At first, the term “Synthesizer Girlfriend” might come of as confusing and not common enough to replay in your head. But after you actually give it a listen, you might feel differently about Soul Clap’s latest single, which not only contains really rhythmic beats, but also is actually really catchy to vibe along to. Nothing but positive energy is definitely what comes off “Synthesizer Girlfriend.”
Perhaps Soul Clap is trying to get into the audience’s soft spot for this catchy dance anthem, and surely it’s working for most. Accompanied with an equally vibrant, colorful music video, the single makes it only tempting to keep out for more from Soul Clap. Combining smooth-sounding vocals with a dash of electric feels on the repeated chorus, it may take a while to finally have enough of this latest work of theirs.
Sekilas mungkin akan diasumsikan sebagai sebuah gedung yang belum rampung atau sekilas terlihat sebagai sebuah gedung yang sedang bersembunyi. Namun kenyataannya, gedung bernama Dar Al Jinaa yang menjadi gedung pertama yang siap dipakai sebelum gedung serupa bernama Dar Al Riffa, bukanlah sebuah gedung yang ingin menyembunyikan apapun. Namun, tirai besi ringan yang secara utuh jatuh di atasnya hanya ditujukan untuk mengalihkan teriknya sinar matahari di kota Bahrain yang panas.
Gedung yang berujuan untuk menampilkan berbagai aksi musikal kreatif lokal ini akan menaikkan tirainya jika ada pertunjukan untuk disaksikan oleh umum. Gedung beringkat tiga ini memang menjadi rumah bagi penampilan-penampilan musik tradisional lokal yang kini menghadirkan panggung resmi bagi segala talenta lokal yang mungkin turut bersembunyi di sudut-sudut Bahrain; sebuah pusat musik yang dikira bersembunyi, yang justru ingin menarik perhatian bagi talenta-talenta tersembunyi.
Perhaps at first glance, the odd pairing of sexual fetishes and luxury might not be a desirable one. Savvas Laz however begs to differ, as proven by his Boudoir Fetiche furniture. The small collection consists of a mirror with borrowed elements from whips and crops and half covered in leather fringe, further looking like something out of bondage practices with its attached buckles and chords and a valet stand shaped like a metal ring designed for the transition of “the outer, social outfit to the fetish and sexual one.”
This dialogue between the dirty and glossy nature of each respective elements proves just how it’s really about a smooth-flowing conversation between opposing characters are not necessarily subject to dissonance. Proof that kinkiness may not always mean something dark or rather forbidden, and that with luxury it wouldn’t hurt to find a little bit of kinkiness. Perhaps moreover, it’s also about liberating artistic communities from being bound by conventional creativity, as Laz himself believes that “sexuality in general and fetishism in particular are subjects that the design community should start to freely discuss and talk about.”
Mungkin bagi banyak orang, gagasan akan sebuah labirin diikuti dengan rasa was-was atau bahkan takut akan terjebak di dalamnya. Namun, barangkali labirin unik dari seniman Camille Walala ini justru akan mengubah persepsi tersebut 180 derajat. Dengan membangun sebuah labirin yang diintensikan sebagai taman bermain bagi segala umur di Now Gallery, London ini, Walala menumpahkan warna dari seluruh spektrum lengkap dengan berbagai pola, bentuk, dan ukuran yang beragam.
Dan siapa yang tidak ingin menjadi tersesat di dalamnya? Jauh dari karakter sebuah labirin akan keseragaman dan keteraturan, justru labirin Walala ini akan menantang siapapun yang ingin menghafal letak semua warna, dinding, dan polanya. Pasalnya, letak semua posisi dinding dalam labirin ini akan terus mengalami perubahan selama durasi instalasi.
Mungkin lebih cocok disebut sebagai hutan warna dan pola. Sebuah keragaman dan kebentrokan antara satu warna dan pola yang lainnya, justru berhasil memikat perhatian dengan harmonisasi dari keragaman dan perbedaan. Taman bermain yang cocok untuk segala umur ini barangkali akan meninggalkan kesan berbeda bagi pengunjung dari usia berbeda pula. Namun yang jelas, segala jejak kekanak-kanakan dalam diri siapapun dalam usia berapa pun yang mengunjunginya dapat terpanggil olehnya.
DJ yang tergabung dalam kolektif Dekadenz ini memiliki referensi musik eksotis yang bisa didengarkan di kala ia tidak bekerja sebagai Music Director di beberapa restoran di pusat Jakarta. Khidja hingga Acid Arab adalah beberapa unit musik yang mengisi -nya saat tampil, namun pada episode Gimme 5 kali ini, kami menanyakan 5 lagu versinya.
Salah satu karya terbaik dari Holger Czukay menurut saya. Setelah meninggalkan posisi di band Can, dia mengerjakan album dengan teknik manipulasi pita kaset dan Pertama dengar lagu ini saya bertanya bagaimana cara membuat musik seperti ini. Lagu bernuansa Timur Tengah yang romantis ini cocok didengarkan pada saat matahari terbenam ataupun terbit.
Masih dari artis yang sama. Lagu ini bertempo lebih cepat dengan nuansa latin berpadu dengan rasa absurd dan komedik.
Pertama kali dengar lagu ini waktu Senyawa melakukan konser di Jakarta tahun 2016. Dan lagu ini adalah lagu pembuka layar yg menutupi Wukir dan Rully di bagian awal konser. lagu yang selalu saya dengar sejak kecil mengingatkan saya akan saat bangun pagi dan harus melakukan kesibukan hidup.
Cikal bakal lahirnya musik post-punk dan Nuansa dan dari lagu ini memberi inspirasi untuk mencari lagu-lagu setipe (apa jadinya kalau lagu setipe dimainkan di dalam satu ?) Mungkin ada yang mengerti, ada yang biasa aja atau mungkin jadi pesta ?
Lagu aslinya ciptaan Burt Bacharach di- oleh band Inggris 'The Stranglers' (dengan vokalis pertama mereka Hugh Cornwell). Lagu patah hati yang diubah menjadi , dengan bagian solo hammond dan gitar yang panjang di tengah lagu. Sangat !!
-
Dengarkan Aditya Permana di sini.
Jika selama ini cenderung dikenal dari kontribusinya dalam dunia musik, kini Steven Ellison alias Flying Lotus mencoba menyuguhkan audiens dengan santapan berbeda; ‘Kuso’ yang disutradarainya, yang bisa dikatakan menjadi persimpangan yang tepat antara komedi, fantasi, horror, dan mungkin usaha untuk menikmati yang antara sulit atau tidak sama sekali.
Bercerita tentang empat tokoh yang berhasil selamat dari bencana gempa bumi di California, Amerika Serikat, Kuso mengundang para penontonnya untuk masuk ke dunia anehnya, yang mungkin tidak hanya menyita perhatian atas penggambarannya, namun juga sensasi uniknya tersendiri. Bahkan wajar untuk secara fisik tidak sanggup menyaksikan keluarbiasaan yang ada dalam Kuso.
Entah antara kejeniusan Ellison dalam menggambarkan sebuah dunia yang kacau tapi tetap berusaha komedik atau sebuah sajian mengenaskan yang hanya membuat ngeri dan bahkan mual, yang jelas Ellison melalui Kuso berupaya untuk menyuguhkan sebuah tontonan konyol yang menghibur. Namun, jika bukan menghibur dan justru mendatangkan imaji ngeri yang menghantui, setidaknya ada segelintir karya musikal yang bisa dinikmati dari Kuso, termasuk dari Flying Lotus sendiri.