Portofolio adalah salah satu fitur terbaru pada section focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali ini Sciencewerk menjadi fokus bahasan.
Berbagai kegiatan gaya hidup kekinian semakin bertumpu pada aspek visual, gaya hidup ini membutuhkan segalanya untuk selalu menarik secara estetis dalam tiap aktivitasnya. Bekerja sama dengan Samsung GALAXY A8, tulisan ini mengulas mengenai bagaimana kita bisa memanfaatkan momentum untuk membuat visual yang menyenangkan.
Photo by: Samuel Evander
This episode of Loka Suara is titled “Betina” a selection of songs from female songwriter/singer. Take a listen to the episode and do look for the band featured if you like what you hear.
We.Hum Collective presents
“Humming Mad #10: Yuk!”
Sarang Kucing
Jl. Perdatam Terusan no. 3B, Ulujami, Pesanggrahan
Jakarta Selatan 12250
Peta: http://bit.ly/SarangKucing
Kontak: +628118161475 (Tomo)
Sabtu, 7 November 2015
19.00 – 23.00 WIB
Free entry
Sudah satu tahun berlalu sejak kami menyatakan rehat. Skena berjalan seperti biasa: band datang dan pergi. Namun, masalah yang dihadapi tetap sama: band-band baru masih kesulitan mendapatkan panggung—terutama mereka yang tidak mengenal siapapun di skena dan venue-venue yang berguguran satu demi satu. Problema pertama adalah masalah klasik dalam tiap skena di kota mana pun. Masalah kedua adalah hal baru yang seharusnya sudah dapat diprediksi melihat apa yang akan terjadi dengan rencana pembangunan Jakarta sebagai sebuah megapolitan: harga tanah yang melambung naik, sebuah fenomena yang juga melatarbelakangi peningkatan harga sewa ruko yang selama ini diandalkan para pemilik venue dan para pelaku skena musik arus non-arus utama, terutama yang beroperasi secara independen.
KENAPA “YUK!”?
“Yuk!” adalah sesederhana sebuah ajakan untuk terus berkesenian dengan independen. Kami melihat sebuah urgensi untuk mencari alternatif dari venue-venue konvensional jika ingin skena ini bisa tetap berjalan dengan independen dan menyenangkan. Sebuah urgensi yang akhirnya menyeret kami untuk kembali aktif dengan alternatif yang agak radikal: sebuah house gig. Sampai di poin ini mungkin sebagian dari kalian akan menyerngitkan dahi karena sebuah house gig jarang sekali digelar di Jakarta. Belum lagi, masalah yang biasanya muncul seperti komplain dari warga dan akses yang sulit. Namun, kami melihat bahwa masalahnya selama ini terjadi karena house gig gagal dalam menjawab pertanyaan fundamental: apa kontribusi positif yang dapat diberikan acara ini kepada warga sekitar?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami pun memutuskan untuk menjadikan sesi Humming Mad kali ini sebagai sebuah pilot project. Kami mengajak warga-warga sekitar rumah untuk berjualan makanan dan minuman di sekitar venue untuk menggerakkan perekonomian di daerah sekitar rumah agar warga juga turut diuntungkan dengan adanya keriaan ini. Jika respon warga terhadap acara ini bagus, bukan tidak mungkin kami akan mengadakannya dengan rutin. Untuk mencapai lokasi venue kalian dapat mengikuti peta yang tercantum pada tautan berikut: http://bit.ly/SarangKucing
Pada sesi Humming Mad kali ini dan seterusnya, kami memutuskan untuk lebih memfokuskan diri pada skena lokal. Bisa dibilang, ini adalah sesi Humming Mad pertama yang tidak menampilkan musisi mancanegara. Pada sesi kali ini, kami ingin menyorot skena emo Malang yang mulai berdenyut. Berikut adalah para penampil yang kami undang untuk merayakan kembalinya sesi Humming Mad dengan konsep baru:
01. Much
Much adalah kontribusi Malang untuk turut meriuhkan skena pop-punk bernafaskan indie-pop/indie-rock yang sedang ramai belakangan ini, terutama di UK. Mereka adalah band yang patut kamu simak jika kamu menyukai Lemuria, Personal Best, dan Colour Me Wednesday.
