19.04.16

Jadwal Film Kinosaurus Bulan April 2016

Bekerja sama dengan Kedutaan Norwegia dan Swedia, Kinosaurus, mikro sinema, menampilkan jadwal film untuk bulan April yang dibagi jadi beberapa jenis film, mulai dari “Scandinavian Popular Cinema” yang terdiri dari film asal Skandinavia yang mencapai Box Office dengan keuntungan puluhan juta dolar, “First Features” yang menampilkan film pertama dari sutradara pilihan seperti Josh Kim dan Andri Cung. “Young Norway” didaulat untuk memperkenalkan sutradara muda asal Norwegia yang berhasil membawa filmnya ke festival dengan mengangkat cerita dari novel. Sedangkan untuk sinema anak, Kinosaurus hadir dengan “Kinokids with Club Kembang” berisi film-film animasi yang menggambarkan perkembangan film di Norwegia dibalut dengan kultur dan nilai artistik khas Norwegia. Khusus untuk fokus sutradara bulan ini, Kinosaurus membuat “Spotlight on Mira Nair.” Seorang sutradara asal India berbasis di New York yang dikenal dengan isu ekonomi sosial dan budaya India dalam filmnya berjenis documenter hingga fitur, seperti Salaam Bombay! yang pernah dinominasikan sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Award di tahun 1989. Untuk melengkapi agenda, “Kinodocs” pun kali ini diisi dengan gabungan film dokumenter lokal seperti WSATCC di Cikini dan film Norwegia berdurasi 80 menit, The Snow Cave Man. Kunjungi website Kinosaurus untuk detail jadwalnya. - Kinosaurus Jl. Kemang Raya No.8B Mampang Prapatan Jakarta

14.04.16

Tika & The Dissidents Menyuarakan Otoritas Tubuh

Seringkali luput dari kesadaran kita, otoritas telah menjadi bagian dari tiap manusia, baik sebagai sang subjek bahkan kadang sebagai sang objek. Otoritas pun dapat hadir dengan kekuatan yang menyalahi tataran kemanusiaan layaknnya sebuah interupsi. Hal ini yang disampaikan oleh Kartika Jahja dengan bandnya Tika & The Dissidents dalam menggubah lagu di album terbarunya “Merah.” Tika yang giat menyuarakan hak perempuan, menulis lagu berjudul “Tubuhku Otoritasku” beberapa tahun lalu yang mengangkat cerita di balik tubuh perempuan dan pengalaman kekerasan yang ia alami. Inspirasi dibalik lagu ini didapat dari tubuh yang lambat laun berubah secara alami atau modifikasi dengan atribut dan dipandang berdasarkan tata karma yang seringkali mengikat layaknya, otoritas tak kasat mata. Bersama kawan-kawannya, Tika membuat sebuah kolektif, Mari Jeung Rebut Kembali (Ika Vantiani, Teraya Paramehta, Savina Hutadjulu dan Shera Rindra) yang menggalakkan hak perempuan melalui medium persuasif, seperti musik. Beragam latar belakang, mulai dari musisi, dosen, anggota NGO hingga seniman yang tergabung dalam kolektif ini memberikan warna dan sudut pandang dalam mengatasi isu yang diangkat Tika. Melalui lagu “Tubuhku Otoritasku” kolektif ini menyerukan ajakan kepada semua orang, tak hanya perempuan, untuk menghargai tubuh tiap perempuan yang memilih untuk terlihat atau terlahir berbeda. Lirik tajam dan penuh emosi terjalin dengan aransemen yang menggambarkan semangat para perempuan yang pernah dipandang sebelah mata karena cara berpakaian, keriput yang menumpuk dimakan zaman, lemak berlebih serta profesi eksentrik. Dalam selebrasi ini, sebuah video musik dibuat berisi cerita dari 30 perempuan berpenampilan beragam. Tiap orang hadir dengan cerita menyentuh melalui ekspresi wajah, gestur dan tulisan seruan akan hak mereka yang telah direbut di anggota tubuhnya.  Video sederhana ini tampil dengan keluwesan para dalam merayakan tubuh mereka. Tika menyampaikan isu ini tanpa basa basi atau metafora berbelit dalam lirik dan video untuk menonjolkan bahwa otoritas kini telah menjamah bagian paling personal dalam diri perempuan, dengan harapan orang mulai mengetahui makna dan batasan otoritas. Dengan pemahaman cukup, sekat akan tercipta untuk membela diri dari celaan berasaskan penilaian masyarakat. Tika mengajak semua orang untuk mengenal wilayah antara subjek dan objek untuk menemukan kesetaraan yang ada di masyarakat, karena tubuhku adalah otoritasku. Sekali lagi, musik berperan penting dalam menginjeksikan sebuah spirit dan Tika & The Dissidents hadir sebagai perantaranya.

