapi, namun di beberapa lagu yang agak “ramai”, sering terasa suara instrument dari WSATCC bertumpuk dengan bunyi dari string section. Tapi toh, tampaknya hal-hal tersebut tidak membuat senyum para penonton terhenti terkembang. Bisa dilihat pada bagaimana hampir semua penonton sangat bersemangat untuk mengikuti lagu per lagu yang dimainkan. Sebuah hal yang terus terjaga hingga akhir panggung dan malah semakin nyata terlihat pada sesi encore, dimana para personil mengajak penonton untuk mendekat ke bibir panggung untuk nyanyi bersama. Tampak jelas kepuasan pada setiap wajah personil dan penonton, dan dengan demikian bisa dipastikan semua pulang dengan hati bahagia. Terlepas dari beberapa kekurangan di atas, bukankah rasa lega merupakan hal yang paling utama?
Tahun 2015 menjadi tahun yang sibuk bagi Polka Wars. Setelah berangkat ke Amerika Serikat untuk rekaman di Studio Rubber Tracks milik Converse, mereka melanjutkannya dengan merilis boxset limited edition "Axis Mundi," album perdana dari quartet ini yang terjual habis dalam waktu kurang dari dua jam. Kali ini, Polka Wars merilis "Axis Mundi" dalam bentuk CD melalui label Helat Tubruk. Pada tanggal 22 Agustus, mereka akan menggelar konser tunggal di Institut Francais Indonesia, dimana Polka Wars akan membawa lagu-lagu di "Axis Mundi" dan yang telah mereka rekam di studio Rubber Tracks. Untuk informasi selanjutnya, silahkan membaca informasi di bawah ini. -- Setelah sebelumnya dirilis dalam format boxset dan digital, album perdana dari Polka Wars bertajuk Axis Mundi kini akan dirilis dalam format cakram padat (CD) pada 1 Agustus 2015. Melalui label Helat Tubruk, CD Axis Mundi merupakan rilisan fisik kedua dari Polka Wars. Mengomentari mengapa distribusi Axis Mundi dilakukan secara terpisah dalam rentang waktu 3 bulan dengan format berbeda, drummer Giovanni Rahmadeva mengajukan alasan karena terpotong libur lebaran. Terlebih, merilis Axis Mundi di iTunes diperuntukkan bagi pendengar yang sudah “tidak sabar lagi mendengarkan album ini, banyak yang tidak puas kalau tidak memegang versi fisik.” Lagu-lagu yang dikemas dalam CD ini akan sama seperti format sebelumnya, kecuali lagu bonus track “Coraline.” Dalam CD, nomor ini akan diambil dari rekaman Polka Wars yang sebelumnya diunggah ke dalam akun SoundCloud mereka, ketimbang versi yang bisa didengar di boxset ataupun digital. CD Axis Mundi sudah dipastikan akan didistribusikan ke kota-kota berikut: Jakarta, Bogor, Bekasi, Bandung, Solo, Jogjakarta, Jambi hingga Makassar. Rilisan ini juga akan dibarengi dengan pengunggahan video lirik dari lagu “Mokéle” yang merupakan single dari album Axis Mundi di kanal YouTube Polka Wars. Putaran promosi dari album Axis Mundi akan dilanjutkan dengan konser perilisan album dengan kuota terbatas yang akan berlangsung pada tanggal 22 Agustus 2015. Panggung Polka Wars yang kabarnya akan memainkan lagu-lagu dari Axis Mundi beserta lagu-lagu yang direkam di New York dalam rangka Converse Rubber Tracks akan bertempat di auditorium Institut Français Indonesia, Jakarta. Pemesanan tiket dengan jumlah kursi terbatas ini dapat dibeli secara online via Axis Mundi Tracklist (Regular CD Version): 1. Mokéle 2. Alfonso 3. Top Gear (Moths & Flies) 4. This Providence 5. Horse’s Hooves 6. Lovers 7. Tall Stories 8. Piano Song 9. Coraline (SoundCloud version) BIOGRAFI Selama 3 tahun terakhir, Polka Wars menjalani proses kreatif secara mandiri. Para personilnya pun tumbuh dewasa bersama, baik dalam konteks personal maupun bermusik. Tak jarang, akibat proses-proses yang tumpang tindih tersebut, muncul konflik di dalam tubuh kuartet indie rock muda terhangat milik Indonesia ini. Namun dengan etos kerja yang gigih, Polka Wars berhasil membayar lunas seluruh jerih payah dengan sederet prestasi; respon publik yang luar biasa positif terhadap single Mokéle, 100 keping boxset limited edition sold-out dalam 150 menit dan tentu saja, rekaman di New York, AS. Seluruhnya diraih dalam tempo sangat singkat di medio Mei - Juni 2015. Merupakan sebuah pengalaman unik untuk duduk dan berbincang bersama keempat pemuda yang diganjar predikat Young Guns 2015 oleh Rolling Stone Indonesia ini. Terbuka untuk membicarakan masalah sepele hingga spiritualitas level tinggi yang merupakan rumus musik Polka Wars; yang tak sungkan mereka akui sebagai musik dakwah dalam kemasan yang modern.
