Sebagai seorang vokalis yang tergabung pada unit alternatif pop, Skandal, Siddha memiliki karakter dan persona yang cukup menarik perhatian baik di atas panggung maupun penampilan sehari-hari. Untuk itu, pada episode Gimme 5 kali ini kami menanyakan siapakah 5 terbaik versinya, yang menginspirasi Siddha dalam berpakaian.
Sejak pertama kali mengenal hingga mengidolakan Beastie Boys, mereka selalu terlihat keren di mata saya. Dari musik sampai penampilan, trio seminal ini secara estetika punya karakter yang sangat kuat dan berdampak vital bagi saya sampai sekarang dan mungkin seterusnya. Saya bolak-balik ke seperti Pasar Senen, Pasar Baru, atau di mana saja karena terinspirasi dari apa yang dikenakan oleh Beastie Boys. Termasuk fanatisme saya terhadap hingga topi atau seperti dan jeans yang juga memang saya sering kenakan sehari-hari. Secara sadar maupun tidak, semuanya dipengaruhi oleh Ad-Rock, Mike D, dan MCA. Mereka juga yang membuat saya jatuh hati dengan seperti Puma Suede. Entah bagaimana, gaya dan cuek mereka selama 3 dekade ini, selalu definitif dan cocok untuk saya.
Menurut saya Earl Sweatshirt adalah tipe manusia yang kekerenannya sudah menjadi bakat alami. Sepaket komplit audio (musik) dan visual (penampilan). Walaupun bukan yang tertampan, anak muda ini punya bahasa tubuh yang didukung dengan penampilan sederhana yang membuat saya kagum. Topi, kaos, Seperti halnya Beastie Boys, bagi saya lagi tukang celoteh yang juga merupakan seorang produser berusia 23 tahun ini adalah salah satu persona yang gayanya saya jadikan referensi untuk diterapkan sehari-hari. Fungsional dan tidak perlu berusaha terlalu keras.
Saya dengan senang hati akan menjawab Bob Nastanovich jika ditanya perihal siapa personel favorit dari grup sinting tersebut. Selain bermacam peran pentingnya bagi band tersebut, penampilan dan apa yang selalu dikenakan sangat mampu mencuri perhatian serta sedikit banyaknya menginspirasi saya. Salah satu contohnya adalah ketika beliau memakai kaos Minutemen, dan bermain tamborin sambil bernyanyi di acara televisi tengah malam tahun 1994. ( karena saya masih bisa mengakses penting seperti ini di era sekarang). Penampilannya adalah representasi jelas dari istilah Sejak melihat video itu, sampai sekarang saya selalu terpengaruh (hingga kadang meniru) cara dan gaya beliau ketika bermain tamborin. Tentu saja, saya merasa berhutang banyak kepada mereka, khususnya Bob Nastanovich.
Saya lupa kapan saya pertama kali mendengarkan Dinosaur Jr., tapi yang jelas ketika melihat bentuk mereka, J Mascis, saya jadi makin mengidolakan band ini. Dari sekian banyak gaya beliau yang ingin saya tiru-tiru sedikit, penampilannya ketika muncul di dokumenter “1991: The Year Punk Broke,” membuat saya ingin menggunakan punya topi kuning. Menurut saya, J Mascis adalah satu dari sedikit yang membuat paduan topi dan rambut gondrong itu enak dilihat. Hingga hari ini gayanya masih keren meskipun umurnya sudah tidak muda lagi, entah itu memakai kaos band hardcore punk yang seangkatan dengan bandnya dulu atau yang lainnya. Jika nanti sudah tua, beruban banyak, berkumis-janggut, dan memutuskan untuk memanjangkan rambut, saya sudah tahu siapa yang akan saya jadikan kiblat penampilan.
Saya sudah cukup lama mengidolakan musisi jazz yang merangkap sebagai fotografer dan legendaris satu ini. Dengan sederhana, pembawaannya menyenangkan dan penampilannya pun punya ciri tersendiri plus mudah untuk saya adopsi. Kaos atau lengan pendek atau panjang, dan Vans - terutama Half Cab. Terlihat tidak berlebihan, dan tidak akan termakan tren apapun, menurut saya. Semua itu menariknya juga jadi kombinasi yang saat beliau sedang bermain gitar atau sedang berseluncur dengan -nya.
Selain seorang penyanyi dan pencipta lagu, sosok Ras Muhamad yang menyebut dirinya sebagai Indonesia’s Reggae Ambassador, di saat luang juga merupakan seorang DJ yang memperkenalkan diri sebagai Asia-Afrika Soundsystem. Unit yang dibentuk bersama seorang reggae Lion Rock, hari ini merilis sebuah mixtape bertajuk DehPon Vol. 2 yang merupakan sebuah kolaborasi bersama salah satu musisi reggae terbaik asal Eropa, Toke.
