Column
14.04.16

Mencoba Memahami Leicester City

Pada esainya kali ini, Muhammad Hilmi menuliskan tentang Leicester City, sebuah tim kecil yang sekarang sedang diperbincangkan banyak orang karena mampu menduduki peringkat tertinggi di Liga Inggris. Tulisan ini berusaha untuk mencari alasan dibalik bagaimana tim kecil minim dana bisa mengalahkan tim besar yang kaya raya.

Column
18.02.16

Sinar dari Luar Kota Besar

Pada columnnya kali ini, Muhammad Hilmi menuliskan beberapa musik bagus yang lahir dari kota-kota yang sering terlewatkan dari radar. Mulai dari beberapa kota kecil di Pulau Jawa, juga beberapa nama dari Kalimantan dan Sumatra.

15.02.16

From The Night of Stars JKT

teks dan foto oleh Stefan Tirta Hujan dan kemacetan ibukota di hari Jumat, 12 Februari 2016 cukup menguji kesetiaan para fans Stars yang sudah menanti-nanti penampilan grup indie pop asal Canada tersebut. Hanya sedikit yang sudah sigap memasuki Soehana Hall, Energy Building tepat waktu, yang malam itu terasa sangat dingin. Mungkin karena baru 1/4 ruangannya terisi, bahkan setelah gate dibuka cukup lama. Kecanggungan malam itupun berhasil dipecahkan oleh Scaller. Band rock alternatif asal Bandung jebolan DeMajors ini mencuri perhatian penonton yang sedang asik duduk menunggu Stars. Beberapa bahkan mulai berdiri menikmati penampilan Scaller yang powerful, emotif, dan sedikit agresif. Ini mungkin cukup klise, tapi vokal kuat a la Alanis Morisette yang dilantunkan dengan sempurna oleh sang vokalis, Stella Garreth menghipnotis penonton terutama yang berjenis kelamin laki-laki. “Live and Do” dan “The Youth” menjadi highlight dari penampilan Scaller kali ini. Cukup dengan 6 lagu, Scaller mampu menghangatkan suasana malam itu. Stars pun masuk ke area panggung. Tanpa berbasa basi, “Hold On” langsung dimainkan sebagai lagu pembuka. Terdengar teriakan histeris setelah intro, rupanya tertuju kepada Amy Millan yang baru bergabung ke panggung. Sesaat sound vocal yang keluar terasa kurang maksimal. Namun keheranan tersebut langsung dijawab oleh sang Torquil Campbell, “My voice is gone somewhere after 26 hours flight, hopefully it’ll come back at the end of the show,” tuturnya sedih. Meski suaranya hilang, pria paruh baya asal Sheffield ini tetap tampil all-out dan penuh energi positif. Alih-alih tampil mengecewakan, justru crowd penonton yang semakin ramai tidak jarang ikut sing along. Belum lagi aksi panggung Amy Millan yang hangat dan begitu interaktif dengan penonton, semua itu seakan membayar musibah yang menimpa Campbell, yang tak henti-hentinya mengucapkan maaf dan rasa bersalahnya. Determinasinya untuk bisa tampil maksimal sangat terasa saat “Dead Hearts” dimainkan, dimana kekuatan vocal Torquil dan Amy menjadi kunci dari lagu tersebut. Elevator Love Letter, Dead Hearts, From the Night, dan Your Ex-Lover Is Dead adalah highlight dari penampilan Stars yang begitu emosional malam itu. Jarak panggung dengan penonton yang sangat dekat membuat ikatan tersendiri bagi Stars dan para fans. Pidato kecil di akhir acara menyuarakan betapa senangnya mereka diundang tampil di Jakarta. Dan tidak seperti standar kata manis yang diucapkan band-band internasional lainnya, yang ini terasa begitu tulus. Kecuali mungkin Campbell hanya mengeluarkan air mata palsu saat menyanyikan From the Night. “One more fucking song to a fucking inspirational and lovely audience! Next time I come back to Jakarta, I’ll be singing like Justin Bieber. Or even better,” katanya sebelum memulai lagu kedua dan terakhir pada encore.

04.02.16

Tromarama menjadi Tamu Klip Klub Berikutnya!