13.04.16

Kompetisi Karya Trimatra 2016

Komunitas Salihara sebagai salah satu di Jakarta yang menghadirkan elemen penting di dunia seni kini kembali mengadakan Kompetisi Karya Trimatra yang mengajak para seniman muda untuk berpartisipasi. Mengikuti kesuksesan kompetisi sebelumnya pada tahun 2013 yang membebaskan semua submisi dengan tema personal, Salihara kini menyematkan tema yang terkait dengan perubahan lingkungan yang kian kompleks namun luput dari perhatian masyarakat. Dengan menyediakan dewan juri yang terdiri dari beberpa pihak yang memiliki andil dalam dunia seni Indonesia, mulai dari pematung Anusapati, kurator Asikin Hasan, arsitek Eko Prawoto, pemerhati seni rupa Natasha Sidharta serta penata panggung Jay Subyakto, Salihara berniat untuk menyeleksi pemenang berdasarkan tingkat fleksibilitas tiap karya. Peserta diharapkan berhasil mengimplementasikan kriteria dari dewan juri yang merepresentasikan nilai estetika, gagasan cerita yang jernih, teknik pembuatan serta presentasi final yang melampaui kaidah umum, namun padu dengan nilai ekologi dan kebudayaan dalam masyarakat. Kalian bisa mengajukan rancangan karya beserta ide atau penjelasan gagasan karya sesuai persyaratan Komunitas Salihara sebelum tenggat waktu pada 31 Mei 2016. Proses penjurian akan terjadi dalam dua gelombang, pertama pada bulan Juni yang akan menyeleksi 50 rancangan. Lalu, mereka yang terpilih akan diminta mengirim karya final sebelum 30 September 2016 untuk kembali melewati tahap seleksi top 25 finalis di bulan Oktober untuk kemudian dipilih menjadi pemenang I, II dan III. Kompetisi berjangka panjang ini nantinya akan memamerkan 25 karya finalis—termasuk pemenang I, II dan III—akan dipamerkan di Galeri Salihara pada akhir November 2016. Kunjungi http://www.salihara.org/programs/visual-arts/exhibition/detail/kompetisi-karya-trimatra-salihara-2016 untuk informasi selengkapnya dan selamat berkompetisi! Teks: Febrina Anindita Foto doc. Komunitas Salihara

12.04.16

Esensi Rumah dalam Pameran Bertajuk “Rumah” oleh Anton Ismael

Seiring tumbuh kembang individu, keberadaan rumah, tak hanya menjadi kebutuhan primer, tapi juga sebagai tempat untuk mencari kenyamanan setelah lama menempuh waktu di jalan atau berpikir keras di kantor. Rumah seringkali dikaitkan dengan keluarga inti yang menemani seseorang dalam mengekplorasi jati diri dan kemampuan yang ada. Aktivitas yang terjadi di dalam rumah cenderung bersifat spontan namun memiliki tata karma yang dibuat serta diturunkan dari keluarga besar. Menggunakan gagasan rumah beserta memori yang tertangkap dan tercipta di dalamnya, Anton Ismael menyampaikan kekuatan rasa akrab dari rumah dalam pameran tunggal berisi macam bentuk karya menggunakan berbagai medium. Anton bersama dengan Ade Darmawan sebagai kurator, menonjolkan kekuatan rumah dalam mempengaruhi imaji seseorang. Sisi lembut tiap orang yang berkunjung ke pameran ini akan tersentuh oleh relevansi cerita di balik tiap karya yang tersaji. Sebuah ruang dan kuas, cat, serta kertas disediakan Anton untuk menggambarkan ‘bentuk’ rumah yang hadir di angan pengunjung. Tentunya sebagai seniman maupun fasilitator, Anton dan Ade tak luput menyampaikan cerita dengan alur emosional yang mengingatkan kita dengan rumah. -- Pameran: 1 April – 15 Mei 2016 Selasa-Minggu jam 11:00-19:00 di RUCI Art Space Jl. Suryo No. 49, Kebayoran Baru Jakarta Foto: doc. RUCI Art Space

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.