Ikuzumi Kitazawa atau lebih dikenal dengan nama panggungnya sebagai KZA adalah seorang DJ asal Jepang yang tergabung dengan unit Force of Nature bersama DJ Kent. Pada episode Gimme 5 kali ini, kami menemuinya di Mondo by the Rooftop untuk menanyakan lima lagu terbaik di tahun 2017 versinya.
Sebenarnya, sebelum menemukan lagu inipun sudah tertarik untuk mendalami musik R&B, namun entah kenapa baru pada saat musim panas tahun inilah kemudian saya banyak mendengarkan lagu-lagu R&B yang berpotensi. Kemudian setelah itu baru mulailah mencari tahu lagu-lagu lainnya.
Kurang lebih jawabannya mirip dengan alasan untuk lagu pertama (tertawa).
Sebenarnya lagu ini pertama kali keluar di tahun 80-an dan di re-edit tahun 2017. Saya mendapatkannya pun lewat email promosi dan langsung menyukainya. Lagu inipun sebenarnya adalah Saya menyukai lagu ini karena terdengar atau terasa seperti memiliki dan rasanya cocok untuk anak muda zaman sekarang yang kebanyakan sangat melankolis dan mendayu-dayu.
Saya tahu lagu ini karena sempat menjadi jawara di antara semua musik-musik Balearic lainnya. Biasanya musik-musik Balearic cenderung sangat tetapi tidak untuk lagu ini. Menurut saya lagu ini sangat pas dan karena itu saya menyukainya.
Lagu ini sangat saya rekomendasikan untuk didengarkan di tahun 2017. Karena terdengar and sehingga terkesan bahaya. Saya pribadi sangat suka lagu ini.
Saksikan penampilan DJ KZA di Never Too Disco 3rd Anniversary!
-
8 September 2017
21:00
the SAFEHOUSE
KZA (Force Of Nature/JP)
Gerhan
Omar
Belda
Sebelum perang dunia kedua, warga desa Sazovice sudah mendambakan gedung gereja yang baru. Setelah melewati banyak skenario-skenario sejarah yang membuat membangun gereja baru tidak memungkinkan, akhirnya rencana impian ini kembali lagi ke dalam benak cucu-cucu para warga desa. Dengan bantuan studio arsitektur asal Brno, Atelier Stepan, rencana kuno itu berhasil direalisasikan dengan dibangunnya gereja St. Wenceslas.
Atelier Stepan mendesain dan membangun gereja berbentuk silinder ini dengan inspirasi dari gedung-gedung romawi kuno yang biasa disebut rotunda. Arah yang diinginkan oleh studio tersebut ingin menghilangkan unsur materi di dalam bangunan, di mana bangunan terlihat ringan dan abstrak.
Desainnya yang modern sangat kontras dengan tujuan gedungnya yang konservatif, tetapi bukan berarti tidak menarik untuk para jemaat beribadah di dalam. Jika gereja kuno pada umumnya mempunyai banyak ornamen dan ukiran indah yang bercerita tentang Yesus Kristus, gereja St. Wenceslas tampil putih polos di setiap sudut. Sang arsitek, Marek Jan Stepan, berpendapat bahwa manusia sudah mempunyai banyak informasi tentang cerita-cerita keagamaan, dan menurut dia gereja lebih baik dibuat agar jemaat bisa lebih mudah mencari dirinya sendiri dengan berefleksi. Dengan desain yang polos, jemaat tidak akan merasakan distraksi apa-apa dan akan lebih fokus beribadah.
Di era industrial ini yang penuh dengan pencemaran lingkungan, konsep arsitektur hijau menjadi hal yang paling diinginkan untuk kebanyakan orang. Tidak beda dengan Panyaden International School, sebuah sekolah yang berada di Chiang Mai, Thailand. Karena latar belakang sekolahnya yang mempunyai prinsip Buddha, sekolah ini memegang etos hijau dan mengajarkan murid-muidnya untuk mencintai alam. Setelah bekerja sama dengan Chiang Mai Life Architects and Construction, sekolah ini berhasil membuat gedung aula serbaguna yang indah dan ramah lingkungan dengan bahan utama bambu
Penempatan bambu sengaja dibangun renggang tidak rapat agar murid-murid bisa lebih merasakan koneksi mereka dengan alam melewati angin yang berhembus ke dalam. Bentuk utama dari aula ini dibuat menyerupai bunga lotus yang merupakan simbol kesucian. Walaupun mempunyai bentuk yang terkesan rentan, keunikan dari segi arsitekturnya membuat gedung ini menjadi penarik perhatian utama di dalam sekolah itu.
