Penantian publik akan pembukaan privat Centro Botin karya Renzo Piano akhirnya terjawab. Kontroversi pembangunannya yang mendapat begitu banyak kritikan terkait lokasinya yang dinilai tidak ramah lingkungan hanya memperbesar kegelisahan dan pertanyaan akan nasib proyek besar Piano yang pertama di Santander, Spanyol ini. Ditambah lagi dengan tekanan akan kompetisi ketenarannya dengan Museum Guggenheim Bilbao yang sudah lebih dahulu meroket ketenarannya di dunia galeri seni.
Namun nyatanya satu-satunya pertanyaan yang muncul kini ialah mampukah seni yang terpajang di dalam Centro Botin menyaingi keindahan bangunan yang menjadi rumahnya. ‘Keterbukaan’ yang menjadi ciri khas dari Piano terpampang dengan frontalnya, baik pada interior maupun eksterior bangunan, kental dengan elemen metalik dan bagian-bagian yang seharusnya bersembunyi justru menolak untuk disembunyikan, seperti ventilasi udaranya.
Sebuah kompetisi eksotika yang menyulut rasa penasaran bagi masa depan semua jenis seni yang dirumahkan di dalam Centro Botin. Mungkin tanpa perlu terlalu lama berekspektasi, melihat kemewahan ini saja sudah cukup untuk memuaskan kehausan akan keindahan sebuah karya seni.
Bagaimana jadinya apabila komposisi psychedelic dimainkan oleh sekelompok pemuda yang menolak tunduk pada takdir memainkan bola sepak di negara terbesar Amerika Selatan? Satu kata yang mampu menggambarkannya; menggairahkan.
Secara pondasi, psychedelic sendiri sudah menyediakan tingkat adiksi luar biasa tatkala telinga perlahan mendengarkannya. Lantas, lewat tangan keempat pemuda yang menamakan dirinya sebagai Boogarins ini, psychedelic dipoles dengan aroma tropis khas Samba. Sensual sekaligus memberi efek tak terkira.
Boogarins pertama kali dikenal saat meramaikan Big Ears Festival di Knoxville, Tennessee. Publik langsung dibuat terpana oleh kemampuan mereka meramu musik yang langka dan penyampaian bahasa di luar kewajaran (Boogarins menggunakan bahasa Portugis di setiap lagunya).
Hingga tiba masanya, euforia penggemarnya tetap terjaga dengan kabar rilisnya album mereka yang berjudul La Vem a Morte pada 9 Juni lalu. Corak musik mereka tetap berada di bawah orbit keaslian. Meski sempat membuat lagu berbahasa universal melalui “A Pattern Repeated On,” namun Boogarins kembali berpijar di akar rumput nenek moyang; Portugis.
Walaupun demikian, keputusan Boogarins untuk bernyanyi dalam bahasa ibu bukan tanpa sebab. Boogarins ingin menegaskan bahwasanya di dalam semesta yang luas kita terkadang dihadapkan pada realita membingungkan. Termasuk ketika harapan tak jadi kenyataan. Oleh karena itu, lewat lagu-lagunya Boogarins mengajak kita untuk melihat cakrawala dalam perspektif luas seraya berkata; dunia tak sesempit itu.
Latar belakangnya di psikologi tidak membatasi kurator muda asal Filipina, Renan La-ruan dalam mengkritisi karya seni dengan riset dan standar berbeda. Whiteboard Journal menemui Renan sebelum pameran OK. Video: OK. Pangan untuk menanyakan pandangannya tentang sifat video art dan politik pangan yang kini seksi dikembangkan menjadi sebuah karya seni.
Ruci Art Space membuka pameran berjudul “I too am untranslatable” pada tanggal 14 Juli lalu. Pameran tersebut dikuratori oleh Roy Voragen yang melibatkan empat seniman asal Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Setiap seniman menampilkan keahliannya masing-masing; Deden Durahman (fotografi), Jabbar Muhammad (seni lukis), Kevin Atmadibrata (seni pertunjukan), serta Theresia Agustina Sitompul (instalasi).
