Tidak perlu berpikir panjang untuk mengingat kapan terakhir kali menonton Efek Rumah Kaca (ERK) dengan formasi lengkap. Sekitar bulan Februari atau Maret 2016, malam itu Jaya Pub penuh sesak dengan lautan manusia yang datang dari beragam kelas untuk menyaksikan ERK dengan materi dari album baru dan nomor-nomor lawas mereka. Sejak sang vokalis, Cholil Mahmud, memutuskan untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di negeri seberang, sosoknya yang selalu bergairah untuk menyampaikan pesan lewat lirik kuat, semakin dirindukan oleh penggemar setianya. Setelah menunggu tanpa tanggal pasti kapan Cholil akan berpulang ke Jakarta, kabar baik yang mendebarkan datang ketika mendengar berita bahwa ia pulang untuk tampil bersama ERK di festival musik Indonesia terbesar di Pulau Dewata beberapa hari lalu.
Melihat momen langka ini, RURUradio berinisiatif untuk mengelar sebuah konser mendadak yang dibuat khusus untuk menyambut kedatangan Cholil kepada para penggemar yang tidak sempat menyaksikan mereka di Bali. Memang sesuatu yang patut dirayakan mengingat vokal dan presensi Cholil bersama ERK yang selalu membius semua orang. Mengingat ini merupakan penampilan terakhirnya sebelum berangkat kembali ke Amerika Serikat esok hari, nampaknya jika melewatkan konser ini, kita harus kembali menjalani hubungan platonis dengan unit ini dan hanya bisa menunggu dalam ketidak pastian akan kepulangan Cholil, selama entah berapa lama.
Senin, 5 September
20:00
Gudang Sarinah
Pancoran, Jakarta
Tiket masuk RP 50.000 mulai dapat dibeli dari pukul 19.00.
Menjadi yang terbaik memerlukan perjuangan. Penghargaan menjadi salah satu stimulan penting dalam jalannya perjuangan ini. Selain hadir untuk menantang bakat yang ada, Go Ahead Challenge adalah tempat dimana perjuangan mengejar kreativitas bersatu dengan penghargaan yang sepadan.
Dikenal sebagai salah satu personil unit jazz Tomorrow People Ensemble, Indra Perkasa telah terlibat dalam musikal Onrop hingga film Tabula Rasa yang membuatnya menjadi salah satu nama penting di ranah film scoring Indonesia. Whiteboard Journal mendapat kesempatan untuk berbincang di sela kesibukannya sebagai komposer serta musisi untuk membahas film scoring serta bagaimana jazz membuatnya terbiasa untuk berimprovisasi dalam mengolah musik.
Melihat lebih dekat pada inisiatif musik yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mengetahui mengenai bagaimana semangat Do it Yourself dijaga dan terus dikembangkan meski kadang banyak aral yang menghadang.
Sebuah band berisi dua orang; Bernardus Fritz Adinugroho dan Jonathan Pardede, yang memiliki ketertarikan dalam musik elektronik ini sudah menjajal beberapa panggung di ibu kota. Melihat gerak geriknya yang , bukan berarti performa Sunmantra patut dipertanyakan. Melayangkan kekaguman atas aransemen yang mereka buat, bisa jadi salah satu bentuk apresiasi musik, namun rasanya menggerakkan tubuh sembari menikmati alunan dentum dansa menjadi pilihan terbaik. Kami mendapat kesempatan untuk mengetahui latar belakang atas berdirinya Sunmantra dengan berbincang bersama Bernardus Fritz Adinugroho.
Intinya karena kami mau buat sesuatu yang belum pernah dilakukan. Dulu, kami tergabung dalam Black Mustangs yang notabene band. Setelah vakum, akhirnya saya dan Jojo memutuskan untuk buat sesuatu yang , itulah yang membuat kami memilih jenis musik ini, selain memang kami berdua lagi mengulik musik elektronik.
Sebenarnya Sunmantra itu sampai sekarang adalah duo, cuma lebih . Ke depannya, kami tidak menutup kemungkinan juga untuk berkembang ke area yang lebih kolektif, karena kami selalu ingin buat sesuatu yang untuk membantu proses kreatif kami.
dalam musik kalian, dari mana pengaruh musik yang didapat ketika meracik karakter Sunmantra?
Banyak hal yang mempengaruhi kami, karena kami banyak medengarkan musik techno, acid house dan deep house. Nah, dari ketiga genre itu, kami campur terus dan jadilah musik Sunmantra, dan juga belakangan ini kami lagi banyak menonton film sci-fi dan giallo, lagunya kami ambil dari genre tersebut.
EP selanjutnya, kami akan lebih instrumental. Karena tanpa vokal, yang kami mau adalah atau dari karakter instrumen yang kami pakai.
Sebenarnya kami lebih eksperimen ke arah . Kami lagi banyak merekam ulang aransemen yang sudah jadi, agar karakter suaranya sesuai dengan apa yang kami inginkan.