Duto Hardono adalah salah satu seniman dan juga edukator berbasis di Bandung yang mengeksplorasi sound dan waktu dalam berkarya. Whiteboard Journal menemuinya di rumah sekaligus studio untuk membahas looping study, silence sebagai sound hingga eksperimentasi seni.
Dengan memperhitungkan perubahan dramatis antara cahaya dan bayangan, desainer Jepang Koucihi Kimura membangun rumah sekaligus studio fotografi yang ditutupi oleh lempengan besi. Kouchi, pendiri studio desain Form, mencanangkan proyek ini dengan sebutan “House for a Photographer.”
Bangunan ini berlokasi di prefektur Shiga, Jepang, dengan luas bangunan 170 m2. Lantai bawahnya beroperasi sebagai rumah dan studio fotografi. Ruangan ini terdiri dari tembok putih, lantai abu-abu yang dipoles, serta jendela yang terbuat dari kayu, sehingga memberikan pencahayaan alami pada interior ruangan yang dapat berubah sepanjang jalannya hari. Ruangan ini juga memiliki pintu geser besi yang mengantarkan pengunjung ke teras. Terdapat pula galeri yang menghubungkan studio dengan berbahan kayu.
Menurut Kouichi, cahaya dan bayangan penting baik bagi fotografer juga arsitek. Ruangan ini diharapkan memunculkan pengalaman estetis, kreativitas, dan kegiatan-kegiatan baru bagi fotografer.
Sama seperti karya desain Kouichi yang lain, ia menggabungkan fungsi bangunan tradisional Jepang yang terbuka dan terbagi-bagi, dengan warna bangunan yang dibatasi, untuk menciptakan ruang yang minimalis dan estetis.
Kehidupan merupakan racikan dari bumbu-bumbu yang bertentangan; hidup dan mati, kuat dan lemah, naik dan turun. Tak ada yang mengira bahwa pertentangan ini saling mempengaruhi dan menciptakan keseimbangan dalam hidup. Betul, kehidupan ini paradoks, dan fenomena inilah yang coba didalami oleh seniman Lie Fhung dalam pamerannya, “Life Force.”
Sebagai lulusan peminatan Keramik di Institut Teknologi Bandung, Lie Fhung mengeksplorasi ragam medium mulai dari porselen, tembaga dan kaca. Dalam instalasinya, “Life Force ll: An Installation”, ia menggantung bunga-bunga putih yang terbuat dari porselen, berjejer dalam ruang galeri yang gelap. Bunga-bunga itu merekah, tapi terdapat setangkai bunga yang ditutupi oleh kaca di tengah-tengah instalasi, seakan ingin dilindungi. Karya ini mengeksplorasi sifat kuat dan lemah. Porselen merupakan jenis keramik yang kuat karena dibakar pada temperatur yang 1300 °C, tapi ketika ia dibentuk dengan sangat tipis, ia rapuh.
Di ruang seberangnya terdapat instalasi tembaga berbentuk silinder yang disusun berentetan dengan ketinggian yang berbeda-beda. Lantai ruang itu dipenuhi batu-batu koral hitam, sehingga ketika masuk kita akan menciptakan bunyi berderap di atas bebatuan. Jika dilihat dari tampak depan, rentetan tembaga itu menyerupai pegunungan, karya ini mengajak kita memaknai naik dan turun dalam kehidupan.
Naik dan turunnya kehidupan ini digambarkan pula di karya-karya tembaga Lie Fhung yang lain. Ia mengeksplorasi medium tembaga beberapa tahun belakangan ini, di sini ia menemukan suatu proses yang menarik dari tembaga, yaitu oksidasi. Metode ini dengan amat filosofis ia kaitkan dengan menyerahkan setengah karyanya dikerjakan oleh kekuatan alam. Oksidasi merupakan proses penguraian mineral di bahan logam oleh oksigen, di mana pada pelapukan kimia inilah, logam dapat berkarat. Maka dari itu, karya-karya tembaganya terlihat spontan dan brutal, Lie Fhung seakan menyerahkan ide-idenya pada zat kimia yang menggerogoti tembaganya.
Karya-karya berbahan porselen membicarakan sifat kuat dan lemah, sedangkan eksplorasi tembaga membicarakan relasi manusia dengan alam serta gelombang naik turun dalam hidup. Kedua bahasan ini berada di bawah satu payung bernama kehidupan, yang di dalamnya juga terdapat sifat bertentangan paling absolut, yaitu hidup dan mati.
Kini, di tengah-tengah mobilitas kaum urban yang kerap melalaikan, Lie Fhung mengajak kita berhenti sejenak dan memaknai kehidupan melalui karya-karyanya yang kontemplatif.
-
14 September-8 Oktober 2017
09:30-18:00
Dia.Lo.Gue Artspace
Jl. Kemang Selatan No. 99 A
Jakarta
www.dialogue-artspace.com
Setiap orang pasti memiliki deretan-deretan lagu favorit yang selalu siap menemani di berbagai kondisi, seperti halnya karakter Baby di film Baby Driver karya Edgar Wright. Diperankan oleh Ansel Elgort, Baby adalah seorang anak muda yang dipekerjakan sebagai dan dipercaya untuk membawa kabur para kriminal setelah aksi bobolnya. Uniknya, di setiap saat, termasuk pada saat mengemudi, Baby digambarkan selalu mengenakan untuk mendengarkan lagu dari iPod-nya.
