02.01.17

Portofolio: The 1984

Portofolio adalah salah satu fitur pada section focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali ini kami mengangkat studio desain The 1984 dari Jakarta yang hadir dengan spirit eksperimen dan menikmati proses.

23.12.16

Senyawa Tanah Air Konser Review

Sesaat sebelum Senyawa tampil di Konser Tanah Air, Rully Shabara dan Wukir Suryadi tampak sedikit tegang. Meski masih ada senyum saat bertukar sapa dengan teman dan tim produksi di belakang panggung, kecemasan itu sulit disembunyikan dari raut muka mereka. Ini sebuah reaksi yang cukup menarik, band sebesar Senyawa yang telah menjelajahi berbagai panggung besar di Jepang, Amerika hingga Eropa, dan telah tampil bersama musisi terbaik dunia tampak saat akan tampil di kampung halamannya. Di sisi lain, ini juga merupakan reaksi yang sangat bisa dimaklumi. Adalah wajar untuk merasakan tekanan lebih saat tampil di depan sosok-sosok terdekat. Layaknya seorang anak yang tiba-tiba kesulitan beraksi di panggung saat melihat orang tuanya di barisan penonton. Mungkin karena hawa dingin Gedung Kesenian Jakarta, mungkin akibat hangat sorot cahaya, cemas yang tadi menghiasi roman Rully dan Wukir lenyap tak berbekas saat keduanya menjadi dua raja di pertunjukan malam itu. Tegang yang tadi menghiasi muka, digantikan dengan tajam sorot mata dan permainan tanpa cela yang memukau semua pengunjungnya. Memainkan set yang cukup panjang, sekitar dua jam dengan satu kali jeda, Senyawa seakan datang layaknya jejaka terbaik desa yang pulang dari perantauan dengan cerita dan pengalaman yang membanggakan bagi semua. Tampil terakhir di Jakarta sekitar setahun yang lalu, malam itu mereka seolah mengingatkan kembali mengenai kualitas yang mereka miliki, serta kemungkinan-kemungkinan baru yang telah mereka jelajahi. Merinding datang sejak Wukir memainkan nada pertama dari bambunya. Set dimulai dengan Wukir dan Rully yang tampil dari belakang sebentang layar putih dengan sorotan lampu dari sisi belakang. Gerak-gerik mereka kemudian tampil dalam bayangan serupa wayang yang hidup melalui deru dan denting instrumen utama Senyawa: bambu wukir. Disini pengunjung diajak untuk tenggelam dalam suara dan tarian bayangan penuh disonan. Dan, melalui bayangan yang saling tumpang tindih itu, sosok Wukir dan Rully menyatu dalam satu imaji entitas yang tak bisa lebih akurat lagi daripada kata ini: “Senyawa”. John Doran dari The Quietus menyebut Senyawa sebagai dan melihat penampilan keduanya malam tadi, pernyataan John Doran tadi nyaris terasa sebagai Karena nyatanya Senyawa tak hanya bisa tampil gigantik dan meledak-ledak, kadang mereka bisa menjelma menjadi entitas yang liat dan menelusup relung dengan desir suara dari instrumen Wukir dan merdu suara Rully. Sebelum kemudian mereka merobohkannya dalam sekejap melalui suara perkusif dan racauan bernada rendah - juga teriakan - dari kerongkongan Rully. Secara teknis, kefasihan Rully untuk menyanyi dalam berbagai tangga nada dan gaya, serta kemampuan Wukir dalam memainkan pelbagai instrumen malam kemarin menjadi kejutan yang menyenangkan. Jika biasanya musisi eksperimental cenderung identik dengan bising melulu dan disonan yang tak jarang mengganggu (dan dengan begitu beberapa akan menganggapnya hanya asal berisik dan lantang), “Konser Tanah Air” adalah sebuah wacana yang bagus mengenai bagaimana musik eksperimental akan menemukan bentuk terbaiknya jika dimainkan oleh mereka yang paham betul dan menguasai instrumennya. Rully yang dulu dikenal merupakan sosok terdepan dalam eksplorasi vokal menunjukkan bagaimana ia tak henti berkembang. Saat berteriak, ia mampu menahan nada dan nafas panjang seolah ia merupakan vokalis band metal kawakan. Saat bernyanyi, ia bisa menembus nada rendah dan tinggi dengan mudahnya, seolah ia merupakan titisan diva pop kenamaan. Wukir pun setali tiga uang, selain takjub yang selalu muncul setiap kali ia menelurkan nada dari instrumen buatannya, ia juga menunjukkan bahwa merdu juga bisa muncul dari permainannya. Salah satu contoh sempurna dari kepiawaian keduanya muncul pada lagu dari Semenanjung Balkan yang mereka nyanyikan. Ada tiga instrumen yang dimainkan oleh Wukir malam itu. Ketiganya menjadi penanda tiga sesi yang Senyawa mainkan. Yang pertama adalah instrumen utama Senyawa, bambuwukir. Yang kedua adalah instrumen baru yang merupakan hasil modifikasi dari “Garu”, alat pembajak sawah yang biasa digunakan di pedesaan. Yang ketiga adalah “Suthil”, spatula dengan tambahan senar. Pada dasarnya prinsip kerja ketiga instrumen ini tak jauh berbeda, tapi suara yang dihasilkan sangat berwarna. Meski kalau disuruh memilih, Senyawa tetap tampil paling paripurna dengan instrumen aslinya, bambu wukir. Beberapa akan menyandingkan Senyawa dengan band eksperimental asal Jepang, beberapa akan teringat dengan musik raksasa post-rock Godspeed You! Black Emperor, ada pula yang akan membandingkan mereka dengan Swans, tapi yang jelas, Senyawa hari itu menjadi diri mereka sendiri, dan itu sangat-sangat cukup. -- Konser Tanah Air berlangsung tepat pada hari yang sama dimana hari ibu dirayakan, dan tiga jam menuju acara, diantara ketegangan di belakang panggung, Rully mengunggah sebuah doa yang mengharukan pada ibunya, “Ibu, malam ini anakmu akan konser tunggal di Ibukota Tanah Air, di yang membanggakan. Semoga Engkau merestui. Selamat Hari Ibu, ini kadoku untukmu!”. Dan, melalui dari seluruh pengunjung yang datang dari seluruh pengunjung, tegang dan doa Rully terbayarkan, jika bukan terlampaui berkali lipat. Karena dari muka puas semua pihak yang menjadi saksi, bangga jelas tak hanya akan datang di hati Ibu Rully Shabara, karena malam itu, Senyawa jelas merupakan salah satu hal terbaik yang pernah lahir dari bumi Indonesia, tanah air Wukir Suryadi dan Rully Shabara. -- Terima kasih kepada G Production beserta seluruh tim Konser Tanah Air yang telah mewujudkan sebuah konser penting dalam sejarah musik lokal. Di luar segala kejadian menyesakkan yang terjadi di tahun 2016, konser Sinestesia dari Efek Rumah Kaca yang membuka tahun, dan konser Tanah Air yang menutup tahun sejatinya merupakan bukti bahwa kita harusnya menyambut 2017 dengan harapan dan suka cita.