Tromarama adalah sebuah kolektif animasi dengan karakter yang unik, dibangun dari gabungan gagasan tiga kepala, Bebi, Ebet, Ruddy, unit ini telah menciptakan karya-karya animasi yang tak hanya berkualitas, namun juga memiliki karakter tersendiri dengan pemilihan medium dan pendekatan yang berbeda dengan kebanyakan.Mengawali perjalanan karyanya dengan mengerjakan video musik, belakangan karya Tromarama mulai menjelajahi ranah seni, mengantarkan mereka pada beberapa eksibisi seni lokal dan internasional. Menemani Tromarama, akan dihadirkan pula karya Tandia Permadi, seorang fotografer lulusan ITB yang mengangkat gagasan-gagasan sosial melalui foto dari lensanya. Seusai pemutaran video akan diadakan obrolan bersama Tromarama dan Tandia tentang karya mereka serta proses kreatif mereka. Mengenai Klip Klub Untuk merayakan kembali karya video musik, Kinosaurus, Kolektif, dan Whiteboardjournal.com mempersembahkan, “Klip Klub” acara pemutaran video klip sekaligus diskusi bersama sutradara video klip musik pilihan. Dalam acara yang akan digelar setiap hari Rabu pukul 19:30 dari tanggal 20 Januari sampai 24 Februari 2015 yang bertempat di Kinosaurus ini, secara berkala akan mengajak sutradara videoklip pilihan untuk memutar karya-karyanya untuk kemudian didiskusikan bersama. Tak hanya itu kepada sutaradara yang telah dikenal, acara ini juga memberikan kesempatan bagi sutradara muda untuk berdiskusi sekaligus belajar secara langsung dengan sutradara senior. Setiap sutradara pilihan akan memilih sutradara lain untuk ikut menayangkan karyanya di acara ini sebagai perkenalan sekaligus pemicu jalannya regenerasi dalam budaya video klip musik lokal. -- Jadwal Pemutaran Klip Klub Sim F 20 Jan, 2016 19:30 WIB The Jadugar 27 Jan, 2016 19:30 WIB Cerahati 03 Feb, 2016 19:30 WIB Tromarama 10 Feb, 2016 19:30 WIB Gundala Pictures 17 Feb, 2016 19:30 WIB Sinema Pinggiran 24 Feb, 2016 19:30 WIB Alamat: Kinosaurus (Dalam Aksara Kemang) Jl. Kemang Raya No. 8 Jakarta 12730

Column
21.01.16

Yang Layak Tunggu di 2016

Di artikel Column pertamanya di tahun 2016 Muhammad Hilmi menulis mengenai musisi-musisi Indonesia yang karyanya dia tunggu. Dari permainan Bing yang playful sampai suara hangat dari Hara, baca mengenai 6 musisi/band yang karyanya patut ditunggu tahun ini.