Tahun 2015 adalah tahun keempatbelas perjalanan Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (bass, vokal latar), dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar) sebagai unit musik bernama Efek Rumah Kaca. Banyak peristiwa terjadi pada dasawarsa pertama mereka ini, dua album penuh yang dirilis pada dua tahun berturutan, 2007 (Selftitled) dan 2008 (Kamar Gelap), sampai lagu-lagu yang menjadi nyanyi bersama pada panggung-panggung yang terjelajahi di penjuru Indonesia. Tapi diantara semua peristiwa, ada pula getir cerita pada kondisi Adrian yang memaksanya absen pada penampilan live Efek Rumah Kaca. Satu hal yang bisa merangkum perjalanan mereka adalah eksperimentasi yang menjadi inti dari setiap karya. Kekayaan Bahasa Indonesia, dan pemilihan tema adalah area yang telah mereka jelajahi. Setelah vakum selama hampir satu setengah tahun sehubungan dengan kepergian Cholil ke luar negeri untuk fokus menyelesaikan sekolah, Efek Rumah Kaca menandai kembalinya eksistensinya dengan single “Pasar Bisa Diciptakan”. Dan seperti yang biasa mereka lakukan, eksperimentasi menjadi kunci di karya ini. Kali ini, musik menjadi fokus utama eksperimentasi. Aransemen dibuat lebih kaya dengan layer-layer gitar yang lebih membahana, dinamika sekaligus struktur lagu juga menjadi semakin berwarna. Sejatinya, single ini bukanlah materi yang sepenuhnya baru. Dasar-dasar lagu ini telah terbentuk sejak tahun 2008. Ide dasar dari “Pasar Bisa Diciptakan” adalah semacam elaborasi lebih lanjut dari lagu “Cinta Melulu”, tentang kegelisahan Efek Rumah kaca terhadap proses berkarya sebuah karya seni dengan posisinya di pasar/industri. Jika “Cinta Melulu” menyampaikan pesannya dalam nada yang cenderung sinikal, pada “Pasar Bisa Diciptakan” Efek Rumah Kaca memilih perspektif yang lebih optimis. Bahwa selalu ada cara untuk berkarya dengan jujur. “Seiring dengan waktu, kita sudah tidak sekeras dulu. Masih ada api itu tapi kami ingin lebih kalem. Kita ingin lebih tenang dalam meneriakkan sesuatu. Banyak lirik yang akhirnya diganti karena kami merasa sudah tidak sesuai lagi. Yang jelas, ‘Pasar..’ dibuat untuk kami sendiri, tidak ada rencana untuk membuat manifesto atau apapun itu. Ini hanya cermin kegelisahan kami,” ujar Cholil. “Pasar Bisa Diciptakan” dirilis bersamaan dengan single “Biru” yang merupakan extended version dari single ini. Ada dua fragmen yang tergabung dalam lagu “Biru”. Fragmen pertama ada pada paruh awal lagu yang juga menjadi versi pendek lagu untuk versi radio edit dengan judul “Pasar Bisa Diciptakan”. Fragmen kedua dengan judul “Cipta Bisa Dipasarkan” berada pada sisa durasi lagu. Secara terpisah, fragmen-fragmen tersebut masing-masing mewakili dua angle dalam proses penciptaan karya dalam kesenian, yakni secara internal dan eksternal. Keduanya membentuk secara utuh, “Biru” sebagai rangkuman pemikiran Efek Rumah Kaca tentang pentingnya eksplorasi dalam proses berkarya.
