Loka Suara
12.05.17

Distopia

Episode Loka Suara kali ini berisikan lagu-lagu dari awal tahun 2000'an yang tetap terasa relevan hingga sekarang. Tracklist: 01. LAIN - Train Song 02. The Morning After - Pesawatku 03. C'mon Lennon - Gadis Bertangan Satu 04. Polyester Embassy - Polypanic Rooms 05. The Milo - For All The Dreams That Could Fly 06. That's Rockefeller - Dress Like God 07. The Sastro - Lari 100 08. Melancholic Bitch - Tentang Cinta 09. Santamonica - Wanderlust 10. Pestolaer - Tribute to Amster

10.05.17

Nada Dunia bersama Suarasama

Melalui bunyi dan melodi, Suarasama telah mengangkat khasanah musik lokal ke tataran internasional. Bekerja sama dengan Ruru Corps, Whiteboard Journal berbincang bersama Rithaony Hutajulu dan Irwansyah Harahap mengenai etnomusikologi, warna musik nusantara, hingga salah konsepsi world music.

08.05.17

Kolektif Betina

Melihat lebih dekat pada posisi perempuan di Indonesia bersama unit yang telah mengangkat dan menyuarakan kesetaraan bagi semua, Kolektif Betina. Tentang bagaimana mereka menyebarkan kesadaran ke seluruh penjuru negeri, sembari terus mengembangkan diri.

04.05.17

Quick Review: Tschick

Tak ada yang meragukan reputasi Fatih Akin sebagai salah satu sineas jempolan di Benua Biru. Rekaannya terbentang sepanjang permadani pujian yang menyediakan kepastian kualitas. Menyimpan kritik universal terhadap fenomena sosial maupun merayu humanisme dalam cekung realitas. Cannes dan Locarno sudah merapatkan barisan pertanda sepakat mengakui kapasitasnya di atas penahbisan. Film terbarunya yang berjudul () menjadi bukti terkini. Menuturkan cerita perjalanan sepasang remaja ingusan, Maik Klingenberg (Tristan Gibel) dan Andrej 'Tschick' Tschichatschow (Anand Batbileg), Fatih berupaya menjangkau daratan kesederhanaan ponten yang dibentuk lewat persepsi lingkungan sekitar. Menumpangi mobil Jeep berwarna putih hasil curian, mereka melakoni petualangan melintasi kawasan perbatasan seraya berharap menemukan pelarian yang menyenangkan. menempatkan plot yang simplistis. Dua pecundang berkelana dan akhirnya meraih hikmah masing-masing laksana pengalaman terbaik sejauh hikayatnya. Fatih kiranya tak perlu menerapkan formula baku atau narasi surealisme saat mengisahkan babak demi babak. Selama durasi berjalan, kita akan disuguhi lelucon ringan yang kelak mengaduk tawa sampai ditakjubkan keelokan lanskap daratan hijau di bumi sana. Menyaksikan sepintas mengingatkan pada dokumentasi dengan tambahan premis filsafat yang dikerjakan Fatih di medio 2007 hingga 2009. Mengendus keliaran, menelisik sarkasme, serta mengenyahkan beban kenyataan. Fatih Akin | Tristan Gobel, Aniya Wendel, Justina Humpf, Anand Batbileg | Lago Film, Studiocanal Film | Germany | 93 minutes | 2016

03.05.17

Kebersamaan dan Kebebasan dalam LadyFast #2

Gagasan kolektif yang didukung oleh ruang-ruang yang layak dapat menyumbang kegiatan yang positif. LadyFast #2 adalah contoh kegiatan yang mampu memberi fitur ruang diskusi, pameran karya, lapakan, dan musik. Diinisiasi oleh sebuah kolektif yang menamakan dirinya sebagai Kolektif Betina, para perempuan yang terkumpul dari berbagai latar belakang berbeda dari 9 kota di Indonesia membuat sebuah ruang berkumpul dan berekspresi. Perayaan tahunan mereka yang kedua di Bandung yang digelar tanggal 29-30 April lalu mengundang banyak partisipan, umumnya para penggerak kreatif yang datang untuk menunjukkan produknya ataupun para penggiat acara sebagai konsumennya. Tak hanya menampilkan lapakan dan menyediakan ruang kreatif, mereka menyajikan diskusi yang menarik seperti membicarakan maskulinitas atau membuat jamu tradisional sebagai pereda nyeri menstruasi. LadyFast #2 memberi ruang seperti yang para penggagasnya harapkan. Selama ini ruang untuk bisa berkumpul dan menyuarakan pendapat kadang direpresi oleh suatu golongan lain. Dengan cermat mereka memberi diskursus yang menarik dan mendidik serta memberi nuansa pasar lapakan yang hangat lalu kemudian ditutup oleh pertunjukan musik yang prinsip partisipatorisnya kuat. Dalam gelaran musik keras, para penonton dilibatkan untuk saling membaur, bertabrakan, dan berada dalam tatanan yang sama. Sebagai partisipan, perempuan di dalam ruang moshpit memiliki perannya sendiri untuk menikmati dan adalah haknya untuk merasa aman dan tidak menjadi objek, namun menjadi subjek dalam gerakan, bersama-sama memiliki ruang untuk berekspresi.

03.05.17

Meneruskan Capaian Konsisten dari Feist

Semenjak meraup pundi-pundi kesuksesan secara finansial maupun ulasan, ia perlahan menapaki strata hegemoni yang tak perlu banyak publisitas. Feist semakin konsisten dalam melantunkan entitas tembang yang meletuskan energi melankolia. Ada harmoni , , hingga distraksi kegetiran laiknya catatan pribadi Lindsey Buckingham. Semua disusun atas sepasang pengharapan; merapalkan cita, menebalkan pesona. Akhir April 2017, album terbarunya yang bertajuk rilis ke pasaran. Polanya selaras dengan kreasinya yang sudah-sudah; menghentak kesepian, melukis gores keputusasaan, dan mencari momentum kebangkitan tak bertuan. Memuat 11 (sebelas) komposisi yang diciptakannya sendiri, ia membaurkan aroma Crosby, Still & Nash era hingga minimalis milik Burt Bacharach. Lagu-lagunya berpesan tentang sekelumit petuah; mencela konsepsi mimpi pada “Lost Dreams”, menjaga batas logika lewat “The Wind”, maupun menolak keberpihakan di trek “I’m Not Running Away.” Apabila manuskripnya tempo hari adalah monolog yang disadur dengan serpih subtil, maka merupakan dialog yang melepaskan kebebasan tafsir untuk khalayak ramai.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.