Satuan Post-Hardcore dari Jakarta, Rekah, tengah bersiap merilis EP bertajuk "Berbagi Kamar". Rencananya, siaran digitalnya sudah dapat dinikmati secara penuh besok, Kamis (8/6). Entitas ini akan dirilis dalam format CD dan Kaset serta produksinya sedang berjalan dan akan selesai dalam waktu dekat.
Tomo dan kawan-kawan mempertahankan gelombang produktivitas yang signifikan. Bulan lalu mereka telah merilis video klip "Tentang Badai / Belajar Tenggelam" yang sekaligus merampung dua lagu kuat mereka lewat visual yang menggugah. Balutan musik keras dengan muatan lirik yang rinci sekaligus eksplisit menjadi senjata utama mereka.
Mereka akan merilis album pendek ini lewat label Royal Yawns, sebuah rumah rekaman independen asal Bandung. Materi entitas pendek ini layak untuk dicermati. Menyusun repertoire dengan satu benang merah yang baik, mini album ini adalah rilisan baik di pertengahan tahun yang terasa datar. Susunan lagu dalam album ini bisa dilihat dan akan bisa dinikmati lewat halaman bandcamp Rekah.
Arif Ramly adalah seorang pria muda Malaysia yang menghidupkan di skena musik independen Malaysia bersama yang band sempat ia manajeri, juga melalui aktivitasnya di The Wknd. Selepas menyantap nasi lemak dan nasi Kelantan di sebuah kedai di Jalan Indera Mahkota, Kuantan, kami menyodorkan banyak pertanyaan kepada Arif Ramly di kedai buku/musik miliknya, Coastal Store.
Adrian Yunan terbangun pada suatu pagi dari suatu mimpi. Meski sulit diingat kembali apa isi dari mimpi itu, namun nyatanya mimpi itu cukup mendorongnya untuk kembali bangkit. Titik balik inilah yang kemudian menggugah niatnya untuk merilis album perdananya sebagai seorang solois. Sebelumnya, Adrian berkarir sebagai basis dari Efek Rumah Kaca. Memang sejak 2010, Adrian Yunan terpaksa absen dari panggung dikarenakan kondisi tubuh dan matanya yang terus menurun. Ia pun kemudian vakum dan fokus pada kesehatannya.
“Saat itu saya merasa amat terpukul. Hingga di titik terendah, saya hanya hidup di atas tempat tidur saja tanpa melakukan apapun,” ujar Adrian. “Saat bangun saya jadi terpikir, apakah saya mau melanjutkan hidup sebagai orang yang kalah atau yang menang.”
Akhirnya, Adrian menemukan bahwa dengan menulis lagu, ia mampu berangsur-angsur memulihkan kondisi fisik dan mentalnya. Kegiatan menulis lagu inilah pula yang menjadi semacam terapi bagi Adrian, yang memang sudah berpengalaman menulis lagu bahkan sejak sebelum Efek Rumah Kaca terbentuk. Dan benar, melalui menulis lagu Adrian pun melanjutkan hidup. Lagu demi lagu ia tulis, bahkan ia pada saat itu tidak memikirkan akan merekam lagu-lagu tersebut atau tidak. Yang jelas, kegiatan tersebut ialah bentuk kepulihannya. Memang pada akhirnya beberapa lagu yang ia tulis pada saat itu masuk di album ketiga Efek Rumah Kaca, namun tak sedikit yang tetap tak terpakai.
Ide menjadikan lagu-lagu tersebut sebagai suatu kesatuan dalam sebuah album solo bagi Adrian pertama kali muncul dari Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca. Dengan bersemangat Adrian pun menyanggupinya, dan kemudian mengambil judul Sintas. Judul tersebut sendiri berarti bertahan hidup dalam kondisi yang tidak diinginkan. Makna dibaliknya memang menjadi suatu bukti dari perjuangan Adrian dalam menghadapi penyakitnya, dan tetap bertahan hingga dapat bebas dari masa sulit tersebut dan menjadi seorang ‘penyintas’.
“Dari awal saya baru memulai kembali menulis lagu saat jatuh sakit, saya yakin suatu saat semua ini akan lewat dan akan menjadi sesuatu yang baik. Akhirnya terbukti dengan dirilisnya album Sintas, ada hikmah positif di balik semua ini.”
