Nowherelandian Launches Visions of Mundane Madness: Drawings and Poems by Andri Nirmala and Dwiputri Pertiwi
Nowherelandian is a self-publisher based in Jakarta, Indonesia. Following the 2014 release of Hiatus, the independent unit will release its second publication, Visions of Mundane Madness, a collection of 50 drawings by illustrator Andri Nirmala and 50 poems by Dwiputri Pertiwi.
The idea behind Visions is summarized by the excerpt of the introduction below.
We begin with seeing, but we will eventually pick up our pens so that we can arrive at the end with more than two pairs of tired eyes. The hand-drawn pictures contained in this book are visual playgrounds. They were made to show you what we have seen, what we do not wish to see, as well as what we hope to see. But we also invite you to see through and around them: we would like you to show us what you see in them. The poems you will find here are our own attempt to reshape those things and non-things we have encountered in our waking hours and our dreams. Each line and the verses they amount to are just another way of seeing, of opening our eyes to the world through the enigmatic mechanism of language.
The essence of this book is interpretation. The first step requires converting both real and hypothetical experiences into pictures. These pictures will then become various combinations of symbols—chains of words, rows of sentences—that dictate the second stage of conversion. Layers and layers of meaning are added in the process.
To introduce the book, Nowherelandian would like to invite all appreciators of visual art and poetry to the following launching event:
Nowherelandian Presents: Visions of Mundane Madness by Andri Nirmala and Dwiputri Pertiwi
Date and Time: Sunday, September 13, 2015 at 16:30
Venue: Opah Mami
The Promenade, Lot 10
(Behind Ace Hardware Pejaten)
Jl. Warung Buncit Raya No. 98
Jakarta Selatan
www.nowherelandian.com
nowherelandian@gmail.com
Details
• A brief presentation of the book by the authors
• Performances by Mallaka and Pandu Priyanto
• Copies of Visions of Mundane Madness will be available for purchase Rp. 150.000
• Free entry
• Food and beverages will be provided
Photo by: Samuel Evander
This episode of Loka Suara is titled “Nagari” a selection of songs that has a strong Indonesian vibe. Take a listen to the episode and do look for the band featured if you like what you hear.
Tracklist:
01. Vialka & Senyawa - Kereta Malam
02. Tarling Padi - Bus Jama'at Karyawan
03. Memet Chairul Slamet - Mat Sinamatan
04. SEMAKBELUKAR - Pena Tak Bertinta
05. Suarasama - Timeline
06. Wukir Suryadi - Spatula Kayu II
07. Gardika Gigih - Kapal - Kapal Kecil (REWORK)
08. Noah ft. Karinding Attack - Sahabat
09. Kaimsasikun - Rayuan Pulau Kelapa (Ismail Marzuki Cover)
10. B. C. Marcukundha - Jalan Kembali
Unit Rhythm & Blues asal Jakarta, Indische Party, terpilih sebagai band Indonesia yang memenangkan Converse Rubber Tracks Recording Session 2015.
Berawal dari informasi beberapa teman mengenai sesi rekaman Converse Rubber Tracks untuk tahun 2015, Indische Party mencoba peruntungan untuk mengikutsertakan karyanya lewat website resmi Converse Rubber Tracks, http://www.converse-music.com/rubbertracks/. Setelah menunggu sekitar satu bulan, tepatnya di pertengahan Juli 2015, akhirnya Indische Party email resmi berisi pemberitahuan mengenai terpilihnya mereka untuk berangkat menuju sesi rekaman bersama Converse Rubber Tracks.
Perlu menunggu sekitar tiga minggu sejak pengumuman resmi untuk mengetahui studio mana yang akan Indische Party tuju. Di pertengahan Agustus 2015, Indische Party menerima informasi bahwa mereka akan bertolak ke studio legendaris Abbey Road Studios, London, Inggris, untuk melakukan sesi rekaman. Setelah melewati proses komunikasi panjang via email dengan pihak Converse Amerika Serikat, akhirnya Indische Party berhasil merampungkan syarat administrasi dan dinyatakan berhak berangkat ke Abbey Road, London, Inggris, untuk melakukan sesi rekaman Converse Rubber Tracks bersama 84 artis terpilih lainnya yang disebar ke dua belas studio rekaman Converse Rubber Tracks.
Proses pemilihan pemenang Converse Rubber Tracks 2015 di Indonesia kali ini berbeda dengan tahun 2014 silam. Jika tahun lalu Converse Rubber Tracks diadakan lewat situs Whiteboard Journal (www.whiteboardjournal.com) dan penjurian dipilih oleh juri dari Indonesia, Converse Rubber Tracks 2015 diadakan dengan proses yang berbeda. Tahun ini, proses penjurian diadakan langsung oleh pihak Converse Amerika Serikat.
Seluruh personil Indische Party akan melakukan sesi rekaman selama dua hari pada 21-22 September 2015 di Abbey Road Studios bersama dengan additional keyboardist David Tarigan yang juga akan membantu proses rekaman selama di sana. Mengenai materi rekaman sendiri, Indische Party berencana untuk merekam materi-materi baru.
