19.04.17

Sketsa Seni Rupa Indonesia dalam Imago Mundi

Sudah lebih dari 5 dekade yang lalu, Luciano Benetton mendirikan Benetton Group dan mulai melakukan proyek kesenian besar yang Ia beri nama Imago Mundi atau Image of The World. Ia telah mengumpulkan lebih dari 2000 lukisan dari perupa di seluruh dunia. Dalam proyek dokumentasi seni rupa tersebut, secara kasar Imago Mundi ingin menjadikan seni rupa sebagai medium demokrasi dan globalisme. Luciano Benetton dalam buku katalog pameran mengemukakan bahwa Indonesia kaya akan regionalisme dan keberagaman. Dalam usaha menonjolkan keberagaman ekspresi seni rupa, terlintas cerminan kekayaan budaya Indonesia dalam 200 lukisan bebas dari 200 perupa di seluruh Indonesia dalam ukuran medium yang sama. Khusus untuk sebuah edisi koleksi dari Indonesia tahun ini, ia memberi judul Indonesia: Islands of Imagination. Koleksi tersebut menghimpun lebih dari 200 perupa Indonesia dari berbagai umur dan latar belakang lain. Pameran karyanya telah berlangsung pada 12 November akhir tahun lalu di Bentara Budaya Bali, 28 Desember di Bentara Budaya Yogyakarta, dan tanggal 11 April lalu di Bentara Budaya Jakarta.

18.04.17

Mengintip Persiapan Museum MACAN

Museum Modern and Contemporary Art Nusantara (MACAN) akan mempersiapkan perhelatan pameran koleksi pertamanya akhir tahun ini. Rencananya, pameran koleksi perdana November nanti akan menampilkan karya maestro Seni Rupa Indonesia seperti Raden Saleh, Soedjojono, Affandi, FX Harsono, dan Heri Dono juga dengan beberapa karya seniman kontemporer nusantara dan internasional lain yang harapannya dapat menawarkan dialog Seni Rupa Indonesia dan Seni Rupa internasional. Pameran koleksi pertama tersebut nanti akan dibagi ke dalam 4 linimasa sesuai dengan ruang koleksi museum. Ruangan pertama diberi judul Land, Home, People yang menyajikan karya dari tahun 1800 hingga menuju kemerdekaan yang mengekspose lanskap bumi Nusantara dan masyarakatnya. Dua ruangan lain berjudul Independence & After dan Strugles Around The Form membahas karya-karya modern setelah kemerdekaan, sebelum tragedi 1965, dan sebelum reformasi. Ruangan terakhir diberi judul Global Soup yang berusaha menampilkan karya-karya di atas tahun 1998 yang menunjukan perubahan signifikan lewat pencarian individu di tengah globalisme. Awalnya musem MACAN beranjak dari mimpi kolektor seni dan pengusaha Indonesia, Haryanto Adikoesoemo untuk membangun museum seni rupa bagi masyarakat Indonesia dan untuk pengunjung luar negeri. Aaron Seeto ditunjuk sebagai direktur museum dari akhir 2016 lalu. Museum MACAN diharapkan dapat menjadi ruang diskursus Seni Rupa Indonesia di antara masyarakat internasional. Dengan bangunan seluas 4000m persegi, museum MACAN baru akan dibuka ke publik pada eksibisi perdana koleksinya November nanti dan mulai berencana menggelar banyak pertunjukan kebudayaan tahun 2018.

12.04.17

Oscar Lolang Rilis Kaset ‘Epilogue’

Karma Records akan merilis ulang album pendek Oscar Lolang yang berjudul Epilogue ke dalam bentuk kaset. Rencananya rilisan baru tersebut khusus diproduksi untuk Record Store Day 2017 tanggal 21-22 April di Kuningan City, Jakarta. Sebelumnya, Epilogue yang dirilis dalam bentuk CD hanya berisikan 2 lagu dan untuk rilisan ulang dalam bentuk kasetnya akan ada 1 lagu baru. Lagu 'Little Sunny Girl' dan 'The Way She Does Things' akan ditemani lagu yang pernah direkam saat pengerjaan single perdana Oscar berjudul 'Barbara Allen'. Mini album epilog ini dapat dibaca sebagai tanda bahwa Oscar mulai menulis lirik bermuatan romansa pada lagunya. Pada perhelatan Record Store Day 2017 nanti Oscar akan tampil sebagai pengisi acara dan akan membawakan materi mini album tersebut. Oscar berencana akan merilis album penuhnya pertengahan tahun ini. Beberapa lagu bocoran yang belum pernah diperdengarkan dan materi album barunya itu akan dipresentasikan Oscar pada Record Store Day nanti.

11.04.17

Potret Hubungan Manusia dan Hewan dalam ‘A Trunk and other Tails’