14.01.16

Pukau Efek Rumah Kaca melalui Konser Sinestesia

Irockumentary Entah berapa puji tersampaikan pada Efek Rumah Kaca, Irwan Ahmett dan tim produksi Konser Sinestesia, Rabu malam 13 Januari 2016. Hampir semua unggahan sosial media dari tempat duduk di Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki menjadi bukti, sanjung dan pukau mendominasi timeline sosial media. Meski sebenarnya, 1.500 tiket yang terjual dalam masa satu minggu merupakan penanda bahwa konser Efek Rumah Kaca kali ini akan menjadi sebuah gelaran yang besar secara skala. Kabarnya pula, dari sekian pemegang tiket, masih ada sekitar 1000 nama di daftar tunggu yang bersiap untuk berburu kalau-kalau ada pembeli yang mendadak membatalkan pembeliannya. Akan tetapi ternyata masih ada kejut dari apa yang Efek Rumah Kaca bersama tim sajikan malam itu. Sejak di muka saja, tampilan Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki telah dengan gagah menyambut penonton. Dari segi pelaksanaan, tampaknya penyelenggara banyak belajar dari Konser Efek Rumah Kaca Bandung yang berlangsung beberapa bulan lalu. Dari segi teknis, mulai dari penukaran tiket, berjalan dengan cukup aman, meski ada satu dua double seating yang masih menyelip diantaranya, sebuah perbaikan dibanding konser Bandung yang menuai kritik karena kekacauan di antrian pintu panggung. Tata panggung dan tata artistik Konser Bandung yang agak terlalu berlebihan dan gimmicky, digantikan dengan tampilan yang lebih sederhana, namun berlipat daya magisnya. Irwan Ahmett yang ditunjuk menjadi kolaborator artistik menjadi salah satu penentu kesuksesan Konser Sinestesia. Sejak tirai panggung dibuka, penonton konser disambut dengan sebuah instalasi di panggung, ruangan kosong berwarna putih geometris minimalis dengan personil yang berjajar rapi di depan barisan orkestra pimpinan Alvin Witarsa. Mengambil inspirasi dari karya James Turrel, Irwan Ahmett lalu memproyeksikan warna-warni cahaya seiring musik yang dimainkan oleh Efek Rumah Kaca. Memang, ini bukan konsep yang sepenuhnya baru, bahkan videoklip seorang musisi internasional juga menggunakan pendekatan yang sama, namun Irwan Ahmett mampu mengolahnya sedemikian rupa sehingga karya tersebut melekat dengan musik Efek Rumah Kaca. Lebih dari itu, rona warna dan rupa yang terpancar di panggung tersebut mampu memberi kedalaman suasana pada setiap lagu yang dimainkan. Ada cemas yang lebih mencekat di lagu “Di Udara”, sepi terasa semakin perih pada “Melankolia”, juga hangat yang mendekat diantara waltz sendu “Laki-Laki Pemalu”. Efek Rumah Kaca sendiri tampil nyaris sempurna. Memainkan lagu-lagu dari album satu dan dua di paruh pertama Konser, Cholil, Akbar, Poppie, Ditto memainkan bagian masing-masing tanpa cela dan bersinergi dengan orkestra mini Alvin Witarsa yang tampak sangat menghayati setiap lagu di repertoarnya. Sesekali terdengar suara string section yang terlalu ke depan, menenggelamkan suara gitar Cholil dan Ditto, namun secara umum, konser paruh pertama tampil dengan apik. Improvisasi isian drum Akbar yang dilakukan pada beberapa part lagu juga memberi sensasi tersendiri. Pada bagian ini, terbukti posisi Efek Rumah Kaca sebagai salah satu band terbesar di Indonesia. Deras nyanyi penonton yang ikut melafalkan hampir setiap kata pada lirik lagu menjadi bukti bahwa lagu mereka telah menjadi milik publik, Cholil bahkan bisa beristirahat total dari tugasnya di depan microphone di lagu “Cinta Melulu”. Adrian yang bergabung di akhir sesi juga menambah nilai sekaligus kelengkapan pada setiap lagu. Adrian membuat unit Efek Rumah Kaca kembali utuh melalui nyanyinya yang selalu sepenuh hati. Pada paruh kedua, Efek Rumah Kaca langsung menggelegar dengan satir di lagu “Merah”. Permainan cahaya di panggung semakin meriah, Efek Rumah Kaca kali ini ditemani dengan Ricky Surya Virgana yang mengisi cello. Berseragam hitam-hitam, set kali ini sedikit mengingatkan pada visual Arcade Fire di album Neon Bible. Berturutan kemudian, dimainkan lagu-lagu dari album Sinestesia sesuai tracklist. Berjarak hanya sekian minggu dari rilis album, konser ini adalah upaya yang sempurna dalam menghidupkan dimensi-dimensi dari album tiga. Penonton seperti diajak untuk mengalami setiap cerita pada enam lagunya, tak hanya melalui telinga, juga mata dan seluruh sensori tubuh. Dua lagu terakhir menjadi puncak haru biru. Visual awan di bagian atas instalasi panggung pada lagu “Putih” memicu nyeri ketika memasuki bagian lirik tentang suasana hidup-mati. Juga bait terakhir lagu “Kuning”, yang menggambarkan suasana padang Mahsyar dengan begitu indahnya, menyentuh penonton pada titik terendahnya. Seolah memimpin koor manusia di akhir zaman untuk berbaris bernyanyi beriringan di hadapan Yang Esa. Agak sempit untuk menyimpulkan Konser Sinestesia sebagai sebuah hiburan yang berhasil. Karena nyatanya, acara ini berfungsi dan bakal melekat lebih dari itu. Kredit lebih tertuju pada penyelenggara dan tim produksi yang mampu menyajikan sebuah karya dengan level ini tanpa eksistensi sponsor. Dengan ini, Efek Rumah Kaca sekali lagi menghidupi dan memberi bukti bahwa pasar bisa diciptakan, dan cipta bisa dipasarkan dengan penuh kualitas. Konser Sinestesia menetapkan sebuah standar yang cukup tinggi di sejarah musik lokal, semoga ini menjadi penanda bagi tahun yang lebih baik lagi untuk dunia kreatif Indonesia.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.