23.11.16

Menyoal Bahasa Indonesia dengan Elizabeth Pisani

Elizabeth Pisani, seorang jurnalis ternama yang telah menulis pengalamannya saat mengelilingi Indonesia dalam buku “Indonesia Etc.” Kami menemuinya di sela Ubud Writers & Readers Festival 2016 dan mengajaknya untuk membahas budaya dan bahasa Indonesia.

17.11.16

Merayakan Pencapaian dan Prestasi

Banyaknya sosok kreatif di Indonesia telah memberikan angin segar dalam subkultur di Indoneisa yang saling bertautan. Melihat adanya pengaruh nyata dari kreasi mereka, kehadiran regenerasi menjadi sakral guna mencari talenta baru yang mampu menggerakkan beragam scene yang ada.

16.11.16

Winter Wonderland di Negeri Tropis

Menikmati akhir tahun dengan mendekorasi ulang rumah menjadi lebih hangat guna merayakan suasana Natal maupun Tahun Baru, mulai dari ornamen berupa lampu gantung, tekstil di ruang keluarga hingga ornamen di meja makan. Artikel ini disponsori oleh IKEA VINTER 2016 yang akan membantu Anda mendapatkan Winter Wonderland di rumah Anda.

15.11.16

Literatur dan Adiksi bersama Jeet Thayil

Penulis dan penyair asal India ini membuat dunia literatur kontemporer cukup terkejut dengan novel perdananya yang berjudul “Narcopolis” yang hadir dengan cerita dunia alternatif di Bombay. Kami menemuinya di Ubud Writers & Readers Festival 2016 untuk menanyakan adiksi yang menjadi salah satu hal menarik dalam literatur.

14.11.16

Menyambung Batas, Merayakan Keberagaman

Pada tanggal 26 hingga 30 Oktober 2016, Ubud Writers & Readers Festival kembali digelar untuk yang ke-13 kali. Mengangkat tema Tat Tvam Asi, kali ini bermacam program dengan panelis pilihan mengangkat keberagaman dan kebersamaan dalam sudut pandang variatif.

11.11.16

Wonderland Trilogy dari SORE

Ada tempat spesial bagi SORE di benak penikmat musik lokal. Dikenal dengan aransemen megah yang membuat keseharian terasa lebih indah, SORE baru saja merilis 3 buah video musik lewat “Wonderland Trilogy” yang berisi lagu "Plastik Kita", "I Never Knew You In Wonderland", dan "Tatap Berkalam" dari album penuh ketiga Los Skut Leboys. jadi kata sifat yang bisa meringkas trilogi video ini. Perih menjadi kata kedua yang dapat disandingkan. Bukan karena warna lagu dan lirik yang melankolis, tapi karena ada pesan mendalam tentang kisah hidup tiga manusia yang sama-sama berjuang menjalani nasib, kesendirian, dan harapan. Seakan ada usik dari sesuatu yang indah. Sebuah usikan yang tidak bisa dideskripsikan. Sebuah khas SORE yang juga kerap muncul di musiknya. Tentang kompleksitas hidup yang menjadi buah karya. Walau tidak memiliki korelasi di antara ketiga videonya, etos DIY dibalik pembuatan video ini patut diapresiasi, sebab Ade Paloh yang turut andil berada di kursi sutradara mampu menerjemahkan ide dibalik lirik lagu dengan ‘teks’ visual yang penuh dengan simbol-simbol yang melengkapi rasa lagu. Selain Ade, SORE juga mengajak untuk video ini, antara lain Daffa Andika pada "Plastik Kita", serta Aditya Arnoldi pada "Tatap Berkalam". Sementara untuk "I Never Knew You In Wonderland" Ade mempercayakan sepenuhnya kepada kawan yang berada di Los Angeles, Milco Ricardo untuk mengambil suasana kota. Bertolak dari rasa yang seringkali diabaikan atau dihindari oleh tiap manusia, SORE kembali membuktikan diri bahwa mereka mampu membius pendengar setianya dengan kepasrahan dan harapan yang romantis sebagai landasan musik mereka. Walau trilogi ini bisa disebut sebagai akhir atau penutupan dari rangkaian album Los Skut Leboys, SORE tidak menutup kemungkinan dan kesempatan jika ada pihak lain yang ingin melanjutkan usaha interpretasi lagu-lagu dari album ini ke dalam bentuk-bentuk lainnya di masa yang akan datang. Dan, ini bukan satu-satunya berita baik bagi penggemar SORE, karena ada materi baru dari unit ini akan segera hadir dalam bentuk EP yang direncanakan rilis pada awal 2017. https://sorezeband.com/

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.