Lebih jauh lagi gambaran akan bentuk perjuangan Adrian menghadapi dirinya sendiri hingga bangkit dari kejatuhannya dapat disimak dalam lirik-lirik yang terdapat dalam lagunya, diantaranya “Mikrofon”, “Tak Ada Histeria”, dan “Lari”, di mana lagu-lagu ini mengandung makna penghiburan diri dan kontemplasi akan batin Adrian sendiri. Selain itu, Adrian pun mendedikasikan satu lagi bertajuk “Ruang Yang Sama” bagi sesama kawan Difabel. Interaksi sehari-hari biasa Adrian dengan istri dan anaknya juga menjadi inspirasi bagi terciptanya lagu “Terminal Laut” dan “Mainan”. Lagu-lagu tersebut seolah hadir sebagai dokumentasi pribadi Adrian akan isi-isi kesehariannya yang penuh sentuhan pribadi dan sentimental.
Album Sintas sudah bisa didapatkan di beberapa toko musik mulai Senin, 5 Juni 2017.
Setiap musisi memiliki caranya masing-masing untuk merayakan rilisnya sebuah album. Menggelar konser penyambutan, mencari cara yang unik, atau bahkan mungkin tidak melakukan apa-apa. Semua bebas dilakukan asal niat utama dalam melepas album sudah terpenuhi.
Tapi bagi Adrian Yunan, hadirnya album musti dirayakan dengan seksama. Dalam rangka pelepasan debut album solonya yang bertajuk "Sintas", personil Efek Rumah Kaca ini menggelar helatan syukuran bersama teman-teman difabel netra pada 4 Juni mendatang. Kegiatan akan dibagi menjadi dua bagian, yakni menonton film serta dilanjutkan penampilan musik selepas buka puasa.
Untuk kegiatan menonton film sendiri akan dipandu bersama program Blind Date Sinema yang diinisasi oleh Pavilliun 28. Blind Date Sinema adalah media di mana pihak Pavilliun 28 berupaya menciptakan ruang dan kesempatan bagi semua teman-teman difabel netra untuk bisa menikmati film karya sineas lokal. Dalam prosesnya, kegiatan Blind Date Sinema menggunakan peran relawan untuk membantu menjelaskan atau menterjemahkan bahasa visual menjadi bahasa verbal dengan menceritakan langsung saat film berlangsung melalui indera pendengar.
Simak penuturan Adrian mengenai album solonya melalui video berikut:
Melalui Sokola Rimba, Butet Manurung membuka mata dunia pada kekayaan yang hidup pada keseharian masyarakat adat. Bahwa tak jarang mereka yang tinggal di pedalaman lebih terbuka secara pikir daripada kita di kota yang tak malu mengaku paling maju. Whiteboard Journal berbincang dengan Butet Manurung mengenai kritiknya terhadap sistem pendidikan, bantuan yang salah arah, dan kekayaan yang disimpan oleh masyarakat adat.
Ada yang berkata bahwa cara tepat untuk merawat sebuah kenangan masa lampau adalah dengan memeluknya erat. Mendekap penuh hangat serta menjaganya agar esensi yang terkandung dapat disalurkan di momentum mendatang. Kiranya hal itu pula yang sekarang dilakukan oleh kolektif asal Malang, The Breakfast Club.
Pasca melepas tiga nomor berjudul “Daisy”, “Distance”, serta “My Humanoid from the Outer Space” di tahun 2016, kali ini, The Breakfast Club kembali merilis nomor baru berjudul “Silent Caravan.” Sebuah lanskap yang menceritakan perihal kenangan serta upaya menikmati masa kebebasan.
Apabila ditelisik lebih jauh, aroma 90’s indie/jangly pop ala Ballads Of The Cliché, Aztec Camera, Belle & Sebastian begitu terasa pada lagu-lagu mereka. Komposisi yang sederhana dengan warna riang juga tanpa beban menghiasi sudut-sudut rutinitas bersama keinginan menghilangkan penat di kepala.
Beranggotakan Mucho Karmuko (vokal) dan Bimo Soerjoputro (gitar), The Breakfast Club dibentuk di tahun 2015. Rencananya, EP perdana mereka yang bertajuk Morning People akan diluncurkan ke khalayak ramai dalam waktu dekat. Membawa roman kejayaan Britpop, musik mereka patut dimasukan ke saku playlist guna menemani hari-hari yang membosankan.
https://soundcloud.com/wearethebreakfastclub