Adhyatmika alias Mika adalah lokal yang telah menghasilkan beberapa film pendek, salah satunya adalah "Masih Belajar." Film ini menjadi salah satu dari enam pemenang kompetisi tahunan Democracy Video Challenge (DVC), di Amerika Serikat pada 2010. Terlepas dari kecintaannya terhadap film; baik membuat maupun menonton, musik menjadi hal kedua yang ia nikmati, terutama The Beatles. Cek 5 lagu The Beatles pilihannya pada episode Gimme 5 kali ini!
Pada tahun 1966, generasi Bunga belumlah dimulai, dan generasi baru mencoba-coba marijuana. John Lennon dan Paul McCartney bertaruh untuk membuat lagu dengan komposisi sekompleks mungkin dengan seminim mungkin. Paul menulis Paperback Writer, John menulis lagu ini, Rain. Inovasi The Beatles dimulai dari era ini, eksperimentasi teknik perekaman, pengunaan efek hingga penggunakan video sebagai media promosi 20 tahun sebelum MTV lahir!
Musisi britpop berutang budi pada lagu ini. Selipkan Rain di yang berisi "Live Forever," "High and Dry," atau "Bittersweet Symphony," Anda tidak akan menyangka Rain berumur 30 tahun lebih tua. Kegemaran Liam Gallagher menyanyikan lirik bisa jadi dimulai karena lagu ini. Dan, tolong, dengarkan suara bass-nya. Menggangap Paul Mccartney hanya seorang penulis lagu cengeng adalah sebuah penghinaan yang hakiki. Oh ya, Ringo memilih Rain sebagai permainan drum terbaiknya!
Proto-punk, proto-grunge, sebelum proto-proto lainnya, The Beatles menaikan volume amplifier ke angka 11 dan menghasilkan bunyi distorsi yang lazim kita dengar di skena Seattle tahun 90-an, bahkan Dave Grohl sendiri pernah lagu ini.
Band yang lebih medioker mungkin akan mencari ketenaran dengan model lagu seperti ini, tapi bagi The Beatles, Hey Bulldog hanyalah iseng di studio. John iseng memainkan riff di piano, Paul iseng mengguguk ketika sesi rekaman, dan George iseng mengotak-atik untuk menghasilkan distorsi gitar yang menjadi pondasi bagi banyak genre musik di kemudian hari. Mungkin itu sisi terbaik tentang lagu ini, dan mungkin juga tentang perjalanan The Beatles secara keseluruhan. Eksperimentasi. Untuk apa membuat sesuatu yang sudah pernah kita buat sebelumnya?
The Beatles mulai beranjak tua, merefleksikan ketenaran dan mencari arti kehidupan. Mereka muak menjadi yang menyanyikan lagu-lagu cinta dan mulai menulis lirik dengan tema serius. John, khususnya, mulai gelisah dengan arti hidup. Melankolis. Pergulatan batin John tercermin di lagu “Nowhere Man” atau “In My Life,” di mana John mencoba menemukan kembali akar masa kecilnya di Liverpool, dan di Norwegian Wood, yang mungkin adalah lagu tentang perselingkuhan paling manis yang pernah diciptakan.
Haruki Murakami menulis sebuah novel yang terinspirasi lagu ini dan menangkap esensi melankolia dengan sempurna. Norwegian Wood mengingatkan Anda pada gengaman tangan seorang wanita disuatu sudut kenangan yang mungkin tak akan pernah anda kunjungi lagi. Seperti rindu, John Lennon menuliskannya dengan sempurna,
Sering terdengar di acara reuni orang tua sampai anak SMA yang baru belajar bermain gitar. yang membuat berdansa, lirik tentang menggoda wanita, keriaan masa muda, apa lagi yang Anda cari?
Pattie Boyd pastilah seorang wanita yang cantik jelita. Dua gitaris terhebat sepanjang masa mencoba merebut hatinya dengan menulis dua lagu paling romantis dalam sejarah musik rock. Eric Clapton menulis "Wonderful Tonight' dan George Harrison menulis “Something.”
George pertama kali bertemu Pattie di lokasi film “A Hard Days Night,” romansa terpercik di antara mereka, dan pada tahun 1966 mereka menikah. Tahun 1977 mereka memutuskan untuk bercerai, dan dua tahun kemudian, Eric Clapton, sahabat baik George, menikah dengan Pattie.
