Bagi para penggemar Gorillaz, beberapa minggu ke depan mungkin merupakan waktu-waktu yang baik. Setelah hampir 6 tahun sejak album terakhir Gorillaz dirilis, akhir bulan ini album Humanz akan menyusul. Lagu ‘Hallelujah Money’ yang menggaet Benjamin Clementine sudah diperdengarkan sejak akhir tahun lalu. Mungkin, untuk menjawab rasa bersalah atas janji mereka merilis album barunya di tahun 2016. Tanggal 24 lalu, 4 lagu mereka dirilis dalam video musik di YouTube termasuk secara mengejutkan, lagu ‘We Got The Power’ yang dikerjakan bersama Noel Gallagher dan Jehnny Beth. Mereka langsung mengadakan secret gig di London untuk keesokan harinya.
Album ini dianggap istimewa karena pengerjaanya memakan waktu yang panjang dan proses rekamannya dilakukan di London, Paris, New York, dan Jamaica. Albarn menjelaskan bahwa konsep lagu-lagu di album ini mengandung muatan gelap. Sebelum Donald Trump dipilih, lagu-lagu tersebut telah selesai ditulis dan pemaknaannya kini menjadi ironi yang kuat.
Sudah hampir 20 tahun yang lalu Albarn memulai proyek Gorillaz bersama Jamie Hewlett. Dalam narasi karakter fikisionalnya, ia menaruh simbol petualangan dan pertemuan; terkadang tak masuk akal dan terkesan lucu atau sesekali ironis dan dekat dengan manusia pada kesehariannya. Ada anekdot saat Murdoc ditanya tentang apa jenis musik yang Gorillaz usung dan ia menjawab ‘World’.
Untuk album paling barunya ini, sudah banyak daftar nama yang Albarn bilang menjadi bagian karya terbaru Gorillaz. Saat Albarn dan Noel berbagi panggung pada konser secret gig mereka untuk membawakan lagu ‘We Got The Power’, kenangan akan istilah Blur vs Oasis yang menjadi ikon sintesis musik Britpop 90-an itu seakan luntur. Begitulah kurang lebih citra Humanz, masih disajikan dengan proses kolaborasi yang eksploratif.
Bekerja sama dengan Footurama, memperkenalkan Goods and Services, lini produk Whiteboard Journal yang untuk aktivitas sehari-hari. Buku, gadget, koleksi musik dan berbagai keperluan akan selalu dalam jangkauan dalam totebag klasik kami, kenyamanan juga akan selalu dirasakan dengan t-shirt berbahan 100% katun yang menampilkan ilustrasi mekanik klasik, dan topi 6 panel yang akan melengkapi keduanya.
Lihat dan dapatkan seri Goods and Services melalui Footurama.
Whiteboardjournal.com
1-2730-1212
Dalam wilayah kesusastraan, nama Puthut EA paling mentereng di ruang-ruang cerpen media massa. Ia juga seorang peneliti sosial yang kemudian mendirikan Mojok.co, sebuah situs alternatif yang populer sebagai wadah esai kritik politik dan sosial yang ‘nakal’. Whiteboard Journal menemuinya di kantor Mojok Store untuk berbincang perihal perkembangan konsepsi cerpen hingga isu-isu intelektualisme di negeri ini.
Dalam sebuah kesempatan, dimana Rekah menjadi salah satu pembuka bagi musisi eksperimental senior asal Jepang Kazuhisa Uchihasi, Kazu menyampaikan pujian bagi drummer dari Rekah yang dianggapnya memiliki permainan yang menarik. Mungkin itu adalah salah satu alasan bagaimana Rekah yang masih seumur jagung langsung menjadi nama yang diperhatikan di skena musik lokal. Mencampurkan berbagai gaya dalam musiknya, Rekah yang berisikan Tomo, Marvin, Faiz, Junior, dan Yohan sebelumnya telah merilis “Untuk Seorang Gadis yang Selalu Memakai Malam” untuk menunjukkan kualitasnya. Kabarnya mereka sedang mempersiapkan album pendek yang akan dirilis pertengahan tahun. Whiteboard Journal kali ini berkesempatan untuk menyajikan salah satu single dari rilisan yang akan mereka namai “Berbagi Kamar” tersebut. Dengarkan “Belajar Tenggelam” berikut:
Sembari mendengarkan, berikut adalah interview kami bersama Tomo Hartono, gitaris/vokalis sekaligus penulis lirik dari Rekah. Tentang campuran musik post-hardcore revival yang mulai usang, Chairil Anwar dan masalah di skena hardcore/metal.
