25.08.16

Teater Satu untuk SCOT Asia Directors’ Festival 2016

Bisa membawakan sebuah cerita secara langsung lengkap dengan setting tempat dan waktu yang deskriptif di atas panggung menjadi tantangan grup teater. Kejelian dan kegigihan mereka dalam mengolah produksi dan mengkomunikasikan bahasa tertulis agar dapat menggerakkan emosi penonton adalah misi utama penuh tuntutan. Teater Satu asal Lampung besutan sutradara, seniman dan penulis Iswadi Pratama ini menjadi salah satu grup teater yang mampu menyampaikan elemen tersebut dengan baik. Perjalanan mereka di skena kesenian inipun sudah tak perlu diperkenalkan secara panjang lebar. Iswadi yang juga menjadi pengajar kelas akting di salah satu komunitas seni di Jakarta pun sudah tidak diragukan lagi kompetensinya dalam mengarahkan pemain teater untuk mendalami peran sebuah cerita. Atas kepiawaian Iswadi, Teater Satu yang dikenal mampu menunjukkan kedalaman emosi di tiap performanya pun, mendapat kesempatan untuk terbang ke Jepang pada tanggal 27 Agustus – 5 September 2016, tepatnya guna berpartisipasi dalam SCOT Asia Directors’ Festival 2016. Festival yang akan digelar di desa Toga, Toyama ini akan dimeriahkan oleh ragam grup teater dari Indonesia, Korea, China, Taiwan, Rusia dan tuan rumah Jepang. untuk menampilkan lakon The Chairs (Kursi-Kursi) karya Eugene Ionesco. Berdasarkan pilihan Japan Foundation, Teater Satu menjadi lembar pertama bagi Indonesia untuk menorehkan cerita dalam festival tersebut. Lakon The Chairs yang bercerita tentang pencarian identitas sebuah masyarakat urban ini akan dikemas dalam bentuk kontemporer; lebih banyak menggunakan bentuk gerak tari, bela-diri, nyanyian, musik, dan imej-imej visual. Yang menarik pula, adalah adanya paduan unsur budaya Indonesia dan negara-negara Asia, mulai dari tradisional hingga urban untuk membentuk relasi terhadap penonton festival dari bangsa manapun. Teater Satu menjadi bukti bahwa kesenian masih menjadi motor terbaik untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia serta memperkuat karakter Indonesia sebagai bangsa multikultural.

Column
25.08.16

Tripped

Pada esainya kali ini, Febrina Anindita menulis tentang bagaimana musik bergenre trip hop memiliki kemampuan untuk membuka pintu menuju ruang eksplorasi yang luas untuk mencapai level spiritual. Dengan mengambil contoh lagu-lagu dari Portishead, Febrina mencoba untuk menjelaskan bagaimana trip hop mampu menuntun pendengar untuk mengeksplorasi emosi yang biasanya dikesampingkan.

24.08.16

Movement Musik bersama Indra Menus

Indra Menus adalah seorang pegiat musik yang menggeluti beragam bidang sekaligus. Selain tampil sebagai musisi bersama To Die dan LKTDOV, ia juga bergerak di bidang zine, label rekaman, gig organizer, lapak musik, dan komunitas musik noise bernama Jogja Noise Bombing. Whiteboard Journal berkesempatan menemuinya dan berbincang mengenai geliat musik noise dan semangat DIY (Do It Yourself) dalam kancah musik Yogyakarta.

22.08.16

Get Together at Local Art Markets

Melihat Canberra dari sudut pandang komunitas serta pasar seni yang beragam dan kaya akan agenda menyenangkan untuk dinikmati di kala liburan musim panas. Artikel ini disponsori oleh Wego, situs travel yang menawarkan harga terbaik untuk hotel dan tiket pesawat yang akan melengkapi rencana perjalanan Anda.

15.08.16

Seleksi Karya: FFWD Records

FFWD Records (Fast Forward Records) dikenal salah satu representasi record label independen di Indonesia. Berbasis di Bandung, label yang lahir pada tahun 1999 ini telah mengkurasi musisi pilihan dengan karakter kuat. Bisa dibilang juga melalui rosternya, FFWD cukup berperan dalam membentuk musik independen lokal. Berikut adalah 8 rilisan FFWD Records yang patut didengar dan dikoleksi.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.