04.05.16

Memperjuangkan Kesetaraan bersama Kartika Jahja

Kartika Jahja adalah seorang musisi yang giat memperjuangkan isu kesetaraan perempuan. Lewat karyanya yang hadir dengan semangat dan lirik bermakna, ia menyebarkan kesadaran akan pentingnya pemahaman akan hak perempuan. Whiteboard Journal mengunjunginya ke kantor di bilangan Kemang untuk berbincang mengenai eksplorasi musik, ketertarikannya terhadap isu tubuh perempuan dan kolektif Mari Jeung Rebut Kembali.

03.05.16

IniBudi.org Mencari Potensi Baru Dalam Berinovasi

Sebuah startup online bernama IniBudi menjadi contoh nyata dalam implementasi teknologi terhadap pendidikan. Bukan sekadar menyediakan informasi tak terbatas, kali ini internet menjadi media belajar online. Meskipun masih baru, IniBudi menawarkan solusi kreatif dalam menyampaikan mata pelajaran utama kepada siswa siswi, tanpa mengharuskan kedatangan, layaknya sekolah pada umumnya. Bersamaan dengan semangat inovasi yang digalakkan IniBudi, sebuah kompetisi yang berfokus pada video pendidikan dibuka. “Ini Inspirasiku” mengajak para individu dengan passion seni dan sosial untuk berkontribusi dalam menyiapkan video berisi inspirasi dari deretan lagu yang sudah disiapkan oleh IniBudi. Adapun beberapa musisi yang terpilih lagunya untuk dicantumkan dalam video adalah, Efek Rumah Kaca hingga YACKO x JRSCK yang dikenal dengan lirik lagu bermakna. Peserta kompetisi yang dibagi berdasarkan masyarakat umum dan pelajar wajib menggambarkan pesan yang ada di lagu dan menjelaskan inspirasi yang muncul dari lagu tersebut. Submisi dibuka hingga 22 Mei 2016 lalu pengumuman finalis akan dilakukan pada tanggal 23-28 Mei 2016 sebelum pemenang akan diumumkan pada 29 Mei 2016. http://inibudi.org/iniinspirasiku/

26.04.16

Europe on Screen 2016

Salah satu festival yang ditunggu-tunggu adalah Europe on Screen.Tahun ini Europe on Screen hadir kembali dengan 6 macam section film yang terdiri sekitar 60 judul film dari Jerman, Perancis, Denmark, Belanda hingga Polandia. Section film dalam festival dibuat untuk memperkenalkan film Eropa kepada masyarakat yang awam akan warna perfilman di sana serta menawarkan deretan film pilihan yang telah mendapatkan penghargaan di beberapa festival film dunia dikarenakan cerita filmnya yang tidak biasa. Sebuah festival yang dibuat untuk mempertemukan pecinta film, tak hanya Eropa tapi global di Indonesia. XTRA menjadi seksi yang terdiri dari 16 film box office, lalu untuk film-film unik bisa ditemui di DISCOVERY, seperti “A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence.” Selain itu DOCU masih jadi seksi sensasional dimana beberapa film seperti “Holy Cow” yang merupakan dokumenter teratas di Eropa. Untuk mereka yang cinta film retro bisa menemukan harta karun Georges Méliès di seksi RETRO. Pun jika ingin mencari film ringan yang bisa dinikmati bersama keluarga, seksi FAMILY bisa jadi pilihan dengan “The Little Prince” sebagai salah satu film yang terkenal. Terakhir adalah seksi OPEN AIR dimana beberapa film pilihan akan diadakan setiap malam di Erasmus Huis dan 5 malam di Mall Bintaro Exchange. Mengambil beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bali, Medan, Surabaya dan Yogyakarta sebagai titik pemutaran film, Europe on Screen menjadikan budaya screening kembali bergairah guna meningkatkan dialog dan referensi perfilman untuk perkembangan skena lokal. Semua film dapat ditonton tanpa dipungut biaya sehingga semua orang bisa menikmati film-film Eropa yang telah melalui proses kurasi. Untuk detail jadwal, cek http://europeonscreen.org/ dan Events Page Whiteboardjournal.com