Percampuran berbagai macam gaya ini kami rasa muncul secara natural saja karena masing-masing dari kami mendengarkan musik yang berbeda-beda dari post-hardcore 90s, black metal kaskadian, shoegaze, math-rock, sampai hiphop. Kami sama sekali tak membatasi referensi ketika menulis lagu. Kami memang sengaja membiarkan akumulasi dari semua yang kami dengarkan menyatu dalam aransemen yang kami tulis. Apapun akan kami baurkan selama gaya tersebut selaras dengan narasi yang kami tulis dalam lirik-lirik kami.
Jujur saja: saya tak pernah berpikir bahwa Rekah adalah grup yang akan selalu menulis dalam Bahasa Indonesia. Kebetulan saja saat ini Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling nyaman saya gunakan saat ini. Tidak ada proses khusus dalam proses penulisan. Rasanya saya tak punya kepercayaan diri atau pemahaman teknik yang cukup untuk menyebut apa yang saya tulis sebagai sastra. Buat saya menulis lirik untuk Rekah itu sesederhana berdarah di atas kibor—mengalir begitu saja.
Walau begitu, tak bisa dipungkiri bahwa saya dibesarkan oleh buku - dan mungkin suatu hari akan ditemukan mati di tengah buku-buku juga. Pendekatan saya dalam menulis lagu adalah bercerita. Saya tak peduli pada konvensi verse-chorus-verse-chorus. Saya hanya memikirkan bagaimana musik yang saya tulis dapat mengalir dan menggerakkan plot. Mungkin di bagian ini saya banyak berhutang budi pada sastra dan film, tentunya.
Bila menyimak beberapa nukilan lirik yang pernah kami unggah beberapa kali di jejaring sosial nampaknya saya akan berdosa bila tidak menyebut Chairil Anwar. Beliau adalah yang pertama berjasa memperkenalkan saya pada puisi di kala SMP. Kalau saya tak pernah membaca “Aku” dan “Pemberian Tahu” mungkin saya hanya akan tetap menganggap bahwa puisi harus selalu indah dan picisan. Menurut saya, sajak-sajak Bung Chairil tak akan canggung apabila dibacakan dengan lantang di panggung-panggung hardcore punk sekalipun.
Penulis kedua yang menurut saya lumayan banyak meresap pada tulisan saya adalah Subagio Sastrowardoyo. Rasanya sajak-sajak beliau lumayan mewakili kegetiran yang saya rasakan di usia pertengahan 20 ini. Saya punya ambisi pribadi untuk menginterpretasikan ulang salah satu karya beliau, “Juga Waktu” ke dalam medium musik suatu hari nanti. Sayang sekali buku-bukunya sulit sekali ditemukan saat ini.
Sebagai seorang bocah yang dibesarkan oleh acara-acara metal di Bulungan, Blok M Jakarta Selatan, saya merasa bahwa skena hardcore/punk sebagai skena yang paling menyenangkan di Indonesia. Ada camaraderie dan comradeship yang rasanya tak akan saya temukan di acara musik pada umumnya.
Tentu skena ini juga bukan tanpa masalah. Seksisme, homofobia, serta eksklusivisme masih menghantui, baik di gig maupun forum-forum internet. Sebagai sebuah subkultur yang bangga dengan identitasnya sebagai counterculture, saya rasa fenomena ini lumayan ironis. Sebagai seseorang yang tak terlalu berminat dengan machismo dan slogan-slogan politik dengan narasi besar, saya merasa lirik musik keras kadang takut untuk membicarakan hal yang sebenarnya sangat politis: perasaan. Padahal untuk saya pribadi, politik adalah perihal empati dan perasaan dalam kehidupan sehari-hari—perihal afinitas. Saya memprediksi akan ada yang komentar bahwa musik seharusnya apolitis. Saya sama sekali tidak percaya bahwa musik bisa apolitis. Sebagai sebuah produk kebudayaan, musik tidak akan pernah bisa lepas dari konteks sosiopolitis yang membentuk baik sang pemusik maupun musik itu sendiri. Dengan atau tanpa mereka sadari, seni yang mereka buat bisa membantu melanggengkan atau justru meruntuhkan kekuasaan. Tanggung jawab itu ada, mau kita peduli atau pun abai.
