21.07.17

Gimme 5: Xandega Tahajuansya

Sebelum dikenal sebagai Polka Wars dan salah satu penggerak kolektif Studiorama, Xandega Tahajuansya adalah anak kelas 5 SD yang membentuk band untuk membawakan lagu Linkin Park. Untuk mengenang kepergian Chester Bennington hari ini, Gimme 5 mengundang Dega untuk memilih lima lagu Linkin Park yang membekas di hatinya. “Hybrid Theory”, album pertama Linkin Park adalah pengalaman pertama saya untuk mendengar album secara utuh, sebelumnya hanya mendengarkan lagu-lagu secara terpisah. “One Step Closer” lebih populer, tapi benar-benar kena banget itu pas di lagu “Papercut” yang juga jadi pembuka album. Ditambah videoklipnya juga keren sih. Ini adalah lagu pertama di side B kaset “Hybrid Theory”. Pas suatu hari dengerin kaset ini ketiduran, dan saat kaset masuk side B langsung kebangun. Bagi saya ini adalah salah satu lagu mereka yang paling dengan pola Ditambah lengking teriakan Chester itu, langsung terpikir, “Anjir, ini dia nih yang seru. Gahar banget dan banget lagi!”. Lagu ini pernah saya bawakan di band pertama saat kelas 5 SD. Bawain ini karena gitarnya keren, porsi rap-nyanyi - dan teriakannya pas. Breakdown pas di bagian itu asik banget. Pas itu main bukan jadi tapi jadi vokalis ala Chester gitu. Bahkan sempat ingin punya tato di pergelangan tangan seperti punya Chester. Awal dengar lagu ini agak kecewa, karena lagunya nggak kenceng kayak lagu Linkin Park yang lain. Kok kalem gini? Tapi setelah didengarkan lagi, baru terasa kalau ini adalah salah satu lagu Linkin Park yang paling dan gitu. Bagusnya tetap terasa sampai sekarang. Setelah album “Hybrid Theory” yang seru banget, saya sangat menunggu album kedua Linkin Park. Tapi pas “Meteora” muncul dengan “Somewhere I Belong” itu kecewa, karena terasa materinya nggak se dan album sebelumnya. Mungkin ini bentuk pendewasaan mereka, tapi saya kadung cinta mati sama Hybrid Theory dan susah “Faint” nyantol di kepala karena masih di nuansa yang sama dengan album sebelumnya. Di album ini cuma suka “Faint” sama “Lying From You”. Dengar karya Xandega bersama Polka Wars di berikut. https://soundcloud.com/polkawarsmusic Ikuti berita terbaru mengenai Polka Wars di Instagram mereka. https://www.instagram.com/polkawars/

19.07.17

Isyarat Bahasa bersama Surya Sahetapy

Di usianya yang masih sangat muda, Surya telah memperjuangkan berbagai hal demi kesetaraan untuk kaum disabilitas. Whiteboard Journal berbincang dengannya mengenai kemajuan kesadaran mengenai disabilitas hingga wisata yang ia gagas untuk kaum tuli.

Loka Suara
14.07.17

Urbanisasi

Episode Loka Suara kali ini berisikan lagu-lagu pilihan untuk menyambut kembali riuhnya aktivitas di kota. 01. C'mon Lennon - Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A. 02. The Upstairs - Matraman 03. LAIN - Train Song 04. Efek Rumah Kaca - Banyak Asap Di Sana 05. The Brandals - 100% Kontrol 06. Melancholic Bitch - Menara 07. The Morning After - Berubahlah 08. White Shoes and The Couples Company - Pelan Tapi Pasti 09. Bin Idris - Jalan Bebas Hambatan 10. Mondo Gascaro - Oh, Jakarta

