09.08.17

Forum Seni bersama Hafiz Rancajale

Setelah menjadi salah satu founding fathers ruangrupa, Hafiz Rancajale beralih menjadi pendiri Forum Lenteng yang menjadi titik balik akan ketertarikannya terhadap ranah media. Whiteboard Journal menemui Hafiz untuk membahas perannya sebagai kurator, impresi ruangrupa di mata publik hari ini, sampai konsep "going internasional" di antara seniman.

08.08.17

The Seen and Unseen

Jika sempat menungjungi Art Jog kemarin, ada sebuah karya interaktif yang mengajak pengunjung untuk merangkak ke dalam ruangan dengan instalasi sawah dan bulan berpendar. Itulah karya dari Kamila Andini bersama Ifa Isfansyah yang mengambil salah satu dari film terbarunya, “The Seen and Unseen.” Bukan hanya itu saja kejutan yang datang dari Andini, tapi ia kembali menorehkan cerita baru, dan kali ini tidak hanya pada dunia film lokal, tapi juga internasional - tepatnya Toronto, sebab film tersebut menjadi satu-satunya film dari Asia yang akan tayang perdana dan berkompetisi dengan 11 film lainnya di dalam sesi Platform di Toronto International Film Festival 2017 (TIFF). Adapun yang membuatnya spesial adalah sesi Platform yang merupakan sesi kompetisi paling prestisius di ajang festival tersebut. Pada film panjang keduanya ini, Andini membahas isu perempuan yang dikemas dengan cerita antara Tantri dan Tantra dalam pengalaman spiritual mereka yang sarat dengan kearifan lokal, mitos, cerita rakyat, tradisi, serta budaya Bali. Hadir dengan banyak elemen yang menempel pada isunya serta atmoster lokal, wajar jika Platform meloloskan film ini di antara jaajran film kelas dunia lainnya dari Eropa, Inggris, dan Amerika. Diproduksi oleh Treewater Productions dan Fourcolours Films serta diproduseri oleh Gita Fara dan Ifa Isfansyah, “The Seen and Unseen” menjalani proses produksi selama 5 tahun dan mendapatkan berbagai dukungan, antara lain dari Hubert Bals Fund (Belanda), Asia Pacific Screen Awards Children’s Film Fund (Australia), dan Cinefondation La Residence (Perancis) dalam proses pengembangan. Selain TIFF, film ini juga berkesempatan dipresentasikan dalam Hong Kong Asia Film Financing Forum, Filmex Talents Tokyo dan Venice Production Bridge. Pada pemutarannya di TIFF kali, Andini akan menghadapi juri handal - Chen Kaige, Malgorzata Szumowska, dan Wim Wenders - yang akan mengumumkan pemenang pada seremoni penghargaan tanggal 17 September 2017. Pemain dan Kru Produksi: Pemain: Thaly Titi Kasih, Gus Sena, Ayu Laksmi, I Ketut Rina, Happy Salma Penulis Skenario: Kamila Andini Penata Kamera: Anggi Frisca Penata Artistik: Vida Sylvia Editor: Dinda Amanda, Dwi Agus Sound: Yasuhiro Morinaga, Hadrianus Eko Musik: Yasuhiro Morinaga

08.08.17

Tephlon Funk: Anime ala New York

Semenjak merilis manga “Tephlon Funk” pada tahun 2015, Stephane Metayer, sang pembuat manga, telah berhasil menarik perhatian Willow Smith dan rapper Nas. Komik ini sendiri terinspirasi oleh Nas, di mana latarnya menggunakan kampung halamannya, yaitu Queensbridge. Setelah melihat kesuksesan manganya, Metayer ingin membawa karyanya ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu menjadikannya menjadi sebuah anime. Metayer pun bekerja sama dengan D’Art Shtajio untuk membuat sebuah animasi Animasi 50 detik itu diharapkan akan mendapatkan perhatian studio-studio besar yang mau menjadikannya sebuah anime Jika Metayer berhasil, “Tephlon Funk” akan menjadi anime pertama yang berlatar belakang di kota New York, dan juga yang pertama di mana karakter utamanya adalah orang kulit hitam. ini sendiri kurang lebih hanya mengenalkan empat karakter utamanya, yaitu Gabriel, Cameron, Giselle, dan Inez. Keempat karakter tersebut dipamerkan melewati adegan-adegan aksi seperti membawa pedang, pistol, dan kehebohan lainnya. Karena berlatar belakang di Queensbridge, manga ini menyentuh tema-tema kehidupan urban dan tentunya hip hop, maka tidak heran jika banyak penggemarnya yang membandingkan tersebut kepada “Samurai Champloo”dan “Cowboy Bepop”.

