26.11.15

Dancey Neon

Pilihan Prasvana untuk mengundang Neon Indian bermain di Jakarta adalah sebuah keputusan yang cukup menarik. Nama Neon Indian sebenarnya tak lagi terlalu didengar pasca album Era Extraña yang dirilis pada 2011. Baru pada separuh terakhir 2015, Neon Indian kembali menjadi topik perbincangan melalui album barunya yang dirilis pada bulan Oktober. Dimana tak lama setelah itu, Alan Palomo kembali dilihat lagi berkat VEGA INTL. Night School yang mendapat review positif pada berbagai situs musik. Kredit lebih patut disematkan pada tim Prasvana yang mampu membaca perkembangan dan lantas membawa Neon Indian untuk tampil di Jakarta ketika tren mengenainya masih hangat di kepala. Bertempat di Rolling Stone Cafe hari Selasa, 24 November 2015, acara dibuka oleh Future Collective yang hari itu dibantu oleh Wing Narada dari Maverick/Glovves pada keys dan Binsar dari Marsh Kids pada bass. Tak terlalu banyak bicara, Future Collective tampil sedikit kurang maksimal, dengan keluaran suara yang tak terlalu optimal. Mungkin, baru pada lagu terakhir sound terasa sedikit lebih nyaman. Menariknya di antara set, sempat diumumkan bahwa Future Collective sedang mempersiapkan materi baru untuk rilisan yang akan datang. Sebuah lagu dengan vokal yang dimainkan malam itu cukup membuat penasaran mengenai separti apa bentuk album mereka ke depan. Alan Palomo dan band pengiring menyusul tampil beberapa saat kemudian. Karisma flamboyan terasa cukup kuat dan dominan dari Alan cukup terasa pada set Neon Indian malam itu. Dengan tarikan vokalnya yang cukup terjaga diantara gerakan dansanya yang cukup provokatif dan sesekali isian synthesizer, menunjukkan bagaimana dia mampu membawa proyek solo ini menjadi salah satu nama penting dari scene chillwave/dance kekinian. Setlist malam itu didominasi oleh lagu dari album terbaru VEGA INTL. Night School yang merangkum arahan baru dalam musik Neon Indian. Aspek dance semakin kuat dalam musik yang lebih menonjolkan aroma funk dan disco 80’an. Ada pula secuil aroma reggae pada isian gitar dan R&B yang muncul tipis melalui falsetto pada vokal Alan Palomo. Sedikit mengingatkan kembali pada EP Well Known Pleasures dari VEGA side project Alan sekaligus cikal bakal Neon Indian yang dirilis pada 2009. Ramuan ini mampu membawa kembali aroma tropikal pada venue yang sempat basah oleh air hujan. Sebuah penampilan yang mengundang dansa pada barisan penonton, dari awal hingga akhir pentas Neon Indian. Meski durasi tak terlalu lama, band pengiring (termasuk Jorge Palomo adik alan yang bermain bass) yang tampil nyaris tanpa cela membuat senyum tak hanya terkembang pada muka Alan, tetapi juga pada muka para penonton.

20.11.15

Silverglaze, Band Penting di Scene Shoegaze Bandung Rilis Single

Menjelang akhir tahun 2015, Anoa Records bersiap merilis album mini dari sebuah band Bandung yang ajaib. Begitu ajaibnya karena band ini dihuni oleh orang-orang yang bisa dibilang pernah tampil di beberapa band penting di Bandung seperti Cherry Bombshell, Themilo, Lass, hingga Puppen. Dan band bernama Silverglaze ini tak pernah sekalipun manggung meski sempat memamerkan dua lagu di laman Myspace. Itu pun tanpa woro-woro tentang siapa sebenarnya penghuni Silverglaze. Silverglaze terdiri dari Ajie Gergaji (Cherry Bombshell, Themilo), Widi (Cherry Bombshell, Lass) dan Ajo (Cherry Bombshell, Puppen). Masa lalu mereka memang saling terkait dengan Cherry Bombshell dimana ketiganya hadir di dua album penuh Waktu Hijau Dulu & Luka Yang Dalam. Kini mereka telah ‘reuni’ dalam wajah yang berbeda dan lebih segar. Bersama Anoa Records, Silverglaze akan meluncurkan EP bertitel Essay di awal Desember 2015, dengan single utama berjudul ‘We Can Do It Now Together’. Bersama Rollingstones.co.id, Silverglaze akan melepaskan single tersebut dalam format bebas unduh. Single utama ini mewakili corak musik Silverglaze yang indie pop/rock. Sebagai jebolan penikmat band-band alternatif 90an, tak akan susah mengendus karakter musik mereka, yang telah dirintis oleh band-band seperti Belly, Lush, Madder Rose, Velocity Girl, dan Juliana Hatfield. Dan sebenarnya, tak akan ada Cherry Bombshell tanpa kehadiran beberapa band-band diatas. We Can Do It Now Together adalah awal mula yang sempat tertunda di masa lalu. Kembalinya Widi & Ajo ke dunia yang sempat mereka tinggalkan setelah memutuskan untuk berkeluarga. Dan Aji melengkapi Silverglaze, bersama-sama, sebagai sahabat lama yang tak melupakan passion mereka dalam sebuah band. They can do it now together.

