Film dengan judul pesimis cenderung mengajak penonton untuk tertarik mengintip ceritanya. Sutradara muda asal Canada, Xavier Dolan, merupakan salah satu yang dikenal menggunakan judul film simple namun mengena. Sering mengangkat setting subkultur yang membalut isu tabu sekitar ranah domestik dan sosial, Dolan kembali menggelitik rasa penasaran penikmat film dengan deretan aktor kawakan, dari Gaspard Ulliel hingga Vincent Cassel yang akan memainkan sebuah cerita berdasarkan adaptasi teater tahun 1990 karya Jean-Luc Lagarce, berjudul “It’s Only the End of the World.”
Banyak ulasan mengenai film ini yang mengatakan bahwa Dolan kembali menggasak sebuah isu yang dekat dengan kenyataan untuk mendistraksi kesempurnaan hidup, kali ini korbannya adalah hidup sebuah keluarga. Mengangkat tema keluarga, film ini tak hanya menunjukkan pesimisme di dalam judul tapi juga keseluruhan cerita. Bagaimana seseorang yang lama meninggalkan keluarganya memutuskan untuk kembali dengan berita bahwa dirinya sekarat menjadi premis utama. Mungkin di cerita lain sang tokoh utama akan dibawa untuk mendapati sisa akhir hidupnya dengan kesenangan yang sebelumnya tak bisa didapat karena berbagai batasan yang tersemat dalam hidupnya. Tapi di dunia Dolan, hal itu nampaknya bukan perkara penting.
Dengan mengajak penonton untuk terbawa dalam sebuah dunia yang ia ciptakan, Dolan merancang sebuah teks berupa mimpi buruk yang didesain secara detail. Sinematografi yang dekat dan seakan merekam emosi yang ada di cerita pun menambahkan drama di wajah tiap karakter dan jalan cerita. Dokumenter sebuah keluarga modern bisa jadi alias untuk film ini. Keluh kesah yang terlontar dari mulut anggota keluarga berkarakter berbeda pun menjelaskan intrik yang sejatinya akan selalu hadir dalam sekumpulan orang walau terkait dengan pertalian darah. Walau terlahir di tahun 1989, Dolan membuktikan dirinya patut dipertimbangkan sebagai lawan para sutradara ternama untuk menghadirkan pilihan film intens untuk penonton dan “It’s Only the End of the World” pun menjadi film yang ditunggu-tunggu tahun ini.
Menilik kecantikan tersembunyi dari kota Melbourne yang menjadi pusat subkultur di Australia, mulai dari kuliner yang dijajakan, iklim seninya, serta panorama alam yang dapat dikunjungi dalam kurun waktu satu minggu. Artikel ini disponsori oleh Wego, situs travel yang menawarkan harga terbaik untuk hotel dan tiket pesawat yang akan melengkapi rencana perjalanan Anda.
Nikita Dompas, salah satu pemain musik di ranah jazz Indonesia yang telah melebarkan tangan dinginnya ke dunia pop guna mengeksplorasi bakatnya. Whiteboard Journal mengunjunginya ke studio di bilangan Cikini untuk berbincang mengenai eksplorasi musik, harmonisasi jazz serta proyek terkini.
Ramayana Soul, sebuah band yang mengusung jenis musik psychedelic blues yang cukup menarik perhatian banyak orang mendapatkan kesempatan untuk merilis LP 12’ bersama label rekaman asal Jepang, GuruGuru Brain yang dikenal dengan apresiasi akan musik underground di Asia. Band yang hadir dengan komposisi menarik dan konsep ala kehidupan di tahun 1960 ini telah mendapat respons baik dari orang-orang yang cinta dengan musik yang dapat bercerita dengan atau bahkan tanpa lirik.
Menggunakan sitar sebagai salah satu instrumen yang membuat Ramayana Soul memiliki posisi mencolok dibanding musisi lain, lagu-lagu yang dihasilkan seringkali memiliki nafas psychedelic yang kental seakan mendengarkan Ravi Shankar versi rock ‘n’ roll atau Kikagaku Moyo yang bisa membebaskan pendengar dalam menilik musiknya. Tabla seringkali mengisi aransemen yang dijahit dengan lirik dekat penonton melalui alunan vokal seperti chanting lagu India namun tetap menjejakkan eleman lokal dalam pilihan diksi yang mengemas cerita dengan apik.
Dengan keunikan yang terus terlihat dalam tiap performa mereka, GuruGuru Brain kemudian mengajak mereka untuk bergabung dalam label dengan LP “Sabdatanmantra” sebanyak 350 keping. Setelah menampilkan albumnya di akun Bandcamp GuruGuruBrain sejak April lalu, respon yang didapat sangatlah baik dimana kemudian hari sebuah pesta untuk merayakan pesta rilisnnya LP ini di Gudang Sarinah Ekosistem, Pancoran Jakarta pada 14 Mei 2016 bekerja sama dengan Ruang Rupa, RURU Gallery, RURU Radio dan RURU Shop. Ramayana Soul akan membawakan beberapa materi baru album kedua untuk pertama kalinya di sini sekaligus menjual LPnya. Selain itu, band indie legendaris Karon N Roll dan The Lampu akan mengisi acara untuk memeriahkan pesta yang akan digelar mulai jam 18:30. Siapkan tarian dan bebaskan jiwa raga akhir pekan ini!
-
Sabtu, 14 Mei 2016
18:30-23:00
HTM IDR 25,000
Gudang Sarinah Ekosistem
Jl. Pancoran Timur II No.4
Pancoran
Jakarta
Kolektif Studiorama kembali dengan Mindzapp, sebagai salah satu agenda mereka yang menonjolkan musik eksperimental sebagai sajian utama. Kali ini untuk keempat kalinya, Mindzapp hadir membawa musisi Jepang yang sebelumnya pernah tampil di Jakarta, Kazuhisa Uchihashi. Acara yang akan digelar pada hari Jum’at 13 Mei 2016 pukul 19:30 WIB di Borneo Beer House, Kemang, Jakarta ini memberikan alternatif bagi mereka yang ingin merayakan Friday the 13th dengan bebunyian eksperimental.
Uchihashi yang telah aktif mengembangkan musik sejak 1983 dengan berpusat pada improvisasi bebas, telah memperluas kemungkinan-kemungkinan baru dalam permainan gitar dengan inovasi berbagai efek suara akan tampil dengan bantuan visualisasi menarik dari tim visual Studiorama. Selain itu, akan ada Sawi Lieu yang akan menampilkan set yang belum pernah ia bawakan sebelumnya. Akan ada juga salah satu band baru potensial, rekah yang akan memanaskan suasana, selain itu Division Fracture, Betonhitam, dan Voc.aL juga akan menampilkan penampilan terbaiknya.
Sebagai ibu kota di bagian Australia Barat, Perth memiliki banyak keistimewaan. Ada banyak varian dalam berbagai aspek yang menjadikan Perth kota tujuan wajib bagi traveler. Segala macam hiburan bisa ditemukan di darat maupun lautan Perth. Artikel ini disponsori oleh Wego, situs travel yang menawarkan harga terbaik untuk
hotel dan tiket pesawat yang akan melengkapi rencana perjalanan Anda.