Sebuah visual yang dihasilkan oleh foto dapat merepresentasikan obyek dan menjadi medium komunikasi-naratif. Dalam sebuah pameran fotografi berjudul ‘A Trunk and other Tails’, Dilla Djalil-Daniel berusaha menceritakan kisah 4 hewan yang menjadi ‘alat’ manusia. Masing-masing mewakili tempat yang ia kunjungi dan masyarakat yang berhubungan langsung dengan hewan-hewan tersebut. Dalam karya visualnya tersebut ia menghadirkan potret anjing sebagai gembala, gajah dan keledai yang menjadi alat angkut, dan hidup orang utan di penangkaran. Dilla Djalil menghadirkan cerita hewan dan para pengasuhnya pada setiap bingkai yang ia pamerkan, lengkap dengan ilustrasi musik yang menggunakan biola dan denting piano liris serta ruang khusus yang menampilkan visualisasi video siluet naratif dengan narator seorang anak perempuan. Mengambil nuansa hitam-putih di setiap gambar dan mengutip Robert Frank pada catatan di katalognya, Dilla Djalil ingin memberi tekanan tentang harapan dan keputusasaan. Hewan-hewan tersebut mengalami ketergantungan dan sudah menjadi bagian hidup masyarakat yang berhubungan dengannya. Dengan cermat, Dilla menangkap kegiatan memberi makan, mengembangbiakkan, dan kegiatan lain yang mencerminkan kehidupan masyarakat dengan hewan peliharaannya pada satu simbiosis yang kompleks. Rencananya, keuntungan dari pameran dan penjualan photobook akan disumbangkan ke beberapa yayasan di 4 negara yakni Friends of Asian Elephants, Yayasan IAR Indonesia, Animals Nepal, dan Mdzananda Animal Clinic. Venue: Dia.Lo.Gue Artspace Jl. Kemang Selatan 99 a Jakarta 12730 Exhibition Period (Open for Public) 30 Maret – 16 April 2017 9:30 - 18:00

11.04.17

Tes Ombak Studio Ghibli pasca Hiatus

The World of Ghibli Jakarta bisa jadi kabar bahagia untuk banyak penggemar Studio Ghibli, tidak cuma di Jakarta, tapi juga di Indonesia. Rangkaian acara ini akan terdiri dari tiga fase dan pemutaran 22 film Studio Ghibli di 45 layar bioskop di Indonesia. Pertama adalah pemutaran lima film all time favorite karya Hayao Miyazaki selama lima bulan ke depan yaitu: Spirited Away, My Neighbor Totoro, Ponyo, Princess Mononoke, dan Howl’s Moving Castle yang akan ditayangkan bergilir dari bulan April-September 2017. Menonton film-film Ghibli tentu menjadi sesuatu yang istimewa untuk penggemarnya di Indonesia. Bagaimana tidak, film-film Ghibli hampir tidak pernah diputar di bioskop-bioskop tanah air. Sehingga untukk kita-kita di Indonesia yang terbiasa menikmati warna-warni cerita film Ghibli via vlc media player, askes menontonnya di bioskop menjadi suatu kemewahan tersendiri. Belum cukup dengan lima film yang ditayangkan selama lima bulan ke depan, The World of Ghibli Jakarta juga menggelar pameran yang akan memajang berbagai hal dari set film-film Ghibli yang ikonik. Mereka semacam ingin memanjakan penggemarnya lebih lagi dengan membawa mereka masuk ke dalam dunia Ghibli yang magis. Pameran ini kemudian juga menjadi fase kedua dari rangkaian acara tersebut dan berlangsung dari 10 Agustus-17 September 2017. The World of Ghibli Jakarta ini kemudian akan ditutup dengan pemutaran 22 film Studio Ghibli sampai Maret 2018. Di sisi lain, rangkaian acara ini juga bisa dilihat ajang Studio Ghibli untuk menguji antusiasme pasar Indonesia terhadap film-film Studio Ghibli mengingat Studi Ghibli kini sedang melakukan proses developing pasca hiatus 2015 lalu. Sambutan hangat terhadap The World of Ghibli juga dapat dikatakan sebagai lampu hijau bagi pasar Studio Ghibli di Indonesia nantinya. Tapi terlepas dari apakah pameran besar-besaran Ghibli di Indonesia ini hanya sekadar untuk memuaskan kerinduan para penggemarnya di Indonesia atau memang ajak cek ombak, kapan lagi bisa nonton film Ghibli di bioskop?

10.04.17

Jelajah Spektrum Warna Heals

Dengan hanya bekal satu lagu berjudul “Void”, Heals mengemuka menjadi salah satu yang paling ditunggu dari Bandung post-2010’an. Tapi tak ada heran disitu, karena secara disonan dan komposisi, Alyuadi beserta kawan-kawan muncul dan mengisi kekosongan di irisan antara fans shoegaze dan alt-rock yang ternyata cukup besar dalam jumlah penggemar. Dan tentu tak hanya itu, nyatanya mereka mampu mengisi ceruk tersebut dengan kualitas yang mencukupi - kalau bukan lumayan, buktinya bisa dilihat pada angka nyaris empat puluh ribu plays di track "Void" yang mereka unggah 21 September 2014. Tiga tahun berselang, Heals memperpanjang usia mereka dalam album penuh pertama berjudul “Spektrum”. Berisi 10 lagu, album ini memasukkan “Void” dan “Wave” yang sempat keluar sebagai pengisi penantian menuju album. Dirilis bersama record label senior, Fast Forward Records, album ini bisa didapatkan sejak Minggu, 9 April 2017 dalam bentuk fisik dan digital. Jika “Void” telah menempatkan titik yang cukup tinggi pada ekspektasi kualitas karya Heals, album ini menjawabnya hingga tandas. Heals mengambil jarak yang cukup signifikan dengan shoegaze/post-rock ala Bandung kebanyakan. Alih-alih mengawang, album ini banyak berisi lick tajam (bahkan beraroma techy di beberapa part) yang akan mendapat penjelasan saat melihat latar belakang personilnya yang juga bermain di proyek musik metal (Alyuadi bermain di Caravan of Anaconda dan Deathless, Octavia bermain di Worthless Unit). Dan dengan itu, “Spektrum” bergabung bersama "Saudade" dari Annie Hall yang cukup distingtif diantara tren crossover shoegaze yang cenderung gitu-gitu aja sekarang. Dengarkan albumnya berikut.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.