Art
21.12.16

Rantai Hidup Kesenian bersama Heri Pemad

Heri Pemad adalah salah satu motor penggerak kancah seni rupa Indonesia yang berkecimpung di bidang art management. Bersama Heri Pemad Art Management, ia secara konsisten menghelat pameran seni rupa kontemporer akbar berskala internasional yang sudah berlangsung selama 9 tahun (sebelumnya bernama Jogja Art Fair). Whiteboard Journal berkesempatan untuk berbincang dengan Heri Pemad perihal kondisi seni rupa dan infrastrukturnya di Indonesia, serta kelangsungan Art Jog mendatang.

Loka Suara
13.12.16

Paripurna

Episode Loka Suara kali ini berisikan lagu-lagu bergenre indie rock, psikedelik hingga hip hop terbaik yang dirilis di seperempat terakhir tahun 2016. Dengarkan episode Loka Suara kali ini di Mixcloud Whiteboard Journal. 01. Ray Magus - Rhymes of Adorer 02. Rusa Militan - Rusa dan Singa 03. Bagas Yudhiswa - Overstate 04. Skandal - Superfine 05. Textpack - Wasted 06. Dopest Dope - Balada Hampa Udara 07. Dizzyhead - You 08. Linger - Nobody's Property 09. Indigo Moire - Constant Soul 10. Gaung - Global Problem Listening Class 11. Matter - 44 Bars Remix (Instrumental by 6ix)

