04.10.16

Setjangkir Kopi Dari Playa: Fundraising Pesta Boneka #5

Tahun ini, acara biennale boneka sampai pada gelaran ke lima. Sebagai penggagas sekaligus penggerak acara, Papermoon Puppet Theater terus konsisten dalam misi menumbuhkan budaya tutur dan cerita melalui medium boneka. Masih dengan semangat swadaya, rencananya tahun ini Pesta Boneka akan dilangsungkan akhir tahun dengan konsep acara yang semakin mendekatkan diri pada publik umum. Dan, untuk mendukung berjalannya misi mulia ini, Papermoon Puppet Theater bekerja sama dengan Edwin's Gallery menggelar "The New Version : Secangkir Kopi dari Playa", penggalangan dana sekaligus pameran karya. Bertempat di Edwin's Gallery, Kemang Raya No.21, dimainkan kembali lakon Setjangkir Kopi Dari Plaja. Memang, bukan cerita baru yang dimainkan disini - Setjangkir Kopi Dari Plaja telah dimainkan lima kali pada berbagai tempat berbeda, namun layaknya hikayat abadi lainnya, kisah ini terus hidup dan selalu mampu menemukan tempatnya di relung hati penontonnya. Dan ini bukan tanpa alasan, beberapa detil ditambahkan, sesuai cerita baru yang didapatkan Ria dan Iwan dari tokoh yang menjadi inspirasi kisah ini. Dengan bekal itu, ruangan Edwin's Gallery dibuat hangat, sebelum berubah temaram dan diakhiri oleh sendu pada gerak-gerik Pak Wi - sapaan akrab dari Widodo Suwardjo beserta sang kekasih, tokoh utama kisah ini. Dan, tepat ketika sang kekasih menundukkan muka pada akhir cerita, Papermoon Puppet selalu berhasil menemukan celah untuk menyentuh benak pemirsanya, tak peduli apakah mereka awam atau kawakan dengan cerita ini. Penghargaan tinggi juga tercurahkan pada Ria beserta tim puppeteer yang selalu mampu menempatkan jiwa pada setiap gestur tokoh yang mereka mainkan. Pentas Setjangkir Kopi dari Plaja dimainkan 5-7 Oktober 2016 pada jam 6 dan 8 malam, serta 8-9 october 2016 pada pukul 3 sore dan 7 malam dengan tiket seharga Rp. 300.000, dikabarkan tiket telah terjual habis hingga show tambahannya. Namun, kesempatan terbuka untuk mengunjungi pameran set dan pameran karya Iwan Effendi yang bisa dikunjungi kapanpun. Tersedia pula merchandise booth Papermoon Puppet serta beberapa pilihan donasi untuk ikut merayakan Pesta Boneka #5. Long live Pak Wi, long live Papermoon Puppet Theater!

Loka Suara
29.09.16

Era

Semua musik ada eranya.

28.09.16

Menyapa Teman Lama dan Harapan Baru di “For The Love of Aca”

Tak banyak yang tersisa dari Parc - kelab malam yang melegenda di awal 2000an berkat gig musik yang diadakan disana - gedungnya di Kebayoran Baru pun telah berganti fungsi, meninggalkan reruntuhan kebisingan serta keceriaan yang pernah terjadi disana. Tapi satu hal terus hidup hingga nyaris dua dekade kemudian, bahkan tanpa eksistensi bangunannya, adalah tawa dan cerita yang membekas dalam di setiap kepala yang pernah ada di dalamnya. Fadhila Jayamahendra alias Aca, vokalis band hardcore veteran Straight Answer adalah salah satu sosok yang pernah menjadi bagian dari sejarah yang tercipta di Parc. Disebutkan bahwa Thusrday Riot berhutang banyak pada Aca yang selalu aktif dalam membantu berjalannya acara hingga kompilasi musik yang terjadi disana. Tak lama setelah mendengar berita mengenai Aca yang jatuh sakit, teman-teman lamanya di Parc berkumpul kembali untuk mengumpulkan donasi bagi biaya pengobatan Aca yang terakhir dikabarkan siuman dan telah mampu berkomunikasi kembali ini. Bersama Rururadio, Thusrday Riot Family menggalang dana untuk Aca lewat penampilan musik, yardsale, dan lelang pada Kamis (29/9) mulai pukul 17.00 WIB di Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta. Berjudul “For the Love of Aca Straight Answer”, akan tampil Superglad, The Adams, Harlan, Bequiet, Indische Party dan Loco9trio yang terdiri dari Aat, David Tarigan, dan Alvin Yunata. Akan ada pula penampilan pertama teman lama Thusrday Riot Family, Sir Dandy sekembalinya dari Eropa. Harga tiket donasi Thusrday Riot Family and Rururadio, for the Love of Aca ditetapkan Rp 25 ribu dan dapat dibeli langsung pada hari H di lokasi acara. Selain donasi pintu masuk, metode sumbangan lainnya juga dilakukan lewat lelang, belanja di yardsale, serta pembelian kaus Riot dan Seringai.