Di Abbey Road Studios, Indische Party akan bekerjasama dengan sound engineer Alan O’connell atau biasa dikenal dengan nama “alalal", seorang music producer dan sound engineer asal Inggris yang telah bekerjasama dengan Mark Ronson, Paul Epworth Erol Alkan, Bruno Mars, The Vaccines, Placebo, Duran Duran, Metronomy, Klaxons, The Future Heads, The Rapture, The Big Pink dan nama-nama besar lainnya (http://justmanaging.com/our-producers/alalal). Alan O’connell merupakan peraih “Recording Engineer of the Year” di tahun 2013 oleh UK Music Producers Guild dan juga nominator di ajang Grammy 2014.
Sekilas mengenai Indische Party. Indische Party adalah band yang berdiri di Jakarta pada tahun 2011. Band ini sarat akan nuansa musik tahun 1960-an dengan mengusung genre Rhythm & Blues, Rock dan Pop. Band ini berisikan Japs Shadiq, vocalist flamboyan yang juga gitaris dari band pop psychedelic ‘It’s Different Class’, Kubil Idris sebagai guitarist yang sudah lebih dulu dikenal pada unit new wave ibukota ‘The Upstairs’, Jacobus Dimas atau Iyo sebagai bassist yang juga tergabung dalam unit Rock & Roll ‘Karon n Roll’, dan yang terakhir pada posisi drummer di isi dengan gadis berpostur kecil, Tika Pramesti, dengan pukulannya yang jazzy. Empat sekawan ini merupakan sahabat dari bangku kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Album debut Indische Party (selftitled) dirilis oleh label Demajors Independent Music Industry (DIMI) dan sudah disebarkanluaskan pada awal Juni 2013. Dari sepuluh lagu yang terdapat dalam album perdana, judul lagu “Waiting For You” di daulat menjadi single pertama mereka, menyusul “Sepeda" dan “Hey Girl”.
Indische Party sendiri saat ini telah merampungkan rekaman untuk album kedua yang rencananya akan dirilis pada akhir tahun 2015 ini. Di album kedua, eksplorasi musik tentu dilakukan oleh masing-masing personil. Dipandu oleh David Tarigan sebagai produser, Indische Party akan menyajikan album kedua lebih matang, baik dari sisi sound maupun musikalitas.
Berikut adalah beberapa link dari video clip dari Indische Party:
https://www.youtube.com/watch?v=ytH2r-R_XxE
https://www.youtube.com/watch?v=PHUmVNdSM1E
https://www.youtube.com/watch?v=FuaOmv52s7Q
IGDA2 mengundang segenap desainer grafis Indonesia untuk mengirimkan karya terbaiknya.
Entri dapat diikuti oleh Mahasiswa, Dosen Full Time, perorangan atau perusahaan yang terlibat dalam pembuatan atau produksi pekerjaan dalam lingkup Desain Grafis.
Karya yang diikutsertakan harus telah dibuat antara tanggal 01 Januari 2012 sampai dengan 31 Juli 2015
DEADLINE
Seluruh karya peserta harus sudah diterima panitia pada saat batas akhir penerimaan karya: 30 November 2015
untuk info yang lebih detail kunjungi:
igda.dgi.or.id
Cukup susah untuk tidak tersenyum di konser White Shoes and the Couples Company. Dengan kualitas musik dan penampilan yang telah membawa mereka menjadi salah satu band paling maju di Indonesia, hampir setiap panggung WSATCC adalah gelaran yang selalu menghibur. Indra penglihatan dan pendengaran selalu terpuaskan oleh nyanyi dan tari yang selalu ditampilkan dengan sepenuh hati oleh tiap personilnya. Baik di panggung besar, maupun di gigs kecil di sebuah kafe yang penuh sesak, pentas sextet ini selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Hari itu, Rabu, 5 Agustus 2015 WSATCC dijadwalkan untuk bermain dan membagikan pengalaman yang menyenangkan tersebut di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Dan, pada hari tersebut, entah berapa banyak senyuman yang terkembang di muka para penonton setelah sajian yang cukup spesial dari WSATCC. Bukan hanya karena hari itu merupakan “ulang tahun” ke-13 dari WSATCC, tetapi juga karena acara ini memiliki tajuk yang juga lumayan istimewa, yakni “White Shoes and The Couples Company Konser di Cikini”.