09.12.16

Organize! Benefit for Community Empowerment

Jika dulu Bandung dikenal sebagai kota dimana youth culture tumbuh dan berkembang, belakangan imaji tersebut mulai sirna diantara kemacetan yang semakin sering menghampiri jalanannya, juga banjir yang kini mulai mengakrabi sudut kotanya. Tapi, kreativitas yang dulu seolah menjadi nama tengah kota ini mulai benar-benar tertutupi sejak kota ini lebih akrab dengan pemberangusan, mulai dari penutupan perpustakaan jalanan, hingga yang terjadi belakangan, penggusuran aktivitas ibadah natal di tempat umum oleh ormas yang mengatasnamakan gerakannya atas nama agama, padahal melakukan gerakan kebencian yang sama sekali tak koheren dengan ajaran agama. Dengan suasana kota yang demikian, ada tiga respon yang bisa terbayang. Yang pertama adalah dengan mengabaikannya - atau dalam hal ini, menyepelekannya - seperti yang dilakukan oleh sang gubernur. Yang kedua adalah dengan mengutukinya, adalah wajar untuk marah pada keadaan yang demikian, meski tak jarang kemudian melalui kemarahan yang dituangkan di media sosial, kita lantas jadi menambah tumpukan wacana yang membuat kita lupa dengan masalah yang harusnya dipikirkan jalan keluarnya. Yang ketiga - ini yang paling produktif - adalah untuk menjadikannya sebagai energi dan gairah untuk berkarya dan berbagi. GRIMLOC, sebuah record label yang berbasis di Bandung dalam hal ini memilih untuk menanggapi keadaan kotanya dengan respon yang ketiga. Diinisasi oleh Herry Sutresna, motor sekaligus penjaga garis depan dari grup Hip Hop Homicide, GRIMLOC telah merilis sejumlah rilisan dalam berbagai bentuk, mulai dari CD dari band muda Bandung, hingga reissue album penting yang telah hilang dari pasaran. Yang dirilis pun datang dari berbagai latar belakang, mulai dari punk, hardcore, metal hingga hip-hop. Satu hal yang menggarisbawahi sekian aktivitasnya adalah fokus GRIMLOC pada pergerakan akar rumput. Dan aroma inilah yang menyeruak pekat pada rilisan terakhirnya. Berjudul Organize! Benefit Compilation for Community Empowerment, proyek ini menyatukan 11 nama untuk berkontribusi pada album yang menyuarakan mengenai pemberdayaan masyarakat kota. Disisihkan pula hasil penjualannya untuk upaya-upaya pemberdayaan komunitas di Bandung. Dikutip dari websitenya, berikut adalah salah satu visi yang mendasari rilis kompilasi ini, “Ide dan semangat awalnya lahir dari komunikasi intens dengan beragam komunitas yang konsisten di Bandung membangun inisiatif dan otonomi aktivitas warga kota. Kami merasa pentingnya mewartakan eksistensi dan beragam isu yang melatarbelakangi aktivitas mereka hingga hari ini. Terinspirasi dengan tradisi kompilasi yang lahir di Bandung, yang pula mewakili semangat era-nya, kami berharap format ini dapat pula menyampaikan pesan serupa.” Dalam praktiknya, proyek ini tak hanya berbudi, tapi juga memiliki taji. Dua puluh satu band yang dimampatkan disini mengisi porsi masing-masing dengan kompeten, beberapa bahkan melebihi ekspektasi. Wreck, Sacred Witch, The Cruel, Muck dan ALICE adalah beberapa diantaranya. Jangan lupakan juga amuk sang penggagas kompilasi pada Bars of Death dengan lagu berjudul “Tak Ada Garuda di Dadaku”, sebuah serangan balik pada gema palsu “NKRI Harga Mati” yang makin pekak menghampiri. Album ini bisa didapatkan seharga Rp.50.000,- (belum dengan ongkir) melaui kontak berikut: Line : @grimloc Whatsapp : 082219340101 E-mail : grimloc.order@gmail.com

Column
01.12.16

Surga dan Hipokrisi Kita

Di "Surga dan Hipokrisi Kita," Muhammad Hilmi merenungkan retorika agamis yang sering dipakai kali sebagai alat menggerakan massa. Berlabuh pada pemahamannya mengenai ajaran Islam dan pengalaman pribadi, Hilmi memberi kritik pemakaian agama dalam mengesahkan pesan-pesan dan gerakan intoleran.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.