Dimulai dengan penggunaan kata "menarik" dalam mendeskripsikan karya fotografi, Ridzki Noviansyah mengangkat topik bahasa yang dipakai untuk mengkritik sebuah karya. Kosa kata, gambar, dan referensi menjadi titik awal sebuah Column dimana Ridzki ingin memperkaya opini dan perspektif dalam mengkritik fotografi.
Melalui program Open Column, Jejen Jaelani menyampaikan isu mengenai pergeseran nilai permukiman di pinggir kali yang diwarnai oleh ideologi kapitalisme dan konsumerisme. Adanya representasi yang muncul atas peristiwa tersebut telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap nilai permukiman.
In this Open Column submission, Debora Irene Christine writes about freedom and nationality in Indonesia that have been vaguely interpreted by its people. Debora reveals how we’ve been living in utopian world and hopeful to the idea of freedom in the current sociopolitical condition of Indonesia.
Sebagai salah satu pengajar fotografi di sebuah sanggar di Bukit Duri, Adrian Mulya memiliki kenangan tersendiri dengan lokasi tersebut. Ketika terjadi penggusuran di lokasi itu beberapa waktu lalu, Adrian mengunjungi kembali lokasi untuk merekam momen-momen terakhirnya di sana.
Melalui open column, Audry Rizki mengirimkan tulisan fiksi yang berkisah mengenai kejadian dibalik sebuah pesta keakraban. Melalui kisahnya, Audry mendedah mengenai kultur kampus, etos DIY, konsepsi masyarakat dan budaya bersenang-senang.
Sebagai pekerja yang dekat pada dunia fashion, Renel Harlan menjadi saksi mata akan musim dan tren yang cepat berganti di bidang ini. Melalui essai "Fashion dan Pusaran Dunianya", Renel menulis mengenai observasi sekaligus opininya mengenai peran fashion dalam kehidupan seseorang di tahun 2016.