Mungkin sudah makin banyak yang menjadi familiar dengan Muji, toko ritel furnitur asal Jepang yang gerainya sudah sejak beberapa waktu lalu ditemukan di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta. Nuansa minimalis dan rapi namun tetap menyuguhkan kenyamanan, menjadi ciri khas dari perabot dengan label ternama ini, yang tidak pernah gagal memikat hati para pecinta perabot cantik serbaguna.
Barangkali akan menjadi sebuah kabar baik pagi siapa saja yang selama ini tergiur dengan pesona perabot Muji, namun baru berkesempatan untuk menguji kenyamanannya di toko. Pasalnya, Muji berencana untuk membuka hotel pertamanya di Shenzhen, Tiongkok pada akhir tahun ini, dengan 79 kamar dilengkapi perabot khasnya demi menciptakan interior dari kayu daur ulang. Disusul dengan akan dibukanya hotel yang sama di Chuo City, Tokyo, Jepang pada 2019, tidak menutup kemungkinan bahwa kesempatan untuk mencicipi nuansa minimalis nan elegan dari Muji akan semakin meluas di belahan dunia lainnya.
Setelah Type Directors Club (TDC) menginjakkan kakinya pertama kali di Jakarta, Indonesia pada tahun 2010 lalu dan mendapat respon besar, pada episode ke-62, TDC kembali berpameran di Jakarta mulai tanggal 14 Agusutus mendatang; dan sama seperti sebelumnya, menjadi ajang berisi karya terbaik dari desainer dunia yang dikurasi secara ketat lewat kompetisi TDC guna mempersembahkan pameran berkualitas. Adanya identitas kuat di tiap karya yang terpilih, membuat pameran ini kaya referensi dan menarik dalam menginterpretasikan secara progresif.
Pada tahun 2010 sendiri, terdapat sekitar 1500 peserta yang mendaftarkan diri mengikuti kompetisi TDC dan tercatat ada 32 negara yang berpatisipasi, antara lain seperti Australia, Austria, Kanada, Cina, Inggris, Prancis, Jerman, India, Jepang, Korea Selatan, Macau, Belanda, New Zealand, Norwegia, Portugal, Slovenia, Spanyol, dan Switzerland. Tahun ini telah terpilih karya-karya kontemporer dari puluhan negara yang akan dipamerkan di IDDC, Jakarta dengan layout display yang memaksimalkan ruang, guna memberikan pengalaman baru dalam merespon desain grafis maupun menelaah makna maupun estetika di baliknya.
Diurus langsung oleh Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) dengan bantuan John Kudos dari KUDOS.NYC, TDC62 tidak hanya akan menampilkan pameran, tapi juga seminar dengan para ahli desain grafis internasional yang secara eksklusif digelar saat pembukaan. Mengangkat tema-tema krusial dalam ranah desain disertai pendekatan menarik, seminar ini akan menjadi wadah diskusi bagi para praktisi maupun penikmat desain grafis secara umum. Adapun seminar ini akan dibagi menjadi 2 sesi, pertama dengan John Kudos yang akan membahas perkembangan bisnis desain saat ini dan bagaimana cara desainer lokal untuk tetap progresif ketika bersaing di medan internasional. Kedua akan ada sesi bersama Gumpita Rahayu dengan tema seluk beluk industri di Indonesia.
Sebagai 2 orang desainer grafis yang hadir dengan karya inovatif dan mampu menembus pasar internasional, Kudos dan Gumpita menjadi sebagian contoh bagaimana desainer grafis dapat menciptakan karya yang terinkorporasi dengan segala disiplin dan ranah, mulai digital hingga
-
14:20-15:00 John Kudos: ‘Shifting Design Business – How local designers compete in international setting’
15:00-15:40 Gumpita Rahayu: ‘Seluk Beluk Industri Tipografi di Indonesia’
RSVP: bit.ly/TDC62JKT
14 Agustus - 6 September 2017
Senin-Jumat
10:00-17:00
IDDC
Jl. Letjen S. Parman No.112
Jakarta
Proyek terbaru dari seorang desainer asal Inggris, Johanna-Maria Parv, menjadi sebuah pembuktian baru bahwa tidak selamanya pakaian memiliki fungsi untuk ‘membatasi’ sesuatu. Parv mencoba menyuguhkan sebuah bentuk baru dari konsep berpakaian; bahwasanya pakaian yang menyelimuti tubuh selayaknya bisa tetap memberikan ‘ruang gerak’, khususnya bagi perempuan.
Dengan mengkombinasikan tren mode era akhir 1800-an hingga awal 1900-an dengan nuansa pakaian untuk bersepeda, mungkin butuh upaya sedikit lebih keras untuk memahami alterasi-alterasi potongan pakaian yang dibuat Parv untuk menyamankan pemakainya. Melalui sebuah karya yang memang memiliki keunikan dan karakternya tersendiri, Parv mencoba mengeksplorasi ide bahwa liberasi bisa dimulai semudah dari cara pakaian disuguhkan bagi perempuan.
Mungkin keindahan yang ada dalam koleksi Parv terletak pada ekspresinya yang luar biasa. Terinspirasi dari feminisme dan fungsi sosial, peleburan potongan pakaian klasik dan aksesoris yang tidak lazim ini memang layak dilihat sebagai sebuah gerakan progresif terhadap persepsi akan keharusan berpakaian bagi perempuan. Bahwasanya seiring berjalannya waktu, mungkin sebuah kebiasaan harus bisa berjalan bersamanya.
