19.07.16

Sugar, We’re Going Down Singing!

Tahun 2000an adalah tahun yang unik. Jika di Indonesia terjadi dinamika pasca reformasi, di luar sana juga terjadi berbagai hal menarik. Mulai dari perayaan milenium baru, pengangkatan George W. Bush sebagai presiden Amerika, pengeboman gedung WTC, terpilih kembalinya George W. Bush sebagai presiden, juga meledaknya sosial media myspace, beserta band-band emo/pop punk yang menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Melalui acara Sugar, We're Going Down Singing!, kolektif zine Sobat Indie bersama We Hum Collective mengajak kita mengunjungi kembali masa-masa itu dalam suasana karaoke bersama yang seru. Bertempat di Mondo by The Rooftop, di hari Sabtu, 23 Juli 2016 ini, mari bernyanyi bersama. -- “Being grown up isn’t half as fun as growing up. These are the best days of our lives.” (“In This Diary”, The Ataris, 2003) Untuk generasi kelahiran akhir 1980-an hingga awal 1990-an, emo adalah sebuah term yang sangat familiar di telinga kita. Emo bahkan adalah sebuah fase yang pernah dilewati oleh hampir seluruh remaja di generasi tersebut. Third wave emo muncul pada kami di momen yang tepat, momen di mana kami, para remaja yang belum dewasa, mencoba untuk dewasa dengan memahami dan mempertanyakan ketidak-dewasaan kami. Emo was our grunge, sadness was our manifesto and Carabba was our Cobain. Tidak bisa dipungkiri, Emo was a memorable phase, sebuah fase Myspace yang memalukan secara visual, menyedihkan, namun juga sebuah fase di mana kita pernah begitu memuja lirik yang cheesy, merasa cuma musik yang bisa mengerti apa yang kita rasakan, fase di mana kita menyanyi tulus dari hati karena simply “Lagu ini gue banget!” Lewat Sugar We’re Going Down Singing! kami hendak membawa sebuah generasi yang pernah merasakan fase yang sama untuk reminiscence back to the sad yet good old days. Melalui karaoke, sebuah aktivitas yang kami percaya begitu sederhana namun komunal, ijinkan kami membawa kalian kembali ke momen di mana kalian pertama kali merasakan sakit hati, jatuh cinta dan kehilangan. #SOBATHUMMING present SUGAR WE’RE GOING DOWN! An open mic karaoke night for early 2000’s emo and poppunk bands. with Yudhis Tira [Vague] and Ditto Pradwito [Barefood] as DJs Saturday, 23 July 2016, from 6 PM. At Mondo by the Rooftop, Rossi Musik, Jln. Fatmawati Raya no. 30, Jakarta Free entry for all! FB page: http://bit.ly/SobatHumming Twitter: @sobatindi3 @wehumcollective #SobatHumming #EmoNightJKT

Column
14.07.16

Hujan Kelas Tengah Jalan

Pada tulisannya kali ini, Muhammad Hilmi menjelajahi area baru yang belum pernah ia jelajahi, tulisan fiksi. Menceritakan fenomena kelas menengah, dilema personal keseharian, serta permasalahan dalam mewujudkan impian, cerita ini merupakan seri pertama dari seri tiga tulisan fiksi yang berjudul "What If There's No What If".

15.06.16

Dialektika Kesenian Bersama Farid Stevy

Sebagian mengenalnya sebagai frontman penuh kharisma dari FSTVLST, publik luas mungkin tak sengaja juga mengenalinya melalui desain logo Kereta Api Indonesia, snack Maicih, hingga sederet kover album band lokal. Sebagian lainnya mengenalinya di ranah seni rupa kontemporer, termasuk pameran tunggal kelimanya yang bertajuk Too Poor For Pop Culture, Too Hungry For Contemporary. Whiteboard Journal menemui Farid Stevy Asta guna mengulas ketiga wilayah berkarya dan persinggahannya tersebut.

08.06.16

Agama dan Kritik bersama Arman Dhani

Dikenal melalui tulisan satirnya yang mengulas berbagai topik dengan gaya bahasa yang menggelitik, pedas, namun selalu mengangkat topik penting yang kadang luput dari pengamatan publik, Arman Dhani adalah salah satu penulis kritik yang selalu menarik untuk diikuti. Whiteboard Journal berbincang dengannya mengenai matinya fungsi tulisan baginya, kelas menengah dan pentingnya nalar dalam beragama.

30.05.16

Gordon Blue, Koleksi Tematik dari Phantasma Studio

Datang dari Phantasma Studio, sebuah brand yang dikenal dengan koleksi spesialnya meluncurkan "Gordon Blue" sebuah seri tematik dengan konsep abstrak yang mengeksplorasi kemungkinan di bidang menswear. Warna biru sebagai tema utama, seri ini memanfaatkan sifat biru yang universal sebagai medium ekspresi yang personal dari Eric Liem, otak dibalik brand ini. Diharapkan dengan kemunculan seri ini, akan ada persepsi baru mengenai brand Phantasma Studio yang tak hanya bermain sebagai fashion line, namun juga simbol dari berbagai subkultur lainnya.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.