20.11.17

Imaginary City

Sekian tahun setelah kumpulan cerita pendeknya, Rain Chudori merilis novel pertamanya yang berjudul “Imaginary City.” Kali ini Rain mengajak kita melihat dan bertemu Jakarta di ruang paling personalnya.

Loka Suara
10.11.17

Joling

Episode Loka Suara ini merupakan tribut bagi Cholil Mahmud, vokalis sekaligus gitaris di Efek Rumah Kaca/Pandai Besi. Berikut adalah beberapa lagu yang melibatkan suara, cipta dan pikirnya. Tracklist: 01. Efek Rumah Kaca - Melankolia 02. Blackstar - Abnormal Aku 03. Sarasvati - Mirror 04. Dialita - Lagu Untuk Anakku 05. Merah Bercerita - Bunga dan Tembok 06. The Kuda - Hantu Laut 07. Zeke Khaseli, Yudhi Arfani, dkk - Lazuardi 08. Tigapagi - Pasir 09. Indie Art Wedding - Cinta Itu Sengit

Soundclass
31.10.17

Amanda Yadi (Lekat)

Amanda Yadi is a fun and pleasant person as well as the founder and designer for Lekat, a fashion brand that focuses on timeless pieces while raising the profile of Indonesian garment and jewelry tradition. A year into production, the brand has already made itself available in several major stores. For more information, visit Lekat’s facebook page. Amanda recently visited Whiteboard Journal’s HQ to talk to our host, Bergas, about 5 songs that have personal stories behind them – and this is quite the interesting selection. Have a listen and enjoy the music and stories! 01. Billie Holiday – You Go To My Head 02. The Temptations – My Girl 03. The Matthew Herbert Big Band – The Audience 04. Susan & Ria Enes – Ditimang Timang 05. Warkop – Mama Yo Quiero

Heart Attack
27.10.17

Vol.35 – Moshers Delight

Well what can I say about this notoriously well reputable modern classic label from DC? If you’re looking for no-bullshit hardcore, say no more ‘cuz Moshers Delight is here to serve you right. Born out of love for the subculture itself, two best friends Zachary Wuerthner & Crucial John started hardcore fanzine which would eventually be a record label as well. So far they’ve released quite a handful of releases in tape format. So here’s a glimpse of what Moshers Delight is all about, enjoy! Tracklist: 1. Might - Intro 2. Shrapnel - Deserve 3. Faze - time 4. Corrective Measure - Resort to Violence 5. The Real Cost - Make Your Move 6. Freedom - Debt Not Repaid 7. Burst of Rage - Lightning Struck 8. Step for Change - Fuel the Machine 9. Unified Right - Cashin That Check 10. Wild Side - No Man’s Hoe 11. Direct Impact - Might/NLY 12. Higher Power - Reflect 13. Clear - Clown House 14. Free At Last - Full Steam 15. Big Contest - The Sad Fact 16. Intent - I.G Stomp 17. Fury - Day Today

23.10.17

Review: Fazerdaze Live in Jakarta

Dua-tiga tahun terakhir, ada gejolak baru di skena musik. Gejolak itu berwujud dalam kehadiran band-band baru yang muncul dengan identitas kuat perempuan di dalamnya. Ini jelas bukan hal baru, tapi yang paling menyenangkan adalah kuantitasnya yang bertambah - dan dengan itu - semakin banyak pula warna di dalamnya. Tahun lalu, ada Mitski, Mourn, Mannequin Pussy, Strange Relation, Weyes Blood, hingga Noname yang menempati titik-titik tertinggi album terbaik 2016. Tahun ini pun sama adanya, sepuluh bulan berjalan, telah banyak musik bagus lahir dari tangan dan pikiran perempuan. Amelia Murray adalah salah satu yang menyumbangkan suara. Bermain dengan moniker Fazerdaze, Amelia adalah salah satu talenta terbaik yang tumbuh di antara pegunungan Selandia Baru. Musiknya sederhana namun tajam mengena. Rilisan penuh pertamanya, “Morningside” dengan mudah menjadi album yang menyenangkan dan bahkan saat kali pertama mendengarkannya. Meski begitu, cukup mengejutkan saat mengetahui tiket konser ludes selang beberapa hari sejak penjualan. Ini menunjukkan bahwa ada permintaan yang tinggi pada untuk bermain di Jakarta, juga kejelian tiga kolektif, 630 Recordings, Noise Whore dan Studiorama untuk membawa Amelia pulang ke separuh pertiwinya (di akhir tahun ketiga kolektif ini akan mengundang unit noise rock seminal, A Place To Bury Strangers). Tapi poin terbaik konser ini bukan di situ. Poin terbaik dari konser sabtu malam kemarin ada pada bagaimana band yang tampil merepresentasikan gejolak baru skena musik yang juga sedang berkembang di lokal. Tiga band yang dipersilakan tampil adalah band dengan vokalis/gitaris perempuan yang tampil dominan. Sharesprings - salah satu representasi indie pop Jakarta terbaik menurut kami - tampil sebagai pembuka. Grrrl Gang - band muda potensial asal Yogya - tampil berikutnya. Ini adalah sekaligus motivasi yang menarik - dengan memberikan panggung pada perempuan-perempuan ini, penonton diajak untuk melihat bahwa ada kesempatan yang sama bagi semua untuk berkarya. Poin ini kemudian digarisbawahi dengan tebal oleh Amelia dan kawan-kawan saat mereka membawakan lagu penutup yang membuat lantai atas Rossi bergetar dengan semua pengunjungnya - baik laki-laki maupun perempuan - sejenak melupakan bias gender dan melafalkan lirik lagu “Lucky Girl.” Sepanjang dan sesudah acara, ada binar pada mata dan senyuman Amelia. Sepertinya ia puas dan bahagia dengan penampilannya di Jakarta. Rasa-rasanya senyum yang sama juga akan dengan mudah ditemukan pada paras semua penontonnya.

