20.10.17

Gimme 5: Madrim Djody

Selain aktif dan tergabung di sebuah kolektif muda yang banyak menginisiasi acara-acara kreatif khususnya di bidang musik, yakni Studiorama, Madrim juga aktif menghadiri berbagai macam festival dan acara musik internasional untuk memperkaya wawasannya. Untuk itu, pada episode Gimme 5 kali ini, kami menanyakan 5 acara musik terbaik yang pernah ia hadiri. Saya ingat sekali momen ketika Damon Albarn meneriakkan “We love London!” saat konser reuni Blur di Hyde Park, 8 tahun lalu. Konser ini diramaikan 60.000 orang yang bernyanyi bersama pada tiap lagu sembari menari dan berteriak antusias. Tentu sangat bagi saya. Tapi ada 1 lagu, yaitu “Park Life” yang membuat mata beberapa orang sembab (mungkin karena lokasinya di Hyde Park?) dan bagi saya lagu tersebut memiliki kesan berarti karena saya ingat ada seorang laki-laki melempar botol plastik bau pesing ke kepala saya (tertawa). Trish Keenan adalah idola saya sejak masa kuliah hingga hari ini. Saya menyukainya karena karyanya menemani saya saat mengalami depresi. Saya bersyukur bisa melihat penampilannya langsung sebelum ia meninggal. Broadcast akan selalu memiliki tempat spesial di memori saya, RIP Trish. Ini merupakan berdurasi 3 hari terbaik yang pernah saya datangi. Belle & Sebastian, Joanna Newsom, Hawkwind, Os Mutantes dan The Besnard Lakes adalah penampil terbaik menurut saya kala itu. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana indahnya pemandangan di dekat Meredith Amphitheatre, sebuah bukit terpencil yang terlihat seperti sebuah taman batu romantis. Benar apa yang dibilang oleh para warga lokal di sana, (tertawa). Tempat festival ini cukup karena mereka menggunakan besar yang dimodifikasi menjadi sebuah area bermain khusus untuk orang dewasa. Saya ingat saat itu suasananya berantakan, panas, dan pengap seperti yang saya perkirakan karena, ya, ini adalah acara All Tomorrow's Parties (tertawa). Untuk mengerti maksud saya, mungkin bisa cek dokumenternya. Saya merasa waktu melambat ketika menonton SWANS, My Bloody Valentine, Einsturzende Neubauten, Sleepy Sun, Pere Ubu, GodSpeed You! Black Emperor dan setelah saya menangis bahagia. Sebenarnya ada beberapa momen seru di periode 2014 sampai 2016, tapi karena saya hanya bisa menulis 5 penampilan musik terbaik, saya memilih festival terakhir yang saya hadiri tahun ini, yaitu Field Day Festival di London Timur. Festival ini layaknya representasi masa kini dengan nuansa 90-an yang kental. Beberapa penampilan musik di festival ini yang akan selalu saya ingat adalah Aphex Twin, Slowdive, Flying Lotus, Death Grips, Jon Hopkins, Nicolas Jaar, Ikonika, Moderat dan Silver Apples. Selain itu, festival ini menjadi semacan nostalgia saya akan masa-masa di London saat saya kuliah di sana. Rasanya seperti pulang kembali ke rumah.

Bamboo Twist
20.10.17

Viva Revivalist!

Classic post punk revival from early 2000 at the height of band names with 'THE' 1. Last Night by The Strokes 2. Fell In Love With A Girl by The White Stripes 3. An Honest Mistake by The Bravery 4. Hate To Say I Told You So by The Hives 5. Take It Off by The Donnas 6. The Rat by The Walkmen 7. Bandages by Hot Hot Heat 8. Eyes Wide Open by Radio 4 9. House of Jealous Lover by The Rapture 10. Danger! High Voltage by Electric Six 11. Can't Stand Me Now by The Libertines 12. Get Free by The Vines 13. Motor City Baby by The Dirt Bombs 14. Bad Kids by The Black Lips 15. Tighten Up by The Black Keys

19.10.17

Dari Lensa Empat Fotografer Muda

Fotografi telah menjadi bagian dari budaya populer hari ini yang membuat perannya cukup signifikan. Tidak hanya itu, dengan kehadiran berbagai macam teknologi, kegiatan mengabadikan momen ini menjadi lebih bermakna dari sekadar mengambil gambar. Untuk mengetahui seperti apa peran fotografi sekarang, kami berbincang dengan 4 fotografer terkini mengenai perspektif mereka tentang perkembangan fotografi saat ini.

18.10.17

Sentuhan Warna William LaChance

Hidup tidaklah hitam dan putih, sentuhan warna di setiap kegiatan yang dijalani membuat hidup jauh lebih menyenangkan, tak terkecuali olahraga. Hal ini yang dilakukan William LaChance, seniman yang mewarnai lapangan basket di daerah suburban St Louis. Mengapa membuat mural berskala besar di St Louis? Lapangan basket ini terletak di Kinloch Park, kota Missouri, dan berdekatan dengan daerah Ferguson yang pada 2014 terjadi kekacauan akibat penembakan seorang pemuda berkulit hitam oleh seorang polisi berkulit putih. Bekerja sama dengan organisasi non-profit Project Backboard, William LaChance bertujuan untuk memberi nafas baru dan mengajak publik untuk berkumpul bersama melalui olahraga. Proyek mural ini diharapkan dapat memicu revitalisasi lebih lanjut di kota yang cukup memiliki sejarah kelam. Untuk proyek ini, LaChance terlebih dahulu mendesain pola mural di 5 buah lukisan cat minyak. Mural ini berpola geometris dan penuh warna yang tegas, tapi tetap dibedakan dengan penanda lapangan yang berwarna putih. Belakangan ini, proyek mewarnai ulang lapangan basket dengan ragam pola memang marak. Hal yang sama pernah dilakukan di Paris di tahun 2015 oleh Ill-Studio & Pigalle. Seniman berbasis Brooklyn, Kaws, juga menerapkan motif ikoniknya di dua lapangan basket di New York di bulan November 2016.

Art
18.10.17

Hasrat dan Kreasi bersama Intan Paramaditha

Bekerja sama dengan Ubud Writers & Readers Festival, kami berkesempatan menemui penulis dan akademisi Intan Paramaditha saat berkunjung ke Jakarta untuk membahas hasrat, fiksi, politik seksualitas hingga novel "Gentayangan."

17.10.17

Summer in the City

Dalam musim yang membawa suhu panas menyiksa, seseorang hanya bisa berharap hari mereka berjalan dengan nyaman. Bagi sepasang sahabat panasnya musim panas mereka rasakan dengan jalanan sebagai rumah mereka. Menghabiskan waktu bermain skateboard, membaca buku, dan juga berkeliling sekitar lingkungan urban Moskow, dua pemuda ini tidak butuh apa-apa kecuali sesama. Adalah rasa persaudaraan yang membuat mereka menikmati kehidupan, tetapi tidak mereka ketahui bahwa rasa itulah yang akan mengakhiri kehidupan tersebut. Kisah tersebut adalah alur utama dalam “Summer in the City,” sebuah film pendek yang dibuat oleh fotografer asal Rusia, Sergey Kostromin. Film yang muram namun cantik membawakan kehangatan di awal film hingga pada adegan terakhir yang akan memberikan rasa hampa. Sinematografis yang indah dialunkan dengan lagu dari band Leto V Gorode, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris adalah

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.