Selain hijau dan menarik, fungsionalitas gedung ini tetap diutamakan. Aula ini mampu menerima kapasitas sebanyak 300 murid, dan biasa digunakan untuk banyak acara sekolah. Bagian tengah aula adalah lapangan olahraga multi fungsi yang bisa digunakan untuk basket, futsal, dan badminton. Aula ini juga memiliki panggung yang biasa digunakan untuk pementasan drama, sebuah tempat penyimpanan alat-alat olahraga yang tertutup, serta balkon untuk para penonton yang ingin mendapatkan sudut pandang yang berbeda.
Band pegangan John Dwyer, Oh Sees, terkenal karena konsep band tersebut yang tidak pernah konsisten. Sebelum ini, band alternative rock ini dikenal dengan nama Thee Oh Sees, OCS, Orinoka Crash Suite dan Orange County Sound. Selain itu dalam segi suara juga tidak pernah menemukan titik fokus. Musik Oh Sees beragam dari psychedelic rock 60-an hingga post-punk 80-an, berevolusi bolak-balik selama 20 tahun berdiri. Memang sebenarnya di balik tidak adanya konsistensi dari band ini, terdapat unsur kreativitas dan adaptasi. Tetapi untuk menentukan apakah Oh Sees sebenarnya tidak konsisten atau malah inovatif tetap tergantung pada setiap opini pendengarnya.
Apapun kebenarannya, sepertinya pada album terbarunya Oh Sees lebih mengarah ke jalan yang inovatif. Berjudul Orc, album ini menunjukan lagi-lagi sebuah petualangan sonik dari John Dwyer dan teman-teman. Dengan menggunakan dua , seorang , serta John Dwyer sendiri yang memegang gitar dan , Oh Sees seperti ingin menggapai nuansa-nuansa baru.
Perjalanan mereka dibuka dengan “The Static God”, sebuah yang meledak di hadapan para pendengarnya dengan musiknya yang cepat dan agresif. Musik garage-punk yang garang bersama vokal Dwyer yang menakutkan bekerja sama dengan baik, tetapi chorus beserta -nya bisa dibilang bagian terbaik dari lagu ini, membawa musiknya melayang sejenak setiap kali chorus dinyanyikan.
“Animated Violence” mungkin yang paling menarik didalam Orc, di mana Oh Sees membawakan musik berat yang terinspirasi dari heavy metal tahun 80-an. Dari vokal Dwyer yang dimirip-miripkan dengan stereotip vokalis glam-rock pada saat itu, serta yang diisi dengan teriakan-teriakan genit ala KISS. Outro ‘genit’ itu akan kemudian disambungkan dengan selanjutnya, sebuah berdurasi sekitar 8 menit yang epik berjudul “Keys to The Castle.”
Setelah “Keys to The Castle”, Orc baru memulai menunjukan wajah barunya. Dengan “Cadaver Dog” dan “Paranoise”, Oh Sees mencoba untuk menggapai musik yang lebih santai dan istirahat dari musik biasa mereka. Musik yang dibawakan mulai memelan dan melemah, tetapi tetap membawa suasana rock yang kental. Contoh terbaiknya seperti di lagu “Drowning Beast”, di mana tempo yang cepat bagai serigala mereka tukar dengan riff gitar dan drum yang pelan dan berat bagai gajah.
Perubahan memang selalu menyulut sebuah diskusi, dan untuk sebuah grup band perubahan mempunyai konsekuensi yang tidak sedikit. Tetapi Orc menunjukan bahwa sebuah perubahan tidak selalu berbahaya, memberikan hasil yang bisa dinikmati oleh penggemar lama dan juga yang baru. Kesimpulannya, John Dwyer dan kawan-kawan lagi-lagi berhasil membuktikan bahwa berubah bukanlah hal buruk, mau itu dalam skala besar seperti perubahan suara atau hal minor seperti berubah nama.
Hikmat Darmawan adalah seorang pakar komik yang juga merupakan sosok kritikus film Indonesia. Whiteboard Journal menemuinya untuk membahas peran komik, fenomena rilisan fisik di era digital hingga pengaruh kritik film terhadap industri kreatif.