George si pendiam adalah sebuah enigma. Entah apa yang dirasa ketika sahabatnya menikahi mantan istri yang juga dewi inspirasinya. Tapi setidaknya Frank Sinatra, yang sering mengira lagu ini ditulis oleh Lennon - McCartney, mempunyai definisi sempurna tentang lagu ini,
Di Indonesia, rendahnya minat membaca dan menulis merupakan sebuah fenomena sosial yang sudah tidak mengejutkan. Menurut survei BPS, anak-anak di Indonesia lebih suka menonton televisi dibandingkan membaca. Mereka bisa menghabiskan hampir 300 menit per hari untuk menonton, sedangkan di Australia hanya mencapai 150 menit, Amerika 100 menit dan Kanada 60 menit. Selain itu, dominasi penggunaan memiliki andil yang cukup berpengaruh untuk anak-anak. Dengan pengenalan sejak dini, hal tersebut menggantikan peran-peran atau kebiasaan lain, seperti memupuk minat membaca contohnya, yang mana seharusnya bisa menjadi langkah awal dalam mendukung tumbuh dan kembang sang anak.
Berangkat dari hal tersebut, Komite Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan sebuah program yang berupaya untuk menstimulasi kecintaan membaca sastra sejak usia dini. Kelas Penulisan Cerita Anak adalah sebuah program yang diharapkan bisa merangsang tumbuh kembang penulis cerita anak, agar mampu menghasilkan penulis cerita anak yang berkualitas, agar merangsang dan mendorong minat baca pada anak. Kelas Penulisan Cerita Anak 2017 akan berlangsung dalam 8 kali pertemuan selama 2 bulan.
- Terbuka untuk umum, WNI, berusia 15 tahun ke atas.
- Calon peserta mengunjungi website www.dkj.or.id untuk dapat mengisi formulir dengan tautan http://bit.ly/kelaspenulisanceritaanak2017 selambatnya 30 September 2017.
- Calon peserta mengirimkan contoh karya tulisan cerita anak (minimal satu dan atau paling banyak tiga cerita anak) dalam format PDF ke alamat email selambatnya 30 September 2017.
- Pengumuman peserta terpilih akan disiarkan di website DKJ pada Senin, 9 Oktober 2017.
- Kelas berlangsung setiap Sabtu selama dua bulan terdiri atas 8 kali pertemuan, mulai Oktober—Desember 2017 pukul 10.00—12.00 WIB.
- Peserta tidak dipungut biaya. DKJ akan menanggung transportasi peserta terpilih dari luar Jabodetabek.
- Peserta mendapatkan sertifikat.
- Reda Gaudiamo (pengampu tetap)
- Renny Yaniar dan Clara Ng (pengampu tamu)
- 12 September 2017 (publikasi maklumat)
- 11 - 30 September 2017 (pengumpulan karya)
- 1- 6 Oktober 2017 (seleksi)
- 9 Oktober 2017 (pengumuman peserta terpilih)
Setiap Sabtu,
14 Oktober - 2 Desember 2017
10.00 - 12.00 WIB.
Ruang Kaca Kantor Dewan Kesenian Jakarta
Komplek Taman Ismail Marzuki,
Jl. Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat 10330.
Annisa 0857 7532 7471
Bulan ini, film debut Francis Lee, “God’s Own Country” akan ditayangkan di seluruh bioskop di Inggris. Bertempat di peternakan di desa Yorkshire Dales, film ini menceritakan tentang Johnny, seorang peternak domba yang harus menjalankan tugas keluarganya untuk beternak, setelah ayahnya terkena stroke. Johnny merupakan orang yang sendirian. Kebiasaan menyakiti dirinya perlahan berubah ketika seorang imigran Romania bernama Gheorghe datang, menjadikan kisah hidup Johnny sebagai perjalanan mencari jati diri.
Film ini dijanjikan untuk menampilkan kisah cinta Johnny dan Gheorghe yang maskulin. Alih-alih menceritakan kisah cinta sesama jenis yang romantis, Francis Lee ingin menampilkan setiap adegan fisik secara realistis, sebagaimana pedesaan Yorkshire terasa nyata secara fisik dan emosional bagi Francis. Film ini juga menceritakan kebimbangan Johnny saat ingin memutuskan menjalankan hidup baru atau tetap tinggal di peternakan domba milik keluarganya.
“God’s Own Country” tidak sekadar menampilkan kisah cinta universal. Terdapat pesan yang lebih dalam dan filosofis, yaitu perjalanan mencari jati diri secara emosi, serta pelajaran mencintai orang lain dan diri sendiri, di tengah lingkungan yang membuat kita putus asa.
Diorganisir oleh ARCOLABS, Pameran Seni Media dan Instalasi Korea-Indonesia kembali digelar. Pada episode kelimanya, pameran ini hadir dengan tajuk “Nomadic Traveler” untuk mengkaji gagasan mengenai pengembaraan dan mobilitas manusia sebagai pertukaran nilai kebudayaan. Terdapat 8 seniman dari Indonesia dan Korea yang mengolah gagasan pengembaraan dengan pendekatan seni media, instalasi, dan teknologi.