Mixtape ini berisikan 14 lagu yang mendeskripsikan seperti apa fleksibilitas dan kemampuan Toke dalam memilih instrumen yang dapat mencakup melodi-melodi dasar mulai dari reggae, hip hop, afrobeat hingga folk. Nantinya mixtape ini juga akan memperdengarkan secara ekslusif beberapa trek pilihan yang merupakan lagu olahan yang diambil dari materi album pertamanya, “Wake Up Inna Kingston.”
Selain itu, yang menarik dari DehPon Vol. 2 tidak hanya memperdengarkan keahlian para musisi yang terlibat dalam penguasaan lirik hingga segi musikal, namun juga memperlihatkan bagaimana hubungan yang tercipta antara musisi dan reggae itu sendiri. Dengan latar belakang tersebut, detail-detail seperti efek suara dan freestyle ala Indonesia yang dipilih dengan cermat. Mixtape ini menawarkan sebuah pengalaman baru yang dalam mendengarkan musik.
A snippet of the cat's contribution to Natasha Gabriella Tontey's joint in Japan.
1. I Am An Instrument by Sun Ra
2. Ai No Ballad by Yuji Ohno
3. 浅川マキの世界 by 浅川マキ
4. Purquoi, Pas? by Takeshi Inomata & Sound Limited
5. Sunrise by Zerosen
6. Tak’s Tune by Takeshi Inomata & Sound Limited
7. Ilir Ilir by Tony Scott & The Indonesian Allstars
8. You Are My Heart by Rex Williams
9. Palenque by Abelardo Carbono Y Su Conjunto
10. Eddie Quansa by Peacocks Guitar Band
11. Odoo Be Ba by Pat Thomas, Kwashibu Area Band
12. Yiri Yiri Boum by Gnonnas Pedro
13. Dunia Milik Kita by Cholil Mahmud & Lintang Radittya
14. Oh Lord, Why Lord-Prayer by Parliament
15. Di Dunia yang Lain by Ariesta Birawa Group
16. Lam Plearn Mee Mia Laew Pai by Angkanang Kunchai
17. Bump Lam Plearn by The Petch Phin Thong Band
18. Pen Jung Dai by Unknown
19. Main Akeli Raat Jawan by Ajit Singh Ft. Asha Bhosle
20. The Witness by Babla and His Orchestra
21. Eua Aree See Sor by Thonghuad Faited
22. Awara Sadiyon Se by Kalyanji Anandji Ft. Asha Bhosle
23. Djanger Bali by Tony Scott & The Indonesian Allstars
24. Saturn by Le Sun Ra & His Arkestra
25. Summertime by Tony Scott & The Indonesian Allstars
Seniman Prancis Xavier Veilhan menciptakan patung sosok arsitek Richard Rogers dan Renzo Piano, yang akan dipamerkan secara permanen di seberang Centre Pompidou, gedung ikonik ciptaan kedua arsitek tersebut. Patung-patung ini merupakan variasi dari Seri Arsitek Xavier Veilhan dan telah dipamerkan secara khusus untuk pertama kalinya di Palace of Versailles pada 2009. Kedua patung ini juga akan dipamerkan di Galerie Perrotin, Paris, sebelum ditempatkan di Place Edmond Michelet, seberang Centre Pompidou.
Seperti versi aslinya, karya teranyar ini dibuat dari setinggi 5 meter dan memiliki bentuk segi, yang membedakan adalah warna dan ukurannya yang lebih beragam. Kedua patung ini diberi warna hijau agar menyerupai konstruksi Centre Pompidou dan akan ditempatkan di ruang publik.
Sebelumnya, Veihan ingin membuat seri patung musisi pop, politisi atau aktor-aktor terkenal, tapi sosok arsitek merupakan subjek favoritnya dan ia menyebut mereka sebagai Arsitek Richard Rogers dari Inggris dan Renzo Piano dari Italia ia pilih karena karya-karya mereka memadukan kemahiran teknis, modernitas dan teknologi, serta ide-ide mengenai humanisme yang dikembangkan pada 1970-an.
Dikenal dengan keberaniannya dalam mengeksplorasi seksualitas dalam berkarya, Djenar Maesa Ayu menonjol di antara seniman Indonesia. Bekerja sama dengan Ubud Writers & Readers Festival, kami berkesempatan untuk menemuinya di rumah bersama dengan partnernya, Kan Lume untuk membahas medium beropini hingga film barunya, “hUSh.”
Kehadiran salah satu kolektif muda yang memperkenalkan diri sebagai Studiorama di awal dekade tahun 2000-an, membawa sebongkah harapan besar untuk keberlangsungan skena musik independen di Indonesia. Pasalnya apa yang coba ditawarkan oleh mereka adalah bibit-bibit peleburan berbagai bidang kreatif untuk bisa menghadirkan penampilan-penampilan baru yang segar. Dengan merangkul para pelaku musik itu sendiri, seniman dan sosok-sosok kreatif lainnya, Studiorama secara pasti memperlihatkan seperti apa konsistensi yang mereka miliki.
