Joko Pinurbo digandrungi bukan hanya karena puisi yang ia tulis, melainkan makna yang tertanam di balik kesederhanaan yang ia ceritakan. Bekerja sama dengan Ubud Writers & Readers Festival, kami berkesempatan untuk menemui beliau ketika berkunjung ke Jakarta untuk berbicara tentang menertawakan keseharian hingga pengaruh Alkitab dalam karyanya.
Kareem Soenharjo adalah salah satu nama panas di skena musik hip hop Selain dikenal dengan banyak alias, ia juda salah satu penggerak utama kolektif hip hop Cul De Sac yang sedang ramai di skena lokal. Eksistensi Kareem selama ini memang terbukti lewat talentanya dalam memproduksi lagu dengan nama Yosugi yang sudah menarik perhatian banyak. Tetapi kali ini persona -nya - BAP. - baru saja menunjukkan giginya dengan merilis EP perdana yang berjudul “Belladonna.”
BAP. seperti benar-benar meluapkan semua perasaan dan pikiran yang dipendam selama ini dalam “Belladonna.” Emosional dan intim, EP ini membuka sedikit celah ke dalam hidup seorang Kareem Soenharjo dan mempersilahkan siapapun untuk mengintip. Selain liriknya yang kuat, produksi musik yang baik juga memberikan kesegaran tersendiri. Ia terdengar lebih berjelajah di album ini lewat eksplorasi unsur-unsur trap, boom bap, jazz, funk, dan eksperimental.
Trek yang paling bersinar dari album ini adalah “Heed,” dengan ala musik soul 70-an dan lirik yang halus tetapi juga tajam. BAP. mengawali lagu ini dengan paksaan untuk menyimak dirinya, secara instan menyadarkan pendengar dari alunan yang hipnotis. Seperti pada trek pembuka berjudul “Belladonna,” penyampaian dan BAP. yang mulus mengingatkan kepada Earl Sweatshirt dan Tyler, The Creator.
Nadanya yang nestapa dibalut dengan dentuman hip hop inovatif terdengar segar dan tentu berhasil memberi kesan yang baik melalui EP perdananya. Namun, walau tidak sempurna, “Belladonna” bisa dihargai sebagai hal yang lebih dari sekadar EP perdana seorang Album ini merupakan curhatan terdalam seorang pemuda kepada hal yang paling dia pedulikan, yaitu musik.
“Belladonna” sudah bisa di dengarkan secara online di Spotify dan Soundcloud, serta bisa dibeli di halaman Bandcamp BAP.
Setiap hari bisa dibilang semakin banyak musisi dengan talenta yang berpotensial muncul ke permukaan, dan itu semua terdukung oleh betapa mudahnya mendapatkan informasipada saat ini. Tetapi kenyataannya, berhasil muncul di permukaan masih awal dari perjalanan para Lalu apa yang dibutuhkan untuk menjamin kesuksesan karir mereka?
“Archipelago Festival” pun hadir untuk berusaha menjawab pertanyaan itu. Berlangsung selama dua hari, pada tanggal 14-15 Oktober 2017 di Soehanna Hall, festival ini adalah sebuah dan festival yang mempunyai tujuan mulia sebagai wadah akselerasi musik lokal, juga ruang memperkenalkan musik-musik baru yang patut diberikan perhatian lebih. Acara ini digagas oleh dua kolektif asal Indonesia, Studiorama dan Sounds From The Corner (SFTC), yang akan membawa 15 topik pembahasan seputar infrastruktur musik di Indonesia.
Pada tahun pertamanya, “Archipelago Festival” menawarkan topik bahasan yang mengulas sisi-sisi industri yang jarang diperbincangkan, mulai dari merchandise, fans, musik, hingga label rekaman. Festival ini juga menawarkan tiga panel istimewa, yakni Band & Brands, Indie Pioneers, dan Indonesian Pop Music. Pembicara yang hadir juga tidak main-main, dengan Guruh Soekarno Putra, Yockie Suryo Prayogo, Arian13, Andien Dipha Barus, dan puluhan lainnya. Assosiate Editor kami, Muhammad Hilmi pun ikut mengambil peran dalam salah satu panel diskusi yang membahas 3 venue musik dari beragam level di Jakarta.
Selain itu akan ada juga penampilan dari artis-artis baru terbaik dari dalam dan luar negeri, seperti rapper grime asal Inggris Afrikan Boy, produser elektronik muda Chloe Martini dari Polandia, unit hip hop lokal terpanas, Onar, dan band psychedelic kebanggaan Negeri Jiran, Ramayan.
Lewat acara ini, Studiorama dan SFTC lagi-lagi menunjukan bahwa mereka serius dalam mendukung artis-artis baru ranah lokal yang bertalenta, dan festival ini bisa dibilang usaha paling ambisius bagi kedua kolektif. Tapi tentu saja siapa yang mau kehilangan kesempatan untuk belajar langsung dari Sukarno Putra dan Yockie Suryo Prayogo? Kita hanya bisa berharap bahwa “Archipelago Festival” akan membawa pengaruh yang besar dalam lingkup musik Indonesia, serta semakin mendorong kemunculan bakat-bakat yang masih mencari pijakannya dalam industri musik lokal.
