02.11.15

Singapore Writers Festival

Dimulai pada tahun 1986 oleh National Arts Council, Singapore Writers Festival yang diadakan setahun sekali, telah menjadi ajang bagi penulis, publisher dan juga pelaku industri lainnya untuk memperkenalkan kondisi dunia literatur di Asia Tenggara, sekaligus juga menampilkan karya kontemporer yang berhubungan. Sebagai medium berekspresi, alktivitas menulis adalah medium yang tepat untuk membahas berbagai macam topik menggunakan bermacam gaya, juga kemungkinan untuk kolaborasi dengan medium ekspresi lainnya - di Singapore Writers Festival, elastisitas tersebut mendapat platform melalui seni pertunjukan, lecture, eksibisi, workshop, dan lain-lain. Tahun ini, Singapore Writers Festival bertema "Island of Dreams", sebuah perayaan seni literatur sekaligus titik refleksi akan harapan dan impian negara Singapura. Kali ini, Indonesia menjadi negara yang diundang sebagai "Country Focus", dimana beberapa penulis, musisi dan seniman Indonesia diundang untuk memberi gambaran tradisi dan kondisi seni di Indonesia. Nama-nama yang menjadi fokus festival ini termasuk Goenawan Muhammad, Agustinus Wibowo, Ayu Utami, dan Kroncong Tenggara, yang akan menampilkan literatur Indonesia dari berbagai macam sudut pandang. Whiteboard Journal menjadi salah satu tamu undangan untuk menyaksikan penutupan acara Singapore Writers Festival. Kami akan menyaksikan dan berpartisipasi dalam berbagai aktifitas termasuk 'Don Quixote', pentas multimedia oleh Goenawan Muhammad yang merayakan karya Cervantes, pertunjukan musik Island of Dreams oleh I am David Sparkle dan In Each Hand a Cutlass, dan Words Over Water, pembacaan berbagai teks di atas kapal yang akan melingkari Singapura. Untuk mengikuti pengalaman kami yang tentunya akan menarik, dimulai hari Jumat ini (6 November 2015) ikuti social media kami, dan tentunya nantikan artikel-artikel liputan kami. Media Sosial Whiteboard Journal: Instagram Whiteboard Journal Facebook Whiteboard Journal Twitter Whiteboard Journal Situs Singapore Writers Festival Facebook Singapore Writers Festival Instagram Singapore Writers Festival Twitter Singapore Writers Festival

02.11.15

Seleksi Karya: Rawkus Records

Rawkus Records adalah sebuah label musik hip hop yang merepresentasikan sisi brilian scene hip hop akhir tahun 1990an dan awal 2000an. Didirikan pada tahun 1995, Rawkus Records merilis banyak album dari musisi independen terbaik pada jamannya. Nama-nama seperti Mos Def, Talib Kweli, dan EL-P mendapatkan eksposure kepada audiens luas dari label ini. Meskipun legacy label ini tercemar oleh moda bisnis yang buruk, pada masa keemasannya Rawkus menjadi pelopor gerakan hip hop independen.

30.10.15

Vague Merilis Video Musik “A Giant Blur”

Pada tahun 2014, band Vague, yang terdiri dari Yudhis Tira, Januar Kristianto, dan Gary Hostage, dengan cepat menjadi unit band yang dikenal oleh penggemar musik independen melalui rilisan album pertamanya, Footsteps. Kombinasi musik mereka yang energetic dan lirik-lirik personal yang meratap dikemas di dalam rilisan yang berkualitas baik secara lagu individual ataupun album. Berkolaborasi dengan Kulturo, sebuah kolektif filmmaker yang terdiri dari Riar Rizaldi dan Adythia Utama, "A Giant Blur" dari album Footsteps sekarang memiliki tampilan visual. Narasi "A Giant Blur" dimulai dengan seorang pria paruh baya yang membaca sebuah surat dari rumah sakit. Kita tidak bisa melihat apakah isi surat itu, dan apakah atau tidak surat itu berisi berita baik atau buruk, pria ini berikutnya menyetir mobilnya di kota Jakarta tampaknya tanpa tujuan. Kadang berhenti di McDonald, dan merokok di sebuah lapangan parkir, ekspresi muka pria ini seperti sedang berkontemplasi mengenai konsekuensi isi surat dari rumah sakit. Visual yang menemani naratif pria ini pun bernuansa kontemplatif, dengan gambar yang semakin lama semakin samar. Video musik "A Giant Blur" di sutradarai dan edit oleh Riar Rizaldi. Berikut adalah esai oleh Dwiputri Pertiwi mengenai "A Giant Blur", dan untuk mengenal band Vague lebih baik silahkan ke Facebook page-nya. A Giant Blur - by Dwiputri Pertiwi

Heart Attack
30.10.15

Vol.20: Prabu Pramayougha

I, Prabu Pramayougha, apologize in advance to ruin the mood of exhibiting "hard music" in this installment of Heart Attack. Really sorry that my musical taste isn't "hard" enough. But, Jan asked me to do this. So as a friend, I did my best for it. Please don't get mad at him too. About the playlist, um nothing special. I just put my favorite Japanese pop punk songs into one playlist. Why Japanese bands? Because they sound really catchy and different. Without any irony, I really love how they manage to keep the vocal harmony along with their struggle to pronounce their style of intelligible English. That thing caught my heart completely. That's simply why. No further exaggerated pretentious my-playlist-is-so-cool explanation. Hope you all can sing along to these songs. Yep! P.S : No Hi-Standard & Shonen Knife. Sorry, last.fm enthusiasts. 01. the-dudoos - das sportfest 02. Husking Bee - Anchor 03. supersnazz - words of love 04. Captain Hedge Hog - You Don't Know How My Feel 05. Short Circuit - My Favorite Time 06. Beat Crusaders - Be My Wife 07. Felix the Band - Everywhere You Go 08. Cigaretteman - untitled 09. The Nerdy Jugheads - My Head is Killing Me 10. The Dazes - Candy 11. Seventeen Again - Nobody Knows My Song

Column
29.10.15

Notasi Virtual

Dalam artikel Column kali ini, Ken Jenie bercerita mengenai teknologi digital dan bagaimana keakraban orang dengan desain interface dalam komputer memberi akses lebih luas kepada masyarakat yang ingin menuangkan ide dalam bentuk karya musik.

28.10.15

Proses dan Perspektif bersama Eko Nugroho

Eko Nugroho adalah nama yang sangat dikenal dalam kancah seni rupa kontemporer Indonesia. Dimulai dengan proyek Dagingtumbuh dan ilustrasi karakter khasnya, sekarang karya seniman berasal dari Jogjakarta ini bisa dilihat di berbagai galeri dan publikasi internasional. Dalam wawancara ini, kami berbincang dengan Eko Nugroho mengenai perspektif dan pengalamannya di seni lokal dan global.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.