Art
01.03.17

Seni Kota Kita bersama Angga Cipta

Angga Cipta, akrab disapa dengan panggilan Acip adalah seniman yang banyak becerita mengenai Kota Jakarta melalui karyanya. Whiteboard Journal mengunjungi kediamannya untuk berbincang mengenai peran seni pada perubahan kota, semangat kolektif dan masa depan skena seni Jakarta.

27.02.17

Merayakan Tur Jepang Saturday Night Karaoke

Tren datang dan pergi, yang tinggal adalah dedikasi. Inilah yang menjadikan Saturday Night Karaoke berada pada posisi yang berbeda diantara band sejenis. Ia telah memulai perjalanannya sebelum pop-punk meledak, dan saat perhatian publik mulai teralihkan, ia tak beranjak dan justru semakin memperdalam eksistensinya melalui karya yang secara konsisten terus lahir. Mereka juag tak pernah tergoda untuk memainkan versi populer dari musik yang mereka dalami, dan setia pada varian musik yang dimainkan oleh idola mereka. Sebuah totalitas yang mungkin akan membuat Milo Aukerman dan Mikey Erg bangga. Terakhir, mereka dikabarkan akan mengunjungi negeri yang juga menjadi inspirasi utama para personilnya, Jepang. Trio asal Bandung ini akan mengunjungi area Kanto, Honshu selama sepekan. Ini merupakan sebuah hal yang sepertinya telah lama dipersiapkan, karena dalam single yang dirilis pada pertengahan tahun lalu, Saturday Night Karaoke memasukkan satu lagu berbahasa Jepang. Dan untuk menyambut sekaligus merayakan tur ini, mereka merilis videoklip berjudul, “Bertemu”. Yang menarik di dalam video ini, SNK mengundang seniman visual, Rega Ayunda untuk berperan sebagai vokalis/gitaris yang bernyanyi di beberapa tempat dengan nuansa yang mengingatkan pada suasana kota Tokyo (meski sebenarnya shooting dilakukan di Jakarta-Bandung).

24.02.17

Suarasama Membawakan Materi Baru di Gudang Sarinah

Mungkin cuma ada dua yang benar-benar mendunia melalui karya. Mereka adalah Senyawa dan Suarasama. Tanpa banyak bicara, dan fokus pada kualitas karya, keduanya mengundang perhatian sekaligus apresiasi dari berbagai penjuru dunia. Setelah Senyawa mengunjungi Jakarta pada akhir tahun 2016, kini giliran Suarasama yang membawa musiknya ke ibukota. Dalam acara yang digagas oleh RRREC Fest dan Gudang Sarinah Ekosistem, Irwansyah Harahap, Rithaony Hutajulu beserta kolaboratornya di Suarasama akan berbagi panggung bersama Bin Idris dalam gelaran berjudul RRREC Fest SHOWCASE #2. Digelar di Hall A4, Gudang Sarinah Ekosistem pada Jumat, 24 February 2017 mulai pukul 8 malam, tentunya acara ini akan menampilkan kualitas yang tak biasa. Ditemui beberapa saat sebelum tampil Bang Iwan dan Kak Ritha tampak santai sembari mengobrol bersama Indra Ameng dan beberapa teman lain. Sehari sebelumnya, Suarasama tampil bersama Nasida Ria di Masjid Istiqlal dalam rangka revitalisasi Masjid Istiqlal. Disana mereka tampil di depan Menteri Agama, “Beliau kaget kalau ternyata ada grup musik seperti ini di Indonesia. Dan beliau merencanakan suatu saat akan mengadakan festival musik Islami yang berskala lebih besar” ujar Ritha. “Kita akan membawakan lagu dari album Timeline, Fajar di Atas Awan juga beberapa lagu yang rencananya masuk album baru. Lagu baru akan menyasar gaya musik folk. Di Gudang Sarinah materi-materi tersebut akan dibawakan oleh tiga generasi personil Suarasama. Mulai dari personil awal hingga personil anyar yang baru tiga kali bermain bersama,” cerita Irwansyah. Bagi Suarasama sendiri, penampilan di Gudang Sarinah nanti merupakan pengalaman yang seru, “Selalu asyik bisa memainkan musik di berbagai dimensi. Bisa berkomunikasi dengan berbagai lini publik dengan bahasa musik, ini adalah hal yang menjadi energi bagi saya pribadi,” tambahnya. -- RRREC Fest x Gudang Sarinah Ekosistem Present RRREC Fest SHOWCASE #2 Friday, 24 February 2017 8 – 10.15 PM at Hall A4, Gudang Sarinah Ekosistem Jl. Pancoran Timur 2 No.4, Pancoran Jakarta Selatan Featuring: SUARASAMA and BIN IDRIS Doors Open 7.30 PM Ticket: Pre Sale: IDR 50k at RURU Shop WA: 081290362655, E: Rurushop6@gmail.com At the event: IDR 75k Venue capacity: 350 persons

