Portofolio adalah salah satu fitur pada section focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali studio desain yang menjadi bahasan adalah Liberated Studio dari Yogyakarta yang menonjolkan attitude serta prinsip kekeluargaan dalam mengerjakan setiap karya dan project mereka.
Dipertemukan di sebuah proyek residensi seni, hubungan antara seniman Natasha Gabriella Tontey dan Sonotanotanpenz berlanjut pada proyek videokilp lagu “Conga”. Dalam kunjungannya ke Jakarta seusai tampil di salah satu episode Superbad, Sonotanotanpenz bekerja sama dengan Tontey untuk membuat visual dari lagu dari mini album yang juga berjudul Conga ini.
Berperan sebagai sutradara, Tontey menggabungkan nuansa lagu Conga yang playful dengan gaya khasnya yang selalu bermain-main dengan nuansa kekanakan dan surealisme diantaranya. Hitomi Itamura dan Hitomi Moriwaki, dua personil Sonotano diajak berkeliling pada beberapa tempat di Jakarta dengan iringan dua boneka kuda putih.
Dalam mayoritas scene yang bertempat di taman hiburan, kita diajak untuk melihat sisi lain dari landscape yang biasanya cenderung identik dengan tawa. Sebuah visualisasi yang cukup akurat untuk menggambarkan musik Sonotano yang ceria namun quirky.
Faisal Habibi adalah seorang seniman yang dikenal melalui karya-karyanya yang selalu menarik sudut pandang baru dari berbagai produk keseharian. Whiteboard Journal berbincang dengan Faisal mengenai esensi seni, karya tiga dimensi dan pengalamannya sebagai pemenang utama Kompetisi Trimatra 2013 yang digelar oleh Komunitas Salihara.
Merantau tak selalu terjadi atas kemauan sendiri, kadang aksi itu terjadi karena keadaan yang menggiring posisi seseorang untuk berpindah ke tempat yang dipercaya lebih menguntungkan. Berawal dari dorongan untuk berpindah tersebut, tentunya menggasak rasa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan meninggalkan kampung halaman akan memberikan fase haru biru bahkan krisis.
Cerita akan hal seperti itu tidaklah langka jika kita bayangkan keadaan yang dulu terjadi di Indonesia. Sebagai salah satu negara di dunia yang mengalami penjajahan tentu ada represi yang membuat orang-orang di zaman terjadinya okupasi harus mengambil sikap untuk bertahan hidup, tak hanya dari kondisi yang tak menguntungkan, tapi juga untuk mencari kedamaian. Belanda adalah Negara yang menjadi highlight dalam sejarah Indonesia hingga saat ini, bahasa maupun budaya keseharian cenderung terserap begitu dalam sampai batas yang dulu diciptakan sekian keras melebur sudah menjadi sekadar sejarah.
Fenomena bisa disematkan dalam hubungan antara Indonesia dan Belanda yang terjalin sekian lama dalam bisnis, budaya dan lain lain. Melihat warga Negara Indonesia yang tak terhitung jumlahnya di Belanda setelah meraih kemerdekaan di tahun 1945 telah menciptakan macam ‘kewarganegaraan’ baru. Hal itu telah didokumentasikan dalam sebuah film pendek berjudul “Untuk Selalu” oleh Andrea van den Bos, Ambar Surastri dan Robbert Maruanaija.
Mengangkat memori sebagai dasar cerita, film ini menyentuh kita sebagai warga negara Indonesia yang seringkali menyepelekan budaya nenek moyang dari orang tua. Terkesan klise memang, tapi melalui film ini terdapat empat orang berdarah Indonesia yang tinggal di Belanda merasakan kebanggaan tersendiri ketika memposisikan diri mereka di antara budaya Belanda. Adat, kebiasaan, kuliner, ritual hingga kepercayaan turunan menjadi celah dan warna dalam diri keempat orang yang mewakili para ‘indo’ (orang berdarah campuran – dalam hal ini adalah Belanda) dalam film yang dinominasikan sebagai Dokumenter Terbaik di Shortcutz Amsterdam tahun ini.
Negara memang mencatat diri seseorang ke dalam sistem untuk terus bergerak dan berkembang, tapi tradisi keluarga dan kepercayaan nenek moyang lah yang selalu menentukan sikap seseorang dalam mengatasi situasi yang menimpanya.
Teks: Febrina Anindita
Eksibisi seni sekaligus pencarian talenta baru dari Dia.Lo.Gue artspace kembali lagi dengan episode kelimanya. EXI(S)T kembali menggali potensi seni anak bangsa pada sebuah program dimana bakat-bakat yang ada akan diajak untuk berpartisipasi dalam project kreatif dan diskusi kritis untuk melahirkan karya dan gagasan baru. Simak detail submisinya berikut:
Dia.Lo.Gue Artspace kembali mengajak para perupa muda berbasis Jakarta untuk ikut dalam program tahunan EXI(S)T yang pertama kalinya diadakan di tahun 2012. Disini kami tertarik untuk menjadi semacam inkubator untuk berbagai potensi artistik, dimana dialog kritis antara partisipan dan mentor serta kurator menjadi proses utama.
Exi(s)t #5 mendatang akan diselenggarakan di bulan November 2016.
Kriteria calon peserta adalah :
Bagi yang tertarik, kami mengundang anda untuk mengantar / mengirim portfolio anda ke Dia.lo.gue artspace, Jl. Kemang Selatan 99a, Jakarta 12730 (dengan mencantumkan EXI(S)T #5 atau melalui e-mail ke exist@dialogue-artspace.com
Setelah melalui tahap seleksi oleh kurator, Dia.Lo.Gue akan mengundang peserta untuk mengikuti rangkaian program lokakarya yang akan berlangsung selama proses kuratorial.