Bermunculannya berbagai penanda zaman yang tercipta oleh para sosok kreatif, membuat tahun ini dipadati dengan lahirnya nama-nama baru di setiap bidangnya. Kehadiran beragam platform untuk memudahkan proses kreatif saat ini memang terdengar menarik namun, di saat bersamaan juga terlihat membatasi. Sehingga, jenuh rasanya menikmati satu hal yang terus menerus diangkat.
Menikmati Makau dari sejarahnya sebagai bekas pendudukan Portugis yang hadir dalam bentuk gereja, desa hingga kuliner kaya akan budaya dan sejarah menarik. Artikel ini disponsori oleh Wego, situs travel yang menawarkan harga terbaik untuk hotel dan tiket pesawat yang akan melengkapi rencana perjalanan Anda.
Andina Dwifatma adalah seorang penulis dan pengajar di salah satu universitas swasta di Indonesia. Whiteboard Journal menemuinya di sela kesibukannya sebagai pengajar untuk membahas guna fiksi sebagai alat penyampaian premis yang mampu menawarkan dunia alternatif bagi manusia.
Sebuah foto bisa saja memiliki sebuah pesan, namun respons dan interpretasi yang muncul tidak mengenal batas. Menggunakan teknologi dalam proses kreatif, Agan Harahap menjadi salah satu seniman monumental di Indonesia. Melihat kuatnya ekspresi dan pesan yang hadir di dalam karyanya, menjadikan ekspresi sebagai landasan penting dalam menciptakan regenerasi dalam subkultur di Tanah Air.
Bekerja sama dengan G Production, Senyawa menampilkan konser yang menutup tahun 2016 dengan penuh kesan. Diantara persiapan mereka di belakang panggung, Whiteboard Journal mengobrol bersama Rully Shabara dan Wukir Suryadi mengenai pencapaian global mereka, eksplorasi diri, eksotisme dan makna dari lagu-lagu mereka.
Galeri biasanya memang dihiasi oleh karya-karya seniman yang telah disusun sehingga terlihat cantik dan apik. Tetapi berbeda dengan pameran “Envisions: The Envisionaires” yang digelar oleh kolektif Envisions asal Belanda di Playmouth College of Art. Kolektif yang anggotanya pernah bersekolah bersama di universitas yang sama ini memulai debutnya di Salone del Mobile di Milan pada tahun 2016. Mereka dikenal blak-blakan dengan gayanya yang lebih menaruh fokus pada proses yang mereka tempuh untuk menciptakan sebuah karya ketimbang hasil akhirnya.
Maka dari itu, melalui kemampuan mereka mesiasati kekacauan, mereka menjadikan hasil mereka menjadi salah satu bagian dari karya yang mereka jadikan - seperti pemandangan yang sering ditemui di taman bermain. Banyak yang berpendapat keputusan memamerkan karya mereka di titik awal pertemuan mereka ini adalah tepat. Para seniman dari Envisions berkesempatan untuk mengunjungi kembali lorong waktu yang menyatukan mereka, sesuai dengan yang dinamakan
-
Buka sampai 27 Januari 2018
Plymouth College of Art
Inggris