16.02.17

Film Musik Makan 2017 Akan Segera Datang!

Sejak diinisiasi empat tahun yang lalu, selalu tercipta kenangan tersendiri dari setiap gelaran Film Musik Makan. Selain mempertemukan dua bidang kreatif Film dan Musik yang selama ini terasa seperti berjalan terpisah, Film Musik Makan terutamanya penting karena tradisinya yang menawan. Hampir setiap tahun, film yang diputar di festival ini kemudian meraih pujian di ajang internasional, dari “The Fox Exploits The Tiger Must” yang meraih pujian di Cannes, “Prenjak” yang juga meraih pencapaian di ajang yang sama, hingga “Siti” yang meraih banyak penghargaan di luar dan piala citra untuk film terbaik tahun 2015. Dengan sejarah yang demikian, ada ekspektasi yang cukup tinggi pada gelaran keempat Film, Musik Makan 2017. Diadakan di tempat yang sama Goethe Institut Jakarta, awal Maret mendatang, Film Musik Makan tahun ini memiliki segalanya untuk menjawab tingginya ekspektasi ini. Pada press conference yang diadakan pada hari Kamis, 16 Februari 2017 di Kinosaurus, Kemang, tim penyelenggara memperkenalkan konsep yang mereka angkat tahun ini, sekaligus memberi cuplikan dari salah satu film yang akan ditayangkan perdana di Jakarta saat acara nantinya. Salah satunya yang diputar pagi itu adalah film panjang berjudul “Turah”, karya sutradara Wicaksono Wisnu Legowo. Film ini bercerita mengenai dilema kehidupan sosial sebuah kampung di Tegal, Jawa Tengah. Skrip yang real, dengan akting yang sangat kuat oleh casting yang terdiri dari para pemain teater, “Turah” mengingatkan pada kualitas “Siti” yang monumental itu. Selain “Turah” akan diputar pula dua film panjang, salah satunya “Apprentice” karya sutradara Singapura, Boo Junfeng yang telah meraih “Official Selection Un Certain Regard” dari Cannes Film Festival 2016. Dan juga “Ziarah” karya BW Purbanegara yang telah memenangi Best Asian Feature daru Salamindanaw Asian Film Festival 2016. Jika tahun 2016, Film Musik Makan mengundang White Shoes and The Couples Company, maka tahun ini musisi tamu yang akan bermain adalah Pandai Besi. Yang membuat penampilan Pandai Besi di acara ini semakin spesial adalah bahwa Poppie Airil dan kawan-kawan akan merilis satu single baru yang dibaut dari komposisi original Pandai Besi. Dari sisi makanan, aktor sekaligus sutradara Lola Amaria yang biasa meracik makanan di Nasi Pedes Cipete akan bergabung dengan sinematografer Batara Goempar dan Aline Jusria yang berperan sebagai penyedia pangan di acara ini dengan resep tradisi yang tentunya menjadi salah satu alasan untuk menikmati festival ini. Pada hari Sabtu, 4 Maret 2017 Film Musik Makan akan dimulai dengan screening film jam 12:00 dan diakhiri dengan pentas Pandai Besi. Film Musik Makan bisa dinikmati dengan nilai donasi sebesar 200.000 (tidak termasuk makanan). Info selengkapnya dan reservasi: Email: filmmusikmakan@gmail.com Telepon/Whatsapp: 085693346659