Belum terbayang akan seberapa kaya obrolan serta perspektif yang akan ditampilkan di festival ini? Berikut adalah video yang dibuat oleh SFTC bersama Guruh Soekarno Putra dan Yockie Suryo Prayogo.
-
14-15 Oktober 2017
Soehanna Hall
The Energy Building
SCBD, Lot 11A
Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53
If I had to give this mix a title, then it would be Repetition is Change; simply because of the repetitive edge from the songs in it.
I’m fond of repetition in sounds, whether it’s a Buddhism mantra, Kecak chants, or the motorik beat of Klaus Dinger. For this mix, I handpicked fifteen songs that are on the top of my mind when I think about repetitions in rock & roll (at least when I was putting this mix together).
So I present to you all: Repetition is Change.
1. Moon Duo - Mirror’s Edge
2. The Advisory Circle - Mind How You Go Now
3. Can - One More Night
4. Dead Skeletons - Psychodead
5. Fat White Family - Whitest Boy on the Beach
6. The Vacant Lots - Mad Mary Jones
7. The Horrors - Monica Gems (Daniel Avery Remix)
8. Klaus Johann Grobe - Geschichten aus erster Hand
9. Broadcast - Pendulum
10. The Brian Jonestown Massacre - La Façon Dont La Machine Vers l'Arriere
11. Les Big Byrd - Stockholm Death Star
12. Primal Scream - Autobahn 66
13. Cavern of Anti-Matter - Phototones
14. Dungen - Achmed flyger
15. Spectrum - Take Your Time
Video teranyar Radiohead, “Lift” dari album OKNOTOK - edisi 20 tahun OK Computer - memperlihatkan sang vokalis Thom Yorke terjebak dalam elevator menuju antah berantah, dengan kantung plastik di kedua tangannya, dan orang-orang berperilaku aneh yang masuk silih berganti.
Disutradarai oleh Oscar Hudson, video ini menyuguhkan visual yang lebih sederhana dari video-video Radiohead sebelumnya, tapi tetap memiliki plot twist seperti video-video klasiknya. Menarik, karena adegan di video ini diadaptasi secara terang-terangan dari lirik lagunya:
Pada awal tahun, gitaris Radiohead Ed O’Brien mengungkapkan alasan “Lift” tidak dimuat di OK Computer. Ia menyatakan pada BBC 6 Music, jika lagu tersebut dimuat di album, Radiohead akan berada di jalur yang berbeda pada waktu itu, dan memungkinkan mereka untuk menjual lebih banyak album. OK Computer tidak pula bisa menyerupai Jagged Little Pill, album Alanis Morissette di tahun 1995; Banyak tekanan yang dialami Radiohead ketika “Lift” masuk rekaman.
Pernahkah sekali berpikir tentang sejarah sebuah tomat yang terjual di toko swayalan terdekat? Ilha das Flores, atau “Isle of Flowers” dalam inggris, adalah sebuah film pendek yang menceritakan tentang hal itu. Bagaimana perjalanan sebuah tomat dari proses pemetikan hingga tujuan terakhirnya, dan anehnya film ini bukan untuk yang mudah tersinggung atau yang berpikiran pendek.
Berbentuk dokumenter pendek, film ini menjelaskan ceritanya dengan dipimpin seorang narator bernada mati yang bisa dibilang ekuivalen dari anak kecil yang baru saja mengenal Wikipedia. Jika di kronologiskan, menonton film ini pada awalnya akan membawa tawa karena lelucon-leluconnya yang sedikit berani, lalu dilanjutkan dengan rasa kesal, lalu marah karena gambar-gambar yang menyinggung, tetapi diakhiri dengan rasa empati yang dalam. Perasaan terakhir akan dirasakan penonton saat mengetahui apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan Jorge Furtado, yaitu tentang kenyataan strata sosial dan cara manusia memperlakukan sesama manusia. Sebuah kisah yang sebenarnya ironis dan menyayat hati namun dibalut dengan keacakan dan humor.
Yang membuat pengungakapan terakhir ini lebih menggagetkan adalah bagaimana narator menyebalkan tadi akan membuat penonton linglung dengan memutar-mutar informasi yang diberikan. Walaupun aneh, bermain dengan pikiran dan emosi telah membuat penonton terus-menerus melekatkan mata mereka dalam pencarian arti yang terkandung di dalam film yang sangat serampangan ini, dan saat penonton akhirnya tahu mereka tidak akan kecewa.
Sutradara: Jorge Furtado
Sinopsis: Seorang narator yang senang melenceng menceritakan kisah sejarah tomat dengan pesan moral yang dalam.