17.10.17

Arahan Menyegarkan dari Film Posesif

Biasanya saat seorang sutradara beralih jalur menjadi sutradara film ada dua yang terbayang, sutradara tipe pertama akan meninggalkan sama sekali latar belakangnya sebagai sutradara film nyeni dan menukarnya dengan perspektif khalayak umum, filmnya mungkin akan sukses, tapi dengan itu ia akan pelan-pelan melupakan estetika lamanya. Opsi kedua adalah dengan pendekatan di film yang ditujukan untuk publik luas, yang satu ini nya cukup jelas, film akan tak sesuai harapan dan gagal di pasaran. Edwin, dalam hal ini menemukan jalan tengah yang pas di film "Posesif." Ia dengan cukup baik bisa mengubah cara pandangnya dari sutradara yang membuat dahi berkernyit, menjadi sutradara yang mampu mengaduk emosi penonton di “film bioskop” pertamanya. Yang membuat film ini menarik adalah bagaimana Edwin tetap menyisakan pendekatan yang biasa ia gunakan dulu di film rilisan Babibuta di layar perak bioskop 21. Salah satu kekuatan utama film "Posesif" ada pada bagaimana Edwin serta sang penulis naskah, Gina S. Noer (Perempuan Berkalung Sorban, Habibie & Ainun) dengan berani menempatkan tokoh perempuan dalam film ini sebagai tokoh utama yang menentukan alur cerita. Tokoh Lala (diperankan dengan baik oleh artis pendatang baru, Putri Marino) hidup sebagai sosok yang tak hanya berlaku sebagai objek, ia juga diberi ketangguhan untuk bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. yang berharga. Sebuah hal yang masih jarang ditemui di film-film lokal. Kekuatan kedua yang dimiliki film ini juga ada pada bagaimana Edwin beserta tim Palari Films dengan jeli mengangkat tema mengenai topik penting, mengenai hubungan antara manusia dan bagaimana tarik-menarik di antaranya bisa jadi destruktif. Sebuah masalah yang terdengar remeh, namun tak jarang menjadi muara masalah-masalah besar yang ada di sekitar kita. Tapi yang jelas, keberhasilan utama film ini adalah pada bagaimana arahan dan tema penting di atas disampaikan dalam penuturan pop yang menyasar pada penonton usia muda. Dan dalam hal ini, film "Posesif" adalah film yang , ia menyentuh saat bertutur tentang kisah kasih, mencekam saat bercerita tentang horor, juga bisa memancing empati saat berkisah tentang haru. Diselipkan juga di ceritanya. Membuat "Posesif" tampil sebagai film yang layak ditonton siapa saja yang merindukan kualitas pada film Indonesia. Hal menyenangkan lain dari film ini adalah pemakaian salah satu lagu terbaik lokal, Banda Neira - Sampai Jadi Debu yang terasa semakin megah dan menggugah dengan tata suara bioskop. Jangan lupakan pula sekilas penampilan Ismael Basbeth yang sangat mencuri perhatian. Dalam perjalanan menuju teater, kami sempat membicarakan bagaimana Indonesia kekurangan film yang bisa memuaskan khalayak dan secara bersamaan. Di mana penonton film pada umumnya, dan penonton film yang menuntut lebih dari film yang ditontonnya, bisa keluar dari pintu teater dengan senyuman yang sama. "Posesif" jelas bukan film yang sempurna, tapi arahan yang ada di sini membuka kesempatan untuk menuju ke sana.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.