29.05.17

Kwitang 14

Mengunjungi Kwitang 14 yang menawarkan ruang baca baru di area Jakarta Pusat. Dikelola bersama Cinema Poetica, Kwitang merupakan tempat kecil yang membuka wacana dan diskusi baru seputar film, kesenian dan kemanusiaan.

26.05.17

Senandung Trauma dalam “Menara Ingatan” oleh Teater Garasi

Sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan oleh pergerakan atas dasar konflik. Transisi kekuasaan dari era kolonial dan kemerdekaan menyisakan daftar sejarah yang memuat riwayat perang. Lewat sebuah pementasan bertajuk Menara Ingatan, Teater Garasi membawakan suguhan teater-musik yang mengangkat kembali riwayat-riwayat konflik di tanah air. Adalah Yennu Ariendra yang menginisiasikan pementasan tersebut. Yennu yang dikenal juga sebagai gitaris dari grup musik Melancholic Bitch ataupun Belkastrelka berusaha mengangkat lagi riwayat konflik tanah air. Ia menceritakan sebuah memoar akan kakeknya yang menjadi korban tragedi 65 pada pengantar pertunjukan. Penampilan “Menara Ingatan” ini didasarkan juga pada riwayat konflik yang signifikan seperti cerita Minak Jinga dan Suku Osing yang dalam sejarahnya selalu menolak dan berkata “tidak” pada kekuasaan yang represif. Teater Garasi dan Menara Ingatan, melakukan manajemen ruang yang baik untuk menampilkan musik dan teater yang proporsional. Pemain musik, penyanyi, dan para pemain teater berbagi panggung dan memainkan repertoire musik berbarengan dengan gerak dan olah tubuh dan eksplorasi properti. Kecermatan komposisi musik yang dibangun oleh Yennu dan kawan-kawan berangkat dari bangunan musik kontemporer yang beragam lewat perpaduan berbagai alat musik tradisional dan efek suara. Menarik bisa mencermati bentuk dramaturgi yang fleksibel dengan menggunakan bantuan medium musik. Saat gerak pemain dan repertoire lagu makin liris, selanjutnya tiba-tiba musik dangdut koplo dimainkan dan lampu warna-warni ikut menyoroti menonton. Ada unsur partisipatoris juga di sana, penonton diminta memakai properti topeng hewan berkulit merah dan diminta ikut berjoget. Saat penggambaran konflik mulai kuat dan berangsur liris, nyatanya semua dibuat lupa oleh sorotan kegembiraan dan perayaan. Jika isu konflik biasanya dibawakan pada karya yang eksplisit mengambil contoh, pelaku dan korban menjadi sorotan yang sensitif. Dengan membawa nuansa dan muatan yang disembunyikan, isu konflik menjadi sesuatu yang bisa direnungkan. Begitulah “Menara Ingatan” ditampilkan, memberi ruang refleksi atas konflik tanpa membebani pandangan tertentu.

22.05.17

Seleksi Karya: Marjin Kiri Publisher

Marjin Kiri Publisher adalah penerbit lokal yang secara independen berdedikasi untuk menghadirkan berbagai judul buku filsafat, sastra hingga berbagai topik penting lainnya. Bekerja sama dengan Windu Jusuf dari Indoprogress.com, Whiteboard Journal memilih delapan judul buku penting dari rilisan Marjin Kiri.