16.09.16

Donasi Untuk Aca Straight Answer

Fadhila Jayamahendra alias Aca, vokalis dari band hardcore veteran Jakarta, Straight Answer mendapat musibah pecah pembuluh darah di kepala dan harus menjalani serangkaian operasi di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan. Diberitakan bahwa operasi pertama telah dijalani dengan lancar, namun Aca masih harus menjalani operasi lanjutan untuk membantunya menjalani recovery, dan untuk itu Aca bersama keluarga membutuhkan dana yang cukup besar. Inisiatif penggalangan danna kemudian bermunculan, mulai dari Jakarta, Malaysia, Thailand hingga Jepang. Untuk Indonesia sendiri, sumbangan bisa dikirimkan melalui nomor rekening BCA 0060451010 atas nama Tino Hunaedi. Donasi juga bisa dikirimkan melalui Paypal (gagapundik@gmail.com) dengan mengonfirmasi kepada Widi dengan nomor +62 896 522 770 52 atau ke alamat surat elektronik setthefirerec@yahoo.com. Untuk menggalang dana tambahan, teman dan sahabat Aca menggelar acara donasi yang bertajuk 'Charity Sale - Donasi Untuk Aca' yang akan dilakukan pada Sabtu (17/9) di Rossi Fatmawati, Jakarta Selatan. Acara yang dikemas dalam bentuk garage sale ini diselenggarakan atas inisiatif teman, sahabat dan kerabat Aca. Nantinya akan ada sekitar 50 lapak yang akan menjual CD, vinyl, merchandise musik dan berbagai barang lainnya. Selain itu akan ada acara pelelangan. Semua keuntungan dalam acara ini akan didonasikan untuk dana penyembuhan Aca. Untuk info yang berkaitan dengan acara donasi ini, dapat menghubungi Bgenk - +6281286760453. Teriring doa kesembuhan untuk Aca, dan kesabaran serta kekuatan untuk keluarga.

07.09.16

Collapse – Grief EP

Sejak awal muncul di sekitaran akhir tahun 2015, Collapse langsung mencuri perhatian kami. Digawangi oleh Andika yang dikenal melalui permainan gitarnya di unit chaotic hardcore, ALICE, Collapse mengingatkan kami pada fenomena metalheads-turns-indie yang juga sedang populer di luar sana. Inilah salah satu alasan Collapse menjadi salah satu nama yang terselip di artikel 6 Musisi yang Layak Tunggu di 2016 yang kami tulis pada awal tahun ini. Akhirnya, di bulan September ini, Collapse dijadwalkan akan merilis 5 lagu dengan nuansa indie-rock/alternative yang akan dikumpulkan dalam EP yang berjudul “Grief”. Di salah satu lagunya, diundang Alyuadi dari Heals untuk mengisi gitar. Dari preview videonya, terasa bahwa Collapse mengambil referensi dari rilisan Run for Cover Records. Jumat, 9 September 2016, akan dirilis single melalui youtube, dan pada 8 Oktober 2016, EP ini akan dirilis oleh Royal Yawns Records.

02.09.16

Utopia di Partisipasi Indonesia pada London Design Biennale 2016

Dalam press conference yang diadakan di Dia.Lo.Gue Artspace, pada Kamis, 1 September 2016, Hafiz Rancajale, salah satu kurator di project ini berkata, “Banyak hal bagus berawal dari utopia, termasuk juga berbagai aspek pada kemajuan zaman. Termasuk satunya adalah perdamaian. Jadi harusnya kita percaya dengan utopia kita.” Pemikiran inilah yang kemudian mendasari konsep karya Indonesia di London Design Biennale yang akan berlangsung di ibukota Inggris pada tanggal 7-27 September 2016. Merespon tema “Utopia by Design” yang diangkat oleh tim London Design Biennale, kurator Danny Wicaksono, Diana Nazir, Hafiz Rancajale, dan Hermawan Tanzil mengangkat peristiwa Konferensi Asia Afrika yang terjadi pada 1955 di Kota Bandung sebagai titik mula pendedahan framework karya. Konferensi ini dianggap sebuah pencapaian tersendiri, dimana Indonesia, sepuluh tahun sejak kemerdekaannya, mampu menjadi inisiator sebuah konferensi internasional yang mengemukakan konsep perdamaian ketika dua kubu besar dunia sedang bergerak menuju perang dunia. Konsep ini lantas di terjemahkan melalui tangan dan pikiran Adi Purnomo, Bagus Pandega dan Irwan Ahmett yang berperan sebagai seniman untuk mewujudkan karya di paviliun yang lahir dari inisiatif Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) ini. Dilibatkan pula seniman serta desainer, Agra Satria, Fandy Susanto, Max Suriaganda, Savina Lavinia, Suyenni dan Yola Yulifianti untuk mewujudkan kerja kolektif. Dimana sosok-sosok terpilih ini bekerja dalam sistem yang terintegrasi untuk menghasilkan output yang optimal. Lantas, lahirlah “Freedome”, sebuah utopia yang berdasar pada poin-poin dasasila Bandung mengenai perdamaian yang lahir setelah Konferensi Asia Afrika. Dimana, salah satu poinnya adalah diluncurkannya satelit informasi bernama “Berdikari” yang memiliki hanya satu misi mulia yang hadir tanpa pretensi: perdamaian dan kesejahteraan bagi semua. “Konferensi Asia-Afrika adalah sebuah kejadian besar. Dasasila Bandung yang lahir di konferensi tersebut bahkan menjadi pemicu kemerdekaan beberapa negara, jadi cukup jelas seberapa besar kapasitas dari konferensi tersebut. Freedome adalah utopia yang kami ciptakan untuk mengkhayalkan bagaimana jadinya kalau konsep tersebut terus hidup dan ada.” jelas Irwan Ahmett. Wujudnya adalah instalasi satelit yang terlevitasi dengan susunan sabut kelapa dan kuningan di bawahnya, didatangkan juga penari yang mensimulasikan kemeriahan Konferensi Asia Afrika. Ditampilkan pula berbagai informasi fiktif yang menguatkan kesan utopia di karya ini. Mengambil sebuah ruang di Sommerset House yang bernuansa kolonial, nuansa era 50an di Paviliun Indonesia akan semakin hidup. Ikuti jalannya London Design Biennale di situs http://www.londondesignbiennale.com/ dan buka http://freedome.id/ untuk tahu bagaimana utopia Indonesia dinikmati oleh dunia.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.