Klapr
There are 26 songs in this mix. Guaranteed smooth!
Showing 764 results for words by:
There are 26 songs in this mix. Guaranteed smooth!
Best of the best in jazz - according to Fonz.
Dikenal sebagai festival tahunan yang terus dipadati pecinta sastra, Ubud Writers & Readers Festival kali ini kembali hadir dengan deretan line up yang menawan. Berkat keunikannya, festival ini terus menawarkan insight baru dalam programnnya. Berikut 8 buku pilihan dari 8 penulis yang hadir di festival tersebut tahun ini.
Try listen to it while commuting.
Karya kolaborasi adalah hal yang menarik. Diluar hasil akhirnya, interaksi antar 2 sosok, yang berusaha untuk saling mengisi satu sama lain selalu memiliki daya tarik tersendiri. Untuk sebuah projek musik berjudul "Seasons", Ben Wendel, musisi jazz asal Kanada, menciptakan 12 komposisi untuk berkolaborasi dengan 12 musisi berbeda. Ben Wendel adalah seorang komposer musik dan musisi (saksofon, piano, bassoon) juga merupakan personil grup Kneebody, telah mendapat nominasi Grammy Awards. Sebagai musisi solo, ia juga tampil sebagai sideman atau band-leader untuk musisi terkenal seperti Snoop Dogg, Ignacio Berroa, Daedelus, dan Taylor Eigsti. Sepanjang tahun 2015, setiap bulan Ben Wendel mengarang sebuah komposisi yang dibuat untuk musisi tertentu. Menurut websitenya, dia menulis lagu duet yang dibuat spesifik untuk musisi-musisinya dan instrumen yang mereka mainkan. Dari gitaris Julian Lage, pemain trompet Ambrose Akinmusire, sampai pemain piano Aaron Parks, setiap komposisi disesuaikan menurut permainan musisi dan karakter instrumen yang dimainkan. Duet-duet yang dibuat semua merupakan karya orisinil, namun mengangkat beberapa tokoh yang mempengaruhi Ben Wendel, seperti Tchaikovsky dan lagu "I'll Remember April" karya Gene de Paul. Di lagu-lagu yang mereka mainkan, terasa pengaruh musik klasik dan jazz, dan juga dari permainan musisinya. Yang paling menarik dari kolaborasi-kolaborasi ini tentunya adalah interaksi permainan antar musisi. Meski duetnya diciptakan oleh Ben Wendel, ada keberagaman yang menarik pada permainan instrumen kolaboratornya. Mulai dari permainan drum Eric Harland yang penuh dengan aksen, sampai permainan piano Shai Maestro yang mengayun. Karakter permainan musisi tamu memberi warna yang beragam pada projek "Seasons". Bisa dilihat dari video-videonya pula, permainan Ben Wendel sendiri juga terpengaruh oleh karakter dan interaksi musisi tamunya. Hal ini membuat "Seasons" seri yang menarik, karena meskipun komposisi lagunya datang dari satu kepala, kobinasi hasik permainan yang terjadi membuat setiap sesi momen jadi spesial. Lokasi-lokasi permainan kolaborasi juga menjadi nilai plus. Dari club jazz, ruangan kosong, sampai ke ruang tamu sebuah apartemen, suasana setiap sesi berbeda dan menambah atmosfir kepada kolaborasinya. Untuk membaca mengenai "Seasons" dan menonton semua videonya, klik disini.
Train to Busan adalah film yang sangat menghibur. Dengan cerita yang berpusat kepada penumpang-penumpang kereta yang berusaha untuk melarikan diri dari epidemic virus zombie, hasil karya sutradara Yeon Sang-ho ini patut dipuji, terutama karena ia mengambil sebuah tema (zombie) yang sudah cukup sering diangkat, namun membuatnya menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan untuk ditonton tanpa perubahan signifikan pada formula jenis film ini. Seperti film zombie lainnya, kisah Train to Busan berkisah mengenai bagaimana karakter-karakternya bisa bertahan hidup dan meloloskan diri dari malapetaka yang selalu mengejar mereka. Salah satu elemen yang membuat film ini seru adalah zombienya, tidak seperti zombie di film lain, disini mereka bisa berlari dan bergerak dengan cepat. Ketegangan di film zombie biasanya datang dari rasa paranoia pada monster-monster yang secara pelan mengejar tokoh utama - membangun sebuah atmosfir yang pelan-pelan tumbuh di kepala penonton sembari filmnya berlangsung. Dengan zombie yang bergerak sangat cepat dan berbondong-bondong, Train to Busan membuat setiap adegan melarikan diri seperti layaknya film action - tegang dan penuh adrenalin. Tentunya, film ini tidak hanya menawarkan adegan action yang bertubi-tubi. Yeon Sang-ho memberi waktu istirahat dari adegan-adegan tegang serta memajukan plotnya melalui interaksi dan drama antar karakter. Seperti hubungan antar bapak dan anak, pasangan muda, dan hubungan antar karakter lain yang berkumpul dalam usaha melawan zombie. Meskipun adegan drama berhasil memberi ruang untuk istrahat dari dan juga mengamplifikasi bagian serunya, adegan tersebut kadang terasa berlebihan. Pesan-pesan moral klise tentang persahabatan, loyalitas, dan gotong royong yang menyolok dan memancing emosi penonton terasa terlalu dipaksakan. Sebelum Train to Busan, Yeon Sang-ho telah menyutradarai sejumlah film animasi, dan mungkin adegan drama yang pantas melalui animasi tidak berhasil diterjemahkan dengan baik pada film live-actionnya. Tetapi secara keseluruhan, Train to Busan adalah film menyenangkan yang patut ditonton jika anda mencari film action yang menghibur. Suksesnya sudah terbukti dengan gosip bahwa akan ada sebuah sequel atau prequel yang akan menyusul di waktu yang dekat. Train to Busan (2016) Sutradara: Yeon Sang-ho Sinopsis: