Setelah melaksanakan instalasi pertamanya, Project23, kolektif musik elektronik dan seni visual asal Bali, akan mengadakan bagian kedua dari gelaran “Chapter One” mereka. Tetap dengan visi misi yang sama, yaitu menaikkan talenta-talenta kontemporer lokal yang selalu ditenggelamkan oleh artis-artis internasional, “Project23 Chapter One, Part 2” akan menjadi versi mini dari acara pertama kolektif tersebut yang diadakan pada 2 September 2017 lalu. Dengan menampilkan 8 DJ, 4 live PA, 2 instalasi seni, dan kelebihan dari instalasi kali ini adalah bahwa acara ini tidak akan memungut biaya apapun, alias gratis.
Keputusan untuk menggratiskan biaya masuk sebenarnya bermotivasi dari evaluasi acara pertama. Komunitas lokal, yang merupakan target pengunjung utama Project23, merasa bahwa harga yang diangkat untuk biaya masuk instalasi pertama sedikit berlebihan. Walaupun dari pihak Project23 merasa bahwa harga yang mereka tetapkan sangat masuk akal jika mengingat besarnya biaya produksi acara tersebut, mereka juga sadar bahwa harga yang mahal tetap akan menjadi masalah secara jangka panjang. Demikian mengapa kolektif ini sepakat untuk membuat acara selanjutnya gratis.
“Chapter One, Part 2” juga akan menghadirkan untuk artis dan komunitas lokal seminggu sebelum pertunjukan utama. ini akan memiliki dua kategori: kreatif dan karir. Kreatif, seperti namanya, akan membahas sisi kreatif dan memberi materi-materi tentang bagaimana membuat atau menyempurnakan karya seperti musik, DJ, dan Sedangkan kategori karir akan lebih fokus kepada dan juga menjadi
“Project23 Chapter One, Part 2” akan diadakan pada tanggal 28 Oktober 2017 di Arboon Beach Bar, Bali. Untuk informasi selanjutnya, bisa dilihat di Instagram dan Facebook Project23.
Perkembangan zaman membawa banyak perubahan yang mempengaruhi hampir di berbagai aspek, termasuk pada dunia kesenian. Definisi seni hari ini sudah tidak lagi sebatas karya yang sebelumnya hanya bisa dihasilkan oleh orang-orang yang mendalami atau secara formal mendapatkan pendidikan seni. Sekarang ini seni sudah dijadikan sebagai medium ekspresi yang bisa dilakukan oleh siapa saja, seperti halnya yang dilakukan oleh Imam Sucahyo. Seniman asal Tuban, Jawa Timur ini pertama kali mengenal dunia seni di umur 22 tahun dan sejak itu karya-karyanya sering berpartisipasi dalam meramaikan pameran seni rupa di Tuban, Surabaya dan Lampung.
Imam Sucahyo dikenal melalui karya-karya visualnya yang brutal. Hal tersebut banyak dipengaruhi oleh dampak psikosis Imam ketika menjadi seorang pengguna obat terlarang selama kurang lebih 14 tahun. Pada proses kreatifnya, Imam menginterpretasikan bentuk halusinasi dan paranoia yang ia dapatkan dengan pengalamannya dalam melihat persinggungan sosial masyarakat kelas menengah ke bawah yang ia temukan saat merantau ke berbagai daerah di Indonesia. Sehingga kebanyakan karya imam terlihat seperti mozaik atas khazanah kehidupan dari masyarakat yang termajinalkan.
Pada kesempatan kali ini, rumah seni asal Ubud, Bali yakni Cata Odata, menggelar pameran tunggal Imam Sucahyo yang dikuratori oleh Dwi S. Wibowo. Dengan di beri judul “Jagat Mawut,” pameran ini akan mendisplay 72 karya yang merepresentasikan karakter karya Imam Sucahyo dalam menyampaikan pergulatan masyarakat kelas bawah, yang lekat dengan persoalan-persoalan ekonomi, ruang, dan gender yang kompleks. Pameran ini dibuat untuk menghadirkan pertanyaan-pertanyaan seputar ‘dunia porak poranda’ oleh Imam secara gamblang dan bersamaan ke dalam sebuah diskusi. Selain pameran, nantinya juga ada rangkaiannya lain guna mendukung Jagat Mawut, seperti dan dialog agar dapat memberikan pengetahuan yang lebih dalam mengenai gelombang Art Brut dan seni di Indonesia.