13.07.17

Kejenakaan Yang Jenial dari Terapi Urine

Terapi Urine mungkin akan terlihat sebagai band yang geguyonan bagi kebanyakan. Dengan nama, judul lagu serta penampilan dan kostum panggung yang selalu bodor, tampaknya itu memang salah satu visi mereka (jika memang mereka memilikinya). Namun, jika diperhatikan lebih dekat, sebenarnya justru mereka adalah band yang serius, ini bisa dilihat pada produktivitas mereka yang lumayan, sejak pertama muncul di tahun 2012, mereka telah mengeluarkan sejumlah rilisan dalam berbagai bentuk, EP, album juga Sebelum sekali lagi mereka menutupi keseriusan tersebut dalam balutan yang Namun justru di situlah posisi mereka menjadi menarik, dalam hal ini mereka telah menyejajarkan diri dengan Primitive Chimpazee dari Malang yang mengembalikan humor dalam silsilah turunan hardcore yang kadang terlampau serius itu. Jika masih perlu bukti mengenai keseriusan anak-anak Terapi Urine dalam menertawakan dunia beserta isinya (termasuk mereka sendiri), album "Petenteng" bisa jadi pembuktian yang relevan. Dirilis di Instagram, album tersebut berisi 9 lagu pendek yang dalam melakukan keahlian terbaik Terapi Urine: grindcore secepat kilat, dengan lirik nakal yang mengusik. Dan, utama di album ini jelas ada pada lagu "Existensi" dimana mereka mengkritisi budaya di sosial media (dan mereka melakukannya di album yang dirilis dalam bentuk Instagram video), grindcore lokal belum pernah terasa sejenial ini. Dengarkan album "Petenteng" selengkapnya di Instagram. Coba juga diskografi Terapi Urine.

10.07.17

Membaca Pergerakan Kaum Muda Kuala Lumpur

Mengunjungi Ibukota Malaysia, Kuala Lumpur dan menemukan berbagai gairah kreatif dari anak mudanya. Mulai dari toko musik, galeri seni kontemporer, ruang arsitektur hingga desain. Sembari mengevaluasi diri mengenai apa yang bisa kita bangun untuk kota yang kita tinggali.

07.07.17

Gimme 5: Andika Surya

oleh: Muhammad Faisal Andika Surya dikenal sebagai gitaris dari unit chaotic-hardcore, ALICE dan kini dengan moniker barunya, Collapse yang bermain indie/alternative rock. Namun ternyata di luar itu, Dika menggemari musik buatan Frank Ocean. Kali ini, melalui Gimme Five, Andika menuturkan lima lagu terbaik Frank Ocean versinya. Berikut adalah daftar lengkapnya. Setelah melihat tweet dari Tyler The Creator yang merekomendasikan lagu ini, saya langsung dengerin dan ini lagu pertama yang membuat saya jatuh cinta sama album Blond(e). Aransemennya lembut, part pianonya hypnotize banget. Saya repeat 8-10 kali sebelum move on ke lagu berikutnya. Dan hanya Frank Ocean yang bisa memanggil Beyonce untuk dijadikan backing vocal di lagu ini. Bagian lagu hanya layer-layer suara latar saja, gak terlalu dipaksakan namun on point. Di samping itu otak di balik lagu ini adalah Pharrell jadi gak diragukan lagi kualitasnya Klasik. Biasanya akan terasa aneh untuk pengalaman pertama kali mendengarkan lagu Frank Ocean, namun setelah yang kedua kali akan bikin ketagihan; apalagi opening piano + beats-nya buat saya itu memorable banget, dan ending di verse bagian 1 itu ngena banget. Di samping itu Frank Ocean mereferensikan sutradara favorit saya, Gaspar Noe di lirik verse bagian 1. Lagu ini pun menjelaskan mengenai sexual identity dia. Pertama kali denger lagu ini saya skip karena terlalu stagnan. Tapi setelah diulang-ulang saya makin suka dan ternyata letak keindahannya itu ada di kestagnanan itu sendiri, plus liriknya yang kuat. Entah kenapa secara emosional saya terkoneksi dengan lagu ini. Oiya, jangan lupakan kalo lagu ini adalah lagu putus cintanya dia dengan seorang model. Emo shit. Pertama kali dikenalkan sama Frank Ocean ya lewat lagu ini. Lagu yang membuat saya jatuh cinta sama dia. Yang bikin saya melongo dan melamun yaitu dari departemen liriknya yang deep banget; ketika dia melakukan sebuah pengakuan pada supir taksi di kursi belakang taksi mengenai cinta dia dengan seorang pria yang bertepuk sebelah tangan. Lagu ini dibagi menjadi 3 bagian yang nuansanya berbeda-beda. Di verse bagian 2 adalah part paling ajaib dari lagu ini. Ketika beat switch drop saya langsung merinding. Dan di sini Frank Ocean benar-benar explore sampai struktur lagu dan beat yang non-tradisional. Menurut saya ini lagu paling powerful di album Blond(e) dari segi musikalitas dan lirik.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.