Wright menjadi salah satu kunci pada film ini. Kalau biasanya sutradara menyerahkan urusan musik/lagu kepada , di Baby Driver justru tidak. Wright sendirilah yang memilih dan menentukan deretan lagu pada film ini, yang kemudian dijadikan acuan untuk setiap adegan yang ada pada film tersebut. Wright berhasil memperlihatkan bagaimana peran lagu-lagu hasil kurasinya sukses membangun dan menegaskan setiap secara akurat serta presisi antara pergerakan pemain dan ritme lagu.
Menyaksikan Baby Driver di lain sisi terasa seperti sedang mendengarkan lagu-lagu favorit saat berada di kamar tidur, halte bus ataupun sesederhana menyaksikan Usaha Wright selama 2 tahun untuk mengurus 32 lagu pilihannya sangat setimpal dengan hasil yang didapatkan olehnya. Seperti bagaimana lagu “Bellbottom” oleh The Jon Spencer Blues Explotions melatari intensitas dan ketegangan pada awal film, yang kemudian dilanjutkan lagu Bob & Earl berjudul “Harlem Shuffle” yang menjadi latar ketika Baby menyusuri jalan menuju Hingga lagu “Brighton Rock” oleh Queen yang menjadi versi Baby sebagai latar lagu untuk aksinya saat mengemudi. Lagu-lagu populer seperti “Let’s Go Away for a While” - The Beach Boys, “Debra” - Beck, “Intermission” - Blur juga turut mengisi daftar lagu pada film ini.
Secara garis besar, film ini menceritakan kehidupan Baby yang menjadi seorang karena berhutang kepada seorang bos berdarah dingin (Kevin Spacey) dan satu-satunya cara untuk melunasi hutangnya adalah terlibat dalam aksi pembobolan. Hal tersebut berubah ketika Baby bertemu dengan seorang gadis bernama Debora (Lily James) yang membuat dirinya terdorong untuk segera lepas dari pekerjaannya tersebut, karena membahayakan keselamatan Debora. Meskipun ide dari cerita Baby Driver bukanlah hal baru, namun pemilihan lagu yang Wright lakukan pada film ini, mampu menjadikannya sebagai salah satu pilihan film yang wajib ditonton, karena pastinya akan memberikan pengalaman baru bagi para serta para penikmat musik.
Sutradara: Edgar Wright
Sinopsis: Kecelakaan Baby sewaktu kecil yang membuat ia menderita suatu kelainan pada gendang telinganya sekaligus menjadikan ia memilki kepekaan yang tinggi. Baby bekerja sebagai supir pada kelompok penjahat yang dipimpin oleh Doc. Pertemuannya dengan Debora membuat Baby ingin mengubah garis hidupnya.
Portofolio adalah salah satu fitur pada kolom Focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali ini kami mengangkat studio desain Blackhand Design dari Bandung yang memposisikan desain grafis sebagai bagian dari masyarakat.
Dalam literatur, “suspense” adalah sebuah genre dan juga sebuah keadaan berpikir yang diberikan kepada pembaca. Cara terbaik membuat keadaan berpikir ini adalah dengan menahan informasi penting di dalam cerita atau menggunakan sudut pandang objektif dalam cerita. Ini adalah sebuah genre yang jika seorang pembaca membuat komitmen untuk mengikuti, maka akan menghasilkan pengalaman bercerita yang spesial. Sebuah novel suspense membutuhkan sosok kreator yang handal serta pembaca yang loyal agar waktu dan pengalaman yang dialami menjadi berharga.
Dengan pengertian tersebut, lahirlah sebuah konsep eksebisi seni yang bernama "in suspense." Karya seni yang dibuat membutuhkan kurun waktu yang tidak pasti, dan juga membutuhkan audiens agar dianggap selesai. Karya-karya tidak ditujukan untuk audiens, melainkan dibuat bersamanya. Salah satu tujuan dari pameran ini adalah untuk membangun pondasi dalam praktik artistik yang membutuhkan campur tangan orang lain untuk diselesaikan.
"in suspense" adalah salah satu pameran persembahan dari ROH Projects yang akan diadakan pada tanggal 17 September hingga 20 Oktober di Equity Towers. Pameran ini dikurasikan oleh Grace Samboh, dan akan menampilkan karya dari Agus Suwage, Fajar Abadi, FX Harsono, Julian Abraham "Togar", Syagini Ratna Wulan dan Bandu Darmawan.
ROH Projects mempunyai visi menjadi galeri yang memimpin perkembangan seni kontemporer di Indonesia dan sebagian besar Asia Pasifik. Dengan maraknya seniman kontemporer yang sedang naik, galeri yang didirikan pada tahun 2012 ini ingin menjadi wadah bagi mereka yang membutuhkan.
-
17 September - 20 October 2017
Agus Suwage, Fajar Abadi, FX Harsono, Julian Abraham "Togar", Syagini Ratna Wulan and Bandu Darmawan
ROH Projects
Equity Tower
Lantai 40, Suite E
Jl. Jenderal Sudirman Kav 52-53
Jakarta