White Shoes and the Couples Company should be more than a familiar name for those who love Indonesian music. In its decade of existence, the group has travelled to 5 continents performing their brand of pop music to the enjoyment of all, released some of the most memorable music recordings in Indonesia, signed to renowned label Minty Fresh, and has won numerous awards. Celebrating their achievements, Rurucorps presents a solo concert of the band accompanied by and open exhibition this August. Celebrate the group's exceptional music and career with them. -- Dengan senang White Shoes & The Couples Company dan RURU Corps mengumumkan rencananya dalam menyelenggarakan Konser Musik Tunggal White Shoes & The Couples Company (WSATCC) yang bertajuk KONSER DI CIKINI yang akan berlangsung pada: Rabu, 5 Agustus 2015 Pkl 19.00 WIB di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat Kapasitas tempat terbatas untuk 800 orang. Segera reservasi tiket anda sekarang! Tata cara pembelian tiket: 1. Terdapat dua kategori tiket yang dipilih, mulai tanggal 1 Juli – 1 Agustus 2015. • Rp 150.000,- (Lantai 1) • Rp 125.000,- (Balkon) 2. Satu orang dapat membeli maksimal empat tiket. 3. Tiket dapat dibeli secara: A. Online, melalui e-mail: tiket.konserdicikini@gmail.com • Harap mencantumkan data pemesanan: Nama, No. Telp, No. KTP, Kategori Tiket, Jumlah Tiket. • Admin akan mengirimkan instruksi pembayaran dan selanjutnya harap lakukan pembayaran maksimal 1 x 24 jam. • Kirimkan bukti pembayaran kembali ke e-mail: tiket.konserdicikini@gmail.com. • Setelah melakukan konfirmasi pembayaran, admin akan mengirimkan form & kode reservasi tiket yang berlaku sebagai kuitansi pembayaran. •Jika Anda tidak menerima form & kode reservasi tiket hingga tujuh (7) hari kerja (tidak termasuk hari libur atau Minggu), harap periksa juga folder spam atau segera hubungi hotline kami di 0812 9036 2655 (khusus telepon dan sms). B. Langsung • Silakan datang ke RURU Shop, Jl. Tebet Timur Dalam Raya No. 6 dengan jam buka Senin – Sabtu, pukul 13.00 – 21.00. • Isi form & kode reservasi tiket yang akan diberikan oleh RURU Shop. • Pembayaran hanya bisa dilakukan secara tunai / dengan kartu debit BCA. 4.Simpan form & kode reservasi tiket untuk ditukarkan dengan tiket asli pada hari konser, 5 Agustus 2015, pukul 13.00 - 19.00 di Graha Bhakti Budaya, TIM. 5. Tiket tidak dapat ditukar dan diuangkan kembali. 6. Pintu auditorium dibuka pukul 19:00, Silahkan datang lebih awal untuk memilih tempat duduk
From art, design, music, to film, sports and food, Indonesia's creative scene never ceases to surprise us, and it has been an honor to share with you the stories of people, places, products, and events that make this archipelago such a fascinating place to live in. For the past 6 years, Whiteboard Journal has almost been exclusively in English. With our growing local readership, we have recently begun publishing stories in Bahasa Indonesia, and the number of articles in Indonesian will continue to grow in the future. As stories relevant to Indonesia and Indonesians is the center of our editorial team's vision, with Bahasa Indonesia we hope our stories could reach a wider audience, and that more individuals can learn about and appreciate the fascinating people, places, products, and events we discuss on the pages of our website. Article examples: OK VIDEO 2015 ESENSI DESAIN BERSAMA HANNY KARDINATA We would like to know what you think about our transition. Please tell us via our social media (links below) your opinion about Whiteboard Journal being a bilingual website, and whether or not you would enjoy more articles in Bahasa Indonesia. Thank you, our readers, for reading this announcement, and we truly look forward to your response. -- Selalu ada kejutan baru dari dunia seni, desain, musik, film hingga kuliner di Indonesia, dan sejauh ini sangat membanggakan bagi kami untuk berbagi cerita dari tokoh, tempat, produk, hingga acara yang membuat negara ini menjadi tempat yang selalu menarik untuk ditinggali. Selama ini, Whiteboard Journal telah mendedikasikan diri sebagai situs berbahasa Inggris. Setelah 6 tahun eksistensi situs ini, kami ingin memulai langkah baru dengan mulai menyajikan cerita dalam dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Langkah ini akan semakin kami kembangkan ke depannya. Visi utama kami untuk berfokus pada cerita serta peristiwa yang relevan di Indonesia menjadi pertimbangan utama dari keputusan ini. Dengan ini, kami juga berharap bahwa tulisan kami bisa dinikmati oleh khalayak yang lebih luas. Supaya cerita sekaligus inspirasi dari berbagai kalangan yang menjadi bahasan di website kami bisa menjangkau individu-individu baru. Contoh Artikel: OK VIDEO 2015 ESENSI DESAIN BERSAMA HANNY KARDINATA Kami ingin mengetahui pendapat Anda mengenai transisi ini, hubungi kami melalui aku social media kami atau pada link di bawah untuk menyatakan opini Anda mengenai format baru Whiteboard Journal sebagai situs dua bahasa. Terima kasih atas waktunya untuk membaca pengumuman ini, dan sekali lagi, kami menunggu pendapat Anda mengenai perihal ini. Please leave your comments via: Whiteboard Journal Facebook Page Whiteboard Journal Twitter
A bit late of a post but a goodie. After Vague released their well-received first album, Footsteps, they are about to drop a 7" record via Stockroom Recordings. This one-time recording has gone through its preorder for 140k Rupiah (not quite sure if it is still going on, but for inquiries contact stockroom81[at]gmail[dot]com) and will be available for 170k upon its release, which will be in late June/early July. The two songs on the 7" will be "23" and "Nothing," and Vague has given a little preview to the re-recorded "23", which first appeared via Tsefula/Tsefuelha Records. The sound crisper and the production richer, take a listen, and if you like what you hear, make your purchase!
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.