Dari renungan mengenai pengalaman perempuan di keseharian Jakarta, analisa mengenai cara video game berkomunikasi, cerita pendek tentang harimau dan pasangan, section Column Whiteboard Journal adalah rumah untuk berbagai bentuk esai dan tulisan kreatif. Kami senang bisa membaca dan memahami perspektif yang berbeda, serta memperkaya bahasan yang ada. Kami ingin mengajak Anda, pembaca kami, untuk berbagi tulisan Anda dengan kami.
Format artikel kami serahkan kepada Anda - kirim tulisan seputar topik yang Anda minati. Kami akan membaca setiap esai, dan tim editorial kami akan memilih artikel yang akan dipublikasikan di website kami setiap minggunya. Kami berharap untuk bisa segera membaca tulisan-tulisan Anda!
- Ketentuan jumlah kata Esai dan Creative Writing 800 - 2000 kata.
- Kami terbuka jika pada format diluar artikel esai dan creative writing (foto esai dan semacamnya).
- Submisi bisa dalam bahasa Indonesia atau Inggris.
- Email karya Anda ke info@whiteboardjournal.com dengan subject: OPEN COLUMN
- Sertakan foto diri dan biografi singkat dengan submisi Anda (Jika Column Anda terpilih, kami akan mencantumkan profil Anda)
- Tiap orang bisa mengirim lebih dari satu submisi.
- Selamat menulis!
--
From ruminations on the experiences of women in Indonesia’s capital city, analysis of the video game language, to short stories about a tiger and a couple, Whiteboard Journal’s Column has made itself home to a diverse range of essays and creative writing. We love learning new subjects and understanding different perspectives, so to further diversify our content we would like to invite you, our readers, to share your writings with us.
The subject of the essays are entirely up to you, so send us writings on topics that interest you, and be sure to give your personal take on the subject. Past Columns have housed topics ranging from music, art, literature, politics, travelling, to video games, food, and environmental issues. We will read every essay, and every month, our editorial team will select a submission to be published on our website and promoted via our social media. Published writers will also receive a goodie bag courtesy of Whiteboard Journal’s team. We hope to read your writings soon!
- Submission should be in Bahasa Indonesia or English.
- Essay or Creative Writing should be 800 – 2000 words in length.
- We are open to different formats (example: Photo Essay)
- Email your writing to INFO@whiteboardjournal.com with the subject: OPEN COLUMN
- Include a photograph of yourself and a short bio in the email (If your Open Column is selected, we will feature your profile in the article).
- Multiple submissions are accepted.
- Have fun!
Gitar adalah instrumen yang sangat mempengaruhi suara dan gaya musik pada abad ke 20 dan 21. Dari petikan jazz Charlie Christian, suara yang dipakai Jimi Hendrix, sampai permainan gitar agresif dan penuh distorsi dari Youth of Today, gitar, khususnya gitar listrik, menawarkan pembaharuan pada warna musik, membentuk musik populer yang kita nikmati hingga hari ini. Salah satu inovasi yang datang bersama instrumen ini adalah pedal efek. adalah beberapa jenis pedal yang menambah warna dan karakter kepada suara gitar, dan di era sekarang sudah menjadi aksesoris umum bagi musisi, baik untuk yang sering pentas di atas panggung atau yang lebih gemar bermain di rumah.
Karakter gitar yang sempurna adalah suara yang dicari oleh banyak gitaris, dan meskipun tone yang bagus adalah hal yang subjektif, ada banyak hal-hal teknis seputar gitar dan pedal yang patut dimengerti oleh pemainnya. Salah satu sumber pengetahuan gitar listrik yang sangat menarik adalah That Pedal Show, acara reguler yang bisa ditonton di Youtube.
Bersama 2 reguler yakni Daniel Steinhardt, salah satu penemu perusahaan TheGigRig yang membantu gitaris menemukan gitar yang mereka cari melalui konsultasi dan beberapa produk rilisan mereka, dan Mick Taylor, gitaris profesional, jurnalis musik dan mantan editor-in-chief Guitarist Magazine, That Pedal Show menelusuri dan menjelaskan berbagai macam amplifier, pedal, dan gitar di setiap episode.
Biasanya, satu episode That Pedal Show akan membahas satu jenis suara, misalnya pedal modulasi, dan mereka akan menelusuri berbagai pedal modulasi. Sembari mencoba pedal-pedalnya, mereka menjelaskan bagaimana jenis gitar, , pedal dan ampli berinteraksi sehingga membuat karakter unik pada permainan gitar.
Percakapan mereka seputar hal teknis sangat menarik bagi musisi atau yang ingin mendalami pedal dan gitar. Selain itu, Daniel dan Mick selalu bisa menyelipkan candaan diantara penjelasannya, sehingga tiap episode yang berdurasi 20 menit terasa ringan namun tetap berisi.
That Pedal Show memperbaharui acara mereka secara reguler dan bisa ditonton di tautan berikut:
That Pedal Show on Youtube
SONY CSL Research Laboratory telah mengembangkan yang bisa menciptakan komposisi lagu pop, dan ternyata hasilnya sangat menarik. dengan nama Flow Machines mempelajari lagu dan komposer pop, kemudian menganalisa komposisi di dalam lagu-lagu tersebut dan dari situ kemudian dilahirkan sebuah komposisi berdasarkan gabungan unsur umum yang ia temukan.
Lagu berjudul "Daddy's Car" adalah komposisi yang dibuat berdasarkan The Beatles. Dan, mampu menghasilkan lagu bernuansa yang terasa seperti buatan The Beatles. Kuat di melodi vokal, memiliki harmoni-harmoni vokal yang sangat mudah diingat, dengan bagian-bagian minor yang menambah elemen drama kepada lagunya.
Pada lagu, "Mr. Shadow" Flow Machines mengambil komposer klasik Amerika, termasuk Irving Berlin, Duke Ellington, George Gershwin dan Cole Porter untuk membuat lagu yang beraroma jazz.
Meskipun komposisi diatas adalah karangan , masih ada sentuhan manusia dalam rekaman lagu-lagunya. Di "Daddy's Car" dan "Mr. Shadow", Benoit Carre, seorang musisi, menentukan arahan musiknya (ia yang memilih The Beatles dan komposer-komposer Amerika), dan setelah komposisi oleh Flow Machine selesai, sebuah sistem bernama Rechord (dengan partisipasi oleh musisi) dipakai untuk mengisi karangannya dengan instrumentasi, dan seorang untuk melakukan dan lagunya. Mestinya, perkembangan berikutnya untuk adalah untuk mengembangkan instrumentasi dan ke langkah yang selanjutnya, untuk mewujudkan sebuah sistem yang lebih efisien dalam menciptakan lagu.