19.11.15

Jakarta Biennale 2015: Maju Kena, Mundur Kena. Bertindak Sekarang

Meskipun tema yang diangkat oleh Jakarta Biennale tahun 2015 ini mengingatkan pada salah satu judul film Warkop yang dirilis tahun 1983, ternyata komedi sedikit berjarak dengan misi yang ingin dicapai pada gelaran ini. Konsepsi yang skala dan dampaknya cukup besar menjadi dorongan utama eksibisi dua tahunan ini. Dengan perhatian pada lingkungan, terutamanya terhadap area kota yang ditempatkan pada sorotan utama, sejatinya Biennale ini adalah rupa rekaan seniman mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka. Ini juga sekaligus merupakan sebuah seruan untuk mengambil langkah untuk maju sekarang, supaya tak terjebak di masa lalu, juga tak tersesat pada utopia masa depan. Besarnya konsepsi juga bisa dirasakan pada bagaimana Jakarta Biennale 2015 memetakan rangkaian acara. Secara kuratorial, Yayasan Jakarta Biennale sebagai pelaksana pameran mengembangkan Curators Lab, sebuah program pembelajaran dan kolaborasi antara kurator muda dengan kurator profesional untuk mengembangkan konsep yang lebih relevan kepada permasalahan yang ada di sekitar. Tim kurator yang besar, berisi kombinasi 7 kurator muda dan senior, termasuk di dalamnya pegiat seni yang didatangkan dari penjuru negeri, dari Aceh, Surabaya, hingga Makassar, menunjukkan lebarnya skala yang dijangkau oleh pameran ini. Selain juga keterlibatan seniman dari berbagai suku bangsa yang diajak untuk menterjemahkan pemahaman mereka masing-masing terhadap tema utama. Kunjungi Gudang Sarinah untuk melihat dan merasakan bagaimana para seniman memaknai isu-isu perkotaan, sekaligus untuk memahami tindakan apa yang bisa diambil untuk bisa melangkah maju ke depan. Jakarta Biennale Website Jakarta Biennale Facebook Jakarta Biennale Twitter Jakarta Biennale Twitter

Column
19.11.15

Nada dari sisi Timur Pulau Jawa

Setiap hari ada band baru yang muncul di bumi Indonesia. Jawa Timur sebagai salah satu bagiannya menyimpan potensi yang menarik untuk digali lebih dalam. Tulisan ini akan menuliskan 11 nama dari Malang dan Surabaya, yang menarik untuk didengarkan dan ditunggu perkembangannya di masa yang akan datang.

12.11.15

Berkreasi Melalui Kurasi Berita

Dengan derasnya arus informasi pada sosial media kadang muncul distraksi yang mengganggu. Berita kini harus disaring, mengenai mana yang menarik, mana yang hanya menyebarkan artikel yang tidak valid. Bekerja sama dengan Kurio tulisan ini mengulas mengenai bagaimana kita bisa berkreasi dalam aktivitas kurasi informasi.

10.11.15

Neon Indian Live in Jakarta

Semenjak menyeruak diantara tren musik chillwave pada tahun 2009 melalui debut album Psychic Chasms yang meraih banyak pujian, Neon Indian muncul sebagai nama penting dalam scene ini. Pendekatannya yang cukup ekletik dalam musiknya membuka dimensi baru pada genre ini. Menggabungkan aroma psikedelia ringan dengan nostalgia, dan pancingan untuk dansa, Neon Indian kemudian tumbuh menjadi salah satu ikon sekaligus representasi movement musik ini. Kemauannya untuk terus berkembang pada setiap karyanya juga menjadi penanda bahwa Alan Palomo, otak dibalik nama Neon Indian memiliki dedikasi lebih dalam bermusik. Hal tersebut juga bisa dirasakan pada kualitas yang juga terus terjaga pada tiap rilisannya, termasuk dalam split albumnya bersama Flaming Lips yang dirilis pada tahun 2011. Kejutan muncul ketika Neon Indian mengumumkan VEGA INTL. Night School, full album-nya yang di rilis di penghujung tahun 2015 ini. Aspek dancey semakin menonjol pada musiknya yang semakin ekletik dan funk-y. Ada pula cuplikan rasa reggae yang menambah nuansa tropis pada musik Neon Indian. Dengan dirilisnya album VEGA INL ini, Neon Indian kini tak lagi menjadi perwakilan bagi scene chillwave, namun juga mampu tampil sebagai penghibur dengan kepekaan musik synth-pop, disco, funk, hingga R&B. Pengalaman musik yang demikian akan menjadi suguhan utama pada event Play Loud Session: Neon Indian Live in Jakarta. Digelar pada 24 November 2015, ini adalah kali pertama Alan Palomo bermain di Indonesia. Dibuka oleh Future Collective, acara ini akan bertempat di Rolling Stone Cafe, Ampera Jakarta Selatan. Kunjungi prasvana untuk info lebih lanjut mengenai acara ini.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.