Dalam hal ini, Cikini khususnya Graha Bhakti Budaya sebagai bagian dari Taman Ismail Marzuki menjadi konteks yang cukup penting sehubungan dengan sejarah kemunculan unit WSATCC dari Institut Kesenian Jakarta yang juga berada kompleks Taman Ismail Mazuki. Selang sekitar tiga belas tahun dari tahun 2002, setelah nama WSATCC berkembang jauh dari band kampus menjadi salah satu band independen paling sukses di Indonesia, kembalinya mereka ke kompleks ini seakan merupakan tanda terima kasih sekaligus homage kepada sebuah entitas yang sedikit banyak juga berperan dalam progresi karir mereka. Sebuah hal yang ternyata juga dirasakan oleh para penggemar musik lokal, semenjak sore, kawasan Taman Ismail Marzuki terlihat lebih ramai daripada biasanya dengan kedatangan penonton konser yang memadati area sekitar gedung Graha Bhakti Budaya. Ratusan tiket pre-order sekaligus tiket on the spot yang ludes dalam waktu yang singkat menjadi bukti sahih akan antusiasme para penggemar musik terhadap konser ini. Dan benar saja, ketika akhirnya pintu teater dibuka pada sekitar pukul setengah delapan malam, antusiasme itu seperti menemukan muaranya pada panggung WSATCC.
Tapi tetap saja, ada beberapa hal yang terasa tak terlalu sempurna pada konser Cikini tersebut. Sebenarnya, jika dilihat secara umum, Konser Cikini bukan merupakan konser yang buruk, White Shoes tetap tampil bagus dan menghibur. Tapi, jika dilihat lebih jauh, untuk band dengan level White Shoes, predikat bagus dan menghibur semata jelas tidak cukup. Sebagai salah satu nama yang menjadi panutan di scene independen lokal, juga mengingat segala prestasinya di level internasional, benchmark untuk White Shoes berada pada level yang setingkat, atau bahkan dua tingkat di atas band lokal pada umumnya. Dan, pada malam itu ada beberapa poin yang cukup mengganggu kesempurnaan acara.
Hal pertama yang cukup mengganggu adalah kostum Sari dan Mela di sesi pertama, identitas endorser brand Ugly terlalu menonjol, membuat fokus yang seharusnya ada pada penampilan White Shoes secara keseluruhan justru agak tenggelam. Secara umum, set White Shoes di paruh pertama pertunjukan juga tak terlalu istimewa, nuansanya hampir sama dengan panggung White Shoes pada pentas mereka biasanya. Sebuah hal yang cukup disayangkan, mengingat gelaran ini cukup spesial, baik secara sejarah juga tempat yang cukup istimewa. Memang, tak ada masalah serius pada musik yang mereka mainkan, tapi sekali lagi, “aman” jelas bukan sebuah hal yang diharapkan pada konser semacam ini.
Untungnya di paruh kedua pertunjukan, ada perubahan yang cukup mengangkat keriaan Konser Cikini ini. Set dibuka menjadi lebih lapang, dengan tambahan deretan mini orchestra dan dekorasi panggung bertemakan perkotaan, plus kali ini kostum para personil tampak lebih koheren satu sama lain. Semua tambahan tersebut membuat panggung terasa lebih hidup dan memberikan pengalaman yang cukup istimewa kepada penonton. Ada pula berbagai atraksi yang cukup menarik dari John dengan mesin tik-nya yang cukup menggelitik, juga cover version dari Tielman Brothers yang dimainkan dengan cukup rancak. Sayangnya, di set kedua ini masih ada beberapa elemen yang agak mengacaukan keutuhan acara. Terutama pada sisi artistik yang terasa digarap agak kendor, terlihat pada bagaimana transisi per lagu yang agak awkward, dekorasi dan lampu yang tak maksimal, dan agak cukup susah untuk mengapresiasi burung-burung dengan lampu menyala yang tiba-tiba muncul di tengah set itu. Dalam hal setlist dan kolaborasi dengan orchestra, sebenarnya masih bisa lebih baik lagi. Chemistry antara band dengan orchestra dari Indra Perkasa terasa cukup saling melengkapi, namun di beberapa lagu yang agak “ramai”, sering terasa suara instrument dari WSATCC bertumpuk dengan bunyi dari string section.
Tapi toh, tampaknya hal-hal tersebut tidak membuat senyum para penonton terhenti terkembang. Bisa dilihat pada bagaimana hampir semua penonton sangat bersemangat untuk mengikuti lagu per lagu yang dimainkan. Sebuah hal yang terus terjaga hingga akhir panggung dan malah semakin nyata terlihat pada sesi encore, dimana para personil mengajak penonton untuk mendekat ke bibir panggung untuk nyanyi bersama. Tampak jelas kepuasan pada setiap wajah personil dan penonton, dan dengan demikian bisa dipastikan semua pulang dengan hati bahagia. Terlepas dari beberapa kekurangan di atas, bukankah rasa lega merupakan hal yang paling utama?
Melalui musik dan lirik dari Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud mencuat sebagai salah satu nama penting di scene musik independen nasional. Diluar aktivitasnya di dunia musik, Cholil juga dikenal sebagai sosok yang cukup vokal dalam menyuarakan kegelisahannya mengenai berbagai isu sosial. Whiteboard Journal berkesempatan untuk berdiskusi bersama Cholil mengenai dunia musik independen, perkembangannya hingga tentang pandangannya mengenai hak-hak warga negara.