18.05.17

Menyambut International Museum Day bersama Museum Nasional dan RURU Corps

Setiap tahun sejak 1977, tanggal 18 Mei diperingati sebagai International Museum Day. Museum Nasional adalah museum terbesar dan yang dikelola oleh pemerintah untuk menampilkan artefak dan produk kebudayaan Indonesia. Dalam waktu dekat Ruang Rupa sebagai kolektif Ibukota menjadi penampil sekaligus pengampu sebuah showcase memperingati International Museum Day dengan Museum Nasional bertajuk “RRREC Fest at The Museum 2017”. Jika sebelumnya RRREC Fest dikenal sebagai perhelatan konser musik Ruang Rupa yang beberapa tahun belakangan digelar di alam terbuka, kini kemeriahan dan keceriaan dalam RRREC Fest dibawa ke celah-celah lorong museum. Sejalan dengan tajuk International Museum Day yang digelar di seluruh dunia: “Museums as tools for creating peaceful communities” dan lewat garis besar Museums and contested histories: saying the unspeakable in museums, RRREC Fest membawa ruang museum sebagai alat untuk membicarakan nilai-nilai keseharian dan mengembalikan pengetahuan serta nilai kebudayaan sebagai alat membangun perdamaian di antara masyarakat. Berikut adalah siaran program RRREC Fest At The Museum 2017 yang berlangsung dari tanggal 18-24 Mei 2017 di Museum Nasional: Thursday, 18 May 2017 / 16.00 – 20.00 Lobby Gedung B, Museum Nasional Indonesia Jl. Medan Merdeka Barat, No.12, Gambir, Jakarta Pusat. Opening Program: 16.30 – 17.00 Opening Ceremony 17.30 – 18.00 Bina Vokalia Choir 18.30 – 19.30 Pasar Ilmu by Serrum, Live Printing by Grafis Huru Hara 19.00 – 20.00 DJ Sattle 20.00 – 20.30 Music Performance: Jason Ranti 18 – 24 MAY 2017 , menampilkan Aprilia Apsari, Cut & Rescue, Grafis Huru Hara, Kelas Pagi Jakarta, Marishka Soekarna, Serrum, The Jadugar, dan The Popo 18, 20 & 21 MAY 2017 , lineup: A Fine Tuning Creation, Adrian Adioetomo, Bina Vokalia, Bottlesmoker, Dangerdope, Jason Ranti, Joe Million, Nona Ria, Ramayana Soul, White Shoes & The Couples Company, Music Selecta’: Sattle’. Untuk mengetahui lebih lanjut informasi mengenai program festival dapat diperoleh di: Twitter: rrrec_fest | @MuseumNasional Instagram: rrrec_fest | @MuseumNasional Facebook: RRRec Fest | MUSEUM NASIONAL INDONESIA MUSIC – ART EXHIBITION – FILM SCREENING – WORKSHOP – TALKS – BAZAAR – ART EXHIBITION “THE ARCHIVE OF NOWHERE”  

17.05.17

The Role of Music Culture in the Photography Industry

Dalam perkembangannya, fotografi semakin berperan penting di setiap pertunjukan musik. Tak hanya sebagai pemanis belaka, disiplin ini juga berandil besar untuk mengarsipkan segala aktifitas yang terjadi di atas panggung. Mulai berdiri di baris paling depan sampai berkeliling ke seluruh penjuru demi mendapatkan sudut dan gambar terbaik. Mencatat visual lewat lensa berukuran proporsional agar teriak sang rockstar mampu ditangkap. Sama halnya dengan apa yang dilakukan IROCKUMENTARY.CLUB; sebuah kolektif yang bergerak pada bidang fotografi musik. Didirikan tahun 2009, IROCKUMENTARY.CLUB menampung berbagai fotografer yang memiliki passion maupun kesamaan sikap guna mendokumentasikan gerak-gerik di gelanggang penampilan. Hingga sekarang, sudah tak terhitung lagi berapa jumlah karya foto yang mereka hasilkan seraya menemani geliat musik yang terus tumbuh subur di Indonesia. Atas dasar itu pula, IROCKUMENTARY.CLUB mengadakan sesi diskusi terbuka bertemakan “The Role of Music Culture in Photography.” Helatan ini bertujuan untuk berbagi cerita, bertukar pikiran, ataupun transfer ilmu kepada mereka yang menggeluti dunia fotografi, terlebih fotografi musik. "THE ROLE OF MUSIC CULTURE IN PHOTOGRAPHY” RUCI'S Joint Wednesday, 17 May 2017 19.00 pm - 21.00 pm Free of charge #RUCISJoint #collaborativespace #IROCKUMENTARY

17.05.17

Bahasa dan Linguistik bersama Harimurti Kridalaksana

Harimurti Kridalaksana adalah seorang akademisi linguistik yang menghasilkan banyak karya penting untuk menjelaskan struktur Bahasa Indonesia. Selama lebih dari 50 tahun, ia telah menulis banyak buku dan jurnal ilmiah yang membedah beragam sisi kebahasaan sampai sekarang. Whiteboard Journal berkesempatan untuk berbincang tentang pandangannya terhadap linguistik dan penggunaan Bahasa Indonesia.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.