08.08.17

Petualangan Urban di Macao

Macao adalah destinasi wisata yang penuh dengan situs bersejarah dan subkultur beragam. Kami menelusuri beberapa titik menarik di Macao dengan daya tarik urban untuk para wisatawan yang mencari pengalaman unik dalam waktu 7 hari. Artikel ini disponsori oleh Wego, situs travel yang menawarkan harga terbaik untuk hotel dan tiket pesawat yang akan melengkapi rencana perjalanan Anda.

07.08.17

Kilas Balik Musik Lawas dalam Malam Gembira

Sebuah terhadap kejayaan skena musik Indonesia di era 60-90an ini mungkin bisa menjadi yang ditunggu-tunggu bagi penggemar musik lokal lawas yang sering merasa berada di dekade yang salah. Dengan tema “Merayakan Karya Guruh Sukarno Putra,” Malam Gembira menampilkan segelintir lagu-lagunya yang di antaranya dinyanyikan oleh beberapa musisi muda seperti Glenn Fredly, Kunto Aji, Bonita, Aimee Saras, dan masih banyak lagi, namun tidak lupa dengan turut menampilkan beberapa penyanyi asli dari lagu-lagu legendaris tersebut seperti Vina Panduwinata, Djajusman Djoenoes, Tika Bisono, Bornok Hutauruk, dan Keenan Nasution. Sensasi bernostalgia dengan sederet lagu yang turut meromantisasikan ragam karya Indonesia yang hampir hilang tergerus zaman ini juga diramaikan dengan penampilan dari Swara Maharddhika yang jejaknya sudah melegenda, dan masih ada beberapa nama lainnya seperti Irama Nusantara & Semarak Nada serta Kinarya GSP. Dengan berusaha memadukan audiens mulai dari kaum muda yang memiliki kecintaan pada era lawas musik lokal hingga generasi sebelumnya yang ingin menostalgiakan masa muda yang memang dihiasi judul-judul karya yang ditampilkan, Malam Gembira bisa menjadi bukti bahwa kejayaan musikal lawas yang dirayakan disini menjadi lintas batas waktu. - Jum’at, 18 Agustus 2017 The Pallas, Fairgrounds 18:30

07.08.17

Quick Review: Le Clitoris

Barangkali tanggapan pertama hanya dari membaca judul dokumenter singkat ini berat dengan prejudis ketabuan. Namun kenyataannya animasi singkat karya Lori Malepart-Traversy ini jauh dari penggambaran-penggambaran sensual ataupun frontal secara seksual. Yang akan ditemukan hanyalah animasi lugu bernuansa merah muda yang dengan secara komikalnya menjelaskan sejarah dan kultur yang menyangkut organ seksual perempuan yang menurut Le Clitoris tujuannya hanyalah untuk kenikmatan. Bisa dikatakan dokumenter ini menghantar siapapun yang menontonnya, khususnya perempuan, untuk mendapat informasi unik yang mungkin atau tidak dapat berguna di kemudian hari. Pembahasan bergambar mengenai organ klitoris, yang semula pasti disangka hanya akan berbau sensualitas dan ketidaksenonohan oleh banyak orang, justru secara alami, cukup komedik, dan cantik berhasil dilakukan oleh Lori. Mungkin justru dapat menyulut suatu rasa penasaran akan mengapa sulit sekali sepertinya mengangkat tema yang seharusnya menjadi bagian dari kealamian anatomi manusia kepada publik karena terlalu cepat dinilai sebagai sesuatu yang tabu atau terlarang. Karena justru dengan mengabaikannya, mungkin kita akan melewatkan informasi penting yang dapat menghantarkan kita pada suatu kunci akan sebuah kenikmatan yang siapa tahu bisa menjadi serbaguna tersendiri. Sutradara: Lori Malepart-Traversy Sinopsis: Sebuah dokumenter singkat yang menjelaskan sejarah dan budaya tentang organ klitoris pada perempuan.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.