13.02.17

Menyambut Kelahiran Pertama dari Rahim Sisir Tanah

Entah bagaimana, Sisir Tanah menyeruak muncul ke permukaan. Nyaris tanpa promosi - hanya dengan modal post lagu di Soundcloud, ia lalu dikenal dan menjadi bagian dari pergerakan folk generasi baru. Musik bikinannya sederhana, gitar dipetik seperlunya mengiringi vokal yang dibiarkan jujur tanpa olahan, seolah hanya ingin menjadi medium cerita yang dinyanyikan. Tapi justru dengan kejujurannya tersebut ia menyentuh banyak jiwa, membuat nyanyiannya yang menarasikan sarkasme, optimisme, kekecewaan, kemarahan dan jatuh cinta terhadap apapun, termasuk pada berbagai masalah sosial terasa dekat dengan kalbu pendengarnya. Diawali pada 2010, proyek musik solo asal Bantul ini resmi dijalankan dan dinamai dengan salah satu jenis perkakas pertanian yang biasa digunakan untuk mengolah tanah. Tujuh tahun sudah Bagus Dwi Danto menyanyikan lirik-lirik bekas catatan-catatan personalnya, namun belum ada rilisan fisik yang merekam karya-karyanya. Baginya, salah satu cara untuk menyebarluaskan karya-karyanya adalah cukup dengan memperdengarkannya lewat setiap panggung yang dihinggapinya, ketimbang merangkumnya dalam sebuah album. Namun memang ada yang kurang rasanya jika tidak ada rilisan fisik yang bagi sebagian orang adalah sebuah bentuk eksistensi bagi setiap musisi. Akhirnya pada tahun 2016, Sisir Tanah memutuskan untuk membuat sebuah album, walaupun bagi Bagus album bukan sebuah tujuan akhir, melainkan sebuah langkah awal menunjukkan konsistensinya dalam bermusik dan harapannya untuk bisa berkembang menjadi lebih baik lagi. Pada penggarapannya, album perdananya Sisir Tanah akan diproduseri oleh LARAS - Studies of Music in Society. LARAS merupakan lembaga kajian musik asal Yogyakarta, yang berisikan nama-nama seperti Rizky Sasono (Risky Summerbee and the Honeythief), Leilani Hermiasih (Frau), Michael H. B. Raditya, Irfan R. Darajat (Jalan Pulang), serta Heditia S. Damanik. Berawal dari menyelenggarakan diskusi, penelitian dan penerbitan tulisan bertemakan musik dalam masyarakat, selanjutnya pada tahun 2017 LARAS, tertarik memperluas batasan kerjanya dengan memproduksi dan mendistribusikan karya-karya musik yang menyuarakan isu-isu kemasyarakatan. Pada album perdananya ini, Sisir Tanah kerap menggundang sejumlah musisi Yogyakarta untuk berkolaborasi, yaitu Ragipta Utama (Jati Raga), Nadya Hatta (Individual Life), Faizal Aditya Rachman (Answer Sheet), Indra Agung Hanifah (Jalan Pulang), Asrie Tresnady (Log Sanskrit), Yussan Ahmad Fauzi (Log Sanskrit), Erson Padapiran (Belkastrelka), Justitias Jelita Zulkarnain (Benzai Quartet), dan Jasmine Alvinia Savitr. Dengan arahan dari Doni Kurniawan (Alldint, Risky Summerbee and the Honeythief, Music For Everyone) pada awal Februari 2017, Sisir Tanah tengah mengaransemen dan merekam sebelas lagu. Dengan dibantu oleh sederatan nama-nama tersebut, diharapkan aransemen-aransemen barunya dapat memaksimalkan potensi artistik lagu-lagu Sisir Tanah dalam menyampaikan gagasan-gagasan kemanusiaan versi Bagus Dwi Danto, seperti pada lagu “Kita Mungkin”, “Lagu Hidup” dan “Konservasi Konflik”. Sembari menunggu album ini dirilis, mari mendengarkan lagu-lagu Sisir Tanah di bawah ini.

13.02.17

Reimagining JKT: SKRG

Bulan ini, Whiteboardjournal mengambil Jakarta sebagai tema utama dan mengulasnya dalam berbagai sudut pandang. Salah satunya dari sudut pandang musik. Rasanya sulit membahas kota ini tanpa membicarakan kompilasi JKT: SKRG yang menandai zaman itu. Tulisan ini membayangkan bagaimana jika album penting tersebut dirilis ulang dengan line up musisi representasi era sekarang.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.