Kurator Jeong-ok Jeon dan Evelyn Huang mengatakan, konsep nomadik ini tidak hanya dilihat secara fisik saja, tetapi juga metode kreatif para seniman. Sebagai salah satu seniman yang gemar mengeksplorasi ragam media, F.X Harsono membicarakan sejarah migrasi orang-orang Tionghoa ke Indonesia dalam berbagai periode. Instalasi “Perjalanan ke Masa Lalu/Migrasi” yang dibuat pada 2013 ini, menampilkan perahu berisikan lilin-lilin sembahyang yang dihadang oleh lautan huruf, di seberangnya terdapat sebuah kursi yang menduduki huruf-huruf tersebut. Karya ini membicarakan sejarah Tionghoa yang didistorsi oleh penguasa, serta adanya perbedaan bahasa ketika orang-orang Tionghoa datang ke Indonesia.
Berbeda dengan Lee Wan yang melakukan pengembaraannya ketika ia sampai di Indonesia. “The Travels of Lee Wan: Jakarta 2-8 Sep 2017” merupakan instalasi situs-spesifik yang menampilkan jurnal visual Lee Wan saat ia berjalan-jalan di Jakarta. Di salah satu tembok Edwin’s Gallery yang cukup tinggi, ia memajang ragam benda seperti wayang dan barang antik, serta menulis catatan-catatan harian selama perjalanannya.
Narasi yang terkandung di setiap karya tidak hanya mampu berdiri sendiri, tapi juga berkesinambungan dalam menjabarkan gagasan pameran. Setiap seniman pun merespons isu ini dengan sentuhan personal, terlihat dari bagaimana mereka membicarakan latar belakang dirinya baik dari segi sejarah maupun teritorial. Namun, pengunjung tetap bisa merelasikannya dengan isu yang ada kini. Dengan menghadirkan perspektif baru, pameran ini mengajak pengunjung untuk melihat isu pengembaraan secara lebih kritis.
Pameran Nomadic Traveler dilengkapi program publik seperti kuliah umum, tur pameran, dan lokakarya seni untuk anak.
-
7-17 September 2017
Senin-Sabtu
09:00-17:30
Edwin’s Gallery
Jl. Kemang Raya No.21
Kemang
Musik di balik film Badai Pasti Berlalu merupakan karya Eros Djarot yang monumental dan masih dipuja hingga hari ini. Berbekal kenekatan dan rasa, ia berhasil membuat musik yang mampu bercerita dengan sendirinya. Kami menemuinya di rumahnya untuk membahas originalitas di blantika musik lokal dan pesta disko berisi lagu Indonesia.
Tentunya rasisme sudah tidak menjadi topik yang asing lagi, khususnya jika kita kerap kali memantau berita mengenai diskriminasi ras kulit hitam di Amerika Serikat atau kampanye Black Lives Matter. Secara umum pemahaman tentang rasisme yang menaruh stereotype atau generalisasi dari suatu ras pun barangkali juga tidak asing lagi, namun mungkin yang belum menjadi pemahaman umum adalah bahwa contoh mengenai rasisme dan stereotype tidak perlu jauh-jauh dicari hingga ke Amerika Serikat; perempuan Asia pun turut mengalaminya.
“Tidak semua dari kami (wanita Asia) bertubuh mungil, ramping, bersifat penurut dan submisif,” ujar Elizabeth Gabrielle Lee selaku koordinator dari Xing, serangkaian karya fotografi dari sederet fotografer ternama seperti Vivian Fu, Clara Lee, Ronan Mckenzie, dan Lee sendiri, yang mengeksplorasi tema stereotype yang tanpa disadari melanda banyak perempuan Asia. Xing diintensikan menjadi sebuah cemoohan atas standarisasi tersebut, sekaligus menunjukkan bagaimana konvensionalitas bukan menjadi satu-satunya resep dari keindahan.
Hal ini menurut Lee juga seringkali diasosiasikan dengan seksualitas, dan ya, memang perempuan Asia kerap ditampilkan dalam media dan masyarakat sebagai makhluk yang cantik dan atraktif. Namun ada ilusi di sana; ada suatu ketabuan di dalam pemahaman tersebut yang justru tidak menjadikan perempuan yang dimaksud terjauh dari pengaruh yang mengekang batinnya secara seksual dan emosional.
Mungkinkah kita dikelilingi masyarakat yang masih termakan ilusi tersebut? Atau sudahkah ilusi tersebut memakan rasio kita dalam memandang perempuan sekitar kita? Barangkali jawabannya hanya dapat ditemukan dengan menyanyakan diri sendiri, apakah sebelum menyelesaikan tulisan ini, standar-standar tersebut tidak nampak sebagai stereotype dan hanya sebagai karakteristik yang wajar dan biasa saja?