02. Shewn
Masih dari Malang. Mendengarkan Shewn membuat kami berandai-andai apabila Pianos Become The Teeth era “Keep You” yang lebih tenang bertemu dengan diri mereka era “The Lack Long After” yang lebih agresif. Kami sangat merekomendasikan mereka apabila kamu menyukai skramz/post-hardcore ala The Wave.
03. Saturday Night Karaoke
Ah, rasanya kami sudah tak perlu lagi memperkenalkan grup pop-punk asal Bandung ini. Mereka baru saja merilis sebuah album bertajuk “Slurp!” di bawah SP Records yang berbasis di Jepang jadi anggap saja ini sebagai bagian dari tur album mereka untuk bagian Jakarta.
04. Fuzzy, I
Berhentilah berandai-andai Kim Gordon dan Thurston Moore akan berbaikan dan mengembalikan Sonic Youth ke era kejayaannya. Bandung sudah punya alternatif baru yang lebih segar untuk kalian: Fuzzy, I.
05. Barefood
Barefood juga rasanya adalah band yang tak perlu kami perkenalkan lagi. Kalian sudah tahu siapa mereka. Yang mungkin kalian belum tahu adalah bahwa mereka akan merilis ulang materi-materi demo mereka dan EP “Sullen” ke dalam satu album di bawah label asal Jepang, THISTIME Records.
06. Laguna Bang Bang
Laguna Bang Bang adalah semacam tamu misterius untuk kalian dari kami karena satu-satunya yang bisa kalian dengar dari laman Soundcloud-nya hanyalah satu track instrumental berbau surf punk yang direkam secara lo-fi. Penasaran? Tunggu saja aksi mereka di Humming Mad #10!
Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, dibulan Oktober 15 tahun lalu di sebuah acara tahunan anak-anak seni rupa IKJ (Institut Kesenian Jakarta) yang bernama “Oktaria” band ini lahir karena keempat orang ini tertinggal rombongan kloter awal, Ary Buy harus mengurus perpindahan jurusan dari Desain Interior ke Desain Grafis, Ritchie & Rege “literally” ga kebagian tempat duduk dan ketinggalan truk tronton, Sastro sibuk dengan kegiatannya di studio grafis murni. Dalam hitungan 2 hari lagu “Lari 100”, “Kaktus” dan “Penyair” menjadi 3 lagu pertama yang dibawakan live diatas panggung, waktu itu studio Armada di bilangan Senen jadi saksi bisunya.
Perlu waktu 5 tahun sampai akhirnya band ini merilis album pertamanya, selain EP dan Single kecil dengan kuantiti sangat sedikit dan dijual hand-to-hand. The Sastro akhirnya merilis album Vol. 1 setelah kerja keras 3 tahun di studio kamarnya Angga (Frontman Ramayana Soul, Gitaris Pestol Aer, Additional Player The Sastro) dan album ini adalah rilisan pertama dari Kenanga Records, sebuah label indie yang berhasil mengarsipkan scene musik Jakarta era Parc melalui album kompilasi “Thusrday Riot”. Album Vol. 1 ini dirilis dibulan April 2005 dengan menggelar konser di Parc.
Desember 2014, Agus dari Majemuk Records mengontak kami karena ingin merilis ulang album ini dalam format piringan hitam, tujuannya adalah untuk merayakan 10 tahun album vol. 1 tepat di bulan April berbarengan dengan acara Record Store Day. Dilihat dari timeline sangat memungkinkan sekali, tetapi takdir berkata lain, paket yang dikirimkan bersama piringan hitam The Milo dari Perancis tempat kami mereplikasi piringan hitam ini nyasar ke India, entah kenapa hanya paket piringan hitam kami yang hinggap ke India, perlu waktu 1 bulanan untuk jasa logistik kami bisa menemukan keberadaan paket kami tersebut, lalu paket piringan hitam tersebut sampai di Jakarta 2 bulan setelah acara Record Store Day, dan acara konser ini pun kami buat.