Jika biasanya saat bertemu seorang DJ atau Music Director, pertanyaan yang disiapkan adalah tentang referensi lagu, kali ini bersama Glen Nanlohy ada baiknya kami menanyakan soal makanan. Alasannya sederhana - setidaknya bagi mereka yang mengenalnya lebih jauh - karena Glen suka sekali mencoba dan mencari makanan terbaik, namun tidak harus mahal. Baginya, makanan yang nikmat adalah makanan yang bisa dibilang underrated dan apa adanya. Berikut adalah 5 spot kuliner alias “happy 5” versi Glen yang tersebar dari Tokyo hingga Glodok. Tapi maaf tidak ada visual makanannya, jadi silahkan dibayangkan dari komentar Glen yang bisa dipercaya.
Ini enak banget sih hahahahah. Mau bilang apa ya, saja: E N A K !
Lokasinya agak di , yakni Otsuka area, dekat Stasiun Otsuka. Karena ada di area, jadi agak carinya sih dan di dalamnya cuma muat mungkin 10 orang aja. Jadi, di luar antrenya panjang banget (tertawa).
Alamat: 2-34-4 Minami Otsuka | SKY Minamiotsuka, Toshima
Ini juga enak banget. Sebenarnya saya lebih suka ini daripada Nakiryu. Cuma ini susah sekali mencarinya (tertawa). Ini Black Sesame Ramen yang pernah saya coba.
Alamat: 1-17-12 Chuo-cho, Meguro-ku, Tokyo 152-0001
Ini bebeknya enak banget. Kalo ke sini pesannya Roasted Goose + barbecue pork on top. Jadi bentuknya seperti bebek, lagi ditomprok sapi (kaki pendek) (tertawa).
Alamat: 32-40 Wellington St, Central Hong Kong
Dagingnya bersih semua, seporsinya banyak banget isinya, dan jangan lupa minta ekstra sum sum (bagi yang suka). Tempatnya banget, jadi yang madam-madam pakai sepatu hak tinggi, lebih baik tidak usah ke sini deh.
Alamat: Jl. Pancoran, Gang Gloria No.12A, Glodok,, Tamansari, Jakarta
Cuma lokasinya di Sanur, bukan di keramaian Seminyak dan sekitarnya (which makes it good). Makanannya sederhana tapi enak semua. Antrean buka dari jam 8 pagi, jadi, kalau kesiangan ya aja. Jangan lupa minta ekstra kulit ayam!
Alamat: Jl. Segara Ayu, Sanur, Denpasar Sel., Kota Denpasar, Bali 80227
Bagi penyuka hiburan layar lebar yang memicu sensasi pembuat jantung berdebar kencang alias thriller, mungkin judul yang satu ini bisa ditambahkan ke dalam daftar tontonan tahun ini. Video trailer pertama dari film thriller, horror dan misteri arahan Tomas Alfredson ini akhirnya rilis, yang menampilkan potongan-potongan adegan pertama dari kisah pembunuh berantai yang berasal dari novel ternama karya Jo Nesbo ini.
Menampilkan sederet talenta yang tidak kalah ternama seperti Michael Fassbender, Rebecca Ferguson, J. K. Simmons, dan beberapa nama lainnya dan akan dirilis pada 13 Oktober mendatang, barangkali yang terbaru dari Alfredson ini bisa diantisipasikan sebagai thriller dengan sinopsis yang walaupun bisa disebut klise, mungkin akan menampilkan angle dan perspektif baru yang segar dan layak untuk dinantikan, khususnya bagi yang selalu merasa membutuhkan ‘cemilan’ baru untuk memuaskan kebutuhannya akan hiburan yang memicu adrenalin.
Ialah seorang arsitek lokal dengan nama Budi Pradono yang menghiasi sebuah bukit di Lombok dengan kontainer melayangnya di atas sebuah rumah mewah. Disebut sebagai Clay House atau juga sebagai Seven Havens Residence, kreasi Budi memang dapat dipandang sebagai sebuah pencakar langit yang justru tidak berkonotasi negatif selayaknya sebuah pengganggu pemandangan, melainkan sebagai sebuah perwujudan seni yang menjadi sebuah penarik perhatian di antara lahan hijau sekitarnya.
Dengan harapan akan memembantu menonjolkan daerah sekitarnya yang masih berkembang, ikonisasi dari Seven Havens Residence memang perlu digarisbawahi usahanya, mulai dari penggunaan kontainer barang setinggi 2.2 meter yang berasal dari pelabuhan pulau tetangga, tanah liat pada dinding yang diambil hanya 20 km dari lokasi dan diolah dengan keterampilan tenaga lokal, serta bambu yang telah dipreservasi sedemikian baiknya untuk menghias interiornya. Masih banyak lagi material lainnya yang menghiasi tiap sudut rumah, yang jika diusut satu per satu asal dan tujuannya mungkin hanya akan membuat terkesima akan kemampuannya menyempurnakan Seven Havens Residence yang arsitekturnya mendekati kata “sempurna.”
Sebuah ikon yang memang berupaya untuk mengikutsertakan unsur lokal sekitarnya dalam aktualisasinya menjadi sebuah penarik perhatian yang lagi-lagi demi menyorot daerah sekitarnya. Kreasi terkini Budi memang tidak sembarangan dalam menjunjung tinggi nilai lokal.