Registrasi di sini
-
3 Oktober-4 November 2017
Cata Odata
Jl. Penestanan Kelod, Ubud
(Opp. Pura Dalam Penestanan Kelod)
SCENE-TO-SCENE
Rabu, 11 – Minggu, 15 Oktober 2017
11:00 – 18:00 WITA
Film Screening
BBC One Imagine Series:
Turning The Art World Inside Out
Minggu, 22 Oktober 2017, 18:00 – 19:30 WITA
CO.Study
Melangkah masuk ke luar:
percakapan tentang “Seni liyan” di sekitar kita
Jumat, 3 November 2017, 18:00 – 20:00 WITA
Masyarakat penggemar sinema mungkin sudah tidak asing lagi dengan film durasi panjang pertama Wes Anderson, “Bottle Rocket.” Film yang dirilis pada tahun 1996 ini merupakan salah satu dari film tahun 90-an kesukaan Martin Scorsese, serta salah satu film yang anehnya tidak laku pada saat itu. Sayangnya, banyak yang tidak tahu bahwa dua tahun sebelumnya Anderson bersama Wilson bersaudara membuat sebuah film pendek dengan judul yang sama. Kesuksesan film ini adalah apa yang membuat mereka bertiga percaya diri untuk membuat versi panjangnya.
Film pendek ini lebih menunjukan sisi Anderson yang masih mentah. Tentu dia sudah memulai menunjukan demamnya kepada kesimetrisan dan dialog jenaka, tetapi masih dalam stadium awalnya. Perpaduan akting Wilson bersaudara dan Robert Musgrave juga cocok dalam cerita, dimana karakter Dignan dan Anthony yang sudah bersahabat sejak lama mempunyai yang baik tetapi Ben yang merupakan orang diluar lingkungan sosial mereka bedua terlihat sangat asing. Secara singkat, bisa dibilang film ini adalah rangkuman dari film utamanya yang dirilis pada 1996, dengan cita-cita yang tentunya jauh lebih kecil baik dalam segi cerita maupun produksi.
Sutradara: Wes Anderson
Sinopsis: Dua sahabat, Dignan dan Anthony, berencana untuk merampok bank dengan teman pencinta ganja mereka, Bob.
Tren datang, pergi dan datang lagi seiring perkembangan zaman. Namun saat tren tersebut bertransformasi menjadi sebuah budaya, ia akan tinggal di sana. Salah satunya terjadi pada industri clothing Bandung yang ikonik itu.
Kabar gembira bagi para penggemar St. Vincent. Album baru "MASSEDUCTION" akan diluncurkan pada 13 Oktober 2017. St. Vincent memproduksi album ini bersama Jack Antonoff, dan merekam hampir semua lagu di album ini di Electric Lady Studios. Album ini berkolaborasi dengan musisi-musisi hebat seperti Kamasi Washington, Jenny Lewis, Sounwave dan Thomas “Doveman” Bartlett. Menurut St. Vincent, akbum barunya berbeda dan bersifat personal karena menceritakan kehidupannya.
pertama dari album ini, “Los Ageless,” memadukan unsur funk dan new wave dengan yang menonjol. Para fansnya tentu bersorak tidak sabar untuk melihat materi baru setelah menunggu 3 tahun.
Semenjak menggelar First Sight pada bulan Agustus kemarin, Museum MACAN (Modern and Contemporary Art in Nusantara) telah menarik perhatian publik lokal maupun internasional, setidaknya Asia. Dengan visi menjadi edukator seni kontemporer dan juga seni secara keseluruhan Museum MACAN memang sudah mempersiapkan beberapa program-progam menarik. Salah satunya adalah sebuah program yang lebih khusus ditujukan kepada anak-anak bernama Children’s Art Space Commission. Program ini akan dibuka bersamaan dengan pembukaan besar museum pada bulan November mendatang.
Children’s Art Space Commission sendiri adalah sebuah komisi yang akan dipimpin oleh Entang Wiharso, salah satu seniman kontemporer terbaik di Indonesia. Entang akan membuat beberapa instalasi yang terdiri dari mural, karya seni, dan aktivitas edukasi yang akan mengekspor konsep di mana darat dan udara adalah sebuah gagasan yang tergantung pada keunikan karya seni setiap artis. Program ini juga mempunyai aktivitas-aktivitas lain yang mempunyai tujuan memberi edukasi kesenian serta membuka kreativitas anak-anak.
Tetapi perjalanan Museum MACAN mungkin tidak semulus yang sudah mereka rencanakan, dan sayangnya ini bukan karena faktor eksternal. Semenjak awal kali muncul di media, museum ini membawa namanya sebagai calon pusat seni kontemporer Indonesia dengan standar internasional dan fasilitas paling memukau. Semua tentang museum ini terkesan mewah, dari gedungnya hingga karya-karya modern yang di tampilkan. Berbeda dengan kebanyakan orang awam yang berpikir bahwa museum adalah tempat bersejarah dan seni adalah karya lukisan yang cantik. Sehingga ada sebuah pertanyaan menggelayut di kepala, apakah program edukasi kepada anak-anak yang direncanakan bisa dengan efektif diterima oleh masyarakat awam? Ataukah mungkin museum merencanakan program edukasi ini hanya kepada orang yang sudah paham seni? Nampaknya kita harus menunggu sejenak untuk melihat akan seperti apa program yang museum ini bawa di kemudian hari.