Sebagai bagian dari rangkaian acara Jerman Fest dari Goethe Institut, German Cinema akan menampilkan 17 film terpilih yang akan menjadi representasi dunia sinema Jerman di bulan September. Pada seleksi kali ini, kami memilih delapan film panjang yang mencakupi berbagai genre film mulai dari komedi, drama hingga thriller yang cukup menarik untuk ditonton. Simak daftar ini, lalu kunjungi situs German Cinema untuk mendapatkan jadwal penayangannya.
Music is wonderful, I hope you enjoy the selection in this episode of Stereo Strange!
01. Music Advice from Gary Bartz (Essentially Ellington Youtube Page)
02. Zelia Barbosa - Carcara
03. Bing - Pasangan Baru
04. Gal Costa - Flor De Maracuja
05. Lewis Parker - L Plays it Cool
06. King Most - Sun Fran to Tokyo
07. John Scofield - Hottentot
08. Sonny Rollins - St. Thomas
09. TV on the Radio - Golden Age
10. Cecil Mclorin Savant - John Henry
11. Jackie Mclean - Omega
12. Wukir Suryadi - Centong Nasi Kecil & Centong Nasi Besar
Having just visited Georgetown, Penang for vacation, Ken Jenie talks about his experiences there and ruminations regarding traveling and our preconceptions.
Sapardi Djoko Darmono adalah salah satu nama yang paling terkemuka di dunia satra Indonesia. Melalui berbagai karya dan kontribusinya pada perkembangan literasi nasional, Sapardi Djoko telah mengabdikan bertahun-tahun dedikasinya pada bidang ini. Whiteboard Journal berkesempatan untuk berbincang dengan beliau di sela-sela kesibukannya sebagai pengajar untuk berdiskusi mengenai pengaruh perkembangan teknologi pada karya sastra, hingga esensi Bahasa Indonesia.
Pada edisi seleksi karya kali ini, Whiteboard Journal memilih delapan album dari koleksi 4AD Records. Dikenal sebagai sebuah record label yang besar pada era 80’an, kontribusi 4AD Records pada dunia musik bisa dirasakan pada bagaimana label ini mampu menjadi rumah bagi berbagai band dengan karakteristik unik, sebuah hal yang terus mereka pertahankan hingga sekarang.
Hari Jumat, 21 Agustus 2015 yang lalu, brand TOMS Shoes dan RURU Radio bekerjasama dalam membuat pameran amal di Paviliun 28. Dengan mengundang seniman-seniman muda untuk berkarya menggunakan TOMS sebagai mediumnya, setiap karya dijual dan penghasilannya akan disumbangkan kepada Rumah Belajar Anak Bintang (RaJab), suatu program sosial TOMS.
One for One sendiri adalah judul kampanye amal dari brand sepatu TOMS yang telah lama diinisiasi. Salah satu representatif TOMS bercerita bahwa Blake Mycoskie, founder TOMS, dalam suatu perjalanan ke Argentina untuk acara The Amazing Race melihat sepatu tradisional petani Argentina, dan sepatu ini yang menjadi inspirasi desain utama TOMS. Di perjalanan itu juga, Blake melihat ketidaksejahteraan yang dialami oleh banyak penduduk, khususnya anak-anak, di Argentina. Dari situ, konsep "One for One" terlahir - dimana setiap pembelian sepasang sepatu TOMS, akan didonasikan satu pasang untuk anak-anak yang memerlukannya. Dari situ kampanye "One for One" berevolusi untuk menyalurkan amal dalam berbagai bentuk. Untuk Indonesia, TOMS bekerjasama dengan Rumah Belajar Anak Bintang, CSR dari Mitra Adi Perkasa yang memberi bimbingan belajar gratis bagi anak-anak dan juga orang tua mereka. Di acara One for One ini, juga di display beberapa karya desain anak-anak bimbingan Rumah Belajar Anak Bintang.
Pameran One for One ini dikurasi oleh Ayu Dila Martina, seorang seniman berbasis di ruangrupa yang juga merupakan bagian dari program Exist dari Dia Lo Gue. Pameran ini menampilkan 7 seniman, yakni Diela Maharani, El Gibranos, Marishka Soekarna, Nengiren, The Popo, Sarita Ibnoe, dan Syaiful Ardianto. Dengan sepatu TOMS sebagai medium utama seniman-seniman ini, terlihat bahwa alas kaki ini adalah focal-point dari setiap karya, dan hampir semua memodifikasi sepatunya dengan karakter seni masing-masing. Marishka Soekarna menambah layer bahan berbentuk kaki di atas sepatunya, boks sepatu dibuat menjadi kanvas lukisan. Sarita Ibnoe menata sepatu, tapestry, sketsa, serta kaos kaki di atas displaynya, membuat sebuah kolase yang mengingatkan akan suasana meja kerja. Syaiful Ardianto juga membuat kolase berisi artikel-artikel mengenai kaki, dan kolasenya dijadikan sebuah zine yang didistribusikan pada pembukaan pameran.
Karya Diela Maharani terfokus kepada modifikasi desain sepatunya , menggunakan warna warni serabut benang. "Petualangan Mimpi" oleh Nengiren menaruh sepatu-sepatu dengan embroidery wajah di sebuah peta 3D dan yang di tahan oleh benang-benang, sangat mengingatkan terhadap salah satu bagian dari Gulliver's Travels dimana protagonisnya diikat oleh manusia-manusia kecil. Seniman-seniman yang terlibat membawa karakter masing-masing ke dalam pameran ini, dan yang menyatukan karya mereka adalah penggunaan sepatu TOMS sebagai medium.
Pameran One for One ini juga di meriahkan oleh band Stars and Rabbit, yang baru saja merilis album perdananya. Performance mereka selalu menawan, dan kali ini tidak berbeda dengan karakter suara Elda yang sangat kuat dalam menangkap perhatian semua pengunjung pameran ini. Setelah Stars and Rabbit selesai berpentas, DJ Bondee mempersiapkan controllernya dan memeriahkan Paviliun 28 dengan lagu-lagu hiphop akhir 90an dan awal 2000an.
Scroll image di atas untuk melihat foto-foto dari acara TOMS dan RURU Radio "One for One" di Paviliun 28