16.10.17

Quick Review: Darkness Light Darkness

Jan Svankmajer merupakan ahli dalam memberikan kita tontonan yang aneh dan mengundang mimpi buruk. Dari arsip karya-karya abnormalnya, “Darkness Light Darkness” tetap menjadi yang mungkin saja paling menarik. Seseorang yang terbuat dari tanah liat mendapat musibah yang membuat semua bagian dari dirinya terlepas dan ia mencoba untuk membangun dirinya kembali. Secara ringkas sepertinya itu adalah sebuah cerita animasi yang lucu dan cocok untuk anak-anak, tapi ingat bahwa ini adalah sebuah film karya Svankmajer. Menampilkan adegan-adegan yang menggelikan, menggagetkan, dan film ini dengan mudah dapat menarik penontonnya. Animasi pendek ini bermula dengan kedua tangan yang memasuki ruangan kecil dengan dua pintu dan satu jendela, dimana bagian-bagian lain akan kemudian menyusul memasuki ruangan tersebut satu per satu hingga akhirnya kembali lagi menjadi bentuk manusia. Saat akhirnya kembali utuh, sang manusia tanah liat menyadari bahwa ruangan kecil ini tidak muat untuk dirinya dan akhirnya ia terjebak. Kelebihan terbaik film ini tentu terletak pada animasi tanah liat yang fenomenal. Bagaimana Svankmajer menggambarkan sebuah kepala yang gepeng terjepit atau mungkin sebuah alat kelamin yang mengecil saat disiram air dengan detail yang sangat mengerikan. Film ini serasa mempunyai arti yang lebih dalam dari sekadar komedi absurd. Sayangnya arti itu sangat sulit untuk ditemukan. Walaupun begitu, di balik lelucon-lelucon yang mungkin bisa dibilang ‘berlebihan,’ harus diakui bahwa “Darkness Light Darkness” mengundang tawa dengan komedi gelapnya. Sutradara: Jan Svankmajer Sinopsis: Sebuah tubuh manusia pelan-pelan dan dengan humoris menyusun dirinya sendiri, mencari dan menentukan di mana letak setiap bagian.

16.10.17

Portofolio: Another Design Co.

Portofolio adalah salah satu fitur pada kolom Focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali ini kami mengangkat studio desain Another Design Co. yang memposisikan desain grafis sebagai medium komunikasi di antara publik.

15.10.17

Dominate Fall/Winter 2017

urban Jakarta yang keras adalah inspirasi utama Dominate dalam segi desain. Koleksi jaketnya yang bergaya kasar dan militeristik sudah lama dikenal dalam dunia internasional dan tahun ini tidak ada bedanya. Dengan desain tipikal pakaian musim dingin yang diberikan sentuhan kontemporer, koleksi Fall/Winter 2017 dari Dominate adalah solusi untuk pribadi yang memang tinggal di daerah dingin dan tetap ingin terlihat elok. Dominate memang terkenal karena pakaian yang terinspirasi dari gaya militer modern dengan modelnya yang longgar dan juga kasar. Tetapi kali ini terlihat bahwa asal Jakarta ini ingin keluar sedikit dari zona aman mereka dan memproduksi sesuatu yang lebih berani. Terdiri dari jaket parka, dan juga celana cargo, koleksi ini seakan-akan ingin mengembalikan tren pakaian ala awal 2000-an. Palet warna hijau zaitun dan biru gelap memberikan suasana militeristik, tetapi bagian-bagian yang diberi warna jingga membuat koleksi ini tidak terlalu serius. Koleksi dari Dominate ini dijual secara ekslusif di Urban Outfitters. Selain dijual di toko-toko di Eropa, koleksi ini juga dijual secara di sini.