Piringan Hitam The Sastro album Vol. 1 rencananya akan dijual terbatas sebanyak 200pcs dengan harga Rp. 350.000,-. Jumlah piringan hitam ini direncanakan dirilis sebanyak 300pcs, kami mendapatkan sekitar 100-an pcs melengkung/rusak karena menurut laporan logistik paket ini tidak mendapatkan perawatan yang layak selama terdampar di India.
Acara ini akan diramaikan oleh teman-teman dekat kami seperti, Ramayana Soul, Band ini adalah bandnya Angga, dia adalah salah satu orang yang berjasa The Sastro bisa merampungkan album Vol. 1. Seaside, Andi Hans membuat band ini dan merilis albumnya bersama Anoa Records label yang di co-founding oleh Ritchie salah satu personil The Sastro. Davkillz a.k.a David Tarigan, dia adalah founder dari Iramanusantara.org, penggerak scene musik Jakarta dan David yang mengajak kami bisa ikutan di album kompilasi bersejarah dari Aksara Records, JKT:SKRG. BolsQ, Skater pro lokal teman nongkrong di IKJ, selalu jadi MC untuk meramaikan suasana dipercaya number one fans The Sastro se-Jakarta, Peterlovefuzz a.k.a Peter Walandouw dan Aruca a.k.a Andri K Rahadi, duo co-founder Anoa Records yang membuat rilisan digital The Sastro Vol. 1 dalam format Kartu Download Digital (akan dijual saat acara juga).
Berlokasi di Yesterday Lounge, sebuah tempat menyenangkan di Antasari, Jakarta Selatan, Acara ini diadakan pada tanggal 11 Oktober 2015, dan direncanakan tiket box dibuka pukul 6 sore berbarengan dengan dibukanya booth penjualan piringan hitam Vol. 1 dan Merchandise, signing session akan dilakukan sebelum konser dimulai. Untuk mensupport acara ini diharapkan teman-teman bisa membeli tiket FDC seharga Rp. 50.000,- atau cukup membeli salah satu produk dari The Sastro yang akan dijual seperti; piringan hitam, t-shirt dan DDV (kartu download digital).
See you soon!
Cheers,
Ritchie Ned Hansel
On behalf of The Sastro
Pada hari Minggu, 04 Oktober 2015, whiteboardjournal.com bekerja sama dengan Komunitas Salihara menggelar diskusi Lost in Translation di Serambi Salihara. Sebagai bagian dari gelaran Bienal Sastra 2015, diskusi ini merupakan upaya untuk melihat lebih jauh proses dan intensi pada aktivitas alih bahasa. Pilihan topik tersebut merupakan respon terhadap Indonesia yang menjadi Guest of Honor di Frankfurt Book Fair 2015, sekaligus untuk membahas posisi sastra Indonesia di pasar internasional.
Yusi Avianto Pareanom dan Rain Chudori adalah dua pembicara pada diskusi ini. Keduanya dipilih dengan pertimbangan bahwa background masing-masing bisa menjadi representasi yang ideal mengenai dunia penerbitan, aktivitas translasi, hingga tren di anak muda mengenai dunia penulisan.
Diskusi berjalan cukup menarik dengan jawaban dari Yusi dan Rain yang cukup sering menggelitik dan membuka wawasan baru. Pembahasan mengalir dari pembicaraan mengenai esensi pasar internasional, berbagai kendala yang dihadapi dalam proses alih bahasa serta hubungannya dengan bagaimana proses bagi penulis untuk memasuki pasar global, hingga kemungkinan-kemungkinan baru yang terbuka dengan jalur-jalur penerbitan dan promosi alternatif yang kini dimungkinkan oleh teknologi dan internet. Berbagai pertanyaan dan tanggapan dari penonton juga semakin melengkapi cakupan bahasan diskusi ini.