Nah, musik agresif macam hardcore punk atau metal identik dengan lirik-lirik sloganeering buat menggiring kerumunan menuju sebuah entitas tunggal bernama mosh pit. Rekah tidak berminat menulis musik seperti itu. Buat kita, lirik seperti itu udah jadi standar industrinya musik-musik seperti ini. Kita lebih tertarik menulis tentang hal-hal yang lebih personal. Mengutip Carol Hanisch, "the personal is political". Revolusi hanya akan menjadi keniscayaan kalau hanya membicarakan narasi-narasi besar dan langitan. Bawa cerita kalian ke dalam hal-hal pribadi dan keseharian, baru deh kita ngobrol.
Untuk penulisan lagu, kita lebih banyak terinspirasi dari manusia dengan segala cerita dan kompleksitasnya. Soalnya sebenernya, manusia itu menarik—tidak hanya terdiri dari dua dimensi: baik atau buruk. Selalu ada cerita kenapa mereka melakukan sesuatu. Bahkan mungkin pelacur-pelacur dan ojek yang setia nemenin mereka ketika mangkal di belakang Blok M pun punya cerita yang bisa kita tulis kalau kita mau melihat lebih dekat.
Menelaah motif-motif yang menggerakkan seseorang lewat cerita-cerita mereka menurut kita adalah langkah penting yang seringkali lupa dijalani orang-orang sebelum membicarakan hal-hal besar. Maka dari itu, kita memulai dari cerita-cerita seperti ini; cerita orang-orang yang dilupakan; cerita orang-orang yang menderita sendirian di malam hari; cerita orang-orang yang pergulatannya tidak pernah terliput televisi; cerita penderitaan orang-orang yang tak akan pernah didongengkan ibu-ibu kalian karena mereka terlalu kotor, terlalu nista.
Nama besar mereka bukan muncul secara instan. Walaupun ada privilese sebagai pionir, namun mereka banyak berjasa membuka kemungkinan bahwa kalian tidak harus menulis apa yang industri mau untuk bisa bertahan hidup. Nama besar adalah hadiah dari keberanian menantang status quo industri saat itu dan kami tak melihat ada perlunya menggantikan nama-nama besar tersebut sebagai pelaku sejarah yang perlu diingat.
Menurut kami, nama-nama besar yang layak diingat berikutnya adalah mereka yang berani menantang batas-batas konvensi genre dan merayakan eksperimentasi dalam penulisan musik. Di era di mana akses internet sudah sangat mudah seperti sekarang, para pelaku di dalam jagad permusikan ini mempunyai tanggung jawab lebih untuk lebih dari sekedar menduplikasi wujud-wujud musik yang sudah ada—seperti apa yang Ornette Coleman lakukan terhadap jazz.
Sebenarnya tidak ada kisah dramatis yang melatarbelakangi hal ini. Kami adalah grup baru yang tak memiliki banyak koneksi di kancah musik Indonesia. Oleh karena itu, kami melakukan hal yang layaknya dilakukan grup-grup baru lainnya: mengirimkan email berisikan demo lagu dan perkenalan ke beberapa label yang menurut kami selaras dengan musik yang kami mainkan. Setelah beberapa kali berbalas surel dan sedikit bertukar referensi film, akhirnya kami pun memutuskan untuk bekerja sama dengan Royal Yawns.
Kami tak melihat korelasi antara sellout dengan perkembangan sebuah band. Sellout adalah perihal strategi dalam akumulasi modal, sedangkan perkembangan sebuah band adalah perihal bagaimana menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru dalam menulis musik. Apabila kalian merasa musik kalian susah dijual maka yang perlu kalian simak adalah buku-buku pemasaran. Revolusi saja bisa dijual, kenapa tidak dengan musik kan?