15.10.17

Crocs by Balenciaga

Jika mendengar kata sepatu pastinya model yang dibayangkan jauh dari desain karet menggelikan seperti Crocs. Tapi hal itu berubah saat Balenciaga memperkenalkan desain sepatu terbaru mereka dalam panggung peragaan busana SS 2018. Dengan model yang terinspirasi dari Crocs, Balenciaga lagi-lagi mengejutkan semuanya. Model unik ini datang dengan warna-warna yang biasa disuguhkan oleh Crocs, dari abu-abu hingga kuning mencolok. Selain mempunyai sol tinggi yang siap untuk dipakai di pasar malam maupun di bar terpanas Jakarta Selatan, setiap model juga diberikan pernak-pernik ala Crocs dengan bentuk bunga, bintang, bendera Amerika, dan hal-hal lain yang menandakan musim semi dan panas. Ini merupakan kali kedua Balenciaga mengejutkan dunia dengan desain-desain yang terkenal jelek. Pada koleksi FW 2017, Balenciaga merilis “Triple-S,” lari mewah dengan desain yang hanya bisa dicintai seorang ayah tua. Tentu tren sepatu ini sudah dimulai sebelumnya oleh Raf Simons dan Kanye West, dan Balenciaga hanya melanjutkan. Mungkin memang Balenciaga dan banyak desainer besar lainnya ingin membuktikan bahwa ini adalah momen revolusi, yaitu jelek artinya keren.

14.10.17

Gaga: Five Foot Two

Artis pop pada masa ini memang penuh dengan persamaan hingga kadang susah untuk membedakan satu dengan lainnya. Tentu dengan budaya yang ada pada saat ini, tidak ada juga yang peduli tentang hal itu. Autentisitas bukan lagi sesuatu yang dipikirkan di budaya pop, tetapi pernyataan itu tidak berlaku kepada Lady Gaga, sang penyanyi yang terkenal dengan aksen Manhattan-nya yang kental, pilihan bajunya yang eksentrik, dan juga penampilan yang luar biasa. Tapi sejauh ini, hanya itulah yang kita ketahui tentang Gaga. Lady Gaga hanyalah sebuah identitas yang dibuat untuk mempromosikan pola berpikir “berbeda itu baik.” Media di manapun pasti sudah sering mengupas segala kebaikan dan kontroversinya. Namun dalam dokumenter “Gaga: Five Foot Two,” subjek utama yang ingin didalami adalah seorang Stefani Germanotta, penyanyi di balik nama fenomenal itu. Film ini menceritakan tentang proses Germanotta dalam membuat album “Joanne” hingga penampilan spektakulernya di Super Bowl 2017. Dengan menggunakan gaya dokumenter ini akan menunjukkan secara blak-blakan apa saja yang telah menginspirasi album “Joanne” dan masalah emosional yang selama ini dialami Lady Gaga. Film yang mentah dan penuh perasaan ini akan membawa penonton dalam sebuah perjalanan mengenal hidup di balik seorang bintang pop internasional, juga membuktikan bahwa dirinya hanyalah seorang manusia yang sama rendahnya dengan siapapun.

14.10.17

Ash x Filip Pagowski

Untuk pribadi yang menyukai berpenampilan berani dan ramai, Ash memang menjadi opsi utama dalam fashion alas kaki. Kali ini buatan desainer Patrick Ithier dan Leonello Calvani akan berkolaborasi dengan artis dan ilustrator Filip Pagowski. Kolaborasi ini menghasilkan sebuah koleksi bermotif natural yang terang dan langsung menarik perhatian. Pagowski sendiri memang terkenal karena karya-karyanya yang atraktif, mulai dari kerja samanya dengan Drake dalam “Views From the 6” dan mungkin karyanya yang paling terkenal, logo Commes des Garcons. Desainnya yang memikat bisa dibilang sangat menunjukan bahwa kolaborasinya dengan ASH memang cocok. Koleksi ini mempunyai dua desain utama, “Flame” dan “Tweed.” “Flame” menunjukkan desain sayap berbentuk api dengan warna hijau daun terang, sedangkan “Tweed” menunjukan motif daun berwarna merah api yang di di seluruh sepatu. Koleksi ini tersebar di antara dompet, kaos kaki, dan tiga desain sepatu kesukaan Pagowski dari koleksi ASH. Semua desain ini mempunyai tujuan untuk melengkapi pakaian Koleksi lengkapnya bisa dicek di website utama mereka di sini.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.