26.04.16

Di Balik Keindahan Mentawai

Pulau Mentawai beberapa tahun lalu mungkin hanya diketahui sedikit orang, selama ini mungkin hanya Durga yang giat memperkenalkan tato tribal asal Mentawai. Ternyata pulau cantik ini hanya beberapa jam perjalanan dari kota asal ayah saya. Keinginan untuk berkunjung dan melihat keindahan tato serta perhiasan khas Mentawai tentu muncul cukup deras, tapi mengingat jalan yang harus ditempuh cukup berat, niat itu terpaksa ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Selain seni yang eksotis didukung dengan letak geografis menantang, Mentawai pun terkenal juga di antara para peselancar yang senang mengeksplorasi ombak ganas di sana. Banyaknya hal menarik yang bisa didapat dari Mentawai membuat segelintir orang tertarik untuk bermalam dan mendokumentasikan surga duniawi yang ditawarkan dengan foto, video ritual hingga tato. Tak sering hal tersebut membantu tapi juga mengganggu keberlangsungan suku di Mentawai. Bersadarkan hal tersebut, sebuah film independen yang dirilis tahun lalu, berjudul “As Worlds Divide” dibuat dengan konsep dokumenter dimana seorang lelaki asal Melbourne, Rob Henry memilih untuk meninggalkan pekerjaannya pada tahun 2008 dan berpetualang di Mentawai, tepatnya di sebuah kebun kelapa. Dari film ini, keintiman yang tak bisa ditunjukkan di acara televisi lokal yang pernah berkunjung ke Mentawai tertangkap dengan magis. Film yang direkam dengan rentang waktu hampir 8 tahun ini menghadirkan gambar-gambar vivid dari alam Mentawai yang masih asri dimana suku yang tinggal di dalamnya masih terbatas dari informasi modern layaknya sebuah oasis antah berantah. Rob pun berhasil membuat jembatan yang menunjukkan krisis dalam suku yang menggambarkan diskoneksi antara orang-orang lokal dengan identitas kultur dan tanah tinggal mereka yang terjadi seiring dengan waktu yang berjalan menuntut perubahan.

25.04.16

Platform Kreatif Untuk Semua

Kreativitas memerlukan wadah yang mampu menjadi tempat dimana karya-karya bisa dipajang, lalu dikembangkan lagi. Go Ahead Challenge adalah sebuah platform yang dikembangkan untuk mewadahi kreativitas anak bangsa. Dan tahun ini, ada berbagai fitur baru yang akan membawa hasil kreasi ke level yang lebih tinggi.

20.04.16

Pekan Gembira Rumpin 2016

Buku, film dan cinta mungkin jadi tiga hal yang bisa membuat orang bahagia di dunia ini. Kadang hiburan datang dalam bentuk pasif yang membuat siapapun bisa mendapat kepuasan tanpa harus menyesuaikan diri. Melalui hal tersebut, kadang orang bisa menjadi kembali seperti anak kecil yang menemukan sebongkah permainan untuk dinikmati sendiri atau bersama teman. Sayangnnya anak-anak yang memang membutuhkan hiburan sarat makna dan pendidikan layak kini tak selalu bisa mendapatkannya. Beberapa daerah yang kurang terkena paparan informasi atau lokasi yang terisolasi lebih kini berinisiatif membuat sarana pembelajaran untuk anak-anak yang membutuhkan. Salah satunya adalah Sekolah Kita Rumpin, sebuah sekolah alternatif gratis yang berada di Kampung Cibitung, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor ini menanamkan nilai-nilai penting kepada anak-anak, berupa empati, kepercayaan diri, rasa ingin tahu, serta kreativitas yang didukung oleh riset dan pengajar sukarelawan dengan pendekatan profesional. Setelah aktif beroperasi sejak tahun 2012, Sekolah Kita Rumpin bekerja sama dengan Komunitas Salihara dan Buttonijo menyelenggarakan Pekan Gembira Rumpin tahun ini untuk memperingati hari ulang tahun Sekolah Kita Rumpin yang ke-4 sekaligus sebagai acara penggalangan dana bagi sekolah tersebut pada hari Minggu, 24 April di Komunitas Salihara. Menghadirkan beberapa hiburan berdonasi yang bisa menstimulus rasa ingin tahu dan kreativitas anak-anak, acara ini dilengkapi dengan kelas fotografi dan prakarya berupa melukis tote bag yang akan dibimbing oleh Muhammad Fadli dan Kitty Manu. Adapun Buttonijo sebagai partner acara hadir dengan pemutaran fim “Another Trip to The Moon” yang akan dilanjutkan dengan diskusi untuk mengajak anak-anak belajar melihat suatu hal lebih dalam. Stand komunitas Lemari Buku-Buku juga akan tersedia di area sekolah yang tak hanya membawa beberapa buku pilihan, tapi juga menyediakan kotak donasi untuk buku anak-anak. - Isi acara: - Kelas Fotografi dengan Muhammad Fadli (donasi IDR 150,000) - Kelas Prakarya Melukis Tote Bag dengan Kitty Manu (donasi IDR 150,000) - Pemutaran dan Diskusi Film "Another Trip to The Moon" (HTM IDR 50,000, HTM + Kelas IDR 175,000) Pendaftaran bisa langsung menghubungi pekangembirarumpin@gmail.com atau Mutia (0822 8154 2093) - Minggu, 24 April 2016 (13:00-18:00 Komunitas Salihara Jl. Salihara No. 16 Kebagusan, Pasar Minggu Jakarta

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.