Pameran ini mengeksplorasi perjalanan tiap artis untuk meleburkan batasan dan kebebasan tubuh tanpa mempengaruhi satu sama lain. Deden Durahman menampilkan dua seri yang membahas representasi diri sekaligus memperlihatkan krisis dalam kondisi terkini masyarakat. Kemudian Jabbar Muhammad meneruskan fokus yang sudah digarap sejak 2015 bertajuk Eve, yakni tentang konsep dualisme antara model maskulin dan feminin.
Kemudian Kelvin Atmadibrata menyuguhkan karya yang menautkan seni pertunjukan, kolase kertas, dan narasi cerita pribadinya. Terakhir, Theresia Agustina Sitompul menunjukan sepasang jalinan keterkaitan di tengah terjangan delusional yang kerap menghampiri pikirannya sembari mempertanyakan sensibilitas pikir dalam medium berkesenian.
Keikutsertaan Ruci dalam mendukung pameran ini adalah untuk membantu meningkatkan kesadaran terhadap seni budaya Indonesia yang terus berkembang. Di lain sisi, Ruci ingin berandil dalam menciptakan sebuah wadah antara seniman dan publik dengan menyediakan ruang bereksperimen, mengembangkan, serta mengubah gagasan menjadi simbol maupun objek yang representatif.
-
14 Juli - 13 Agustus 2017
Senin-Minggu
11:00 - 19:00
Ruci Art Space
Jl. Suryo No. 49
Jakarta
Sebuah emosi yang menghasilkan inspirasi memang tidak terbatas, ia bisa berasal dari mana saja dan datang kapan saja. Menginterpretasikan emosi dan jiwa dari Istanbul mendorong Xavier Thomas alias Debruit untuk menumpahkan ilhamnya ke dalam sebuah materi baru, Gelecek. ‘Warna’ kontradiktif dari Istanbul, yang merefleksikan kejayaan masa lalu dan optimismenya akan masa depan, serta keindahan dari sedikit bumbu kegelapan darinya menjadikan Instanbul sebuah komposisi yang multimensional sendiri. Sebuah pengaruh yang pada akhirnya menyulut imajinasi nan liar yang menyertai interpretasi akhir dari Debruit.
Hasilnya ialah Gelecek yang turut mewariskan warna liar tersebut dalam tiap nada dan alurnya. Sebuah musikalisasi akan Istanbul yang tak berkata, namun tetap bisa dengan cukup jelas memberikan tidak sedikit goresan akan warna yang dimaksudkan Débruit di dalamnya di benak para pendengarnya. Gelecek sendiri bisa menjadi bukti bahwa memang tiap kota memiliki ‘kepribadian’-nya tersendiri, yang bisa menjadikan sebuah inspirasi bagi karya yang bisa ‘berbicara.’
Sebuah serial padat dengan isu dan tren masa kini bisa menjadi rangkuman tepat untuk Easy. Menonton pertamanya serasa menyaksikan kehidupan dan para "orang dewasa" yang mencoba untuk bertahan bersama di zaman yang terus bergerak. Tentunya batasan dalam lingkungan sosial yang biasa kita hadapi menjadi lebur di sini. Bukan berarti karena Easy sekadar fiksi yang menggemborkan peleburan dunia maya dan nyata atau percintaan sesama jenis, namun dikarenakan tiap individu yang menjadi sentra cerita saling terkait membuat penonton berspekulasi - mungkin memang orang asing di antara kita selama ini terkait satu sama lain.
Melihat banyaknya elemen yang sepatutnya mendapatkan porsi lebih - ada salah satu episode yang diisi oleh Emily Ratajkowski sebagai penggila - serial ini memiliki daya tarik lebih. Tiap episode mampu memberikan kesan dan lebih tepatnya merasa kalau transisi dan revolusi teknologi yang terjadi saat ini sesungguhnya mampu membuat siapapun terlena atau bahkan merugi. Butuh konteks yang pop? Coba pikir kembali fungsi Tinder lalu tonton episode 6.
Easy (2016)
Sinopsis: Cerita tentang sekelompak orang segala umur di Chicago yang terlibat dalam hubungan penuh dengan modernitas dalam hal seks, teknologi bahkan kultur. (IMDb)