Sikap kami mengenai hal ini sederhana saja: kami akan memikirkan semua kemungkinan yang dapat membantu kami terus menulis musik tanpa mengkompromikan kebebasan kami dan orang-orang di sekitar kami sebagai manusia, termasuk di dalamnya kebebasan dalam eksplorasi dan eksperimentasi menulis musik.
Rasanya malah trennya sudah mulai mati dilibas waktu ya? Kebanyakan hanya merilis 1-2 rilisan sebelum redup. Sedari awal kami tak begitu tertarik dengan istilah “revival”. Kami melihat bahwa semua yang masih bertahan rata-rata adalah mereka yang berusaha mengembangkan gaya yang menginspirasi mereka ke dalam bentuk baru. Mereka yang hanya bertujuan menghidupkan kembali gaya ini sepertinya banyak yang sudah move on ke proyek dengan gaya musik yang berbeda. Bukan hal yang buruk, tentu saja.
Kalau ada salah seorang di antara kalian yang mengikuti salah satu akun jejaring sosial kita pasti sudah pernah memergoki kami beberapa kali memampang judul rilisan yang sedang kami kerjakan ini. Iya, kami memang tak pernah pandai menyimpan rahasia. Mini-album berdurasi sekitar 30 menit ini akan kami rilis dengan judul “Berbagi Kamar.” Plotnya cukup sederhana: pertemuan, perpisahan, dan hal-hal di antaranya. Namun, di dalamnya kami banyak memasukkan diskursus tentang bagaimana berdamai dengan absurditas. Selain itu, kami juga banyak bercerita tentang gangguan mental—suatu hal yang kerap dirayakan sebagai sesuatu yang keren oleh mereka yang gemar terlalu banyak posting kutipan tanpa konteks di jejaring sosial. Tidak, gangguan mental yang kami potret dalam mini-album ini adalah sesuatu yang perih, menyakitkan, dan akan membuat berjengit. Tidak ada yang keren dalam penderitaan yang disebabkan oleh gangguan mental.
Dari segi aransemen, mungkin akan agak mengernyitkan dahi karena kami banyak melakukan eksperimentasi terhadap struktur dan tekstur. Kami tidak tahu apakah ini hal yang baik atau buruk tapi kami bisa bilang bahwa kami sedang mencoba untuk memainkan musik yang sulit dirangkum dalam sebuah penjara genre. Eksperimentasi selalu mengerikan tapi sejauh dari apa yang sudah kami dengar sih hasilnya cukup menarik.
Pertanyaan yang super sulit karena menurut kami musik Indonesia sedang memasuki era yang menyenangkan. Banyak grup baru dengan musik yang segar bermunculan. Di kancah punk rock ada TaRRkam dengan nuansa post-punk Jepang 80s yang mencengangkan. Di metal ada Vallendusk, supergroup black metal dengan produktivitas yang mencengangkan. Di skena pop ada Moonbeams, yang menurut selentingan tongkrongan akan segera merilis sesuatu setelah sekian lama mati suri. Hiphop altenatif lokal pun akhirnya berhasil keluar dari bayang-bayang Homicide dengan mulai tereksposnya talenta-talenta seperti Joe Millions, Senartogok, Yosugi, serta Matter.
Episode Loka Suara kali ini berisikan lagu-lagu bergenre indie pop, rock, shoegaze hingga psikedelia.
Tracklist:
01. Pandai Besi - Rintik
02. Grrrl Gang - Bathroom
03. The Wellington - Lovely Sun
04. Soft Blood - Epitaph
05. Secret Meadows - Endlings
06. Gascoigne - Life Lesson in Drop D
07. Whitenoir - Subdistrict
08. The Collor Mellow - None Ever Told a Lie
09. Sugarstar - Delirium
10. Rhym - Stranger's Tide
Telah melahirkan beberapa karya dengan pujian diantaranya, Dea Anugrah disebut-sebut sebagai salah satu penentu masa depan sastra lokal. Whiteboard Journal berbincang dengannya mengenai pandangannya terhadap posisi sastra di era sekarang, hingga harapannya pada perkembangan di masa yang akan datang.