Kali ini menggandeng salah satu alternatif yang memberikan pengalaman lain untuk menyaksikan pertunjukan musik secara digital, yakni Sound From The Corner (SFTC), mereka menginisiasi sebuah konferensi musik tahun ini, bernama Archipelago Festival. Konferensi ini akan mengundang berbagai narasumber untuk panel diskusi dan musisi lintas genre untuk tampil guna memberikan berbagai menarik, dengan harapan mampu mendorong perkembangan musik Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. Kami berkesempatan untuk menanyakan konsep dan harapan dari diselenggarakannya acara ini dengan mereka.
Walaupun benar SFTC dan Studiorama mengunjungi Inggris untuk The Great Escape di Brighton bulan Mei kemarin, Archipelago Festival tidak secara khusus terinspirasi hanya oleh kunjungan tersebut. Konferensi musik ada di berbagai negara (Music Matters - Singapura, SXSW - Amerika Serikat, TGE - Inggris, MIDEM - Perancis, MUCON - Korsel, dst) dan kami berpikir ini saatnya Indonesia juga punya konferensi yang serupa; yang mengajak pelaku, penikmat, maupun pemula untuk berdiskusi dan kemudian siapa tahu berujung kepada aksi nyata yang berdampak signifikan.
dan memakai visual kultural, tepatnya bagian Timur Indonesia? Apa yang mau ditekankan lewat identitas ini?
Bila berdiri sendiri, Archipelago sebagai sebuah kata memiliki arti “kepulauan.” Pendekatan dan identitas visual yang kami terapkan tidak ada kaitannya dengan pandangan Indonesia sebagai negara kepulauan, apalagi mengadopsi semangat nasionalisme.
Kami memandang dinamika/isu/masalah yang ada di musik lokal seperti layaknya pulau-pulau kecil yang berdiri sendiri dipisahkan lautan, tapi berada di dalam satu teritori. Niatannya adalah membawa dinamika-dinamika yang berbeda ini untuk dibahas dalam satu wadah, yakni Archipelago Festival.
seperti apa yang ingin kalian tekankan pada emerging artist lokal lewat festival ini?
Salah satu tema besar yang kami ingin bawa adalah Ada dan yang tidak seimbang di dalam musik lokal di Indonesia. Penampil yang itu-itu saja merajai acara-acara musik lokal, di saat yang sama talenta baru yang kualitasnya bagus semakin banyak. Kami ingin menggeser pola pikir tersebut dan mencoba untuk berani memberikan panggung utama bagi musik-musik baru yang (bagi kami) layak mendapatkan perhatian lebih.
Salah satu tujuan utama Archipelago Festival adalah untuk mengajak audiens yang lebih umum untuk melihat industri musik sebagai sebuah ekosistem: musik tidak hanya tentang musisi semata, tapi di balik layar adalah sejumlah peran-peran yang sama pentingnya. Dari kacamata penonton umum, Archipelago ideal bagi mereka yang ingin tahu band-band baru yang seru untuk dicek, dan melihat musik tidak hanya sebagai sesuatu yang dinikmati (sebagai penampilan musik) tapi juga sebagai sebuah industri, komunitas dan ekosistem yang berkesinambungan.
Tidak ada metode empirik atau riset mendalam untuk menentukan topik panel diskusi, namun kami percaya diri topik-topik yang diusung punya relevansi besar terhadap kodisi riil di lapangan. SFTC dan Studiorama sebagai kolektif musik, juga sering berhadapan dengan isu-isu yang diangkat jadi campuran antara pengamatan sosial dan pengalaman sendiri.
Kami bermitra dengan British Council untuk panel ini. Tema besarnya tentang bagaimana band Indonesia bisa memulai membangun di Inggris. Industri di Inggris termasuk yang tersulit di dunia - sangat kompetitif dan kami kira ini bisa jadi insight yang menarik untuk audiens Archipelago Festival.
Dampak jangka panjangnya, kami berharap Archipelago Festival bisa dijadikan ajang silaturahmi dan semua orang yang suka dan peduli terhadap musik di Indonesia. Kami juga berharap lokal yang ditampilkan di sini, juga yang ada di luar sana, bisa mendapat sorotan layak. Sehingga acara yang bertebaran tidak hanya akan diisi oleh penampil yang berulang, tetapi juga nama-nama segar dengan cakupan musik luas. Keberagaman talenta tentunya memperkaya musik Indonesia.
-
14-15 Oktober 2017
Soehanna Hall
The Energy Building
SCBD, Lot 11A
Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53